Bagikan
Lionel Messi. Foto: dm

Oleh: Amir Machmud NS

MEDIA massa memetakan sejumlah masalah dalam industri sepak bola, saat pandemi virus Corona tak terhindarkan juga menciptakan krisis di sana. Dari kondisi-kondisi riil krisis keuangan yang dihadapi oleh liga-liga Eropa, gambaran loyalitas pemain, hingga ide-ide liar yang digiring sebagai bagian dari solusi promosi.

Ide-ide liar itu bisa dimaknai hanya sebagai tren mediatika dalam fenomena budaya pop, namun bisa pula membuktikan kebenaran “tagline” yang selama ini berlaku dalam realitas industri sepak bola, yakni “sesuatu yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin”.

Peta Pertama
Peta pertama, kepedulian klub memotong gaji pemain dan kesediaan pemain untuk menerima hanya sekian persen dari pendapatannya, merupakan kontribusi serius di tengah krisis. Bahkan tak sedikit bintang yang menyisihkan sebagian (yang untuk ukuran kita tentu sangat “wah” karena bernilai miliaran rupiah) pendapatan, sebagai ungkapan sikap empati mereka.

Lionel Messi dan Luis Suarez sempat mengungkapkan kemarahan, karena manajemen Barcelona mengunggah opini, seolah-olah para pemain harus terlebih dahulu “dipaksa” untuk menyetujui pemotongan gaji. Atas sikap yang menegaskan keberpihakan kepada penanganan pandemi Covid-19, media mengidentikkan Messi dengan Che Guevara, tokoh revolusi Kuba yang legendaris itu.

Peta Kedua
Peta kedua, media menayangkan berita tentang sejumlah pemain yang “tidak loyal” kepada kemanusiaan di tengah kondisi keprihatinan. Di masa karantina yang dianjurkan oleh pemerintah, kapten Aston Villa Jack Grealish keluyuran malam. Range Rover yang dikendarainya menabrak tiga mobil yang sedang parkir. Diduga, pemain yang diincar oleh Manchester United itu dalam kondisi mabuk setelah hampir semalaman berpesta.

Kyle Walker, bek Manchester City menyusul jadi bahan cercaan, karena ketahuan mengadakan pesta seks di apartemennya. Pemain tim nasional Inggris itu, bersama seorang rekannya, menyewa dua pekerja seks yang membocorkan peristiwa tersebut. Denda besar menanti Walker. Keberlanjutan kariernya di timnas juga terancam.

Belum berlalu kisah kesembronoan Walker, media menyuguhkan berita tentang keputusan aneh Jose Mourinho. Pelatih yang pernah mengklaim diri sebagai The Special One itu menggelar sesi latihan Tottenham Hotspur di tengah aturan karantina. Dia telah meminta maaf, namun apa pun alasannya, tindakan itu menggambarkan Mourinho tidak loyal terhadap kemanusiaan.

Striker Real Madrid asal Serbia, Luka Jovic juga dikecam, ketika kedapatan berpesta dengan kekasihnya di jalanan Kota Beograd. Perdana Menteri Serbia Ana Brnabic pun mengecam perilaku Jovic. Madrid juga merasa kecolongan pemainnya lari di tengah aturan isolasi hanya untuk merayakan ulang tahun pacarnya.

Peta Ketiga

Ousmane Dembele. Foto: dm

Peta ketiga, media mengangkat sebuah ide liar. Liga Serie A yang terancam bangkrut, disebut-sebut membutuhkan suntikan “darah segar”. Dalam gagasan mantan Presiden Internazionale Milan Massimo Moratti, mendatangkan Lionel Messi dari La Liga bisa menjadi salah satu solusi.

Ide itu mungkin sulit terwujudkan, mengingat pemboyongan pemain sekelas La Pulga jelas membutuhkan biaya fantastis. Messi juga diperkirakan memilih mengakhiri karier sebagai one man club hanya di Barcelona. Di kub Catalan itu, dia sudah mengumpulkan puluhan trofi untuk klub, raihan individual, dan aneka rekor.

Akan tetapi, bisa pula hal yang dianggap tidak mungkin itu menjadi mungkin. Kapitalisme industri sepak bola banyak dipengaruhi oleh pergerakan lalu lintas uang, yang terkadang
memosisikan pemain hanya sebagai ”faktor produksi”. Kepindahan-kepindahan “tabu” antarklub Barcelona-Real Marid, AC Milan-Inter Milan, Manchester United-Manchester City, atau Manchester United-Liverpool, betapa pun besar komplikasinya, nyatanya menjadi pergerakan transfer yang terealisasi.

Messi boleh jadi tertarik memenuhi tantangan seteru abadinya, Cristiano Ronaldo untuk mencoba liga yang berbeda. CR7 telah membuktikan mampu meraih sukses baik di MU, Madrid, maupun Juventus, sementara Messi masih berkutat hanya di satu liga.

Syarat operasi kepindahan juga bisa dipenuhi. Sejauh ini Barca ngotot untuk mendapatkan Lautaro Martinez, striker Internazionale yang paling panas di bursa transfer saat ini. Andai Inter melangkah untuk memboyong Messi, dipastikan Martinez akan diajukan sebagai bagian dari syarat megatransfer itu.

Promosi Tinggi
Nah, keberadaan Ronaldo dan Messi di satu liga inilah yang diharapkan mengangkat nilai promosi tinggi. Liga Serie A diharapkan kembali bergairah di tengah recovery kelesuan
finansial. Persaingan antara Internazionale dengan Juventus akan menjadi seperti Barca vs Madrid.

Presiden La Liga, Javier Tebaz pagi-pagi sudah “memagari” kemungkinan tersebut. Dia menyimpulkan, Leo Messi tidak akan mampu mengangkat pamor Serie A. Usia sang megabintang yang sudah 32, dan jaminan sukses di Inter Milan bakal menjadi kendala.

Pemain asal Argentina itu tidak serta merta menjadi jawaban. Sejarah Serie A mencatat, pada akhir dasawarsa 1980-an Diego Maradona menjadi magnet yang menggeliatkan wilayah selatan Italia. Dengan skill dan karismanya, dia mengangkat Napoli FC sebagai kekuatan liga sekaligus Eropa.

Inter Milan sempat mencoba formula semacam itu, dengan mendatangkan Trio Jerman: Andreas Brehme, Juergen Klinsmann, dan Lothar Matthaeus. Namun mereka tidak berhasil melampaui Trio Belanda: Ruud Gullit, Marco van Basten, dan Frank Rijkaard yang mengukuhkan AC Milan sebagai “Tim Impian” pada 1990-an.

Pergerakan Transfer

Philippe Coutinho. Foto: dm

Pergerakan transfer pasca-pandemi Corona kelak, sudah mulai terasa saat ini. Philipe Coutinho paling banyak disorot, setelah Bayern Muenchen tidak mempermanenkan status peminjamannya. Nasib The Little Magician itu bakal mirip dengan Gareth Bale dan James Rodriguez.

Bale masih terus dispekulasikan hendak ke mana, setelah nyata-nyata Zinedine Zidane tidak mengkastingnya dalam skema utama tim. Sedangkan Rodriguez yang juga sempat dipinjamkan ke Muenchen, belum diminati klub mana pun.

Proyek Barcelona untuk memulangkan kembali Neymar Junior dari Paris St Germain, selalu dikaitkan dengan penjualan Antoine Griezmann. Media banyak menyuarakan pemain asal Atletico Madrid itu mengalami kesulitan adaptasi, namun bukankah kiprah Grizzou cukup mentereng? Mengemas 14 gol dan empat assist dari 36 laga sebelum kompetisi dihentikan, tentu bukan rekor buruk.

Jika Neymar pulang ke Camp Nou, apakah artinya Messi bisa dicegah untuk pergi? Kembalinya bintang asal Brazil itulah yang selalu dia minta. Jika proyek itu terealisasi, kelebihan stok striker yang menyisakan Ousmane Dembele juga membutuhkan otak-atik pasar tersendiri. Griezmann akan kembali ke posisi asli sebagai striker yang tidak beroperasi dari sayap, tetapi kemungkinan akan berotasi dengan Suarez.

Dembele yang disebut-sebut menjadi komponen transfer ke PSG, kabarnya juga diminati oleh Liverpool. Juergen Klopp paham sayap asal Prancis itu rentan cedera, namun dia menjanjikan mampu mengelola Dembele sebagai salah satu kunci permainan The Reds.

Kita kembali ke ide liar mengumpulkan kembali Messi dan Ronaldo di satu liga. Andai baru diapungkan sebagai wacana pun, setidak-tidaknya fenomena “geger ide” itu bakal memberi suntikan kegairahan industri sepak bola pasca-pandemi nanti.

Amir Machmud NS, wartawan SUARABARU.ID, kolumnis sepak bola

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here