Erik Ten Hag. Foto: facebook

Oleh: Amir Machmud NS

// siapakah yang mampu memastikan/ tentang orang dan kodrat kejayaan/ tentang waktu dan era keemasan/ tak luputkah ia dari terpa spekulasi/ dari riuh kemungkinan…//
(Sajak “Suksesi Pelatih”, 2022)

DAN, aneka spekulasi pun mengeram dalam pergulatan eksistensi.

Dan, begitulah rupanya manajemen sepak bola berbicara.

Ya, dunia kepelatihan sepak bola rasa-rasanya tidak mengenal kata “garansi” atau “jaminan”. Kita lebih melihat “spekulasi” untuk memaknai ikhtiar kebangkitan sebuah tim, atau ketika manajemen klub mencanangkan restorasi, lalu memilih langkah menyuksesi pelatih.

Kalian bayangkankah? Enam kali sudah Manchester United mengganti pelatih sejak Alex Ferguson pensiun pada 2013. Dan, masih terus muncul pertanyaan: siapa yang kelak menjadi sosok paling pas?

Berturut-turut David Moyes, Louis van Gaal, Jose Mourinho, Ole Gunnar Solskjaer, Ralf Rangnick, dan mulai musim depan Erik Ten Hag.

Belum termasuk di antara mereka menyelip nama pelatih karteker Ryan Giggs dan Michael Carrick.

Apa arti dari sederet nama itu?

Ada yang ditunjuk atas pilihan Sir Alex sendiri, yang melihat sebagai sosok tepat penggantinya, David Moyes. Nyatanya, belum genap semusim, pada 2014 posisi eks Everton itu goyah lantaran permainan MU kacau tak berbentuk.

Berikutnya yang dirujuk atas pertimbangan reputasi mentereng. Van Gaal kenyang pengalaman menukangi klub-klub besar Ajax Amsterdam, Barcelona, dan Bayern Muenchen. Selama dua musim, dari 2014 dia memberi satu Piala Liga dan mengorbitkan Marcus Rashford.

Selanjutnya, nama yang sejak lama diingini fans Setan Merah: Jose Mourinho. Reputasi The Special One yang memberi banyak gelar kepada FC Porto, Chelsea, Inter Milan, dan Real Madrid sangatlah menjanjikan.

Awalnya Mou mengusung performa yang pas, namun aneka pertikaian dengan pemain menyebabkan terjemah taktiknya tidak maksimal. Dalam dua musim, 2016-2018 dia memberi satu trofi Liga Europa, dan tak mampu menghindarkannya dari pemecatan.

MU memilih mendatangkan Ole Gunnar Solskjaer. Status legenda klub diharapkan bisa diserap untuk membangun tim dari aspek pemahaman akan filosofi dan tetek-bengeknya.

Tanpa reputasi kinclong, dalam status sebagai pelatih karteker Solskjaer memberi kejutan di awal: konstan tak terkalahkan dalam serangkaian laga. MU finis tak terlampau memalukan pada musim 2019, sehingga diresmikan sebagai pelatih tetap.

Belakangan, karena manajemen kendali ruang ganti dan bentuk permainan yang tidak standar membuat fans tak sabar. Kiprah selama 2018-2021 pun terhenti, dan memunculkan nama Ralf Rangnick.

Hanya sebagai pelatih interim, penemu gegenpressing itu kemudian digantikan pelatih resmi, Erik Ten Hag yang dikontrak untuk tiga musim.

Spekulasi
Silih berganti pelatih sejatinya bermuatan spekulasi, meskipun tentu ada kalkulasi manajemen terhadap rekam jejak mereka.

Atas nama apa pun, membangun kembali tim atau merestorasi, memuat makna “project proposal”. Perhitungannya pun harus komprehensif dalam satu paket rencana yang sistematis.

Cukupkah, misalnya hanya mengganti pelatih? Pastilah pelatih punya rencana skematika yang membutuhkan pemain-pemain sesuai kebutuhan.

Upaya membangkitkan MU terasa lebih rumit ketimbang yang dihadapi Barcelona, walaupun ada kemiripan dalam rentang panjangnya. Bedanya, setelah era Frank Rijkaard yang berprestasi pada 2003-2008, dilanjutkan masa emas Pep Guardiola pada 2008-2012, ada pula kejayaan Luis Enrique pada 2014-2017.

Setelah itu, Barca mengalami vakum prestasi pada musim kepelatihan Ernesto Valverde, Quique Setien, dan Ronald Koeman.

Memanggil Xavi Hernandez dari Al Sadd di Liga Qatar mirip dengan spekulasi MU menunjuk Ole Gunnar Solskjaer, namun tampaknya adaptasi manajerial Xavi lebih mulus. Barcelona perlahan-lahan menemukan bentuk, tentu dengan “proyek” penyegaran pemain yang dia ajukan.

Mengapa suksesi kepelatihan MU dan Barca mendapat perhatian khusus?

Sejarah dua klub itu punya eksepsionalitas. Terdapat masa-masa emas dalam era pelatih tertentu, yang bukan hanya tersimbolisasi dari trofi-trofi, tetapi juga melahirkan filosofi dan corak permainan yang dikenang sebagai karakter.

Ketika Xavi Hernandez tenggelam dalam kekhusyukan meracik kembali puzzel-puzzel kebesaran almamaternya, di Theater of Dream Old Trafford, Erik Ten Hag pun akan segera terbenam dalam ketekunan merajut kembali perca-perca kekuatan Setan Merah.

Spekulasi jugakah langkah manajemen MU ini?

Yang akan menjawab adalah rekatan kimiawi, dan ketepatan “saat”. Juga, bakal berpihakkah waktu kepada pelatih asal Belanda itu?

Amir Machmud NS, wartawan suarabaru.id, kolumnis sepak bola, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah —