blank
Ilustrasi

Oleh: JC Tukiman Tarunasayoga

(Seninmu hari ini, sepantasnya bergairah karena menyongsong hari-hari sepekan ini, setelah merefleksikan sepekan yang lalu)

GAIRAH merayakan peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI memang tidak surut dan tidak pula lekang meski masih dalam suasana pandemi Covid-19.

Derajad kemeriahannya mungkin agak terkekang karena tetap harus memperhatikan protokol kesehatan, namun sejauh melihat yang terjadi di sana – sini, derajad kreativitas merayakannya justru lebih signifikan.

Orang dan kondisi kepepet, memang cenderung melahirkan kreativitas. Di antara berbagai kreativitas itu, ada wilayah permukiman yang perayaannya dilakukan di persawahan, dan betul-betul saling menjaga jarak. Ada juga yang dirayakan di hutan, seraya mendekatkan diri dengan alam raya.

Gerakan dan Aksi

Itulah contoh gerakan dan aksi yang sangat spontan, mudah, murah dan meriah, serta sangat menggairahkan partisipasi warga.

Mengapa mudah? Karena konteksnya sangat jelas, yaitu menyambut peringatan hari proklamasi kemerdekaan; maka tanpa undangan sekali pun respon warga masyarakat suda hingar-bingar.

Konteksnya jelas, tujuannya pun sangat jelas, yaitu disamping bersyukur, juga meluapkan kegembiraan bersama meski tetap masih berada dalam koridor protokol kesehatan berhubung pandemi.

Namun, meskipun menggunakan momentum peringatan hari kemerdekaan, ada gerakan dan aksi yang tidak direspon hingar-bingar oleh masyarakat.

Pertanyaannya, mengapa terjadi seperti itu, padahal sekilas dan seolah-olah momentum peringatan hari kemerdekaan akan mendukungnya?

Ada dua jawaban atas pertanyaan ini. Jawaban pertama, ialah karena mengaburkan (menyembunyikan?) tujuan utama kegiatan (gerakan dan aksi?) itu.

Tujuan utamanya tidak jelas-jelas ditegaskan, bahkan, -kalau berita di dunia medsos benar/tepat memberitakannya -, ada sejumlah tamu yang benar-benar tidak tahu arah dan tujuan kegiatan itu. Undangannya mung jawilan, dumeh kanca kenthel.

Kedua, inilah gambaran kegiatan (aksikah?) yang maksud hati memeluk gunung, apa daya ketali mangsa. Dalam tulisan saya beberapa waktu yang lalu, telah menjadi jelas sebetulnya bahwa segala sesuatu itu ana mangsane, ana petungane; dan kalau hal itu tidak diperhatikan, secara alamiah apa pun pikiran bagus yang Anda gagas, mung bakal nemoni ketalimangsa.

Ketali mangsa menegaskan betapa pun Anda ‘pontang-panting’ dengan berbagai kegiatan dan aksi, namunjikawiskasep, yah ibaratnya kereta sudah melaju dan baru Anda tersadar lalu mau mengejarnya.

Wis kasep! Itulah makna ketali mangsa, yaitu wiskasep dan mungkin Anda akan menemui yang serba sia-sia belaka. Dengan kata lain, ketali mangsa menegaskan wis ora wayahe maneh.

Gejala Apa?

Ada apa dan mengapa ada saja orang atau kelompok yang melaksanakan sesuatu namun ketali mangsa? Kembali ke rumus alam tadi, bahwa segala sesuatu itu ada waktu dan hitung-hitungannya; namun ada orang atau kegiatan ketali mangsa, karena (berarti) salah rumus dan perhitungannya. Mungkin pakai “dukun” yang berbeda atau “dia” yang jan-jane ora ngerti petung merasa diri lihai.

Barangkali di sinilah letak munculnya gejala baru di zaman now ini; yaitu terbuka peluang lebar-lebar bagi siapa pun untuk merasa diri ahli atau lihai dalam sesuatu atau banyak hal.

Baca Juga: “Turu Kadhar” dan Tirakatan Detik-detik Proklamasi

Keahliannya mau ditunjukkan, mau dibeberkan, atau ingin diakui oleh khalayak; oleh karena gerakan dan aksinya (deklarasi?) dipakai sebagai kesempatan awal bukak dhasar atau istilah zaman now – nya ialah bukalapak.

Tegasnya, saat ini memang siapa saja boleh bukalapak, menawar-tawarkan “keahlian” apa saja yang dimilikinya (bahkan yang tidak dimilikinya sekali pun). Namun, hukum pasar tetap berlaku, yaitu penawarannya itu menjawab kebutuhan pasar atau tidak.

Kalau tidak ya ora payu, karena memang wis ketali mangsa. Padi sudah menguning, menunggu beberapa hari untuk panen, lha kok nawakake pupuk untuk menyelamatkan panen? Kasep…..kasep! Dan  memangnya ada pupuk untuk menyelamatkan panenan?

Begitu terbukanya peluang untuk siapa pun menawar-tawarkan keahliannya, tentulah masyarakat harus semakin waspada, cermat, dan penuh daya selidiknya dengan satu pegangan pertanyaan: Benarkah ia ahli? Dan kalau pun betul-betul ahli, namun ia ketali mangsa datangnya, apakah ia (mereka) mampu mengejar kereta yang sudah melaju?

blank
JC Tukiman Tarunasayoga

(JC TukimanTarunasayoga, Pengamat Kemasyarakatan)