Ilustrasi judi. Reka: SB.ID

JC Tukiman Tarunasayoga

Apa saja mengalami perkembangan, minimal perubahan. Bahkan siapa saja. Dulu, orang menyebut kata ma-lima, serta-merta sudah terbayang maksudnya. Yakni, orang mau mengatakan adanya  pekat (polisi paling suka menggunakan kata ini), yaitu  penyakit masyarakat, meliputi:  main yaitu berjudi;  madat yaitu minum; maling itulah mencuri.

Berikutnya, madon, dulu sih artinya nyewek, main perempuan, tetapi sekarang lebih tepatnya selingkuh karena saat ini bukan saja laki-laki yang suka berganti cewek; bahkan cewek pun saat ini banyak yang nyowok, suka main cowok. Padha-padha sedheng.

Kertu Lima  

Terkait dengan main, yaitu berjudi,  perubahan bahkan perkembangannya sangat-sangatlah pesat. Dalam hal apa? Terutama medianya. Dulu, wong main hanya menggunakan media seadanya; sedangkan sekarang sangatlah canggih, seperti yang terakhir ini banyak diperbincangkan khalayak, yaitu judol: judi online. Main jarak jauh, main elektronik, serba pakai sistem digital. Piye carane? Embuh ra weruh. Saya tidak tahu sama sekali tentang judol. Oleh karena itu, lebih aman bicara saja tentang kertu lima.

Baca juga Gimmick itu Santolan

Salah satu media main paling popular di zaman cilikanku  adalah kertu, dluwang kandel, ana gambare dinggo main. Alat berjudi terbuat dari kertas tebal, semacam karton dan diberi gambar. Ada yang disebut kertu cilik, yang akrab juga disebut kertu Cina,  karena memang kartunya kecil-kecil, berhuruf/bergambar Cina. Sedang satunya disebut kertu gedhe, karena memang lebih besar dan konon katanya buatan Belanda. Contohnya seperti kartu remi itu.

Bagi penduduk perdesaan, judi kartu yang paling marak memang kertu lima, judi menggunakan kartu Cina tadi, dan setiap penjudi mengawalinya dengan masing-masing memegang lima kartu.

Saya sudah lupa jumlah keseluruhan kartunya yang dipermainkan itu. Kalau tidak salah ada enam puluh; dengan nama-nama yang lafalnya pasti sudah njawani semisal bedor, kenci, dan lain-lain (lali, aku).

Suka berjudi, mengapa?

Kecuali kertu lima, perjudian model buang undi juga banyak terjadi, seperti main dhadhu, cliwik (di beberapa tempat disebut othok karena ketika alat main itu digerakkan, berbunyi othok-othok). Model buang undi ini semacam tebak-tebakan.

Juga ada main umbul, kartu bergambar wayang, dan sesuai namanya, kartu-kartu itu diterbangkan ke udara. Jatuhnya ke tanah, pasti ada gambar wayang yang kelihatan (di atas), ada juga yang tidak kelihatan (istilahnya: ana sing tiba mlumah, ana sing mengkurep).  Pemenang didasarkan pada sing tiba mlumah, itu pun tergantung dari kesepakatan antar penjudi yang minimal terdiri dari dua orang.

Mengapa,  siapa pun orangnya, suka berjudi? Mengapa orang suka bertaruh?  Kena apa wong seneng toh-tohan?  Ini pertanyaan sangat mendasar, dan kisaran jawabannya bisa dari A sampai Z. dari ha sampai nga. Jawaban “sekedar iseng”  menjadi jawaban sangat sederhana dan asal menjawab. Mengapa iseng juga mengandung seribu satu alasan.

Merujuk fakta judol yang sangat membuat terperanjat karena  omzet dan besarnya nominal uang yang beredar; rasanya ada alasan terbaru perlu kita gali. Menurutku, saat ini ada kecenderungan sangat besar melanda jumlah orang yang sangat banyak juga, yaitu ingin hidup nikmat.

Tidak mengenal strata usia, hidup nikmat betul-betul sedang melanda saat ini. Kalau bisa nikmat seraya bermalas-malasan, mengapa repot-repot bekerja? Jika di rumah saja dapat sungguh nikmat, mengapa harus keluar rumah?

Jika klak-klik klak-klik saja dapat nikmat mendatangkan uang, mengapa harus mikir macam-macam? Begitu seterusnya kaidah hidup baru yang sedang melanda zaman ini.

Inilah tantangan baru, meskipun kita memiliki ajaran atau nasihat kuna: “Sebuah lonceng bukanlah lonceng jika tidak engkau bunyikan; sebuah syair lagu bukanlah nyanyian jika tidak engkau dendangkan; cinta bukanlah cinta manakala tidak engkau nyatakan/ungkapkan.”

Ajaran kuna itu saat ini “sedang” kalah oleh pemeo baru: “Ayo hidup nikmat. Tidak nikmat jika tidak dinikmati.” Duhhhh Gusti.

JC Tukiman Tarunasayoga, Ketua Dewan Penyantun Soegijapranata Catholic University