Sin Tae Yong. Foto: ISt

 

Oleh: Amir Machmud NS

Amir Machmud NS

ANGIN perubahan yang dibawa oleh Shin Tae-yong bagi tim nasional sepak bola Indonesia terasa sebagai “something really” atau “sesuatu banget”.

Kalau ukurannya trofi, tentu produk pelatih asal Korea Selatan itu masih di bawah raihan Alexandre “Mano” Polking yang mengantar Thailand membukukan trofi AFF ketujuh. Juga di bawah kompatriotnya, Pak Hung-seo yang telah memberi sejumlah gelar dan mentransformasi revolusi dalam sistem sepak bola Vietnam dalam lima tahun terakhir.

“Sesuatu” yang disuntikkan oleh coach STY, secara menonjol telah dipertontonkan dalam turnamen Piala AFF di Singapura, baru-baru ini.

Dalam fakta mikro, simaklah penampilan Asnawi Mangkualam dkk ketika menahan Vietnam tanpa gol, mengalahkan Malaysia 4-1, dan menundukkan Singapura 5-3 dalam dua leg semifinal.

Performa dari laga-laga itu menunjukkan kekuatan penerjemahan taktik-strategi, karakter, dan mentalitas sebagai sesuatu yang langka disaksikan dalam tampilan timnas sejauh ini.

Kita seperti menemukan wajah berbeda.  Dan, jawaban yang hakiki adalah realitas berlangsungnya proses transformasi karakter dan mentalitas.

Harus Sistemik

Tentulah fakta itu baru sebagian dari produk sentuhan STY. Pendekatan sistemik dari “revolusi” itu tidak akan cukup hanya diintensifikasi dalam pengelolaan timnas. Dibutuhkan sikap yang tersistem. Basis makronya tentu pengelolaan kompetisi, dengan subsistem-subsistem seperti standar latihan fisik, skema dan pola permainan, serta sikap profesional pemain.

Perubahan yang dibawa oleh STY harus terserap dalam sistem yang menjadi “cetak biru” Direktur Teknik. Walaupun dia tidak dikontrak dalam kapasitas itu, namun siapa pun direktur teknik di PSSI harus masuk dalam perubahan mindset sistem yang dibangun.

Sisi mikro yang menjadi basis pembinaan pemain adalah disiplin dalam standar pola makan. Yang bergaung sejauh ini, STY melarang secara ketat makanan gorengan. Jenis makanan ini umumnya menjadi kebiasaan camilan sehari-hari masyarakat kita. Diyakini, banyak atlet yang masih mengonsumsinya.

Kosa kata “jajan gorengan” menjadi populer di timnas, karena STY merilisnya sebagai jenis makanan terlarang bagi pemain.

Pengaturan asupan makanan itu terkait dengan disiplin pembentukan kualitas fisik pemain. Taktik apa pun, terutama yang beraksen permainan pressing, jelas membutuhkan kesiapan fisik prima.

“Gegar Budaya”

Sebelum STY, dalam sejarah timnas, siapa pelatih yang mampu menciptakan “gegar budaya” serupa?

Yang paling menonjol tentulah Anatoly Polosin, pelatih asal Rusia yang bersama Vladimir Urin mempersembahkan medali emas SEA Games Manila 1991.

Latihan fisik spartan membuat banyak pemain top tidak tahan dan hengkang dari Pelatnas. Misalnya ketika itu, Ansyari Lubis, Fakhri Husaini, dan Imron Asad.

Ketika meliput Pra-Piala Dunia di Qatar pada 1993, saya sempat berbincang dengan Toyo Haryono, stopper Tim Garuda yang meraih emas di Manila. Dia mengakui, pembentukan ketahanan fisik yang “kejam” ala Polosin memberi manfaat untuk konsistensi bertarung selama 90 menit, bahkan tetap bugar hingga babak tambahan waktu. Kondisi itu belum pernah dia rasakan dalam pola latihan timnas sebelumnya.

Hasilnya terbukti, Farrel Raymond Hattu dkk menyelesaikan semifinal dan final berturut-turut lewat adu penalti dengan mengalahkan Singapura dan Thailand.

Kisah “kekejaman” Polosin menciptakan “keguncangan” positif. Selanjutnya, ketika pelatih lain menyuksesi kepemimpinan timnas, mindset spartanitas latihan fisik seperti itu tidak berlanjut.

Ivan Toplak, yang menangani timnas Pra-Piala Dunia 1993 dan SEAG Singapura 1993, merangkap sebagai direktur teknik. Dalam visi pelatih asal Slovania itu, manajemen teknis timnas seharusnya tinggal berpikir meracik teknis: taktik-strategi, tidak diribetkan urusan-urusan pembentukan fisik.

Pesan penting dari Toplak, harus ada standardisasi pola pelatihan fisik dan totalitas pendukung sistem di klub-klub liga kita. Realitasnya, visi ini masih sangat sulit diimplementasikan.

Di bawah Toplak, Robby Darwis dkk gagal total di Pra-Piala Dunia 1993 dan SEAG. Dan, tahun itu menandai awal dari persaingan sulit melawan Vietnam yang baru mencoba bangkit dalam sepak bola Asia Tenggara.

Pelatih Asing

Dalam sejarah timnas, tercatat sejumlah nama pelatih asing, dari sejak 1950-an hingga sekarang.

Di antara mereka tercatat Choo Seng Quee dari Singapura, Toni Pogacnik (Yugoslavia), Wiel Coerver (Belanda), Yusuf Balik (Turki), Joseph Masopust (Cekoslovakia), Frans van Balkom (Belanda), Marek Janota (Polandia), Bernd Fischer, Bernard Schumm (Jerman), Joao Barbatana (Beazil), Romano Matte (Italia), Henk Wullem (Belanda), Peter White (Inggris), Ivan Toplak (Bulgaria), Henk Wullem (Belanda), Ivan Venkov Kolev (Bulgaria), Alfred Riedle (Austria), Wiem Risjbergen (Belanda), Luis Manuel Blanco (Argentina), Jacksen F Tiago (Brazil), Pieter Huistra (Belanda), Luis Milla (Spanyol), Simon McMenemy (Skotlandia), dan sekarang Shin Tae-yong.

Coerver Method

Tony Pogaknic yang mencatat “prestasi” fenomenal menahan imbang 0-0 Uni Soviet di Olimpiade Melbourne, meninggalkan jejak prestasi cukup mentereng. Pada 1954 dia membawa timnas menduduki peringkat keempat Asian Games, dan meraih medali perunggu empat tahun kemudian.

Selanjutnya, Wiel Coerver termasuk yang menonjol. Pelatih yang pernah berjaya bersama Feyenoord ini menekankan pentingnya sikap dan karakter pemain lewat Coerver Method yang terkenal di era sepak bola moderen. Sejumlah pemain berkembang di bawah arahannya, antara lain Suhatman Iman, Lukman Santoso, Junaidi Abdillah, Johanes Auri, dan Hadi Ismanto.

Coerver memberi sejarah fenomenal Iswadi Idris dkk yang hampir lolos ke Olimpiade Montreal, hanya kalah adu penalti melawan Korea Utara pada 1975. Lalu ketika kembali ke Indonesia pada 1979, dia memimpin tim meraih perak SEAG.

Kolev dan Riedle sempat pula memberi warna dalam karakter bermain. Sedangkan Luis Milla diakui mampu mentransformasikan gaya sesuai dengan karakter keindonesiaan, memaksimalkan umpan-umpan pendek cepat ala tiki-taka Spanyol.

Karya Milla terlihat dalam tim Asian Games 2018, walaupun hanya sampai perdelapanfinal. Dia mampu membentuk identitas tim lewat pilar-pilar seperti Hansamu Yama, Ivan Dimas, Stefano Lilipally, Septian David Maulana, Ricky Fajrin, dan Febri Hariyadi.

Kontraknya terhenti karena tidak ada titik temu dalam negosiasi. PSSI memilih mendatangkan STY yang bereferensi membawa Korea ke Piala Dunia 2018, antara lain mencatat kejutan besar mengalahkan Jerman 2-0 di babak grup.

Setelah era Luis Milla yang mampu menghadirkan dimensi identitas keindahan bermain, kini STY sukses mentransformasi disiplin, yakni kesiapan fisik lewat latihan yang “kejam”, dan manajemen konsumsi makanan. Konfidensi pemain juga digarap melalui aksen karakter dan mentalitas.

Di luar para pelatih mancanegara, dari sisi hasil, pelatih domestik yang tercatat paling sukses adalah Endang Witarsa. Dia mempersembahkan trofi Kings Cup 1968, Aga Khan Cup 1969, dan Anniversary Cup 1972. Berikutnya adalah Berce Matulapelwa yang mengontribusikan medali emas pertama SEA Games di Jakarta 1987, juara Piala Kemerdekaan, dan semifinal Asian Games 1986. Sebelumnya, pada 1985 Sinyo Aliandoe sukses membentuk identitas permainan Herry Kiswanto dkk yang menjuarai Subgrup IIIB Pra-Piala Dunia Zone Asia Timur.

Para pelatih yang lain boleh jadi juga mentransformasikan sikap serupa, tetapi dalam hal “gegar budaya”, tampaknya muncul passion baru yang ditiupkan oleh karakter kepelatihan Shin Tae-yong.

Saya melihat perkembangan ini sebagai “pencerahan” tentang pentingnya kekuatan sikap dalam membangun sepak bola kita.

“Budaya sepak bola” yang diusung oleh Si Rubah yang cerdik itu telah dirasakan memberi aura positif. Dan, itu menjadi “sesuatu banget” untuk timnas kita…

— Amir Machmud NS, wartawan dan kolumnis sepak bola, Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah.