blank
Ilustrasi. Foto: ISt

blankOleh : Ida Musofiana

SUATU negara dikatakan berhasil benar jika satu di antaranya warga negaranya memiliki moralitas, sikap karakter menjadi penentu setiap manusia dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Warga negara yang bermoral, berkarakter sudah pasti tercipta kedamaian, ketenangan serta tertib dalam kehidupan.

Pendidikan karakter sudah seharusnya diajarkan sejak dini, mulai dari pendidikan usia dini, sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Hal ini sebagai modal dasar bagi negara untuk mencapai tujuan negara di antaranya kedamaian dalam kehidupan masyarakat.

Pendidikan karakter merupakan hal mendasar yang sangat penting untuk diajarkan oleh anak-anak mulai sejak kecil, keluarga sebagai organisasi terkecil dalam masyarakat memegang peran penting dalam hal ini.

Anak-anak yang berkarakter diajarkan oleh orang tua yang telaten mengajari anak-anaknya. Setelah memasuki usia sekolah kebanyakan orang tua mulai menyerahkan tugas mendidik karakter bagi anak-anaknya kepada guru atau pengajar mereka di tempat pendidikan atau sekolah.

Masa pandemi seperti ini pembangunan bangsa di bidang pendidikan membutuhkan kerja sama serta koordinasi dari semua pihak. Dalam hal ini negara dan rakyat bersatu padu bekerja sama bagaimana tetap menyelenggarakan pendidikan dengan semaksimal mungkin.

Pemerintah Negara Indonesia di bidang pendidikan hadir yang diwakilkan oleh Kemendikbudristek mengadakan program bantuan kuota internet mulai dari bantuan kuota internet bagi anak pendidikan usia dini, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, serta Perguruan Tinggi.

Bantuan kuota internet tersebut tidak hanya bagi para siswa, mahasiswa maupun peserta didik lainnya, tetapi juga kuota internet bagi para pendidik (guru maupun dosen).

Mengingat masa pandemi ini banyak orang tua yang frustrasi karena kehilangan pekerjaan atau Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan ada juga yang mengalami penurunan pendapatan karena diberlakukannya Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Hal ini menjadikan mereka yang bekerja di bidang wiraswasta dalam hal ini misalnya pedagang atau Usaha Masyarakat Kecil Menengah (UMKM).

Muncul ketidakpatuhan dari warga masyarakat terhadap aturan yang diberlakukan oleh pemerintah. Masyarakat yang tidak mengindahkan anjuran, perintah dari pemerintah mengindikasikan masyarakat tersebut tidak memiliki rasa peduli terhadap lingkungan.

Guru/pendidik swasta maupun negeri sebagai garda terdepan dalam mengajarkan pendidikan serta membentuk karakter, untuk lebih tanggap terhadap siswa/mahasiswa yang terjadi di lingkungannya. Pembelajaran di masa pandemi seperti ini dilakukan dengan memberikan contoh konkret sesuai yang terjadi.

Di tengah keterbatasan dalam belajar mengajar di masa pandemi ini dengan cara memberikan contoh yang nyata sehari-hari dalam kehidupan diharapkan dapat membangun kehidupan yang lebih memiliki moralitas.

Keteladanan

Aspek penting dalam membangun pendidikan karakter ini yakni keteladanan, hal ini merupakan wujud nyata dari kepribadian yang dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Semua komponen penting di dalamnya termasuk orang tua, guru, dan negara sudah seharusnya bekerja sama mewujudkan perilaku yang berkarakter yang menunjukkan identitas ciri khas kepribadian Bangsa Indonesia ini.

Proses pendidikan wajib mengajarkan nila-nilai positif yang memang sudah ada dan tumbuh serta dipatuhi di dalam masyarakat. Budaya keteladanan, memberikan contoh adalah tindakan konkret yang mudah untuk ditiru dan memahamkan yang diajarkan. Selanjutnya apa pun yang dilakukan sudah seharusnya berdasarkan pada nilai-nilai karakter.

Pembelajaran melalui daring atau online selama masa pandemi ini, guru dituntut kreatif serta inovatif. Pembelajaran secara jarak jauh tidak menutup kemungkinan para peserta didik mengalami kejenuhan. Oleh karena itu suasana pembelajaran maupun perkuliahan diselenggarakan dengan melibatkan partisipasi aktif dari para peserta.

Guru maupun dosen mengalami tantangannya tersendiri dibanding dengan mengajar sebelum masa pandemi. Keterbatasan ruang online, menjadikan guru maupun tentor tidak dapat mengawasi peserta didik secara satu per satu.

Sebagai guru sudah semestinya bisa lebih kreatif di antaranya bisa dengan menggunakan cara pembelajaran memberikan kuis atau cara lainnya untuk memantik atau memancing keaktifan peserta didik di dalam ruang meeting pembelajaran atau perkuliahan online.

Di hari guru kali ini, guru atau dosen tidak hanya sebagai mentor, tapi juga sebagai motivator, director, serta sebagai teladan. Begitu banyak peran pendidik ini, dalam masa pandemi guru maupun dosen bekerja lebih keras dari sebelumnya. Berbagai kerja telah dilaksanakan untuk tetap menjaga kualitas peserta didik, dan mengoptimalkan pendidikan di masa pandemi.

Ternyata masih saja ada bagian part yang hilang. Adanya ketertinggalan capaian belajar dan banyak lagi diantaranya kemajuan pendidikan. Dalam kesempatan ini ingin menyampaikan bahwa guru maupun dosen menjadi pusat bagaimana pemulihan pendidikan pascapandemi.

Pihak terkait serta didukung oleh pemerintah perlu fokus mendukung pemulihan pendidikan pascapandemi di antaranya peningkatan kualitas guru, peningkatan kesejahteraan guru hal ini supaya sepadan dengan tanggung jawab guru.

Hal ini merekomendasikan DPR RI Komisi X untuk memperjuangkan guru dan dosen bersinergi dengan Kemdikbudristek untuk bertanggung jawab bersama mengejar ketertinggalan capaian pembelajaran, kemajuan hasil belajar dalam rangka pemulihan pascapandemi, dilakukan dengan cara pembuatan kebijakan yang tepat, penyediaan sarana prasarana serta pengembangan dan peningkatan kualitas guru dan dosen.

Ida Musofiana dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang