ilustrasi

TIGA tahun lalu saat main ke rumah teman, saya nemu Majalah Panji Masyarakat terbitan Jakarta No.03 Tahun III 5 Mei 1999 yang mengupas maraknya sebagian “orang pintar” yang mengeksploitasi profesinya melalui iklan-iklan tentang jasa daya linuwihnya, plus ‘bumbu-bumbu’ penyedapnya.

Yang dianggap nyleneh itu ada yang pakai gelar Profesor. Ketika saya tanya gelar itu dia peroleh dari mana? Dia menjawab, gelar Prof yang dipakai itu bukan Profesor, melainkan Profesional. Ada juga yang di depan namanya pakai gelar KH, namun saat diskusi, tidak mencerminkan gelarnya.

Unik dan Lucu

Untuk penulisan buku, lain hari saya mewawancarai orang pintar yang pada kartu nama dan iklannya bergelar MA. Semula saya mengira dia itu “Master of Arts”, gelar pacasarjana yang diberikan perguruan tinggi setelah menyelesaikan penelitian dan mempresentasikan tesis untuk menyelesaikan gelar mereka.

Yang membuat saya menahan tawa itu, ternyata MA yang tertulis pada kartu nama dan iklan-iklannya adalah inisial dari nama almarhum Ayahnya. Dia menjelaskan,“Itu bukan gelar, itu inisial (singkatan) nama panggilan Ayah saya, Mat Amin. (Nama aslinya Muhammad Amin).

Saat bincang-bincang dengan teman jurnalis asal Surabaya, saya dapat banyak masukan. Dia menuturkan ada yang semula pedagang kaki lima, setelah alih profesi menjadi “orang pintar” kemudian di menyetak kartu nama, dan menyantumpak gelar Ir (insinyur?), bisa jadi ini inisial Ayahnya juga, Pak Irianto.

Bahkan ada yang nekat pakai gelar keagamaan. Orang yang tidak paham baca tulis Arab, namun pada kartu namanya pakai gelar Romo Kiai. Ada yang pakai gelar Prof, Ph.D. (Philosophiae Doctor) dan Dr.Hc. atau doktor honouris causa. Dan fenomena itu bukan hanya marak di Indonesia, melainkan menular ke negeri seberang.

Pernah ada praktisi supranatural dari dari luar negeri, saat akan berkunjung ke rumah saya, satu bulan sebelumnya sudah mengirim buku-buku karyanya dan beberapa fotokopi ijazah dan piagam penghormatan yang pernah diterima.

Terhitung, ada 25 piagam koleksinya. Namun saya memastikan itu abal-abal, karena ada beberapa yang dikeluarkan “perguruan tinggi” yang setelah saya cek tidak ada kampusnya. Piagam itu ditandatangani “guru besar” bergelar PROF.DR.TM. MSC.ED.SSP. SH. (Tulisan gelar dengan huruf kapital semua).

Dia yang titelnya berderet panjang itu belakangan berurusan dengan pihak berwajib karena kasus pemalsuan gelar. Dan gelar semacam itu dulu dijual bebas di Indonesia bahkan di negeri tetangga. Cara membelinya bisa kontan, bahkan bisa dengan cara mengangsur bulanan.

Gelar-gelar paslu itu pada tahun 80-an banrolnya antara Rp3 juta Rp 4 juta. Belakangan, penjual dan pembeli gelar itu ada yang dipanggil kejaksaan setempat, namun gelar-gelar itu sebagian masih tetap ada yang mengenakannya.

ilustrasi

Gelar Kiai

Bukan hanya gelar yang kelihatan resmi, gelar keagamaan yang semestinya datang secara alamiah dari masyarakat itu sering kali dipakai kalangan “orang pintar.” Namun itu mudah terdeteksi di saat dia berinteraksi dengan yang lebih tinggi SDM-nya.

Saya banyak mengenal “orang-orang pintar” yang oleh murid dan kliennya dipanggil Kiai atau “Romo Kiai”. Namun saat saya bertemu tetangganya, mereka tidak mengenalnya. Ini mengingatkan ilmu titen orangtua bahwa keaslian seseorang (baik buruknya), tetangganyalah yang lebih mengetahuinya.

Buta Huruf

Dalam perjalanan ke luar kota, saya berbincang dengan penumpang kereta yang duduk satu bangku. Dia berkisah sosok orang pintar yang disebut disebut ahli kaligrafi. Analisa saya, ini tentu berkaitan dengan (sabuk) dan azimat.

Penumpang itu memuji tulisan huruf-huruf arab (rajah) yang dibuatnya. Tentu saja saya tertawa, karena saya paham orang yang dimaksud itu buta huruf arab dan latin. Rajah yang dijual di daerah transmigrasi itu hasil difotocopy lalu dilaminating.

Profesi apa pun tentu ada yang asli dan yang palsu. Dan itu sudah diprediksi Jayabaya bahwa akhir zaman itu ditandai akeh wong ngedol ngelmu, akeh wong ngaku-aku, njabane putih jerone dadu (Banyak orang menjual ilmu, banyak orang mengaku-aku, dari luar putih dalamnya dadu).”

Lantas bagaimana sosok guru atau panutan yang benar-benar berilmu? Menurut sosok kiai beneran, dijawab : “Yang disebut kiai itu, orang yang berupaya meniru perilaku Nabi Muhammad SAW semaksimal yang dia mampu. “Dia harus sosok panutan dan tempat bertanya warga sekitar dan orang jauh.”

“Karena itu, dia harus berilmu, berakhlak dan juga memberi pelajaran agama. Sebagai orang yang ingin meniru Nabi SAW, dia harus selalu berpedoman sabda beliau, “Aku (Nabi) tidak butuh upah dari kalian.” Nah, yang terakhir ini, yang paling berat!

Masruri, penulis buku, praktisi dan konsultan metafisika tinggal di Sirahan Cluwak Pati

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here