blank
Xavi mulai merasa tak betah di Barca. Foto: fcbarcelona.com

blankOleh: Amir Machmud NS

// ke mana dia pergi?/ takkan ke mana-mana/ jiwanya ada di sini/ dia Barcelona/ ornamen kental Blaugrana/ ruh tiki-taka dalam genggam sejarahnya/ tak mampukah dia melawan tekanan rasa?//
(Sajak “Xavi dan Barcelona”, 2024)

XAVI Hernandez. Anda pasti percaya, dia memainkan peran sebagai “pengatur permainan” dengan penuh perasaan. Ruh Barcelona mengeram dalam jiwanya, tiki-taka bagai darah yang mengalir di nadinya.

Dia salah satu pemain yang secara gestural dan ekspresional mengeksplorasi sepak bola dengan rasa. Predikat mediatika sebagai “The Puppet Master” menunjukkan Xavi menghayati keberadaannya sebagai dinamo Barcelona, pun peran yang dia sandang di tim nasional Spanyol pada masanya.

Ya, tahukah Anda mengapa ia identik sebagai nyawa Barcelona?

Sang play maker ini adalah ornamen kental sejarah emas Barcelona. Puzzle terpenting yang memimpin orkestrasi tiki-taka. Dia atur ritme permainan Blaugrana. Dia terjemahkan taktik Pep Guardiola dengan kecerdasan di atas rata-rata.

Sebagai pemain, Xavi telah menjadi mesin penggerak possession football El Barca. Dia nikmati fungsi itu sebagai energi: hidupnya untuk Barca, atas nama penghayatan sepak bolanya.

Sekuat itu pulakah Xavi memikul peran sebagai pelatih?

Sekuat itukah “kebergantungan” antara Xavi dan Barcelona, ketika bicara soal “rasa”?

Dan, “rasa”-lah yang pada titik tertentu akhirnya mendorong Xavi Hernandez memutuskan pergi dari kursi kepelatihan Barcelona. Dia merasa menghadapi atmosfer tuntutan yang terlalu “kejam”. Hatinya ada di sini, namun logika tekanan tak kuasa dia hadapi. Ketika mengumumkan rencana pengunduran diri selepas musim 2023-2024, banyak yang terkejut, benar-benarkah dia akan berpisah dari klub yang telah membesarkan dan dibesarkannya?

Pernah ada semburat cahaya harapan, Xavi adalah representasi figur yang ditunggu di Camp Nou, yang diproyeksikan menjadi “penguasa” berikut setelah Johan Cruyff, lalu Pep Guardiola.

Pada awal karier kepelatihannya, pada 2019-2021 dia sukses mengarsiteki Al Sadd di Liga Qatar, membentuk klub tersebut sebagai “miniatur Barcelona” dengan aroma tiki-taka-nya. Sulit dibayangkan, sebuah klub Asia sukses dia besut bermain dengan dominasi penguasaan bola dan keelokan cita rasa.

Manajemen Barca, yang pada 2019-2020 kecewa terhadap kinerja Ronald Koeman, pun serta merta merekrutnya. Pada musim pertamanya, 2021-2022, dia memberi gelar La Liga dan Piala Super Spanyol. Banyak yang berpikir dia bakal sukses di “rumahnya”, juga mengembalikan citra keindahan sepak bola posesif Barcelona.

Pekerjaan “Kejam”
Bahkan ketika suasana instabilitas mulai mendera performa Robert Lewandowski dkk pada musim 2022-2023, tak secepat itu para cules (fans Barca) mendapatkan kejutan rencana mundur. Selain badai cedera pemain, tiki-taka juga seperti “mejan”, sulit dibangkitkan lagi.

Ada sedikit cercah cahaya dengan munculnya Lamine Yamal, wonderkid berdarah Tunisia yang pada usia 16 sudah memperkuat La Furia Roja. Namun cedera pengatur serangan Gavi, penurunan performa Pedri Gonzales, dan Lewy yang tiba-tiba kehilangan “kegalakan” di pertengahan musim adalah sejumlah masalah yang mempengaruhi kinerja tim. Ilkay Gundogan tentu tak bisa bekerja maksimal dalam kondisi kepincangan tim .

Los Cules kepayahan dalam persaingan di La Liga, tertinggal jauh dari Girona dan Real Madrid. Lalu tersingkir di perempatfinal Copa del Rey, dan kalah di final Piala Super Spanyol. Harapan tersisa di Liga Champions, namun melihat konstelasinya, rasanya Barca sulit bersaing.

Xavi pun membaca tanda-tanda buram, meskipun manajemen Barca belum mempersoalkan capaian musim ini. Mengejutkan, karena tiba-tiba dialah yang mengumumkan rencana kepergian. Dengan nada pedih dia beralasan hasil kerjanya tak dihargai. Melatih Barca, katanya, adalah pekerjaan yang kejam dan tidak menyenangkan.

Seperti dikutip ESPN, dia menegaskan, “Ini membuat Anda merasa tidak berharga setiap harinya. Pep pernah mengatakannya kepada saya. Saya sendiri melihat bagaimana Luis Enrique menderita”.

Xavi melihat masalah terkait dengan tingkat tuntutan. “Anda tidak menikmatinya. Anda bermain untuk hidup Anda sepanjang waktu. Ini kejam. Pekerjaan yang sudah kami lakukan tidak cukup dihargai. Padahal kami datang pada 2021, salah satu momen tersulit dalam sejarah klub”.

Dia selalu mencoba menjelaskan, timnya sedang dalam masa pembangunan. Argumentasi bahwa Barca tidak memiliki skuad seperti pada era kejayaan 2010, selalu dikritik. “Ini tidak ada hubungannya dengan daya tahan terhadap tekanan. Saya datang ketika klub dalam situasi yang sangat sulit, dan saya kira pekerjaan kami tidak akan pernah dihargai,” ungkapnya.

Dia juga merasa, ketika memenangi trofi La Liga dengan selisih 10 poin dari Real Madrid pada 2022, dan ketika meraih Piala Super Spanyol pada 2023, sama sekali tidak ada elemen ekosistem klub yang menghargai. Bagi dia, masalah ini berhubungan dengan klub, lingkungan, dan tuntutannya.

Xavi adalah cermin realitas sikap klub yang membedakan perlakuan, antara ketika dia masih bermain dan menjadi kunci permainan, dengan saat dia menjadi pelatih yang harus meracik taktik dan strategi tim.

Ya, pernahkah kita mendengar Xavi mengeluhkan aroma “kekejaman” saat masih bermain? Ataukah nilai-nilai seperti tuntutan di lingkungan Los Cules mempengaruhi daya tahan Xavi sebagai seorang yang tumbuh, berkembang, dan hidup di dunia sepak bola?

Artinya, ada “rasa” yang lebih kuat mencekam pikiran. Ada usikan yang tak mampu dia lawan. Ada kenyataan yang dia pahami harus dihindari. Atau, jangan-jangan “komunitas” Barcelona yang tak pernah memahami Xavi dan gumpalan rasanya…

Amir Machmud NS; wartawan suarabaru.id dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah