blank
Sri Wahyuningsih, S.Pd (Guru Penggerak Angkatan 4, Guru SDN Sendangmulyo 02). Foto: Dok/Ning S

Oleh: Sri Wahyuningsih, S.Pd

LATAR belakang yang menjadi masalah adalah kurangnya peningkatan bakat minat anak, karena setiap anak sejak lahir diberikan bakat oleh Tuhan Yang Maha Esa. Bakat merupakan kemampuan dasar seseorang untuk belajar dalam tempo yang relatif pendek dibandingkan orang lain, namun hasilnya justru lebih baik.

Bakat merupakan potensi yang dimiliki oleh seseorang sebagai bawaan sejak lahir. Contoh, seorang yang berbakat melukis akan lebih cepat mengerjakan pekerjaan lukisnya dibandingkan seseorang yang kurang berbakat. Rasa suka anak terhadap sebuah aktivitas sangat penting diketahui orangtua, sebab dari sanalah bakat anak berasal. Sementara itu, rasa suka terhadap sebuah aktivitas itu sendiri sebenarnya berasal dari keinginan otaknya untuk mengetahui sesuatu.

Ketika sesuatu itu sudah diketahui oleh anak, dia akan melakukan berulang-ulang karena sudah menyukainya. Sebaliknya, jika tidak dilakukan berulang-ulang, aktivitas itu termasuk tak disukai anak. Namun, tidak semua aktivitas yang disukai anak adalah bakatnya. Mungkin saja, dia hanya mengikuti temannya, lalu hanya dalam beberapa saat dia meninggalkan aktivitas tersebut.

Salah satu hak peserta didik dalam UU No 20 Tahun 2003 adalah mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya. Maka dari itu setiap peserta didik diharapkan mendapatkan fasilitas dan pelayanan untuk mengembangkan bakatnya. Dengan pendidikan manusia dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal. Sebagian besar anak-anak pasti memiliki bakat, namun bakat ini cepat menghilang ketika dewasa.

Untuk membantu perkembangan potensi manusia, maka dibutuhkan usaha-usaha pendidikan, baik yang diselenggarakan di sekolah maupun di luar sekolah, seperti keluarga dan masyarakat luas.

Menurut Utami (dalam Dirlanudin, 1999), bakat diartikan sebagai kemampuan bawaan, sebagai potensi yang masih perlu dikembangkan dan dilatih agar dapat terwujud. Sedangkan kemampuan menunjukkan suatu tindakan dapat dilakukan sekarang, sedangkan bakat memerlukan latihan dan pendidikan agar suatu tindakan dapat dilakukan di masa mendatang.

Utami Munandar (dalam Dirlanudin, 1999) mengemukakan kreativitas (berpikir divergen) adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru, berdasarkan data, informasi atau unsur-unsurnya, sehingga mampu menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, yang tekanannya pada kuantitas, ketepatgunaan dan keragaman jawaban. Pengembangan kreativitas sering ditelantarkan dalam pendidikan formal, padahal amat bermakna bagi pengembangan potensi anak secara utuh dan bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan seni budaya.

Mengapa praktik ini penting untuk dibagikan? Praktik ini penting untuk dibagikan karena usia 6-12 tahun merupakan masa transisi anak untuk menuju jenjang pendidikan selanjutnya. Dimana pada jenjang sekolah dasar mereka di tuntut untuk dapat mengembangkan bakat dan minatnya dalam ajang kegiatan lomba baik akademik dan non akademik

Pengembangan bakat dan kreativitas siswa melalui kegiatan ekstrakurikuler mengacu pada proses sistematis yang bertujuan untuk mengidentifikasi, mengasah, dan memperluas potensi unik setiap siswa di luar kurikulum formal. Ini melibatkan pemberian peluang kepada siswa untuk terlibat dalam kegiatan yang mencakup berbagai bidang seperti seni, olahraga, ilmu pengetahuan, teknologi, dan banyak lagi.

Kegiatan Apresiasi siswa dapat menciptakan ruang di mana siswa dapat mengeksplorasi minat mereka dengan lebih mendalam, mengembangkan keterampilan khusus, dan menemukan passion yang mungkin tidak dapat ditemukan dalam konteks pembelajaran klasikal. Dengan cara ini, pengembangan bakat dan kreativitas melalui kegiatan apresiasi siswa menjadi pendekatan holistik yang melibatkan aspek intelektual, emosional, dan sosial siswa.

Pendidikan bukanlah sesuatu yang berakhir tepat di batas ruang kelas. Salah satu parameter pendidikan yang baik adalah sejauh mana siswa dapat mengembangkan bakat dan kreativitas mereka. Salah satu cara efektif untuk mencapai tujuan tersebut adalah melalui kegiatan apresiasi siswa. Namun, meskipun potensinya besar, masih ada berbagai tantangan dan peluang yang perlu dihadapi dan dimanfaatkan.

Tantangan

Setelah dilakukan identifikasi masalah dengan refleksi diri, maka ditemukan beberapa tantangan yang dihadapi yaitu:

1. Sulitnya menemukan murid dalam ajang pencarian bakat terutama saat akan mengikuti kegiatan lomba
2. Pemahaman orangtua siswa yang hanya mengedepankan prestasi akademik dan mengesampingkan prestasi non akademik yang berkaitan erat dengan pengembangan bakat dan kreatifitas murid
3. Kurang percaya diri yang muncul pada diri siswa dalam menampilkan bakat dan kreativitasnya dalam berbagai kegiatan yang ada disekolah
4. Pengembangan bakat dan kreativitas seringkali bersaing dengan tuntutan akademis, Tantangan utama adalah mengelola waktu dengan efisien agar siswa dapat meraih prestasi di sekolah
5. Berhubungan dengan minat siswa. Tidak sedikit siswa yang merasa tidak memiliki bakat atau lebih memilih fokus pada kegiatan akademik. Hal ini mengurangi partisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler, yang pada akhirnya menghambat optimasi bakat dan kreativitas.

Tantangan-tantangan tersebut memicu pendidik untuk berfikir secara divergen, sehingga ditemukan alternative solusi yang bisa dilakukan.

Rencana Aksi

Langkah-langkah yang dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut :
1. Membuat program sekolah yaitu Apresiasi siswa
2. Program apresiasi siswa dapat mengakomodir bakat dan kreativitas murid baik dalam bidang seni, literasi, olahraga dan keagamaan
3. Guru Piket maupun Wali kelas memberikan stimulasi yang positif kepada siswa agar tergerak dan mempunyai semangat yang tinggi dalam mengembangkan kreativitas dan bakatnya
4. Pengembangan bakat dan kreativitas siswa melalui kegiatan apresiasi siswa mengacu pada proses sistematis yang bertujuan untuk mengidentifikasi, mengasah, dan memperluas potensi unik setiap siswa di luar kurikulum formal.
5. Perlunya bekerja sama dengan orangtua siswa untuk bisa membantu dalam mempersiapkan murid dalam ajang penampilan dalam kegiatan apresiasi siswa

Dengan pengelolaan yang bijaksana, pemberdayaan sumber daya sekolah, dan dukungan orangtua dan semua warga sekolah, kegiatan apresiasi siswa dapat menjadi fondasi yang kuat untuk membentuk generasi yang kreatif, berbakat, dan siap menghadapi tuntutan masa depan. Dengan demikian, tantangan dapat diatasi dan peluang dapat dimaksimalkan. Pengembangan bakat dan kreativitas siswa melalui kegiatan apresiasi bukan hanya menjadi impian, tetapi juga menjadi kenyataan yang terwujud di banyak sekolah.

Sri Wahyuningsih, S.Pd (Guru Penggerak Angkatan 4, Guru SDN Sendangmulyo 02)