blank
Wisatawan bisa memainkan wayang golek di rumah dalam Miran Sunarto Purwacarita. Foto: R. Widiyartono

Ini juga menjadi bagian dari paket wisata yang disediakan. Kita diajak berkunjung  ke rumahnya yang sangat sederhana. Kasum menyimpan seperangkat alat musik calung ini, dan sering menerima tanggapan.

“Saya juga masih menyimpan calung yang umurnya sudah 30 tahunan, dan kondisinya masih bagus,” ujar Kasum, lalu ke dalam mengambil bilah-bilah calung bambu dan memukulnya.

Nadanya masih tidak blero atau tidak fals. Maklum saja, Kasum bukan sekadar pemain calung, tetapi dia pengrajin juga. “Saya masih menerima pesanan dari berbagai daerah,” kata dia.

Setelah menyaksikan permainan calung, wisatawan diajak mengunjungi tem[pat pembuatan keripik pisang. Warga di sini menyebutnya sriping pisang. “Melihat potensi pisang kapok yang melimpah, di semua halaman warga pasti ada pohon pisangnya. Maka kami manfaatkan untuk membuat sriping ini,” kata Murni, pengrajin kudapan crispy ini.

Ada beberapa tenaga kerja yang terlibat di dalam produksi, dari pengupasan, penggorengan, hingga pengemasan. “Sebagian besar perempuan maka produk ini kami namai Srikandi,” kata Murni.

blank
Bukan hanya menikmati gurih dan krispinya sriping pisang, wisatawan juga bleh membantu menggoreng. Foto: R. Widiyartoono

Selain dipasarkan di toko-toko, juga ada pesan-pesanan. “Produk kami juga menjadi oleh-oleh bagi wisatawan yang berkunjung,” kata Murni.

Tidak jauh dari ruymah produksi sriping pisang ini ada rumah seorang dalang wayang golek. Kalau biasanya wayang golek dari kayu, Miran yang nama dalangnya Miran Sunarto Purwacarita membuatnya dari bahan kertas.