Kustiyah,S.Pd

Oleh: Kustiyah, S.Pd

JEPARA (SUARABARAU.ID)- Rumusan tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 yaitu pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Berdasarkan tujuan pendidikan nasional tersebut menunjukkan bahwa pada dasarnya tujuan pendidikan nasional mengarah pada pendidikan karakter. Pendidikan karakter yang dikembangkan di lembaga formal khususnya sekolah memiliki tujuan menguatkan dan mengembangkan nilai-nilai kehidupan yang dianggap penting dan perlu sehingga menjadi kepribadian peserta didik, mengorekasi perilaku peserta didik yang tidak bersesuaian dengan nilai-nilai yang dikembangkan sekolah, dan membangun koneksi yang harmoni dengan keluarga dan masyarakat dalam memerankan tanggungjawab pendidikan karakter. (Dharma Kesuma, Cepi Triatna, dan Johar Permana, 2012).

Secara teoritik, ada dua jalur peserta didik memperoleh nilai, yaitu melalui jalur otak dan jalur akal (pikiran), serta melalui jalur hati dan jalur rasa (perasaan).

Dua jalur ini didasarkan pada setiap diri peserta didikĀ  dapat memperolehnya melalui panca indranya yang diikuti oleh tatanan berpikir logis atau logis-empiris, dan nilai juga dapat diperoleh melalui jalur non-indra seperti intuisi atau wawasan (insight) yang diikuti oleh tatanan perasaan mistis (maksudin).

Pemerolehan nilai atau karakter oleh peserta didik tersebut dapat terjadi jika komunikasi verbal maupun non verbal antara pendidik dan peserta didik. Bagi seorang pendidik ada berbagai strategi, metode maupun pendekatan yang bisa dilakukan untuk transfer sebuah nilai pada peserta didik.

Terdapat berbagai pandangan mengenai pendekatan dalam pendidikan karakter. Menurut Hers dijelaskan setidaknya ada lima pendekatan rasional yang sering digunakan oleh para pakar pendidikan, yaitu (1) pendekatan pengembangan rasional, (2) pendekatan pertimbangan, (3) pendekatan klarifikasi nilai (4) pendekatan moral kognitif, dan (5) pendekatan perilaku sosial.

Selain itu Ellas juga mengklasifikasikan berbagai teori yang berkembang menjadi tiga, yakni (1) pendekatan kognitif, (2) pendekatan afektif, (3) pendekatan perilaku. Klasifikasi yang diberikan oleh Ellas tersebut berpatokan pada kajian psikologis, yaitu perilaku, kognitif, dan afeksi. (Masnur Muslich, 2011).

Pembangunan Karakter dapat Meningkatkan prestasi anak

Pendidikan karakter di sekolah diyakini dapat membantu para peserta didik dalam memahami mata pelajaran akademik. Peserta didik diajarkan untuk lebih teliti dan memiliki rasa tanggungjawab karena nilai-nilai utama yang ditanamkan dalam pendidikan karakter akan memungkinkan para peserta didik untuk belajar bagaimana peserta didik fokus pada pelajaran, dan lebih penting adalah peserta didik memilikiĀ  dorongan untuk mempelajari dengan baik mata pelajaran akademik.

Selain itu, pembangunan karakter di sekolah juga akan membantu peserta didik untuk berinteraksi dengan baik dengan para guru dan sesama siswa, dan mengubah suasana kelas menjadi lingkungan belajar yang baik.

Menurut pengalaman saya selama mengajar kelas 5 dan menjadi pembimbing dalam lomba-lomba seperti Lomba Cerdas Cermat (LCC), Lomba Olimpiade Sains (OSN) dan Lomba Siswa Berprestasi, pembanguanan karakter serta diiringi dengan peningkatan chemistry dapat meningkatkan prestasi peserta didik dalam menghadapi lomba-lomba. Mengapa demikian?

Saya berpikir jika karakter peserta didik menjadi baik maka apa yang disampaikan guru kepada peserta didiknya akan berhasil. Mengapa perlu diiringi peningkatan chemistry?

Pembanguan karakter serta diringi dengan peningkatan chemistry akan mendapatkan hasil yang lebih baik lagi, Chemistry adalah perasaan yang bertaut dan terkoneksi dengan orang lain. Sederhananya, chemistry adalah rasa saling terhubung satu sama lain. Jika hubungan antara guru dan peserta didik terjalin dengan baik maka akan terjadi peningkatan prestasi dalam akademiknya.

Peningkatan chemistry dilakukan dengan cara, saya mencoba menjadi orangtua pendengar dan sahabat yang baik bagi peserta didik. Dengan menjadi orantua pendengar, peserta didik dengan leluasa tanpa rasa takut mengutarakan keluh kesahnya mengenai pembelajaran setiap harinya, seperti materi yang belum dipahami, materi yang sulit dipahami, kurang bisa berkonsentrasi, serta kesulitan-kesulian lainnya yang berhubungan dengan pembelajaran. Dan dengan menjadi sahabat yang baik, peserta didik merasa seperti punya teman belajar yang mampu membantunya dalam mengatasi segala kesulitan yang dihadapinya dalam proses pembelajaran sehari-hari.

Sebagai guru kita harus mengetahui apa yang dibutuhkan peserta didik agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar sehingga prestasi akademik peserta didik menjadi meningkat.

(Kustiyah, S.Pd Guru SDN 3 Ngasem Kabupaten Jepara)