blank
Ilustrasi/CNBC Indonesia

Oleh: JC Tukiman Tarunasayoga

blank
JC Tukiman Tarunasayoga

Dalam kondisi zaman seperti sekarang ini, satu saran paling penting untuk kita semua, ialah “Aja gampang keblithuk, oleh siapa pun dan apa pun omongannya.” Alangkah rentannya diri kita ini manakala gampang keblithuk oleh orang yang mendaku dirinya seorang pendeta, seorang intel, seorang crazy rich, dan lain-lain.

Mengapa rentan? Karena kita sangat mudah memercayai yang dia omongkan, padahal sekali dia ngomong dan Anda tanggapi sepatah kata pun, dia akan terus omong tanpa jedah. Itulah “metode mutakhir” yang dipergunakan oleh orang-orang yang sengaja mau blithuk dewasa ini.

Kalau tanggapan Anda tidak hanya sepatah kata, melainkan berkata-kata, wah … membuncahlah hati dia dan semakin bersemangat untuk omong dan omong, mengatakan ini itu dan banyak bukti dia lalu mempermainkan isu-isu sensitif sing gawe abange kuping.

Tegasnya, yang harus membentengi diri kita bukan siapa-siapa lagi kecuali diri kita, karena sekali Anda keblithuk,  – hampir seratus persen biasanya karena/oleh omongan dia – , Anda akan semakin rentan untuk keblithuk lebih lanjut.  Dan cara paling sederhana namun mujarab untuk tidak mudah keblithuk, ya tidak usah omongan dia Anda reken, bersikaplah EGP.

Apa Keblithuk Itu?

Dalam kasus “pendeta” SI yang akhir-akhir ini berhasil mblithuk sebagian masyarakat, fenomena yang sangat jelas tampak, ialah ia semakin berani dan menjadi-jadi, dan di sisi lain orang lupa mencari tahu seraya bertanya-tanya-diri, misalnya benarkah dia itu pendeta, kalau benar dari gereja mana/apa; di mana ia bekerja, dan pertanyaan-pertanyaan investigatif lainnya.

Mengapa kebanyakan orang lupa mempertanyakan itu? Karena, -lagi-lagi “hipnotis” orang blithuk – , apa yang dia omongkan langsung “mak jleb” mengguncang nurani dan model tembak langsung pada sisi sensitf.

Baca Juga: Persepsi Kendi Nusantara: Ada yang Luput, Mrucut, dan Ketrucut

Menghadapi serangan seperti itu orang, siapa pun itu,  pasti segera bereaksi, terusik emosi dan naluriahnya, lalu misalnya, ganti melakukan “serangan” balasan. Nah….ramailah, dan itulah yang diharapkan oleh orang-orang yang suka blithuk. Karena itu kembali ke awal tulisan ini, janganlah Anda mudah keblithuk oleh siapa pun dan apa pun omongannya.

Seluruh proses yang diceriterakan di atas menegaskan betapa cepat dan mudahnya orang itu diblithuk oleh omongan orang (lain) karena lemah dalam melakukan penyaringan atau mendengar/mencari second opinion.

Diblithuk artinya diapusi, Anda kena tipu oleh orang yang memang suka apus-apus, suka menipu. Mengapa ia menipu? Mungkin cari duit, mungkin cari sensasi sesaat agar cepat terkenal, mungkin juga mengungkapkan rasa kecewa beratnya sehingga “melawan/melampiaskannya” dengan cara menipu. Bagi orang yang tertipu disebutlah keblithuk; dan bagi pelaku penipuan, dia itu tukang mblithuk.

Jika kita buat daftar, ternyata ciri-ciri tukang mblithuk itu sebagai berikut: pertama dan utama ialah mendaku dirinya dengan jabatan/posisi tertentu. Seperti dicontohkan di atas, mendaku pendeta, intel, pejabat suatu instansi, dll. Maka kalau Anda bertemu seseorang dan dia memperkenalkan dirinya “lengkap” dengan jabatan/posisinya, – padahal hanya duduk bersebelahan di kereta api misalnya – ,  waspadalah.

Baca Juga: Tuwa, Idealnya Tuwas

Hal sama sangat bisa terjadi lewat medsos. Kedua, di samping mendaku, orang itu suka OB, omong besar; ketiga, suka tembak langsung terutama hal-hal yang sensitif entah tentang masalah “mudahnya menemukan pekerjaan” (padahal di zaman begini), “gampangnya cepat kaya/crazy rich (dalam kondisi sulit seperti ini); dan sudah barang tentu hal sensitif terkait agama/kepercayaan.

Keempat, tukang blithuk boleh dipastikan “masuk” pada saat sedang ada isu hangat/sensitif atau menumpangi saat-saat sedang ada trending topic. Contohnya, SI masuk tepat ketika menteri agama sedang “naik daun” lewat berbagai kebijakannya.

Silahkan Anda menambahkan apa saja ciri lainnya tukang blithuk, namun ajakan (moral) yang lebih penting dari menemukan ciri-ciri tukang blithuk, ialah diri kitalah yang harus membentengi-diri agar tidak mudah kena tipu, tidak mudah tersulut emosi padahal bisa melakukan penyaringan dan mencari second opinion lebih dahulu; serta segera mengingatkan teman apabila teman itu sudah ada tanda-tanda keblithuk.

Ayooooo, janganlah mudah keblthuk, Ya! Kita juga perlu merenungkan kata-kata: Muda Kaya Raya, Tua Foya-foya, Mati Masuk Mana?

(JC Tukiman Tarunasayoga, Pengajar Community Development Planning)