SOLO (SUARABARU.ID) – Performance Patung Primitif Dwik Tunggak di Solo Art Market (SAM) memancing perhatian pengunjung. Sebab hanya Dwik Tunggak peserta SAM yang melakukan aksi demo karya seni patung primitifnya.

Dwik Tunggak memberi kesempatan pengunjung untuk memahat (Foto: Alvaros)

Kegiatan SAM bertempat di Kelurahan Keprabon dan Jalan Pedestrian Ngarsopuro Solo pada pukul 09.00-17.00 (26/6-2022).

Dwik Tunggak, dengan mengenakan pakaian Troso Lurik dari Omah Lurik, memahat patung di sepanjang pedestrian Ngarsopuro Solo.

Dwik Tunggak dan Dyah Yuni Kurniawati, S.Sn. (Foto: Alvaros).

Ada 10 patung African Art dipamerkan bersama payung rajut karya Aliva Rosdiana dan payung bermotif Dayak karya Bagas Nirwana dari Solo.

Panitia SAM Dyah Yuni Kurniawati, S.Sn. yang juga dosen Desain Grafis dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Negeri Solo menyampaikan kekaguman atas karya patung Dwik Tunggak.

Para fotografer memotret karya dan performance Dwik Tunggak (Foto :Alvaros).

Sementara Dwik Tunggak menjelaskan tentang patung yang dia buat bermotif African Art. “Media patung African Art ini saya buat dari limbah mebel yang ada di Jepara,” ujarnya sambil memahat patung Nengkleng.

Patung kayu yang dibuatnya tidak membuang banyak limbah. “Idenya justru dari bentuk kayu itu sehingga bagaimana saya memahat tanpa membuang banyak limbah,” jelasnya.

Dwik Tunggak saat bercengkerama dengan peserta SAM (Foto: Alvaros).

Dyah Yuni Kurniawati mengapresiasi penggunaan mebel dari limbah yang dibuat oleh Dwi Tunggak. Dyah menyampaikan ingin mengundang Dwik Tunggak dalam kegiatan kolaborasi dengan mahasiswanya di UNS.

Dwik Tunggak berniat akan mengikuti Kelas Kreasi di Festival Payung 2022 bulan September nanti.

Alvaros