Drs KRA Pranoto Adiningrat MM (kedua dari kiri), saat memimpin ritual Susuk Wangan di Hutan Setren, lereng Lawu Selatan.
WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Selama setahun ke depan, terhitung sejak Tanggal 1 Sura 1955 (10 Agustus 2021) lalu, memasuki siklus Anggara Rekata.

Yakni Tahun Kepiting yang prediksinya akan banyak turun hujan atau menjadi tahun basah. Ini menjadikan rentang musim penghujannya memanjang.

Itu berlangsung karena musim kemaraunya pendek, dan selama kemarau masih sering terjadi turun hujan kiriman. Atau menjadikan musim kemarau basah.

Budayawan Jawa peraih Anugerah Bintang Budaya, Drs Kanjeng Raden Arya (KRA) Pranoto Adiningrat MM, menyatakan, penyebutan Anggara Rekata mengacu hari Selasa yang jadi awal Tanggal 1 Sura 1955.

Manakala Tanggal 1 Sura jatuh hari Selasa, maka dinamakan Anggara Rekata. Anggara (Selasa) Rekata (Kepiting). Itu menjadi tanda, setahun ke depan banyak hujan dan tanaman jadi subur.

Indikasi sebagai tahun banyak hujan, telah terlihat mulai sekarang. Meski dalam perhitungan Pranata Mangsa, saat ini masih dalam siklus musim kemarau atau Mangsa Katiga.

Mangsa Katiga

Mangsa Katiga berlangsung sejak Tanggal 25 Agustus sampai Tanggal 17 September 2021. Meski musim kemarau, tapi hujan masih turun deras dan menimbulkan banjir di sejumlah daerah.

Drs KRA Pranoto Adiningrat MM (kiri depan), mengantar para abdi dalem Keraton Kasultanan Yogyakarta melakukan labuhan di objek wisata spiritual Kahyangan Dlepih, Tirtomoyo, Wonogiri.

Pranoto yang Abdi Dalem Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, menyebutkan, prediksi banyak sedikitnya hujan mendasarkan hari jatuhnya Tanggal 1 Sura, itu menjadi local wisdom.

Yakni menjadi bentuk kearifan lokal masyarakat Jawa, yang mayoritas kaum agraris. Mereka memedomani cara memprediksi cuaca yang akan terjadi, berdasar hari jatuhnya Tanggal 1 Sura.

Ini peting bagi mereka, untuk pedoman memilih jenis komoditas yang akan mereka tanam. Artinya, manakala banyak hujan, dapat memilih komoditas padi.

Tapi kalau mahal (kurang) hujan, ganti memilih komoditas pertanian jenis palawija yang hemat air, dengan memedomani prediksi iklim dalam siklus setahun ke depan.

Babon Primbon

Prediksi banyak sedikitnya hujan, tertulis rinci dalam Babon Primbon Betaljemur Adamakna (Kanjeng Pangeran Harya Tjakraningrat) dan Buku Horoskop Jawa (Ki Hudoyo Doyodipuro Occ).

Budayawan Jawa peraih anugerah Bintang Budaya Drs KRA Pranoto Adiningrat MM (kiri), saat memimpin ritual labuhan Sura di Pantai Selatan.

Manakala Tanggal 1 Sura jatuh Hari Minggu, penyebutannya Dite (Minggu) Kenaba (Kelabang) kurang (mahal) hujan. Bila Tanggal 1 Sura hatuh Hari Senin (Soma) Wicitra (Cacing), murah (banyak) hujan.

Manakala jatuh Hari Selasa (Anggara) Rekata (Kepiting) prediksinya banyak hujan. Berikut apabila jatuh Hari Rabu (Buda) Mahesa (Sapi) kurang hujan.

Selanjutnya Kamis (Respati) Mintuna (Mimi), hujannya sedang. Jumat (Sukra) Mangkara (Udang) banyak hujan, dan Sabtu (Tumpak) Menda (Kambing) mahal hujan.

Pada siklus Tumpak Menda atau Tahun Kambing, akan terjadi musim kemarau kering, tanpa ada hujan kiriman dan bahkan rentang waktu tidak turun hujan berlangsung lama.

Bambang Pur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here