blank
Ilustrasi. Foto: Dok. Achmad Qhuzairy Qarasyi

Oleh Achmad Qhuzairy Qarasyiblank

KEMAMPUAN literasi peserta didik di Sekolah Dasar (SD) di Indonesia menjadi permasalahan yang perlu diperhatikan. Berdasarkan hasil penelitian lembaga-lembaga internasional, kemampuan literasi peserta didik di Indonesia masih rendah.

Salah satu faktor penyebab rendahnya kemampuan literasi peserta didik di sekolah dasar adalah praktik dan lingkungan literasi yang belum memadai. Selain itu, rendahnya kualitas guru dan disparitas mutu pendidikan di Indonesia juga diduga sebagai penyebab utama buruknya kemampuan literasi peserta didik secara umum.

Hal ini disebabkan karena minat baca tulis, kemampuan dasar dalam membaca, menulis, mendengarkan, dan berhitung belum optimal. Oleh karena itu, perlu adanya upaya-upaya yang harus dilakukan oleh berbagai pihak yang berhubungan dengan peningkatan literasi peserta didik sekolah dasar, seperti pengambil kebijakan (pemerintah), sekolah, guru, dan orang tua.

Budaya literasi juga harus ditingkatkan di sekolah, dan kemampuan dasar literasi seperti membaca dan menulis harus menjadi prioritas utama dalam dunia pendidikan. Berikut kondisi kemampuan literasi peserta didik di sekolah dasar.

Kondisi kemampuan literasi peserta didik di sekolah dasar dapat sangat bervariasi bergantung faktor yang memengaruhinya; termasuk wilayah geografis, sistem pendidikan, tingkat sumber daya, kualifikasi guru, dan faktor-faktor lainnya. Secara umum, berikut beberapa gambaran tentang kondisi kemampuan literasi peserta didik di sekolah dasar.

Varian dalam keterampilan literasi terdapat variasi yang signifikan dalam kemampuan literasi peserta didik di tingkat sekolah dasar. Beberapa peserta didik mungkin memiliki keterampilan literasi yang sangat baik, sementara yang lain mungkin menghadapi kesulitan.

Selain itu, peran faktor ekonomi di beberapa wilayah atau negara dengan tingkat kemiskinan tinggi, kemampuan literasi peserta didik cenderung lebih rendah. Ketersediaan sumber daya pendidikan yang kurang memadai, termasuk buku-buku dan fasilitas belajar, seringkali memengaruhi kemampuan literasi peserta didik.

Pengaruh guru dalam kualitas pengajaran juga memiliki dampak besar pada kemampuan literasi peserta didik. Guru yang berkualitas, berpengalaman, dan terlatih dengan baik dapat memberikan pengajaran yang efektif dalam keterampilan literasi.

Namun beberapa guru kurang dalam penggunaan media yang menjadi salah satu penyebab permasalahan literasi peserta didik karena dalam kegiatan belajar membaca dan menulis, guru jarang menggunakan media untuk menunjang kegiatan literasi peserta didik.

Selain itu, kualitas lulusan pengajar ditentukan oleh kualitas atau kompetensi guru. Hasil uji kompetensi guru pada tahun 2015 hanya mencapai nilai rata-rata 53,02% dan kompetensi calon guru juga masih rendah.

Masalah interaksi belajar-mengajar pun menjadi masalah yang kompleks karena melibatkan berbagai faktor yang saling terkait satu sama lain, dari sekian banyak faktor tersebut, guru sebagai faktor yang sangat penting dalam keberhasilan pembelajaran.

Kurangnya program literasi pada suatu elemen penting dalam pembelajaran literasi secara umum adalah berpikir dalam kombinasi pembelajaran menulis dan membaca, para peserta didik diajak pada berbagai kegiatan yang dapat meningkatkan kemampuan literasi mereka, namun kurangnya program literasi dalam pembelajaran juga menjadi salah satu faktor permasalahan literasi peserta didik.

Penelitian menunjukkan bahwa permasalahan literasi peserta didik di sekolah disebabkan oleh kurangnya pemahaman tentang permasalahan membaca peserta didik di sekolah dan faktor penyebab serta upaya yang dijadikan solusi.

Untuk meningkatkan kemampuan literasi peserta didik, perlu dilakukan upaya-upaya seperti meningkatkan kualitas guru, mengembangkan program literasi, dan meningkatkan pemahaman tentang permasalahan literasi peserta didik.

Ketersediaan buku dan bahan bacaan di rumah dan di sekolah memainkan peran penting dalam perkembangan literasi peserta didik. Peserta didik yang memiliki akses terbatas pada buku yang cenderung memiliki kemampuan literasi yang lebih rendah. Hal tersebut juga berpengaruh pada kurikulum dan metode pengajaran yang didesain oleh sekolah dapat memengaruhi kemampuan literasi peserta didik. Maka, kurikulum yang baik dan metode pengajaran mampu mendukung pembelajaran secara aktif dan berpikir kritis dapat meningkatkan kemampuan literasi.

Faktor Pendukung

Dukungan keluarga. Dukungan keluarga sangat penting dalam perkembangan literasi peserta didik. Orang tua yang terlibat dalam membaca dengan anak-anak mereka dan memberikan lingkungan yang mendukung literasi di rumah dapat memberikan kontribusi besar pada kemampuan literasi anak-anak.

Kurikulum literasi yang tersedia. Sekolah telah mengintegrasikan kurikulum literasi yang kuat dalam program pembelajaran mereka dapat memengaruhi kemampuan literasi peserta didik.

Penggunaan teknologi dalam literasi. Di era digital, penggunaan teknologi dalam literasi juga memainkan peran. Peserta didik yang terampil dalam menggunakan perangkat digital dan internet dapat memiliki akses lebih besar ke sumber daya literasi online.

Pengukuran kemampuan literasi. Evaluasi dan pengukuran kemampuan literasi peserta didik penting untuk memahami kondisi literasi. Pengukuran ini dapat membantu mengidentifikasi peserta didik yang memerlukan dukungan tambahan.

Program intervensi: Sistem pendidikan biasanya memiliki program intervensi untuk peserta didik yang mengalami kesulitan dalam literasi. Efektivitas program-program ini dapat memengaruhi kemampuan literasi peserta didik yang memerlukan bantuan tambahan.

Penting untuk mencatat bahwa kondisi kemampuan literasi peserta didik dapat berubah seiring waktu dengan upaya yang tepat. Dengan fokus pada kualitas pengajaran, akses ke sumber daya, dan dukungan pendidikan yang kuat, sekolah dapat membantu meningkatkan kemampuan literasi peserta didik di sekolah dasar.

Peningkatan mutu literasi peserta didik di sekolah dasar memerlukan kerja sama antara guru, sekolah, keluarga, dan komunitas. Hal ini sebagai upaya berkelanjutan yang harus diperhatikan secara serius oleh semua pihak yang terlibat dalam pendidikan peserta didik.

 

Program Peningkatan Literasi

Ada banyak program yang dapat digunakan untuk meningkatkan literasi peserta didik di berbagai tingkat pendidikan. Program-program ini dirancang untuk membantu peserta didik mengembangkan keterampilan membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan. Berikut adalah beberapa contoh program yang dapat digunakan untuk meningkatkan literasi peserta didik:

Program membaca bersama (shared reading). Program ini melibatkan pembacaan buku bersama oleh guru atau orang dewasa kepada peserta didik. Selama sesi ini, peserta didik dapat berpartisipasi dalam diskusi tentang cerita dan memahami struktur teks.

Program membaca mandiri (independent reading). Mendorong peserta didik untuk membaca secara mandiri dengan mengakses buku-buku yang sesuai dengan tingkat bacaan mereka. Peserta didik dapat memilih buku sesuai minat mereka dan membaca secara teratur.

Program menulis kreatif. Program ini mendorong peserta didik untuk mengembangkan keterampilan menulis mereka melalui kegiatan seperti menulis cerita pendek, puisi, atau esai. Guru dapat memberikan umpan balik konstruktif untuk membantu peserta didik meningkatkan kemampuan menulis mereka.

Kelompok diskusi dan kritis. Mengorganisir kelompok diskusi atau klub buku di sekolah untuk membahas buku-buku tertentu. Ini dapat membantu peserta didik meningkatkan pemahaman mereka tentang teks dan berbicara tentang literatur.

Program pengembangan kosa kata. Melibatkan peserta didik dalam kegiatan yang memperluas kosa kata mereka. Ini bisa mencakup latihan membaca dan menulis kata-kata baru, bermain permainan kata, atau memasukkan kata-kata baru ke dalam kelas sehari-hari.

Program literasi digital. Mengajarkan peserta didik bagaimana menggunakan teknologi digital untuk membaca dan menulis, serta mengkritisi informasi yang mereka temui di internet.

Pertukaran buku. Mengorganisasikan pertukaran buku antar peserta didik atau dengan sekolah lain untuk memperluas akses peserta didik terhadap berbagai jenis buku.

Mentor literasi. Membawa sukarelawan atau mahapeserta didik tingkat atas untuk membantu peserta didik yang memerlukan bantuan tambahan dalam literasi. Mentor dapat memberikan bimbingan pribadi atau membaca bersama peserta didik.

Lingkungan pembelajaran literasi. Menciptakan lingkungan pembelajaran yang kaya akan buku dan bahan bacaan di dalam dan di luar kelas. Ini dapat mencakup perpustakaan sekolah yang baik, sudut baca yang nyaman, dan penggunaan dinding kelas untuk menampilkan karya tulis peserta didik.

Pendidikan literasi untuk orang tua. Melibatkan orang tua dalam program literasi dengan memberikan panduan tentang bagaimana mereka dapat membantu anak-anak mereka dengan membaca di rumah.

Program literasi komunitas. Berkolaborasi dengan komunitas setempat dan perpustakaan umum untuk mengadakan acara literasi atau proyek bersama yang melibatkan peserta didik dan keluarga mereka.

Evaluasi dan intervensi. Menggunakan tes literasi dan evaluasi berkala untuk mengidentifikasi peserta didik yang memerlukan intervensi tambahan. Program intervensi dapat mencakup bimbingan individual atau kelompok kecil.

Pembelajaran selama seumur hidup yang memotivasi peserta didik untuk melanjutkan kebiasaan membaca dapat dilakukan dengan mengadakan acara literasi reguler dan mengajarkan peserta didik bagaimana menemukan buku dan sumber daya literasi di luar sekolah. Penting untuk menyesuaikan program-program ini dengan kebutuhan peserta didik dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung literasi. Selain itu, terus memantau kemajuan peserta didik dan memberikan dukungan tambahan kepada mereka yang memerlukan itu. Literasi yang kuat adalah keterampilan dasar yang sangat penting dalam kehidupan peserta didik, dan upaya untuk meningkatkannya memiliki dampak jangka panjang yang signifikan.

Achmad Qhuzairy Qarasyi mahasiswa Sekolah Pascasarjana Program Doktoral (S3) Prodi Manajemen Kependidikan Universitas Negeri Semarang