Bagikan
Suasana malam di Kota Lama Semarang. Cahaya-cahaya pun berpendar. Foto: Courtesy myimage.id

Oleh Amir Machmud NS

PEKAN lalu, ketika menengok uji coba car free (bebas mobil) di Kota Lama Semarang, saya menangkap kawasan pariwisata mainstream itu bagai bertabur cahaya. Bukan berarti selama ini Kota Lama berpendar ketemaraman, namun membebaskannya dari mobil-mobil dan motor yang lewat terasa sejenak memberi kelonggaran tarikan napas, dan pengunjung bisa lebih leluasa menikmati detail demi detail di sana.

Kebijakan Wali Kota Hendrar Prihadi untuk pada malam-malam dan hari libur menerapkan car free di Kota Lama, merupakan bagian dari akselerasi penataan kawasan yang menjadi salah satu andalan destinasi pariwisata di samping Lawangsewu dan Kelenteng Sam Poo Kong itu. Rencana lain juga sedang dikebut, yakni menata jalan di gang-gang di kiri kanan jalan utama Kota Lama. Keseimbangan keasrian dan kenyamanan itu perlu, karena zona Kota Lama akan lebih menarik apabila diperluas untuk memberi kesempatan pengusaha kuliner dan pernak-pernik suvernir khas, di samping atraksi-atraksi kesenian yang mengisi acara.

Kawasan Kota Lama Semarang, kawasan Gereja Blenduk yang merupakan ikon penting Kota Lama. Foto: Timesindonesia

Pada Agustus lalu, saya mengunjungi Kota Lama Arbat di Moskwa, Rusia. Dalam sebuah artikel reportase, saya menulis paragraf-paragraf yang mengaitkan Arbat dengan potensi Semarang.

Mari bayangkan Kota Lama Semarang empat – lima tahun mendatang. Kawasan publik itu benar-benar menjadi “kota lama” yang nyaman dan mengesankan. Hanya sepeda onthel yang diizinkan menjadi transportasi untuk berlalu lalang dari satu spot ke spot yang lain. Kendaraan bermotor harus parkir di tempat yang khusus disediakan oleh Pemerintah Kota Semarang.

Bayangkan pulalah di sepanjang sekitar 500 meter jalan, mulai dari pintu timur di Karangdoro hingga pintu barat di Jembatan Berok, pernak-pernik yang serbaseni dan serbamenghibur menandai titik demi titik yang tak boleh terlewatkan. Ada atraksi para seniman, pelukis yang menggelar karyanya, pengamen dengan kualitas suara dan musik yang pantas didengar, penyair yang membaca puisinya, ada pula kafe-kafe dan tempat kuliner yang tertata rapi dan tidak terganggu parkir kendaraan. Tak ketinggalan kios-kios penjual suvenir khas Semarang dan Jawa Tengah.

Bayangkan pula ini: sepanjang jalan utama dan di lorong-lorong gang seputar kawasan khusus itu terjaga kebersihannya. Tak ada bau saluran air yang mengganggu, dan apalagi bau pesing lantaran orang buang air kecil seenaknya. Pengunjung pun merasa nyaman. Semua menikmati, dan semua bisa berimajinasi.

Berimajinasi? Inilah salah satu manfaat berkunjung ke Kogta Lama. Ya, karena di salah satu sudut Taman Srigunting disajikan displai foto Semarang tempo dulu lengkap dengan grafis penjelasan historiknya. Juga berbagai pernik kesejarahan yang dipajang di lorong-lorong seputar Kota Lama.

 

Menengok Stary Arbat

Mari sejenak kita tengok Stary Arbat. Saya mengimajinasikan tentang penataan dan pengembangan Kota Lama Semarang itu lewat inspirasi gambaran denyut keseharian Kota Lama Arbat di Moskwa.

Arbat, Kota Lama di Rusia. Foto: istimewa

Dengan bangunan gedung-gedung lama nan megah dan eksotik, juga setting sejarah di sepanjang jalan dan lingkungannya, Arbat menjadi cermin keberhasilan manajemen kota untuk dijadikan ikon pariwisata yang menjual, mendatangkan kesejahteraan bagi warga dan pendapatan bagi pemerintah kota. Kota Lama Arbat menjadi salah satu titik yang “wajib” dikunjungi para wisatawan di Rusia.

Kata arbat, yang agaknya dipengaruhi oleh Bahasa Arab, diartikan kira-kira sebagai arbad, atau daerah pinggir. Tidak terjelaskan secara pasti arti kata tersebut, tetapi Stary Arbat sudah menjadi jalan penting sejak abad ke-15, sebagai jalur perdagangan utama dan tempat berkiprah para pengrajin.

Para bangsawan Rusia menjadikannya sebagai kawasan bergengsi pada abad ke-18 dan 19. Namun Arbat sempat mengalami kehancuran ketika terjadi kebakaran hebat pada 28 Juli 1493 pada masa kekuasaan Napoleon Bonaparte. Dibutuhkan waktu hampir satu abad untuk memulihkannya sebagai jalur penting di Mokswa, dan kemudian bahkan berkembang seperti sekarang.

Bagi para turis, kunjungan wajib ke Arbat merupakan bagian dari “ritus” atau “rukun safar” ke Negeri Beruang Merah. Belum ke Rusia rasanya kalau belum mengunjungi Arbat. Di sinilah, bagi yang ingin mendapat buah tangan, bisa membelinya. Dua ikon suvenir yang khas Rusia adalah boneka matriyoshka (boneka yang beranak pinak) dan ushanka, yaitu topi berbulu dengan penutup telinga untuk menghangatkan diri dari terpaan angin dingin.

Salah satu sudut di kota Arbat, kawasan kota lama di Rusia. Foto: Istimewa

Matriyoshka yang dijual di Arbat adalah produk seni lebih mahal dibandingkan dengan yang tersedia di pasar-pasar umum seperti di Ismailova. Boneka ini berbentuk bulat lonjong dengan ornamen seni Rusia. Kalau dibuka, Anda akan mendapatkan di dalamnya “anak-anak” boneka itu hingga ukuran terkecil. Dibuka, ada boneka lebih kecil, dibuka lagi, makin kecil dan makin kecil. Ada yang berisi 10 “anak”, ada pula yang lima, dan seterusnya.

Matriyoshka bergambar Presiden Joko Widodo dan presiden-presiden sebelumnya, mudah dipahami sebagai cara untuk menarik turis pembeli dari Indonesia. Bahkan ada matriyoshka berisi gambar utama Presiden Sukarno, yang di dalamnya beranak pinak hingga SBY dan Jokowi.

Cermin bagi Semarang

Dengan keberadaan, pengembangan, dan reputasi yang jauh lebih lama, Arbat bisa menjadi cermin terang bagi pengelolaan Kota Lama Semarang, yang sekarang mulai makin tertata dan dikembangkan.

Kuncinya, seperti yang diungkapkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam perjalanannya ke Rusia pada Agustrus lalu, hanya satu: kesungguhan untuk menjadikannya sebagai kawasan wisata konservasi unggulan dengan segala detail perniknya. Kota Lama Semarang bisa diorientasikan sebagai ekspresi eksotisitas sejarah yang dikemas secara gaul dan dihayati sebagai “jalan seni”.

Dengan jumlah pengunjung yang secara kasat mata makin meningkat, dari sisi fasilitas dan perawatan, mereka diajak menikmati dengan segala kenyamanannya. Wisatawan bisa berjalan-jalan, bercengkerama, dan memilih spot-spot unggulan yang mereka inginkan; sambil berkuliner dan memilih buah tangan.

Di sisi lain, warga Semarang didorong untuk menangguk manfaat kesejahteraan ekonomi, dan pemerintah kota menyerap secara maksimal pendapatan asli daerah. Pemkot tinggal mengkreasi tempat parkir, kebijakan car free, juga mengajak para pemilik bangunan gedung yang belum termanfaatkan untuk menjadi bagian dari geliat Kota Lama.

Yakinilah, dengan keseriusan menggarap, Kota Lama Semarang bisa menjadi “Arbat Kecil” dengan segala keunggulan faktor pembedanya. Ada yang tidak ditemukan di sana, dan banyak yang bisa dinikmati di Semarang…

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here