Para mahasiswa UMK saat menyampaikan keluhannya atas perlakuan pejabat rektorat. Foto:Suarabaru.id

KUDUS (SUARABARU.ID) – Beberapa mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) mengaku pernah menerima intimidasi dan pelecehan dari Wakil Rektor 1, Sulistyawati.

Hal tersebut menjadi salah satu persoalan yang mencuat dalam audiensi antara BEM UMK dengan Bupati Kudus Hartopo dan Ketua Yayasan Pengurus UMK Wahyu Wardhana, di pendapa belakang Kabupaten Kudus, Jumat (8/10).

Dalam audiensi tersebut, ada dua orang mahasiswi menceritakan pernah mendapatkan intimidasi dan pelecehan dari WR 1 UMK hanya akibat persoalan sepele.

“Saat itu ada mata kuliah dari bu Sulistyawati, tapi informasinya beliau takziyah. Jadi, setelah absen saya pilih keluar kelas dan istirahat di kantor BEM,”ujar mahasiswi yang enggan di sebut namanya tersebut.

Namun, ternyata Sulistyawati tiba-tiba datang mengajar. Dan apesnya, ada seorang yang melapor ke Sulistyawati kalau mahasiswi tersebut sedang istirahat dan tiduran di kantor BEM.

“Saat itu, saya difoto dan dilaporkan Bu Sulis,”ujarnya.

Ternyata, akibat kejadian itu, Sulistyawati marah dan memanggil mahasiswi tersebut. Di dalam kelas, si mahasiswi ini mengaku disidang dan dipermalukan di hadapan teman-temannya.

Bahkan, kata mahasiswi tersebut, Sulistyawati melakukan pelecehan verbal dan intimidasi mental kepada dirinya.

“Saya disebut perempuan tidak benar, tak pantas pakai jilbab hingga disuruh lepas jilbab saja. Bahkan, sampai orang tua saya disinggung-singgung,”ujarnya.

Si mahasiswi tersebut juga bercerita kalau usai kejadian tersebut foto dirinya disebar ke grup WhatsApp dosen dengan keterangan menjelek-jelekkan dirinya.

“Selain itu, di mata kuliah Bu Sulistyawati saya dikasih nilai E atau nol. Semester berikutnya dapat nilai C,”paparnya.

Atas kejadian ini, si mahasiswi sempat melaporkan kejadian tersebut ke rektorat. Namun, belum ada tindakan atau sanksi kepada yang bersangkutan.

“Oleh karena itu, kami mohon bapak Bupati dan ketua Yayasan UMK agar bisa memberi perhatian atas masalah ini,”katanya.

Ketua Yayasan Pengurus UMK Wahyu Wardhana berbincang dengan Bupati Hartopo saat di sela-sela audiensi dengan mahasiswa. Foto:Suarabaru.id

Selain kasus intimidasi dan pelecehan, dalam audiensi tersebut Wakil Rektor 1 Sulistyawati memang sering disebut mahasiswa. Sulistyawati juga menjadi salah satu orang yang didesak mundur oleh mahasiswa.

Sulistyawati disebut sering melangkahi kewenangannya sebagai WR 1 yang mengurusi kurikulum, dan bahkan ikut campur dalam proses pengangkatan pejabat struktural lainnya.

“Sulistyawati berperan seakan-akan membawahi Wakil Rektor lainnya,”kata Ketua BEM UMK Alvin Rizqiya.

Alvin juga mengatakan, intimidasi kepada mahasiswa tak hanya terjadi itu saja. Dalam beberapa hal, mahasiswa sering mendapat teror mental dari yang bersangkutan.

“Diancam tidak akan bisa lulus lah, atau nilai jelek. Jadi, kami sering mendapat intimidasi semacam itu”tambahnya.

Baca juga:

Wadul ke Bupati, Mahasiswa UMK Desak Rektor dan Wakilnya Mundur

Hartopo Minta Yayasan UMK Berikan Jaminan Perlindungan untuk Mahasiswa

Sementara, Ketua Yayasan Pengurus UMK Wahyu Wardhana mengatakan pihaknya akan segera membentuk kanal aspirasi bagi mahasiswanya.

Itu dilakukan menyusul ditemukannya sejumlah laporan di mana banyak mahasiswa merasa dirugikan baik oleh sistem maupun pejabat di dalamnya.

“Untuk melindungi mahasiswa dari intimidasi dan pelecehan, nanti akan kami buatkan kanal aspirasi bagi mereka untuk bersuara dan mengungkapkan yang terjadi,” katanya.

Ketika nanti mahasiswa melapor di kanal aspirasi, maka akan ditindaklanjuti segera oleh pihak yayasan. Sehingga permasalahan bisa segera terungkap.

Tm-Ab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here