Mbah Achid tengah bersantai di Gazebo miliknya, sambil bericerita kepada tamu tamunya tentang keberhasilan ternak kambing

REMBANG (SUARABARU.ID)- Senyum Achmad Achid (50) mengembang setiap kali mengamati ternak domba Merino yang dipelihara di kandang miliknya terlihat sehat dan gemuk. Sembari santai bersila menyeruput kopi di atas gazebo, sesepuh Desa Timbrangan, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang ini sesekali menengok kandang domba yang berada persis di bawah bangunan kayu tersebut.

Dengan penuh kesabaran dan ketelatenan, Achmad Achid selaku pembina Komunitas Tani Ternak Brotoseno memberikan dorongan moral dan semangat kepada anggota komunitasnya yang bekerja gigih membesarkan peternakan kambing di Timbrangan.

Kepala Lembaga Pendidikan Taman Alquran Desa Timbrangan ini secara panjang lebar berkisah tentang peternakannya, dari awal berdiri, mengembangkan, hingga membuahkan hasil.

BACA JUGA: Ketentuan dari Ganjar yang Harus Dipenuhi, Bila Seniman Ingin Pentas

Pemikiran untuk mengembangkan ternak kambing ini bukan tanpa alasan. Sebagai sesepuh yang juga mantan Kepala Desa Timbrangan, dia digelisahkan oleh realita sosial, betapa banyak anak muda di desanya yang cenderung lebih suka menghabiskan waktu hanya untuk kongkow di warung kopi atau main game online.

Dibantu oleh Musahid, ketua Komunitas Tani Brotoseno, Achid berinisiatif membuat komunitas yang positif dan berpikir produktif. “Karena lingkungan ini adalah kawasan perdesaan, maka kegiatan yang kami garap fokus pada peternakan dan pertanian,” ungkapnya.

Gagasan Achmad Achid tak sia-sia. Kini sudah ada belasan pemuda berusia antara 17 – 25 tahun yang menjadi anggota Brotoseno Tani Ternak, yang masing-masing punya peran berbeda. “Ada yang menjadi operator kandang, pencari pakan, dan lain sebagainya. Anak-anak muda yang semula tidak peduli dengan ternak dan tani, mulai tertarik. Secara otomatis kegiatan yang tidak bermanfaat seperti kongkow-kongkow yang berimbas pada sikap malas bekerja, lambat laun juga bisa dikikis,” paparnya.

BACA JUGA: Memberdayakan Warga, Mengangkat Perekonomiannya

Kambing milik mbah Achid

Mayoritas kambing di kandang Brotoseno Tani Ternak merupakan bantuan PT Semen Gresik Pabrik Rembang. Sinergi ini terjalin setelah sebelumnya komunitas tersebut membangun kandang kambing. Melalui program Sahabat Ternak Semen Gresik, komunitas ini mendapat bantuan 11 ekor. Rinciannya, enam ekor kambing Jawa dan lima ekor domba Merino.

Seiring berjalannya waktu, Brotoseno Tani Ternak membeli lagi enam ekor kambing Jawa Randu, sehingga aset mereka sekarang telah berkembang menjadi 17 ekor. “Karena dianggap berhasil, pertengahan Juni 2020 lalu kami mendapat bantuan lagi berupa uang senilai Rp 30 juta. Semuanya kita gunakan untuk membeli kambing. Kalau sebelumnya hanya penggemukan, sekarang untuk pengembangbiakan,” tutur Musahid.

Sejak setahun lalu, tepatnya Januari 2020, menurut Musahid, anggota Komunitas Tani Ternak Brotoseno sudah menikmati jerih payah dari peternakan domba tersebut. Setidak-tidaknya bisa menjual 24 ekor dari program penggemukan kambing.

BACA JUGA: Jemur Gabah, Warga Petanahan Meninggal Disambar Petir

“Karena bobotnya sudah cukup, ada 12 ekor kambing Jawa Randu yang akan kita jual saat Idul Adha nanti. Hasilnya ya untuk membeli kambing lagi, agar bisa berkembang lebih banyak,” katanya.

Tren pencapaian ini, diakuinya merupakan hasil kolaborasi yang baik antara sektor peternakan dan pertanian. Selain mengurusi kambing, anggota Brotoseno Tani Ternak juga menanam pohon untuk pakan ternak. Seperti ketela dan pohon Indigofera (jenis tanaman polong yang memiliki kandungan protein dan mineral tinggi, sehingga bagus untuk pertumbuhan ternak).

Menurut Achid, sebagai warga yang mayoritas hidup di pedesaan, sektor tani dan ternak sangatlah penting. Kedua sektor perekonomian itu merupakan fondasi kuat untuk membangun ketahanan pangan masyarakat. Dia berharap, lewat Brotoseno Tani Ternak, proses kaderisasi di dua sektor itu bisa berjalan berkesinambungan, sehingga muncul petani dan peternak muda yang berkualitas.

BACA JUGA: Yuk Kita Tengok Seperti Apa Sih Program KOPEK yang Diluncurkan Sat Lantas Polres Wonosobo

“Tani dan ternak memiliki nilai ekonomi yang bagus. Makanya kita fokus dan mengajak anak-anak muda di desa kami untuk menekuni ternak,” jelas mantan Kepala Desa Timbrangan ini.

Selaku sesepuh desa, dia mengaku sangat terbantu dengan adanya pabrik semen. Selain bisa menyerap tenaga kerja, juga bermanfaat bagi warga Timbrangan. Baik sarana maupun prasarana sudah bisa dirasakan. Sekitar 50 persen dari warga Timbrangan terserap bekerja di pabrik, sedangkan sebagian warga lainnya diberdayakan untuk mencari penghidupan yang layak, misalnya berdagang, bertani, dan beternak melalui corporate social responsibility (CSR) yang dikucurkan.

Meskipun demikian, Achid berkomitmen untuk tetap akan mengkritisi kebijakan dan program PT Semen Gresik manakala tidak berpihak kepada masyarakat di desanya. “’Saya sangat mendukung dan berterima kasih. Sebagai daerah ring satu, ya memang harus merasakan imbal baliknya, karena jika ada dampak negatif pasti akan merasakan. Oleh karena itu sudah selayaknya warga ring satu mendapat perhatian. Artinya, ketika ada dampak negatif, maka dampak positifnya juga harus dirasakan,” ujarnya.

BACA JUGA: Kapolri Tinjau Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 Tahap II di  Polda Jabar 

“’Andaikan program-program itu tidak dipraktikkan atau direalisasikan, saya akan tetap nyuworo (mengkritisi). Berkali-kali saya sampaikan, saya mendukung keberadaan pabrik semen di sini, tetapi jangan lupa saya juga tetap mengkritisi jika ada yang kurang berpihak kepada masyarakat di sekitar pabrik. Tetapi alhamdulillah, kelangsungan hidup warga di sekitar pabrik terbantu,’” katanya.

Sejak pabrik berdiri, menurut Achid, lebih banyak dampak positif yang dirasakan dalam kaitan keberlangsungan hidup warga sekitar. Bahkan tidak ada masalah seperti yang banyak dikhawatirkan. “Di samping program pemberdayaan, praktis operasional pabrik juga memerlukan tenaga kerja yang diserap dari warga ring satu,” ungkapnya.

“Terus terang, selama saya hidup di sini, baru ada satu perusahaan yang memperhatian warga, sehingga tidak hanya bisa nyawang (melihat) bangunan pabriknya saja, tetapi bisa ikut menikmati dampak positifnya. Bahkan sampai-sampai kulo ngertos singkatane CSR lho mas. C-nya Corporate, S-nya Social, dan R-nya Responsibility,” ujarnya, tertawa.

BACA JUGA: GP Ansor Laporkan Buku Ajar Agama Terbitan Tiga Serangkai yang Terindikasi Radikal dan Intoleran

Program Sahabat Ternak tak hanya diterapkan di Timbrangan. Desa Kajar, Kecamatan Gunem. Kelompok Kajar Bangun Deso juga mendapat bantuan 11 ekor kambing. Perkembangan ternak di Kajar sama seperti di Timbrangan. Saat Idul Adha, kambing peliharaan siap dijadikan hewan kurban. Karena dinilai berhasil, dikucurkan lagi bantuan senilai Rp 20 juta.

Kepala Unit Komunikasi dan CSR PT Semen Gresik Dharma Sunyata mengakui, jajarannya berkomitmen untuk berkontribusi positif demi kemajuan daerah, serta tumbuh dan berkembang bersama masyarakat.

Sahabat Ternak hanya salah satu program yang dijalankan. Progam ini prospektif. Kambing Jawa Randu peliharaan warga akan dibeli lagi untuk kebutuhan hewan ternak saat Idul Adha. Khusus domba Merino diprioritaskan tidak diambil dagingnya, namun hanya bulunya. Warga bisa membuat beragam produk kerajinan berbahan bulu domba itu. Mulai dari jaket, tas, dan sebagainya.

BACA JUGA: Lingga-Yoni Unik dan Besar Ditemukan di Pekarangan Warga Dusun Culengan

Diharapkan, proyeksi kerajinan tersebut akan menjadi rintisan produk UMKM unggulan desa. Dalam jangka panjang, Desa Timbrangan maupun Desa Kajar bisa menjadi sentra kerajinan bulu domba Merino. “Kami harapkan ekonomi di desa juga ikut bergerak seiring geliat UMKM itu,” ujar Dharma.

Lokasi Edupark Pertanian dan Peternakan Terpadu

Untuk mendorong program pemberdayakan masyarakat, dibuat demplot melalui Program Edupark sebagai upaya mendorong peningkatan kualitas BUMDes. Muara dari proses ini juga untuk menggenjot kesejahteraan masyarakat setempat.

Edupark yang merupakan bagian dari progam Perkebunan, Pertanian, Perikanan dan Peternakan Terpadu (P4T) diresmikan oleh Bupati Rembang H Abdul Hafidz pada Februari 2020 lalu. Usai diresmikan, pengelolaannya diserahkan kepada BUMDes Mbangun Deso Desa Kajar, Kecamatan Gunem.

BACA JUGA: Pemkab Magelang Dukung Pembangunan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani

Menurut Dharma Sunyata, aktivitas Edupark berjalan normal, termasuk pada masa-masa pandemi Covid-19 sekarang.

Lahannya diisi berbagai hewan ternak, ikan, hingga aneka sayuran. Progam ini multimanfaat. Dari ayam Arab dan burung puyuh bisa diambil telurnya. Sedang lele dan ikan tawar lainnya dimanfaatkan dagingnya. Pisang dan pepaya dimaksimalkan buahnya.

Tak hanya itu, jamur, kangkung, sawi, selada, kacang panjang, terong hingga sereh dan tanaman hortikultura lainnya juga bisa dimanfaatkan, baik dikonsumsi sendiri maupun dijual. Sedang sapi dimanfaatkan dagingnya. Domba Morino selain menghasilkan daging, bulunya bisa dimanfaatkan. Kotoran sapi, domba, ayam, dan puyuh dimaksimalkan untuk berbagai hal. Mulai dari pupuk, pakan ternak, biogas, bahkan energi listrik untuk kebutuhan rumah tangga.

BACA JUGA: Kembali dari Penugasan, Satgas Yonif Raider 400/BR Diminta Tetap Profesional

Masyarakat antusias merespons positif kehadiran Edupark. Hingga kini sudah ada sekitar 700 orang dari berbagai latar belakang mulai dari pelajar SD/ sederajat, pengelola BUMDes, karang taruna, organisasi masyarakat, perwakilan BUMN, instansi swasta maupun pemerintah yang berkunjung. Tak hanya dari wilayah Rembang, namun juga dari Blora, Pati, dan lainnya.

Mereka ingin melihat dan belajar secara langsung pengelolaan program P4T tersebut. Bahkan ada yang ingin “memfotokopi” dengan menerapkan upaya membangun kemandirian pangan, ekonomi, dan energi di daerahnya. Seiring pandemi Covid-19, kunjungan ke Edupark dibatasi atau ditunda jika jumlah pengunjung terlalu banyak.

Dharma menambahkan, Edupark diproyeksikan sebagai sarana transfer pengetahuan bagi warga desa sekitar perusahaan dan kalangan lainnya. Lewat progam ini warga bisa membangun kemandirian pangan, ekonomi, dan bahkan energi skala kecil di lingkungannya.

BACA JUGA: TMMD di Purbalingga Fokus pada Pembangunan Jalan Baru

Desa juga kami harapkan memiliki satu produk unggulan berbasis potensi lokal. Ujung dari proses itu, ikut menunjang kesejahteraan masyarakat setempat. Ini satu wujud komitmen kami untuk tumbuh dan berkembang bersama masyarakat serta berkontribusi positif untuk kemajuan daerah,” tandasnya.

Salah seorang tim ahli, Asyratul Jannah mengatakan, wahana tersebut mengakomodasi sejumlah warga dari desa-desa sekitar pabrik yang potensial untuk mengembangkan ternak sapi. Warga bisa memetik hasilnya jika sudah gemuk. Dengan sistem penggemukan itu, peternak bisa ngereti untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kemudian sebagian dibelikan ternak untuk digemukkan kembali.

“Misalnya sapi yang sudah gemuk laku jual Rp 25 juta, maka petani bisa ngereti atau mengambil uang untuk kebutuhan hidup sebesar Rp 15 juta, sisa uang dari hasil penjualan Rp 10 juta bisa digunakan untuk membeli sapi lagi untuk digemukkan,” ujar Jannah.

BACA JUGA: TNI, Relawan, dan Masyarakat Bergotong Royong Singkirkan Matreal Longsor

Pengembangan ternak sapi di lokasi Edupark

Sapi yang telah digemukkan bisa dijual ketika harga daging mahal. Dengan estimasi pertumbuhan 1/2 kg per hari. Untuk proses penggemukan seekor sapi, selain diberi pakan rerumputan dari sekitar lahan Edupark, juga diberi vitamin dan makanan tambahan, sehingga mempercepat proses pertumbuhan. “Edupark bekerja sama dengan BUMDes Kajar dan Timbrangan untuk mengakomodasi 63 petani,” jelasnya.

Selain sapi juga ada domba Morino. Untuk pakan domba, disediakan rumput dicampur dengan kacang-kacangan. Ke depan, keberadaan domba akan menjadi edukasi bagi anak-anak saat berkunjung di Edupark.

Selain peternakan, terdapat sejumlah tanaman, di antaranya kubis, brokoli, cabai, jeruk, dan kangkung. Beragam tanaman tersebut cepat laku di pasaran. Bahkan suatu saat ketika sedang panen, sejumlah pedagang membeli dengan memetik langsung ke lahan.

Agar lebih dikenal masyarakat, Jannah berupaya memviralkan Edupark, dan mengembangkan penjualan melalui media sosial, misalnya IG. Juga membuat kegiatan yang bersifat massal, misalnya lomba mancing dan sebagainya, sehingga setiap peserta bisa menyosialisasikan Edupark dengan cara mem-follow IG.

“Ke depan akan dikembangkan untuk wisata. Bahkan pada bulan Ramadan nanti akan dibuat pasar kecil. Harapan kami pengunjung bisa melihat langsung budidaya peternakan dan pertanian, sambil ngabuburit di Edupark. Saya bertekad mengembangkan pertanian untuk mengedukasi warga sekitar pabrik sebagai tempat wisata dan edukasi,” ujar Jannah.

Suarabaru.id/Tim