Oleh : Novika Indriati, S.Pd.

Perubahan perilaku, perubahan pengetahuan, kemampuan, dan sikap merupakan salah satu bukti bahwa seseorang telah melalui proses belajar (Wahidin & Syaefuddin, 2018). Sementara Ki Hadjar Dewantara (Dasar-dasar Pendidikan, 1936), menyampaikan: “Maksud pendidikan itu adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia, maupun anggota masyarakat.”

Menurut Ki Hadjar Dewantara, belajar harus selaras dengan kodrat anak. Karena itu tiap perilaku anak memiliki kekhususan yang harus dijadikan pertimbangan dalam proses belajar. Ia juga mengemukakan,  bahwa dalam proses menuntun, diri anak perlu merdeka dalam belajar serta berpikir.  Dituntun oleh para pendidik agar anak tidak kehilangan arah serta membahayakan dirinya. Semangat agar anak dapat bebas belajar, berpikir, agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan berdasarkan kesusilaan manusia ini yang akhirnya menjadi tema besar kebijakan pendidikan Indonesia saat ini, yaitu Merdeka Belajar.

Pendidikan diselenggarakan agar setiap individu dapat menjadi manusia yang “beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Kedua semangat ini yang kemudian memunculkan sebuah pedoman, sebuah penunjuk arah yang konsisten, dalam pendidikan di Indonesia. Pedoman tersebut adalah Profil Pelajar Pancasila (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2020). Dalam usaha mewujudkan profil pelajar Pancasila ini, tentunya diperlukan peran guru untuk menuntun anak serta menumbuhkan profil yang diharapkan.

Salah satu peran guru adalah mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan dan berpihak pada murid. Untuk mewujudkan hal tersebut, setiap guru akan akan selalu berpikir mengenai pertanyaan utama yang mendahulukan muridnya, seperti: “apa yang murid butuhkan?”, “apa yang bisa saya lakukan agar suasana belajar dan proses pembelajaran ini lebih menyenangkan?”, “bagaimana saya dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi anak untuk mewujudkan dunia yang mereka idamkan?”, dan lain-lain.

Guru harus mampu menggali hal apa yang paling disukai siswa sehingga mampu mengemas pembelajaran menjadi lebih menarik dan diminati oleh siswa. Saat ini pembelajaran tak lagi hanya terpaku pada tulisan hitam di atas putihnya kertas, melainkan harus bisa menerapkan pembelajaran yang inovatif, baik lewat audio maupun visual.

Pada zaman sekarang ini, musik dangdut telah mendunia dan diminati dari berbagai kalangan dari mulai anak – anak hingga dewasa. Banyak dari anak – anak sekarang ini yang lebih cepat hafal lirik lagu daripada pelajaran. Salah satunya adalah lagu “Joko Tingkir” yang dipopulerkan oleh Denny Caknan.

Namun, jika kita perhatikan lagu Joko Tingkir ini merupakan kumpulan dari beberapa pantun yang dikemas dalam bentuk lagu. Tentu saja ini dapat dimanfaatkan oleh guru untuk menyampaikan materi dan konsep membuat pantun agar anak menjadi tertarik dengan dikemas dalam bentuk lagu. Sebelumnya guru memberikan pemahaman mengenai apa itu pantun, bagaimana ciri – ciri  pantun dan apa saja yang perlu diperhatikan dalam membuat pantun?

Selanjutnya guru mengajak siswa untuk membuat pantun dan dibacakan hasilnya dengan dinyanyikan seperti lagu “Joko Tingkir”. Guru juga bisa membuat variasi dengan mengajak siswa berbalas pantun. Tentu saja hal ini akan membuat siswa menjadi antusias dan memudahkan siswa memahami konsep dalam membuat pantun.

Ini selaras dengan pendidikan yang diharapkan oleh pemerintah saat ini yaitu Merdeka Belajar. Siswa diberi kebebasan berkreasi membuat pantun melalui lagu yang saat ini sedang digemari oleh berbagai kalangan itu. Siswa yang awalnya kesulitan membuat pantun, dari lagu yang terus dinyanyikan berulang – ulang di masyarakat itu akan membuat siswa memahami langkap apa yang sebaiknya dilakukan terlebih dahulu.

Siswa akan memikirkan isi pantun terlebih dahulu, apalagi saat berbalas pantun, tentu saja dia akan memikirkan kalimat apa yang menjadi isi pantun tersebut untuk membalas pantun dari temannya itu. Setelah menemukan isi dari pantun tersebut, selanjutnya siswa akan mencari sampiran apa yang sesuai. Tentu saja mereka harus mencari yang bunyi terakhirnya sama atau yang dikenal dengan rima. Dari situ tanpa sengaja siswa sudah mengenal ciri – ciri pantun dengan baik.

Sebagai seorang guru, kita harus mau mengikuti arus perkembangan zaman. Seperti apa yang disampaikan oleh Ki Hadjar Dewantara, Tugas guru adalah menuntun siswa sesuai dengan kodrat alam dan zamannya. Guru harus mampu melakukan perubahan, serta mencari apa yang disenangi siswa sehingga mampu mengemas pembelajaran menjadi lebih menarik, inovatif dan tentunya mengutamakan kepentingan siswa sebagai subjek dari Pendidikan kita untuk mewujudkan Merdeka Belajar.

Penulis adalah Guru SDN 1 Mulyoharjo Jepara