Peserta webinar dengan tajuk 'Bincang Sastra: Kelindan Penerjemahan Sastra' melalui aplikasi Zoom Meeting, diikuti banyak peminat. Foto: dok/ist

SEMARANG (SUARABARU.ID)– Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah menggelar webinar dengan tajuk Bincang Sastra: Kelindan Penerjemahan Sastra melalui aplikasi Zoom Meeting, Sabtu (7/8/2021).

Acara itu menghadirkan tiga narasumber, yaitu Dr Junaedi Setiyono (penulis novel Tembang dan Perang), Oni Suryaman (penerjemah sastra), dan Lian Gouw (pendiri Dalang Publishing, Amerika Serikat).

Dalam webinar itu, Junaedi menyatakan, dirinya memilih novel Tembang dan Perang yang diambil dari bahan baku cerita Panji, karena merasa berutang budi pada cerita Panji. ”Pada masa kecil saya, TK, SD, banyak dihibur dan diriangkan oleh dongeng-dongeng yang berasal dari cerita Panji,” katanya.

BACA JUGA: Hujan Deras Akibatkan Kerugian Ekonomi dan Rumah Ambruk di China

Peraih penghargaan sastra Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) 2021 itu, mendengarkan kisah-kisah Panji dari ibunya, yang dijadikan dongeng sebelum tidur. Oleh karena itu, dia sangat mengagumi cerita Panji.

”Cerita Panji tidak hanya indah menurut saya dan keluarga saya dan orang Jawa pada umumnya, tetapi juga dihargai oleh Unesco sebagai The Memory of the World pada tahun 2017,” ujar dosen di Universitas Muhammadiyah, Purworejo itu.

Dia mengaku sudah menulis empat novel, yakni Glonggong, Arumdalu, Dasamuka, serta Tembang dan Perang. Penghargaan Mastera 2021 diraih atas novel berjudul Dasamuka versi bahasa Inggris, terbitan Dalang Publishing 2017.

BACA JUGA: Ikatan Cinta Ngalap Berkah Malem Siji Sura

”Saya bersyukur dan berterimakasih pada pemberi bakat menulis, Tuhan Yang Maha Kuasa. Tekad untuk menjadi lebih baik merupakan latar belakang, mengapa saya menulis novel,” terangnya.

Dikatakan Junaedi, ketiga novel sebelum novel Tembang dan Perang itu merupakan serangkaian atau trilogi, yang berlatar perang Jawa 1825—1830. Ada pun novel keempatnya, yaitu Tembang dan Perang, berlatar tanah Jawa abad ke-12, yang diambil dari cerita Panji Inu Kertapati.

Sementara itu, Oni Suryaman yang seorang penerjemah sastra sekaligus penerjemah novel Tembang dan Perang, merasa senang saat ditawari menerjemahkan karya Junaedi itu.

BACA JUGA: Dinkes Kudus Berharap Gedung IBS RSUD tetap Dibangun

”Saya merasa tersanjung, karena karya yang saya terjemahkan ini ditulis oleh seorang yang sudah langganan mendapatkan penghargaan,” jelas Oni.

Ditambahkan dia, naskah tertulis cerita Panji dalam bahasa Indonesia cukup sulit ditemukan, kecuali di beberapa perpustakaan Nasional.

”Novel Tembang dan Perang akhirnya kami putuskan antara saya, Bu Lian, dan penyunting dalam bahasa Inggris, menjadi Panji’s Quest. Kami melakukan curah pendapat, kemudian memutuskannya sebagai judul. Sebab, kata ‘Panji’ sangat penting untuk mengenalkannya ke dunia internasional,” jelasnya.

BACA JUGA: Nilai Hamilton Terlalu Banyak Mengeluh

Menurut Oni, penerjemah sastra yang notabene orang Indonesia, sangat sulit mendapatkan kesempatan bisa menerjemahkan sebuah novel utuh dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris.

”Menerjemahkan novel Tembang dan Perang ini juga merupakan tantangan, karena gaya bahasa si pengarangnya yang banyak berbahasa Jawa,” ujarnya.

Narasumber yang juga pemilik penerbitan Dalang Publishing, Lian Gouw, menyatakan, tujuan mendirikan Dalang Publishing adalah, ingin mengangkat karya sastra Indonesia ke dunia internasional. Selain itu, memberikan kesempatan kepada para penulis dan penerjemah Indonesia, untuk memperkenalkan karya-karyanya di Amerika.

BACA JUGA: Tunggu Kepercayan Sang Manajer

Panji’s Quest sekarang sedang dalam percetakan, karena covid-19 yang melanda Amerika juga. Kini Dalang Publishing sudah menghasilkan 11 judul buku terjemahan karya sastra Indonesia, dengan latar belakang sejarah dan kebudayaan Indonesia. Penerbit ini dirintis pada akhir 2012 lalu, di San Mateo, California,” tambahnya.

Dalam acara yang dipandu Desi Ari Pressanti itu, Kepala Balai Bahasa Provinsi Jateng, Dr Ganjar Harimansyah, menyampaikan apresiasinya atas kesediaan Dalang Publishing untuk bekerja sama dan turut menduniakan karya sastra Indonesia.

”Acara webinar semacam ini, yang bersemaya secara virtual untuk bincang sastra, perlu terus dilakukan untuk membuka wawasan kita akan karya-karya sastra bermutu, yang hadir di tengah-tengah kita,” tandas Ganjar.

Riyan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here