blank
Gorup Musik Campursari Satriya Muda Wirama dari Dikbud Kota Yogyakarta, tampil secara life di dekat Gerbang Pasar Beringharjo, ruas Jalan Malioboro.(SM/Bambang Pur)

YOGYAKARTA (SUARABARU.ID) – Jarum jam menunjukkan Pukul 19.45. Giliran Tembang Dandanggula karya Komponis Anjar Any (Solo), dilantunkan merdu oleh Biduanita Bela dalam pentas Musik Campursari Satriya Muda Wirama. Ini menjadi warna istimewa di event wisata malam di Jalan Malioboro, Yogyakarta.

Group Musik Campursari dari Dinas Kebudayaan (Dikbud) Kota Yogyakarta tersebut, malam itu pentas di emperan toko dekat pintu gerbang Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Biduantita Bela, Mahasiswa UGM Yogyakarta, populer di tayangan Gangsa Ngetrend TVRI Yogyakarta, melantunkan Tembang Dandang Gula Laras Slendro Panthet Sanga. ”Jenang gula, kowe ojo lali, marang aku iki cah ayu……”

Bergelung konde, mengenakan kebaya warna biru dipadu kain jarik batik corak Ngayogyakarta, penampilan Bela begitu anggun mencitrakan sosok Wanita Jawa Ngayogjakarta. Dia ditemani oleh Biduanta Junita, yang juga tampil dalam busana sama.

Dari tembang Dandang Gula yang kalem, bersambung dengan tembang-tembang lain yang bernada sigrak gumyak, diiringi instrumen gendang, gender, kecapi, organ dan saron.

Group berkekuatan 8 seniman-seniwati yang tampil secara life ini, juga menyajikan gending-gending Tayub Sragenan yang menyihir penonton untuk ikut berjoget. Juga menyajikan lagu-lagu yang nada iramanya di-koplo-kan, untuk menyemarakkan suasana malam di Ruas Jalan Malioboro.

Pemudi Latifah dari Wonogiri, Jateng, dan Dwi dari Kuningan, Jabar, tampil ikut berjoget dalam pentas Musik Campursari tersebut. Satu-satu, penonton bergiliran maju ikut nyawer. Mereka ada yang dari Banjarmasin, Kalsel, dari Tegal, Jateng dan sejumlah kota lain.

Legendaris

”Tidak setiap malam ada,” ujar Harno, salah satu penonton pentas Musik Campursari Satriya Muda Wirama Dikbud Kota Yogyakarta tersebut. Warga asal Saptosari, Wonosari, Kabupaten Gunungkidul DIY ini, tidak beranjak sejak pentas dimulai.

Harno, tidak berpaling pada Musik Angklung yang malam itu dipentaskan di Teras Malioboro. Juga tidak tergoda berpindah lokasi untuk menyaksikan panggung Dangdut atau pentas Band, yang malam itu sama-sama disajikan di titik-titik strategis di ruas Jalan Malioboro Yogyakarta yang legendaris tersebut.

Banyak pengunjung yang menyampaikan pujian atas tampilnya sejumlah hiburan di ruas Jalan Malioboro tersebut. ”Jogja memang istimewa, Dinas Kebudayaannya kreatif,” komentar sejumlah penonton.

Jalan Malioboro didirikan bertepatan dengan pendirian Kraton Yogyakarta. Dalam bahasa Sansekerta, kata “malioboro” bermakna karangan bunga. Hal itu mungkin ada hubungannya dengan masa lalu ketika Kraton mengadakan acara besar maka Jalan Malioboro  dipenuhi dengan bunga.

Pendapat lain menyebutkan, nama Malioboro berasal dari kata Marlborough, yakni gelar Jenderal John Churchill (1650-1722) dari Inggris. Namun pendapat ini disanggah, dengan adanya bukti sejarah bahwa Jalan Malioboro sudah ada sejak berdirinya Ngayogyakarta Hadiningrat.

Peter Carey berpendapat, Jalan Malioboro telah dibangun dan digunakan untuk tujuan seremonial tertentu selama lima puluh tahun, sebelum orang Inggris mendirikan pemerintahannya di Jawa.
Bambang Pur