Coutinho - Lukaku - James Rodrigues. Foto: ist

Oleh: Amir Machmud NS

//… percayalah ada kehidupan kedua// kau masih ada// kau datang kembali lewat pencerahan// di sana kau tenggelam// di sini nasib kau genggam// ucapkan selamat datang// luapkan kegembiraan// kepada ruh kepada jiwa kepada sukma…// (Sajak “Mereka Kembali”, 2020)

ANDAI mereka tidak segera memutuskan langkah, boleh jadi dunia akan selamanya kehilangan. Dan, relakah kita apabila yang tenggelam itu adalah bintang sekapasitas Romelu Lukaku, Philippe Coutinho, atau James Rodrigues?

Selalu, jejak nasib tak bisa dipastikan. Andai pelatih Antonio Conte tidak mendatangkannya ke Internazionale Milan, sulit membayangkan Romelu Lukaku mendapat cukup menit bermain di Manchester United yang kini bertabur striker hebat. Musim lalu, Lukaku mulai banyak diusik opini sebagai striker yang “kurang berguna”.

Dan, andai pelatih baru Barcelona Ronald Koeman membiarkan Coutinho masuk daftar lego, selesai pula kisah Si Penyihir Kecil itu di Camp Nou. Pun, apabila Carlo Ancelotti tidak paham mengenai potensi James Rodrigues, boleh jadi pemain Kolombia itu tetap terkatung-katung di Real Madrid. Zinedine Zidane tidak memproyeksikan dalam skematika taktiknya musim ini. James ditarik Don Carlo ke Everton, dan terbukti tokcer dalam performa awalnya untuk Si Biru.

Kini kita menunggu akhir “tidur panjang” Gareth Bale, yang seperti James tidak termasuk dalam proyek Zidane. Pemain asal Wales itu menjadi figur terbuang di Santiago Bernabeu. Balik kandang ke Tottenham Hotspur, Bale mencoba memutar jejak sejarah seperti ketika dia meroket dan memikat Madrid. Akankah nasib berpihak ketika rezim kepelatihan beralih dari Mauricio Pochettino ke Jose Mourinho?

*    *    *

JADI, apa rahasia di balik kebangkitan kembali Lukaku, Coutinho, dan James?

Lukaku, bomber asal Belgia itu telah lama berpetualang di Liga Primer, dari Chelsea, West Bromwich Albion, Everton, hingga Manchester United. Bukannya tak produktif, namun dalam dua musim di Old Trafford dia terbilang mejan. Tak sedikit pandit bola yang mengkritiknya malas menjemput umpan dan minim berlari di tengah karakter Liga Primer yang mengandalkan fisik dan kecepatan. Apakah tipe bermain Lukaku tidak cocok dengan karakter Liga Inggris?

Di Liga Serie A yang dikenal lebih taktis, Lukaku menemukan atmosfer yang cocok. Antonio Conte bisa menggali dan mengangkat potensinya sebagai tandem striker Lautaro Martinez.

Kehilangan mesin gol Mauro Icardi yang hijrah ke Paris St Germain tak membuat Nerazzurri kehilangan ketajaman. Lukaku mampu melukai lawan-lawan Inter dengan ketajaman yang memulih, bahkan menjadi-jadi. Bandingkan ini: dari 36 laga Lukaku sudah mengemas 23 gol. Sedangkan di Old Trafford dia membukukan 28 gol dari 66 laga.

Berbeda pula jalan nasib Coutinho. Dia harus menunggu pergantian pelatih sebelum menemukan kembali dirinya. Bersama Ernesto Valverde dia seperti kehilangan rasa percaya diri. Peran sebagai striker sayap untuk mendampingi Lionel Messi dan Antoine Griezmann/ Luis Suarez tidak cocok bagi pemain yang didatangkan dengan harga hampir Rp 2 triliun dari Liverpool itu.

Cou kehilangan sentuhan magisnya. Tak sampai satu setengah musim, akhirnya dipinjamkan ke Bayern Muenchen, namun justru di Bundesliga perlahan-lahan dia menemukan kembali permainannya. Cou tercatat ikut “melukai” Barcelona dengan dua gol dan satu assist ketika Bayern menang 8-2 di perempatfinal Liga Champions. Trofi Bundesliga dan Eropa menjadi catatan tak terlupakan Cou di masa peminjaman.

Sebenarnya Coutinho berharap Bayern mempermanenkan statusnya, tetai Die Bayern melepasnya kembali ke Barca. Ketika menunggu klub yang meminati, terjadilah suksesi kepelatihan dari Quique Setien ke Ronald Koeman. Rupanya momen ini menjadi berkah. Cou dipertahankan, bahkan diberi peran besar untuk melayani para striker. Dari laga-laga awal La Liga, Cou unjuk warta bahwa dia “hidup kembali” dengan peran yang mencerahkan.

Berikutnya, kegembiraan bersepak bola juga didapat kembali oleh James David Rodrigues Rubio. Klub mana yang tak tertarik memboyongnya berkat performa moncer di Piala Dunia 2014 itu? Akan tetapi dia seperti salah memilih klub.

Direkrut dari AS Monaco, playmaker yang disebut-sebut sebagai titisan legenda Kolombia Carlos Valderrama itu malah “nyaris tak terdengar” di antara para galacticos Madrid. Hanya Ancelotti yang cukup memberi peran, dan ketika Zidane mengambil alih tim, El Nuevo Pibe tak lagi menjadi pilihan utama. Sama seperti Coutinho, dia juga menjalani masa peminjaman di Bayern Muenchen.

Jejak James seperti lekat dengan Don Carlo. Ketika mengarsiteki Everton, pelatih asal Italia itu teringat tentang seorang pemain berpotensi besar yang tersia-siakan. James diajak  bergabung dan kini cepat beradaptasi sebagai penggawa andalan di klub Merseyside itu.

Justin Sherman, penulis untuk Marca pernah memberi penilaian spesial untuk James, pencetak Gol Terbaik Piala Dunia 2014. “Dia punya kemampuan melihat celah yang tidak dapat ditemukan pemain lain. Dia seperti Michael Laudrup,” tulisnya, membandingkan dengan salah satu pemain terbesar Denmark pada dekade 1990-an.

*   *   *

KISAH tiga pemain yang menemukan kembali hidup itu mengajarkan, jangan pernah berhenti brikhtiar. Jangan menganggap sebuah titik perjalanan anak manusia sebagai gambaran tentang sesuatu yang “sudah final”.

Simaklah bagaimana Angel Di Maria meroket bersama Real Madrid, namun meredup di Manchester United, lalu dilepas sebelum satu musim, dan akhirnya cemerlang lagi ketika merumput di Paris St Germain.

Anda pastilah juga ingat bagaimana Juan Sebastian Veron bagai tak bertaji ketika memperkuat Setan Merah, padahal sebelumnya kegemilangan memayungi pemain asal Argentina itu saat bermain di Sampdoria, Parma, dan Lazio.

Diego Forlan, Pemain Terbaik Piala Dunia 2010 juga menjalani karier yang tak lempang. Didatangkan Manchester United dari Independiente, bintang Uruguay itu gagal memberi kontribusi sepadan. Dia baru “hidup kembali” setelah berumah di Real Villareal.

Sepak bola banyak mengetengahkan kisah bersinar dan meredup, tenggelam dan bangkit kembali. Kata kunci dalam perjalanan nasib itu adalah “atmosfer baru”. Para pemain terkadang menemukannya lewat pertimbangan matang, tak sedikit pula yang melalui sebuah pertaruhan.

Nah, bukankah hidup memang bukan sesuatu yang final? Ada happy ending atau sad ending dari sebuah pilihan. Ada lika-liku yang mesti ditempuh dan diperjuangkan. Orang bilang jangan menyerah pada nasib. Berikhtiarlah dan terus berdoa.

Atau, bagi pemain bola, boleh jadi nasib ada di kaki mereka…

Amir Machmud NS, wartawan SUARABARU.ID, kolumnis oolahraga, Ketua PWI Jateng