Ilustrasi

Oleh: Amir Machmud NS

//…dalam geliat kebangkitan// kau tebar aura ketakutan// mantra-mantra berjampi tradisi// dengan keyakinan berpesta pora// sekian lama kau tenggelam dalam sepi bisu// rebutlah kembali habitatmu// para setan berjubah merah// gaungkan doktrin teater impian// di istana yang pantang tersentuh// oleh usikan kekalahan…// (Sajak “Setan Merah di Teater Impian”, 2020)

KLUB manakah yang berhak mendeklarasi “inilah saatnya”, untuk menegaskan bahwa mereka benar-benar siap menjadi penantang titel juara pada musim sekarang?

Di La Liga, boleh jadi Barcelona memilih menjadikannya sebagai “musim konsolidasi” di bawah arsitek anyar Ronald Koeman, dengan skema bermain yang akhirnya tetap menyentral pada keagungan Lionel Messi. Bayern Muenchen, Juventus, Ajax Amsterdam, dan Paris St Germain seperti biasa menjadi kekuatan status quo di Bundesliga, Liga Serie A, Eredivisie, dan Ligue 1.

Liga Primer agaknya bakal menjadi “medan Kurusetra” yang paling susah diduga. Walaupun tidak hiperaktif di bursa transfer, Liverpool dan Manchester City akan tetap bersaing dalam “pole position” perburuan titel. Kali ini mereka menghadapi rongrongan dari Arsenal, Manchester United, dan Chelsea. Tiga kekuatan tradisi Liga Inggris ini terkadang juga harus menyediakan ruang untuk rangsekan Tottenham Hotspur, Leicester City, dan Everton.

Argumentasi apakah yang memperkuat opini tiga klub itu sebagai penantang?

Mikel Arteta telah membuktikan mampu menyegarkan Arsenal dengan merebut dua trofi, Piala FA dan Community Shield. Sedangkan Ole Gunnar Solskjaer membawa MU menyeruak ke tiga besar dan meraih tiket Liga Champions. Permainan Setan Merah juga mulai nyetel rancak sedap dilihat.

Sementara itu, Chelsea di bawah Frank Lampard selain menunjukkan kemajuan juga terbilang rakus belanja. Hakim Ziyech, Timo Werner, Thiago Silva, Ben Chilwell, dan Kai Havertz adalah suntikan kualitas luar biasa bagi The Blues.

MU sukses mendatangkan Donny van de Beek yang semula masuk radar incaran Barcelona. Target utama, Jadon Sancho memang gagal didapat, karena sayap tim nasional Inggris itu tidak dilepas oleh Borussia Dortmund. Namun Solskjaer sebenarnya sudah punya pilar lengkap, bahkan di lini tengah harus mulai menghitung realitas kemubaziran setelah kehadiran Van de Beek.

*   *   *

ADA stok berlebih di lini tengah Manchester Merah. Mulai dari Bruno Fernandes, Paul Pogba, Fred, Scot McTominay, Nemanja Matic, Jesse Lingard, dan Andres Pereira. Dua nama terakhir, ditambah Fred bisa saja masuk daftar lego.

Lini serang Setan Merah juga sangat mewah. Para bintang mudanya unjuk performa bagus pada musim lalu. Anthony Martial menemukan kelas dengan sentuhan terbaik, Mason Greenwood dalam usia 18 makin menunjukkan bakat dan kematangan, Marcus Rashford kini menjadi salah satu penyerang terbaik Inggris, juga Odion Ighalo yang dipermanenkan.

Kombinasi penyerang yang diturunkan Solskjaer nanti bakal menghadirkan kengerian bagi pertahanan lawan. Musim ini tampaknya bakal menjadi kontes pasangan penyerang. Arsenal dengan Pierre-Emerick Aubameyang, Alexandre Lacazette, Nicolas Oeoe, Gabriel Martinelli, dan Reiss Nelson. Sementara itu, Chelsea memperkuat lini depan dengan Timo Werner, melengkapi kedahsyatan Olivier Giroud, Callum Hudson-Odoi, Tammy Abraham, dan Michy Batshuayi.

Manchester City tampaknya tetap mengandalkan kuartet kualitas wahid Sergio Aguero, Riyad Mahrez, Gabriel Jesus, dan Raheem Sterling. Sedangkan Liverpool tetap dengan trio maut Mohamed Salah, Sadio Mane, dan Roberto Firmino. Dua pelapis utama juga tak kalah kelas, Divock Origi, dan Takumi Minamino.

Belanja Chelsea memang memperlihatkan komitmen totalitas membangun tim. Namun MU boleh dibilang sudah menang start dengan otak-atik formasi pada musim 2019-2020, terutama pada masa-masa restart kompetisi karena pandemi Covid-19.

Kini tinggal merawat stabilitas performa yang sudah diperlihatkan Bruno Fernandes sebagai tokoh yang terbukti mampu memberi perbedaan. Jika itu bisa dijaga, sulit untuk tidak memosisikan MU sebagai salah satu penantang kuat titel musim ini.

Dalam bentuk yang lain, inilah sejatinya generasi young guns seperti yang pada 1995 pernah diragukan oleh pundit BBC Alan Hansen. Kini bahkan angkatan Fernandes dkk punya kesiapan yang lebih matang.

Legenda Old Trafford Gary Neville melihat, tahapan MU pada musim ini idealnha adalah posisi kedua dan meraih satu trofi, tak cukup hanya masuk zona Liga Champions, setelah sebelumnya meraih tempat ketiga. Musim 2019-2020 Solskjaer gagal menghadirkan gelar di Piala Liga dan Piala FA.

Dan, sesungguhnya, bukan hanya MU yang merasa berhak mengklaim musim ini adalah “inilah saatnya”. Chelsea dengan gebyar bintang yang sukses mereka borong, atau Arsenal yang mulai melawan inkonsistensinya juga menatap musim ini dengan perasaan sebagai penantang yang tak patut diremehkan.

Adakah kini Ole Gunnar Solskjaer berada di trek serupa dengan yang dulu dilalui oleh mentornya, Sir Alex Ferguson?

Amir Machmud NS, wartawan SUARABARU.ID, kolumnis olahraga, Ketua PWI Jateng