dr Nurkukuh, M.Kes, Pembimbing Mahasiswa Praktik Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Undip Semarang.

JEPARA(SUARABARU.ID) – Ada pernyataan menarik yang disampaikan oleh dr. Nurkukuh, M. Kes saat ditemui wartawan SUARABARU.ID. Ia ditemui  di kantornya komplek Pengembangan Pendidikan Upaya Kesehatan Mlonggo Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang  di Sinanggul,  Jepara terkait dengan perkembangan covid-19 di Jepara yang terus naik secara signifikan.

Menurut dokter senior Pembimbing Mahasiswa Praktik Ilmu Kesehatan Masyarakat  Fakultas  Kedokteran Universitas Diponegoro  Semarang ini, hanya ada dua cara strategis  untuk mengatasi penyebaran covid-19 yang demikian cepat di Jepara. Dua langkah strategis itu adalah 3T dan 3M.

dr Nurkukuh M.Kes saat ditemui SUARABARU.ID siang tadi di kantornya.

Dijelaskan oleh Nurkukuh, 3T meliputi tes, tracing dan terapi. Tes dilakukan dengan  skrining pada semua orang yang berfaktor risiko langsung yang berasal dari daerah pandemi dan tidak langsung yang berada di kerumunan orang yang disebut tes komunal. Atau tes massal yang sasarannya semua populasi.

Baca juga : Pasien Covid di Jepara Bertambah 24 Orang, Donorojo Akhirnya Pecah Telur

Sedangkan tracing  menurut Nurkukuh adalah melakukan tes  bila ditemukan pasien covid -19. Semua orang yang kontak dengan pasien diperiksa, diselidiki tertular atau tidak. Karena itu disebut penyelidikan epidemiologi.

Jika kedua  kegiatan itu dilakukan terus menerus periodik baru disebut surveilan. Sementara  terapi dilakukan dengan melakukan  pengobatan dan tindakan medis sesuai keluhan, tanda dan gejala

Namun menurut Nurkukuh 3T saja tidak cukup untuk memutus penyebaran covid-19 di daerah yang telah masuk daerah transmisi lokal seperti Jepara. Harus  dibarengi juga dengan 3M. yaitu  masker dipakai, menjaga jarak 2 meter dengan orang lain dan anti kerumunan orang serta mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir.

Jika tindakan 3T dan perilaku 3M dilakukan bersama-sama secara sungguh-sungguh dan sama kuatnya, baru bisa mencegah penularan, jumlah penderita sedikit, sehingga segera sampai puncak dan grafik jumlah insidensi melandai.

Namun jika 3T lemah juga 3M lemah, maka jumlah kematian dan orang sakit covid 19 berjumlah besar.  Ini yang disebut pageblug. Sedangkan jika  3T kuat namun 3M nya lemah,  maka banyak ditemukan orang sakit, rumah sakit penuh dan puskesmas ramai dikunjungi pasien.

Akibatnya tenaga kesehatan yang pontang panting. Grafik jumlah penderita covid – 19 nanjak terus dan tidak terwujud puncak pandemi. Apalagi penurunan.

Menurut Nurkukuh, kondisi ideal adalah bila 3T lemah tetapi 3M nya kuat.  Inilah keadaan yang diidamkan yaitu kehidupan new normal. Sebab  3T lemah karena hasil tes yang dilakukan semuanya negatif. Makanya butuh pesan 3M yang kuat dan terus menerus. Kecuali sudah ditemukan vaksin covid untuk imunisasi

Perlu pendisiplinan

Sesuai dengan pengamatan yang dilakukan dan tupoksinya  yang  berkaitan erat dengan pendidikan dan pelayanan kesehatan masyarakat, Nurkukuh berkesimpulan bahwa teridapnya covid- 19 pada tenaga kesehatan saat sekarang ini, 70-80%  karena tertular di lingkungan nakes di luar gedung pelayanan kesehatan.

“Bisa dilingkungan tempat tinggal, pasar tradisional, pasar modern, toko sembako, transportasi pulang ke daerah asal,” ujar Nurkukuh.

Ia lantas menjelaskan, memang awalnya ada penularan kepada tenaga kesehatan dari pasien yang tidak jujur yang terjadi 5-4 minggu lalu saat  nakesnya belum menggunakan  APD secara ketat. Tetapi  2-3 minggu lalu nakes sudah semakin berpengalaman. “Namun ada nakes yang bandel tetapi  jumlahnya kurang dari 1%,” ujarnya

Sementara yang  tertular di gedung yankes hanya 20-30%. Bahkan dari nakes yang positif covid-19, dari bangsal rawat inap yankes primer hanya 2%. Sisanya 18-20% nakes dirawat jalan, nakes penyuluh kesehatan, nakes yang supervisi lapangan dan non-nakes.

Namun kenaikan jumlah positif covid-19 ini juga karena dilakukan tes komunal, yang berpotensi faktor risiko covid-19. “Misal dilakukan tes massal bisa lebih tinggi lagi. Tetapi jika tidak dilakukan tes, ya tinggal nunggu lahirnya klaster covid 19 yang baru.

“Semuanya ini karena tes yang kuat (3T) tidak diimbangi dengan patuh protokol kesehatan  (3M)  yang kuat,” ujar Nurkukuh.

“Jika  3T lemah 3M lemah maka bisa terjadi pageblug. Jika 3T kuat 3M lemah, maka banyak nakes yang terpapar. Sedangkan jika  3T kuat 3M kuat, pandemi menurun,” ungkap Nurkukuh.

Hasil Pengamatan

Nurkukuh juga mengugkapkan pengamatan yang dilakukan  didepan puskesmas Mlonggo, jln raya Jepara – Bangsri pada hari Selasa 7 Juli 2020 jam 07.00 – jam 07.00.  “ Dalam waktu 30 menit dari 100 kendaraan roda 4 yang lewat, sopir yang pakai masker hanya 6 orang.

Dari 100 kendaraan roda 2 yang lewat, berboncengan  hanya 15 yang bermasker. Sedangkan  pengendara bermasker 32 orang. Sementara orang lewat berjalan kaki 0 orang yang mengenakan masker, termasuk pedagang kaki lima depan puskesmas Mlonggo,” ungkap Nurkukuh.

Menurut Nurkukuh,  pokok masalah yang sekarang  harus dilakukan  adalah pendisiplinan orang  untuk melakukan  protokol kesehatan  dimana saja kapan saja.

Karena budaya kita paternalistik, maka menurut Nurkukuh pendisiplinan dilakukan  melalui hukuman dan ganjaran yang mengacu pada ajaran Ki Hajar Dewantoro, ing madyo mangun karso, yang isinya hukuman dan  ganjaran.

Itu setelah melakukan ing ngarso sung tulodho Ini harus dilakukan  oleh  semua pejabat, pemuka masyarakat formal informal, tokoh agama, para ASN, perangkat desa  tokoh masyakat serta para pemangku kepentingan untuk memberi contoh bermasker dan ber 3M.

Jadi memberi contoh dulu, baru berhak memberikan ganjaran dan hukuman. “ Selanjutnya tut wuri handayani yaitu  mengikuti dengan sepenuh hati dan pikiran seraya mengarahkan agar gerakan itu dipastikan dapat berjalan,” ujar Nurkukuh.

Hadi Priyanto