Siswa SMP Negeri 1 Kejajar Wonosobo, ketika membacakan pakta integritas Anti Tiga Dosa Besar Pendidikan. Foto: Muharno Zarka

WONOSOBO (SUARABARU.ID)SMP Negeri 1 Kejajar Wonosobo, Jumat (5/8/2022), menggelar acara deklarasi Anti Tiga Dosa Besar Pendidikan, di Aula SMP setempat.

Tiga dosa besar di dunia pendidikan atau di sekolah itu, terdiri dari aksi bullying (perundungan), kekerasan seksual dan intoleransi antarsiswa atau antarwarga sekolah lainnya.

Deklarasi itu dihadiri Kepala Disdikpora Tono Prihatono, Camat Kejajar Ahmad Fatoni, Pengawas SMP Parwanto dan Ketua Komite SMP Negeri 1 Kejajar Triyono dan anggota.

BACA JUGA: Pemkab Jepara Gelar Pelatihan Teknis Pengelolaan Data Statistik Sektoral

Kepala Disdikpora Wonosobo, ikut menandatangani pakta integritas Anti Tiga Dosa Besar Pendidikan, di SMP Negeri 1 Kejajar. Foto: Muharno Zarka

Kepala SMP Negeri 1 Kejajar, Slamet Riyadi menyebut, deklarasi anti bullying, kekerasan seksual dan intoleransi ini, sebagai bentuk kepedulian sekolah untuk menciptakan suasana pembelajaran yang aman, damai dan menyenangkan.

”Intinya, peserta didik harus merasa aman dan senang ketika mengikuti proses belajar di sekolah. Sehingga tidak ada kasus bullying, pelecehan seksual dan intoleransi antarwarga sekolah,” tegasnya.

Sedangkan Kepala Disdikpora Wonosobo, Tono Prihantono menambahkan, suasana sekolah yang kondusif tanpa bullying, kekerasan seksual dan intoleransi, merupakan implementasi belajar merdeka seperti yang dicetuskan Mendikbud Nadiem Makarim.

BACA JUGA: PT Dongcai Garment Indonesia di Kota Tegal Butuh Ratusan Karyawan

”Belajar merdeka itu kan berusaha menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Saya mengapresiasi pihak SMP Negeri 1 Kejajar, yang telah mendeklarasikan diri sebagai sekolah yang anti bullying, kekerasan seksual dan intoleransi,” ujarnya.

Menurut Tono, jika tiga dosa besar pendidikan sampai terjadi di sekolah, akibatnya peserta didik pasti merasa tidak aman, takut, tidak percaya diri dan terancam oleh perilaku menyimpang itu. Sehingga mereka tidak kerasan ketika berada di sekolah.

”Dampak lebih jauhnya, siswa bisa tidak mau sekolah lagi, karena merasa tidak aman dan tidak nyaman ketika berada di lingkungan sekolah. Kondisi ini tidak boleh sampai terjadi di semua level lembaga pendidikan,” pintanya.

Deklarasi ini juga diikuti pembacaan pakta integritas oleh seluruh siswa, dan penandatanganan kesepakatan bersama antarberbagai pihak yang hadir dalam acara itu.

Muharno Zarka