Bagikan
Konsumen obat herbal mengunjungi tempat pembuatan ramuan berkhasiat itu. Foto: Muharno Zarka

WONOSOBO – Daun sirsat kerap dibiarkan teronggok di bawah pohon setelah kering. Daun yang masih muda pun tidak ada yang mau memanfaatkan. Paling-paling, hanya dijadikan sebagai minuman tradisional setelah direbus dalam air mendidih.

Namun, di tangan Daryati (61), warga Mirombo RT 1 RW 1 Rojoimo Wonosobo, daun sirsat bisa diolah menjadi minuman rempah yang bernilai ekonomi. Lebih dari itu, minuman ini konon juga dapat bermanfaat untuk menyembuhan penyakit kanker.

Daryati, pemilik usaha obat herbal di Wonosobo. Foto: Muharno Zarka

Daun sirsat yang telah dialihubah menjadi bubuk ini dipadukan dengan bubuk lempuyang dan rempah-rempah yang lain sehingga bisa menjadi herbal drink. Dalam istilah asing mimuman baru tersebut dikenal dengan sebutan soursoup leaver and lingiber lerumbet.

Selain mengolah minuman rempah daun sirsat lempuyang, perempuan energik ini juga memproduksi herbal drink yang lain, seperti kunyit (Turmeric), temulawak (Curcuma lanthorhija), cabe lempuyang (Chili lingiber lerumbat), kencur (Kaempferia galangal) dan jahe merah (Red ginger).

Dikatakan Sudaryati, minuman rempah (herbal drink) yang diproduksi mengandung banyak khasiat untuk kesehatan tubuh. Karena siapa pun yang rutin menyeduh minuman tradisional alami diyakini akan mempunyai daya tahan tubuh yang ampuh.

Herbal drink yang dibuat pensiunan Dinas Peternakan dan Perikanan Wonosobo ini, berbahan rempah-rempah tradisional berupa temu lawak, daun sirsat lempuyang, jahe merah, kencur, cabe lempuyang dan kunyit.

Khusus minuman daur sirsat lempuyang, bahan yang diolah meliputi daun sirsat, lempuyang, gula aren, sereh, kapulaga, cengkih, kayu manis dan gula pasir. Bahan-bahan tersebut diolah dan dicampur sehingga menjadi minuman yang siap saji.

Minuman rempah yang dibuatnya berbentuk serbuk. Serbuk halus yang berwarna coklat kekuning-kuningan itu, dibungkus dalam plastik sashet transparan ukuran 20 gram. Bungkusan saset tersebut lalu dikemas dalam kardus bertuliskan nama jenis minuman.

“Satu kardus berisi 10 sashet plastik dengan tulisan jenis minuman sesuai nama bahan baku yang dibikin. Seperti minuman rempah duan sirsat lempuyang, temu lawak, jahe merah, kencur, cabe lempuyang dan kunyit”, katanya kepada suarabaru.id, Senin (18/2).

Karyawan tengan melakukan proses pengemasan. Foto: Muharno Zarka

Satu dus kemasan minuman rempah tersebut dijual dengan harga Rp 30 ribu. Kalau di Jakarta dan kota besar lainnya Rp 40 ribu. Sedang di luar negeri lebih mahal dari harga di dalam negeri. Karena selain dijual di dalam negeri, minuman ini sudah dipasarkan di Thailand, Malaysia, Timor Leste, Suriname dan Belanda. Beberapa kali Bu Dar – panggilan akrabnya – mengikuti pameran produk UMKM di Thailand dan Suriname.

Untuk pasar lokal dan kota-kota besar di Indonesia, herbal drink buaran perempuan kelahiran Banjarnegara 4 Mei 1957 ini, bisa ditemukan di toko-toko obat, apotik dan supermarket. “Namun sebagian besar masih dipasarkan secara perseorangan”, tandasnya.

Manfaat

Minuman ini disebuat perempuan ramah dan energik ini mempunyai banyak manfaat. Salah satunya menjaga daya tahan tubuh. Selain itu, bisa pula menyembuhkan penyakit batuk, migrain, batuk, asma, reumatik, diabetes, kanker, radang sendi, asam urat dan nyeri lambung (maag).

“Masing-masing jenis minuman punya khasiat sendiri-sendiri. Untuk mengkonsumsi minuman ini cukup mudah. Satu sashet diseduh dengan air hangat (175 cc) dan bisa diminum siang dan sore hari secara rutin”, tutur Bu Dar.

Herbal drink yang terasa manis dan segar ini dibuat dengan komposisi bahan baku utama jahe, kencur, kunyit, lempuyang, jahe merah, temu lawah dan daun sirsat, dipadu dengan gula aren, sereh, kapulogo, cengkih, kayu manis dan gula pasir.

Dalam memproduksi minuman kesehatan ini dia tidak sendiri. Sebab, Bu Dar menghimpun kaum perempuan untuk bergabung di Kelompok Wanita Tani (KWT) Berdikari di kampungnya. Beranggotakan sekitar 24 perempuan, KWT Berdikari berdiri 13 Desember 2013. Uniknya, sebagian anggota berumur lansia dan rata-rata sudah pensiun dari pekerjaan utama. “Agar tetap bisa beraktivitas pascapensiun, saya berusaha memproduksi minuman herbal ini”, kisahnya.

Pilihan untuk mengolah rempah-rempah alami untuk dijadikan minuman segar dan menyehatkan dilatarbelakangi oleh melimpahnya bahan baku tersebut di daerah Wonosobo. “Kalau hanya dijual berupa bahan mentah harganya sangat murah”, tegasnya.

Sedang bila diolah menjadi minuman herbal, imbuh Bu Dar, bisa melambungkan harga jual sekaligus meningkatkan pendapatan petani dan produsen minuman tradisional ini. Sebagai produsen minuman, maka herbal ini sudah mendapat lesensi dari instansi terkait sebagai minuman yang sehat dan layak dikonsumsi.

Menurut Bu Dar, dalam sehari pihaknya bisa memproduksi sekitar 150 kemasan minuman herbal yang diberi label “Rumpun Padi” ini. Omset yang dicapai dalam sebulan sebesar Rp 45 juta. Dia mengungkapkan banyak manfaat yang bisa didapat dalam mengelola produksi jamu herbal ini. Selain bisa mendapat keuntungan secara ekonomi, konsumen yang yang mengkonsumsi olahan alami ini juga terjaga kesehatan tubuhnya. “Jadi ada manfaat ganda antara produsen dan konsumen”, paparnya.

Menyinggung soal cara produksi, dia mengungkapkan, tahap awal adalah proses pencucian bahan baku berupa rempah-rempah tradisional dari petani. Setelah itu, bahan baku diparut dan diperas untuk menghilangkan unsur air.

“Langkah berikutnya adalah pemasakan, penepungan (penggilingan), pembungkusan dengan plastik sashet dan terakhir pengepakan dengan dus kecil. Jika sudah dikemas dalam dus minuman serbuk ini siap dipasarkan ke konsumen”, pungkasnya.

Suarabaru.id/Muharno Zarka

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here