Bagikan
Amir Machmud NS sebagai narasumber didampingi moderator Diana dari KPU Jateng dalam FGD Efektivitas Pemberitaan Media dalam Pemilu Serentak. Foto Tony RS

SEMARANG – Media punya sikap yang sama, untuk menyukseskan Pemilu 2019 yaitu sukses penyelenggaraan dan menjaga kampanye damai, serta menciptakan pemilu yang menggembirakan. Termasuk juga dengan PWI Jateng sebagai organisasi profesi kewartawanan, dalam rangka HPN (Hari Pers Nasional) ini juga membawa tema “Media bening untuk Pemilu yang Indah”.

Hal itu diungkapkan Ketua PWI Jateng Amir Machmud NS dalam FGD tentang Efektivitas Pemberitaan Media dalam Pemilu Serentak yang diselenggarakan KPU Jateng di Hotel Patra Jasa Semarang, Kamis (7/2).

“Tema ini memberikan determinasi bahwa pemilu merupakan pesta demokrasi dalam pengertian yang sesungguhnya,” ujar Amir Machmud.

Media seolah-olah selama ini terposisikan sebagai penyebar. Apakah kondisi silang-sengkarut politik sekarang ini merupakan determinasi media, yang terkesan sebagai pembakar?

Diakuinya, ada saling pengaruh di dalam berbagai kepentingan, yang juga kemudian melibatkan media. “Silang-sengkarut yang terjadi sekarang ini salah siapa. Bersalahkan media? Media juga terseret di dalam kondisi itu, dan mestinya media justru bisa berada di tengah. Media bisa mempengaruhi keadaan, dan tidak justru malah menambah silang-sengkart itu,” katanya.

Amir juga bertanya, apakah masyarakat atau parpol rela bila media benar-benar netral, benar-benar independen? “Kalau media miring ke kiri, yang kanan tidak menerima, kalau miring ke kanan yang kiri keberatan,” ujar Amir.

Saat ini, tambahnya, sedang ada pertarungan antara media dengan media dalam tanda kutip. “Ada media yang mencoba mendudukkan kebenaran sebagai elan perjuangan. Tetapi media yang terpengaruh kepentingan politik kemudian cenderung berada pada kubu yang memang dipilihnya itu.

Berkaitan dengan kepesertaan dalam pemilu, memang tampak kecenderungan turunnya partisipasi pemilih. “Tentu tidak bisa secara serta-merta ini dikatakan sebagai kesalahan media yang kurang optimal dalam menyosialisasikan Pemilu. Penyebabnya tentu bisa macam-macam. Keberadaan relawan tentu juga sangat membantu untuk meningkatkan kepesertaan di dalam Pemilu,” tambahnya.

Diingatkan, kita kini berada dalam dikotomi yang cenderung membahayakan, antara “saya” dan “kamu”, antara “kami” dan “Mereka” mereka.

“Bahkan secara nyata disebut ada kelompok cebong dan kampret. Dikotomi macam ini sangat membahayakan bila bercampur dengan kepentingan politik dan kekuasaan,” ujar Amir.

Suasana FGD Efektivitas Pemberitaan Media dalam Pemilu serentak yang diselenggarakan KPU Jateng. Foto: Tony RS

Untuk itu, diingatkan, etika moral dalam tahapan pemberitaan terkait pemilu, dalam penyajiannya harus dalam tanggung jawab sosial yang besar. ”Bagaimanapun penyelenggaraan pemilu harus selamat. Berita-berita hoaks misalnya tentang container dengan kartu tercoblos, rumor calon yang akan mengundurkan diri, dan sebagainya harus diurai latar belakangnya. Di sinilah peran KPU untuk menyampaikan itu, agar berita yang tersiarkan tidak menjadi salah dan liar,” tambahnya.

suarabaru.id/Tony RS

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here