Suatu hari, Rasulullah bersabda saat merespon sahabatnya yang menyampaikan tobatnya kepada Allah, “Pengakuan tobat yang baru saja kau ucapkan, butuh bukti dan fakta.”

Hal ini diungkapkan oleh Rumi bahwa mudah menyatakan cinta, tetapi pernyataan itu butuh bukti dan fakta. Hal ini mengandung maksud tidak mengulang perbuatan buruk dan buang hal buruk yang telah dilakukan dengan bersedekah hingga tak ada yang tersisa kecuali yang menempel di tubuh.

Sebuah buku Fihi Ma Fihi karangan Jalaludin Rumi ini cocok bagi pembaca yang sedang mencari cinta dan ketenteraman batin. Buku setebal 526 halaman ini menjawab kegelisahan manusia atas segala permasalahan hidup.

Permasalahan berasal dari apa yang kita pikirkan. Pemikiran kita akan membawa kita kepada hal yang kita pikirkan. Memikirkan sebuah cita-cita maka akan membawa kita kepada sebuah tujuan yang kita inginkan. Namun ada juga pemikiran yang palsu, yakni membawa kita pada sebuah tujuan, lalu timbul penyesalan sehingga muncul celetukan, “kukira ini tempatnya, ternyata bukan.” Pernahkah mengalaminya?

Pencarian cinta Allah SWT adalah dalam wujud shalat. Mengaku cinta kepada Allah SWT hanya satu yaitu shalat. Rumi menyampaikan ada baiknya kita selalu merasa tidak mampu setiap saat, dan menganggap diri tidak mampu namun sebenarnya mampu walaupun benar-benar tidak mampu. Sebab di atas kemampuan kita ada kemampuan yang lebih besar, yakni Allah Azza Wa Jalla Yang Maha Perkasa dan Maha Agung. Kita akan selalu takluk padaNya dan tunduk padaNya dalam shalat. Inilah bukti cinta yang sesungguhnya.

Pada peristiwa lain ketika saya menyatakan cinta kepada seseorang. Tiba saatnya ketika bertemu, ia menanyakan apakah saya cukup mengenalnya sehingga bisa memujinya. “Kalau kau mengenalku hanya sebatas nama saya cukup populer dan lewat perkataan orang-orang saja, berarti kau belum mengenalku,” ujarnya. Namun jika cinta karena pemikirannya melalui karya-karyanya, pujian itu benar-benar untuknya. Itu katanya.

Sama halnya ketika kita menyatakan cinta kepada Allah. Tidak ada dualisme di hadapan Allah. “Matinya Allah SWT merupakan hal yang mustahil, baik di dunia maupun alam pikiran,” Rumi. Allah akan menampakkan keAkuanNya asalkan kita mati terlebih dahulu, dan hilanglah dualisme.

“Cinta akan tetap tinggal selama teguran terus berlangsung,” Rumi. Ketika kita merasakan sakitnya teguran, di situlah Allah menunjukkan cintaNya. Jika kita tidak merasakan sakit dan pedih mendapatkan teguran, maka itu bukan pertanda cinta.

Memandang sebuah cinta adalah bak orang yang kelaparan. Seseorang merasakan cinta dan rindu setelah mengetahui esensi dari pandangan hatinya. “Bak dua orang melihat roti. Orang pertama dalam kondisi kelaparan, sedangkan orang kedua dalam kondisi kekenyangan. Orang yang kenyang hanya melihat penampakan roti, sementara orang yang lapar melihat isi dan membayangkan rasa roti itu seolah ada kerinduan mendalam untuk merasakan kelezatannya. Rasa roti tidak akan terasa jika hanya dilihat. Maka, rasakan keduanya, baik wujudnya maupun esensinya untuk memandang sebuah cinta.

Wujud ciptaan Allah laksana cangkir yang didalamnya terdapat pengetahuan, seni, ilmu yang terinskripsi. Maka kita akan melihat di dalamnya ketika kita meneguknya dan melihat “amalan-amalan yang kekal dan saleh” (QS. Al-Kahfi: 46).