Bagikan
Ilustrasi. Foto: timlo.net

SAAT ini bangsa kita, bahkan dunia sedang diuji dengan “Pagebluk Internasional” ini. Selain ikhtiar lahir (medis) ada baiknya kita melakukan ikhtiar dalam bentuk spiritual atau supranatural. Untuk itu, berikut ini saya tulis konsep metafisika yang pernah saya pelajari dari para guru.

Selain ikhtiar medis, ada baiknya kita melakukan upaya spiritual. Dan untuk itu, saya tulis doa yang lazim diajarkan para Guru, terutamanya saat ada bahaya, baik bersifat fisik maupun wabah.

Diantara yang lazim diajarkan para Guru, untuk penangkal dari segala bahaya, termasuk keselamatan yang bersifat umum, adalah doa : Bismillahilladzii laa yadhurru ma-asmihi syai-un fil ardhi wa laa fissamaa-i, wa huas-samii-ul aliim. (“Dengan nama Allah yang jika disebut, segala sesuatu di bumi dan langit tidak akan berbahaya, Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”)

Doa ini berdasarkan sabda Nabi SAW : “Seorang hamba yang membaca (berdoa) pada pagi, petang, atau pada setiap malam, “bismillahilladzi laa yadhurru ma’as-mihi syai-un fil ardhi wa laa fissamaa-i, wa huas samii’ul ‘aliim” tiga kali, maka tidaklah berbahaya baginya apapun juga” (Terhindar dari bahaya apa saja ). (HR. Bukhari, Muslim).

Doa ini bisa diamalkan sehari-hari sebagai doa perlindungan dari bahaya yang sifatnya umum atau khusus. Karena hakikatnya yang melindungi kita dari segala bahaya itu Allah SWT. Maka, berdoalah hanya kepada-Nya.

Benteng Lahir Batin

Selain doa tersebut, ada juga amalan (wirid) favorid, yaitu Surah yang turun di Madinah, yang jika dibaca tujuh kali setiap hari dan malam, maka dimudahkan dan diselamatkan kita dari urusan dunia dan akhirat. Keistimewaan dari dua ayat akhir dari Surah At-Taubah, itu antaranya :

Barang siapa yang setiap harinya membaca dua ayat akhir dari Surah Al-Taubah, sebanyak tujuh kali sesudah salat fardhu, insya Allah mendapatkan karunia : Jika lemah, dia menjadi kuat, jika hina, dia menjadi mulia,  jika kalah  akan mendapat pertolongan, jika sempit, mendapat kelapangan, jika  susah, segera hilang kesusahannya, dan jka sulit dalam penghidupan, segera  mendapat ke lapangan.

Oleh para Guru disebutkan, siapa yang membacanya pada siang hari atau pada malam, maka itu pertanda dia tidak akan mati pada hari itu. Menurut riwayat lain, siapa yang membaca doa ini insya Allah tidak akan terluka atau dilukai seseorang.

Sebahagian hukama’ (ahli hikmah) menyebutkan, keistimewaan dua ayat ini jika dijadikan amal rutin,  dalam keilmuan tradisional Jawa seperti Ajian  “Cocak Ijo”-nya, karena dengan merutinkannya, insya Allah bisa mencapai usia panjang, diatas 100 tahun. Kuncinya, istikaham (rutin) pengamalannya.

Yang dimaksud dua ayat akhir surat At-Taubah adalah: Laqod ja-akum rasuulum min anfusikum ‘aziizun ‘alaihi maa’anittum hariishun ‘alaikum bil mu’miniina ra’uufur rahiim. Fain tawallau faqul hasbiyallaahu laa ilaaha illaa huwa, ‘alaihi tawakkaltu wa-huwa rabbul ‘arsyil ‘azhiim (Surah at-taubah :128 -129)

Artinya : Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya peneritaan yang kamu alami, (dia) sangat mengingnkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman. Maka jika mereka berpaling (dari keimanan)  maka katakanlah (Muhammad): “Cukuplah Allah bagiku, tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arasy (singgasana) yang besar “.

Tiga Konsep Doa/Keilmuan

Saya menghindari membahas banyak konsep dengan menulis banyak amalan (Wirid, mantra, dsb). Saya pilih menulis yang fokus karena kalau soal (catatan) amalan : doa, wirid, mantra, itu mudah didapatkan dari “Mbah Google”. Sedangkan pemahaman ilmu, itu lebih berharga. Dan menurut para guru spiritual, lebih baik sedikit ilmu yang dapat dipelajari dan dikuasai matang, daripada banyak konsep, namun hanya tahu bagian kulitnya saja.

Selain dua amalan diatas, sebagai pelangkap, ada juga keilmuan warisan para leluhur Jawa yang disebut Aji Panjotho Kleyang. Dan sebagian mantranya : Salamu alaikum salam/Tanggal tuwa nom aku/Panjotho kleyang slaga lintang/Widodari kembange rembulan, dan seterusnya.

jian ini dibaca pada  malam bulan sabit tanggal satu hingga lima kalender Jawa. Melakukannya sambil berdiri di halaman rumah sambil memandang bulan sabit, disertai memvisualisasikan (sedang) menyerap “energi muda”,  sehat jasmani dan rohani. Cara membaca mantranya, dibaca sesuai “satuan kelahiran” dan  diakhiri menghentak bumi tiga kali.

Saat diwejang ilmu ini, oleh Guru tidak  dijelaskan arti mantranya. Karena energi mantra itu bukan hanya ada pada artinya saja, melainkan pada getaran dan sugesti pelakunya. Ajian ini saya terima dari Guru yang pada saat itu  berusia 107 tahun (Istri usia 66 tahun).

Selanjutnya, sebagai penyempurna ilmu, pada tanggal mulai tua, (berdasarkan kalender Jawa/Qamariyah) atau tanggal 13 ke atas, bagian mantara Tanggal Tuwa Nom Aku dijadikan “wirid” dibaca berulang-ulang, tidak terikat jumlah dan waktu. Itu bagi yang ingin fokus awet mudanya. Namun jika ingin difokuskan untuk kesehatan, yang banyak dibaca adalah : Teguh Tegeng, Teguh Tegeng, Teguh Tegeng,  Awet Nom Aku.

Guru saya mendapatkan ilmu ini dari pinesepuh yang biasa dipanggil Mbah Akhsan. Anak-anak beliau juga mengamalkan ilmu leluhurnya. Bahkan hingga kini ada yang usianya 109 tahun. Beliau dulunya pedagang, dan pada usia setua itu kalau soal menghitung uang, lebih cepat dan terampil mengalahkan anak dan cucunya.

Masruri, praktisi dan konsultan spiritual tinggal di Sirahan, Cluwak, Pati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here