SEMARANG (SUARABARU.ID)- Kolaborasi internasional antara dua universitas sangat diperlukan karena akan membawa manfaat bagi kedua blah pihak maupun lingkungan.

Sudah menjadi tanggung jawab kita selaku akademisi untuk melakukan penelitian selain tanggung jawab lain seperti mengajar dan layanan masyarakat . Saya percaya bahwa seminar hasil penelitian kolaboratif ini akan menjangkau sektor-sektor luas yang terkait dengan inti penelitian, yaitu perencanaan kota dan pemeliharaan sungai di kota Semarang.
Hal tersebut disampaikan Rektor USM Andy Kridasusila SE MM saat memberikan sambutan seminar hasil penelitian kolaboratif antara USM dan Port Said University Mesir secara virtual pada Kamis (16/7).

Kegiatan dengan tema “The River Maintenance and Preservation based on the Characteristic of Land Use Changes (LUC) in Kaligarang Watershed” mengahdirkan narasumber Muhammad Luthfi Eko Nugroho, S.T., M.T. – Kepala Sub Bagian Penelitian dan Pengembangan Infrastruktur dan Lingkungan,, BAPPEDA Kota Semarang, Bambang Sudarmanto, S.T., M.T. – Ketua Progdi Perencanaan Wilayah Kota, Fakultas Teknik, USM

Sementara dari Mesir diwakili oleh Assoc. Prof. Ahmed El-Sayed Gaber, PhD. – Associate Professor, Geology Department, Faculty of Science, Port Said University.

Menurut Muhammad Luthfi menjelaskan terkait pengelolaan air di Kota Semarang secara umum. Tata guna lahan di Semarang berpusat pada bagian pusat kota yang meningkat secara cepat sehingga mempengaruhi kondisi lingkungan di Semarang.

“Banjir merupakan salah satu masalah yang dihadapi oleh Kota Semarang, dikarenakan penurunan permukaan tanah, keadaan musim yang tidak pasti, kesadaran mengelola sampah yang kurang maksimal oleh warga, perubahan tata guna lahan dan pemukiman kumuh dan liar” ungkapnya.

“BAPPEDA menunggu partisipasi dari USM dan perguruan tinggi lainnya melalui penelitian agar dapat memberikan informasi yang tepat mengenai pengelolaan air di kota Semarang, yang sangat berguna bagi pengambilan keputusan mengenai pengelolaan air dan pengendalian banjir” tambahnya.

Assoc. Prof. Ahmed El-Sayed Gaber mengobservasi daerah aliran sungai Kaligarang Semarang melalui apikasi dan sampel sedimentasi tanah yang dibawa ke Mesir dan diteliti disana.

“Semarang sebagai salah satu 5 kota besar di Indonesia memiliki permasalahan mengenai penurunan permukaan tanah. Hal ini disebabkan karena makin meluasnya wilayah pemukiman penduduk yang menyebabkan banyaknya bangunan-bangunan berdiri dengan mengunakan komposisi beton sebagai komponen utamanya. Beton-beton tersebut diolah dari pasir dan bebatuan yang ditambang di sungai dan kanal bagian barat” ungkapnya.

“Semarang yang terdiri dari dataran tinggi dan rendah sebenarnya memiliki sistem penyeimbang alami untuk mencegah penurunan permukaan tanah dengan terlarutnya sedimen-sedimen dari Semarang atas yang memiliki komposisi tanah yang padat dan berbatu menuju Semarang bagian bawah dengan kondisi komposisi tanah yang lebih halus. Sedimen-sedimen tersebut menutup wilayah-wilayah yang tergerus ombak di pesisir pantai dan memperkuat kondisi tanah di Semarang bagian bawah. Namun sayangnya sedimen yang berupa pasir dan kerikil tersebut banyak ditambangi untuk bahan bangunan” tambah Gaber.

Gaber lantas memberikan saran untuk mengurangi penurunan permukaan tanah di Semarang adalah dengan menghentikan penambangan material di sepanjang daerah aliran sungai.

USM