Ilustrasi. Foto: Rek-wied

JC Tukiman Tarunasayoga

KEPADAS Anda penyuka dan pencinta kucing, saya minta maaf, karena justru di tengah kecintaan Anda terhadapnya, saya menceriterakan tiga ketidaksukaan istri saya kepada kucing.

Menurut beliau, tidak suka kepada kucing karena (a) suka ngusel-usel, (b) bau kotorannya sangat  “mengikat jiwa,” dan (c) senenge nglimpe.

Perihal kucing suka ngusel-usel, –atau tepatnya diusel-usel, sih?- dan karena itu istriku tidak menyukainya;  maka, saya  sejak dulu telah menerapkan pola sikap “tahu diri” katimbang nanti disebut atau minimal di batin dalam hatinya “kok tidak ada bedanya dengan kucing.”

Baca juga Calon, Berayun Antara Cala dan Calo

Artinya apa itu? Silahkan Anda berimajinasi sendiri. Dan perihal makna ngusel-usel kesukaan kucing, rasanya tidak perlu dikupas. Semua pasti sangat tahu.

Hal yang sama dengan ngusel-usel tadi, terkait bau kotorannya yang sangat “mengikat jiwa” (ini ungkapan yang sering muncul dari istri) rasanya semua pihak sudah tahu dan tidak perlu elaborasi lebih lanjut; kecuali  perlukisan kata-kata yang sering kita dengar ini: Orang kalau lagi dimabuk asmara, tahi kucing pun serasa donat.  Senandungnya, “wong yen lagi wuyung,  tahi kucing rasane ingkung” (Catatan, ingkung itu olahan daging ayam secara utuh, tidak dipotong-potong.

Baru setelah matang dan uenakkkkkkk, dipotong-potonglah mengambilnya. Bagi yang suka paha, patahkan itu paham ayam, bagi yang suka kepala, ambil saja seraya dipuntir pelan).

Nglimpe’

Sekali lagi maaf seribu maaf para penyinta, dan pasti Anda bereaksi seraya  bergumam: “Gak begitulah ………..”  Dan tentang alasan ketiga mengapa istri saya tidak suka, yaitu nglimpe, rasanya perlu  dielaborasi panjang kali lebar, mengingat di tahun politik saat ini akan sangat banyak kucing, eh maksud saya,  orang-orang yang akan menerapkan ngelmu kucing, yaitu nglimpe.