Catatan BPS (ilustrasi).

Ulasan Edi Barlianto

ANGIN segar berhembus di awal tahun politik 2022, yaitu optimisme pertumbuhan ekonomi setelah dua tahun terakhir digempur pandemi. Pada penutupan tahun 2021 perekonomian Indonesia mulai bangun dari keterpurukan dengan menujukkan perbaikan signifikan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada konferensi pers APBN KiTa via video, Senin (3/1/2022) mengemukakan realisasi sementara pertumbuhan ekonomi 2021 hanya di 3,7% (dalam kisaran 3,5%- 4,0%) secara tahunan atau year on year (yoy).

Realisasi tersebut, tak setinggi yang ditetapkan dalam asumsi dasar ekonomi makro tahun 2021, dimana pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI sepakat pertumbuhan ekonomi tahun lalu pada kisaran 5% yoy.

Pandemi covid-19 dengan varian baru pada tahun lalu mengakibatkan hilangnya momentum pertumbuhan ekonomi tiap selama 2021. Meningkatnya kasus covid-19 akibat momen Natal 2020 dan Tahun Baru 2021, memaksa dilakukan pambatasan kegiatan sosial pada Maret tahun lalu. Langkah itu menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2021 pada posisi negatif 0,71% yoy.

Pada kuartal kedua 2021, sebenarnya pertumbuhan ekonomi mampu naik signifikan hingga 7,07% yoy. Namun peningakatan kasus Covid-19 varian Delta Kembali menekan pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga 2021 hanya 3,51% yoy.

Sri Mulyani optimistis, pada kuartal keempat 2021 pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 5% yoy. Hal itu didorong oleh perbaikan sejumlah indikator dini, seperti Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), Indeks Penjualan Ritel, PMI Manufaktur, dan mobilitas masyarakat.

Geliat dunia usaha

Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia (BI) mengungkapkan perekonomian Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku triwulan III-2021 mencapai Rp4.325,4 triliun atau atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp2.815,9 triliun.

Ekonomi Indonesia triwulan III-2021 terhadap triwulan sebelumnya mengalami pertumbuhan sebesar 1,55 persen (q-to-q).

Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 16,10 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Barang dan Jasa mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 9,28 persen.

Ekonomi Indonesia triwulan III-2021 terhadap triwulan III-2020 mengalami pertumbuhan sebesar 3,51 persen (y-on-y). Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 14,06 persen.

Dari sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Barang dan Jasa mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 29,16 persen.

Hingga triwulan III-2021, ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 3,24 persen (c-to-c). Dari sisi produksi, pertumbuhan terbesar terjadi pada Lapangan Usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 9,81 persen. Sementara dari sisi pengeluaran semua komponen tumbuh, pertumbuhan tertinggi terjadi pada Komponen Ekspor Barang dan Jasa sebesar 22,23 persen.

Pertumbuhan ekonomi (y-on-y) pada triwulan III-2021 mengalami peningkatan di hampir seluruh wilayah, kecuali kelompok di Pulau Bali dan Nusa Tenggara yang mengalami kontraksi pertumbuhan 0,09 persen. Namun, Pulau Jawa dengan kontribusi sebesar 57,55 persen mencatat pertumbuhan sebesar 3,03 persen.

Menko Perekonomin Airlangga Hartarto menjelaskan, sektor lain yang mendukung pertumbuhan ekonomi adalah sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial karena semakin efektifnya penanganan covid-19 dan meluasnya pelaksanaan vaksinasi.

 

Kemudian sektor informasi dan komunikasi akibat adaptasi kebiasaan baru yang membutuhkan koneksi internet, serta sektor pertambangan dan penggalian yang disebabkan tingginya permintaan ekspor dan penguatan harga komoditas.

Sementara hingga 26 Desember 2021 jumlah neto penerimaan pajak mencapai Rp1.231,87 triliun atau menembus 100,19% dari target yang diamanatkan dalam APBN sebesar Rp1.229,6 triliun.

Kinerja investasi

Pencapaian investasi di 2021 juga tergolong sangat baik dan menjadi salah satu penopang pertumbuhan. Realisasi investasi pada Triwulan III-21 telah mencapai Rp216,7 triliun atau meningkat sebesar 3,7% (yoy), yang terdiri atas PMA sebesar Rp103,2 triliun (47,6%) dan PMDN sebesar Rp113,5 triliun (52,4%).

Sepanjang Triwulan I-III 2021, realisasi investasi telah mencapai Rp659,4 triliun atau 73,3% dari target realisasi investasi tahun ini sebesar Rp900 triliun.

Melihat kondisi tersebut, pemerintah makin optimis perekonomian Indonesia pada tahun 2022 bakal semakin membaik.

Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2022 ditargetkan dapat mencapai 5,2%. Target ini sejalan dengan proyeksi dari sejumlah lembaga internasional seperti IMF (5,9%), OECD (5,2%), dan World Bank (5,2%).

Namun, pertumbuhan ekonomi 2022 tetap akan bergantung pada keberhasilan pengendalian pandemi yang didukung kedisiplinan masyarakat melaksanakan protokol kesehatan, menjalankan vaksinasi, dan membatasi kerumunan.

Kemudian juga respon kebijakan ekonomi yang tepat dari sisi fiskal dan moneter serta penciptaan lapangan kerja dan kesiapan bertransformasi.

Di sisi lain, Airlangga mengingatkan, sejumlah risiko tetap harus diwaspadai agar tidak menganggu momentum pemulihan ekonomi ke depan, diantaranya kenaikan harga energi dan inflasi, disrupsi, krisis Evergrande di Tiongkok, dan normalisasi kebijakan moneter negara maju.

Edi Barlianto, wartawan suarabaru.id