blank
Carlo Ancelotti. Foto: caow

blankOleh: Amir Machmud NS

// tanah ini menyimpan kekuatan/ kau rasakankah kegaiban dalam diam?/ dengan keingarbingaran/ dengan daya hidup/ dan kini meniupkan energi/ dari aura yang berbeda//
(Sajak “Brazil”, 2023)

BERLEBIHANKAH menyebut Brazil sebagai “tanah suci sepak bola”?

Prestasi, tradisi, dan segala macam eksotika seni mengolah si kulit bundar ada di negeri penghasil kopi terbesar dunia itu. Para seniman sepak bola dengan kemampuan artistik dan teknik aneh-aneh menyatu dengan daya hidup, ekspresi naluriah, dan kultur karnaval yang penuh gairah.

Di sana lahir “pujangga-pujangga sepak bola” yang tak ada duanya. Dari Pele, Garrincha, Jair, Rivelino, Zico, Ronaldo Nazario, Ronaldinho, Kaka, hingga Neymar.

Brazil menjadi kutub tersendiri di antara pusat-pusat peradaban sepak bola seperti Inggris, Prancis, Jerman, Italia, dan Argentina.

Dengan segala kebesaran itu, kesan apakah yang Anda rasakan ketika mendengar Federasi Sepak Bola Brazil (CBF) kesengsem mendatangkan Carlo Ancelotti, “ulama sepak bola” dari Italia, kutub yang notabene secara ideologis dan gaya bermain menggambarkan paradoksa dengan Brazil?

Sebegitu gentingkah kondisinya, sehingga CBF membutuhkan sentuhan dari tokoh yang dalam “spiritualitas taktik” dan kultural sejatinya berbeda?

Pelatih genius Manchester City, Pep Guardiola pernah masuk radar incaran untuk menyegarkan manajemen Selecao. Juga legenda Real Madrid, Zinedine Zidane. Dan, kini langkah memboyong Don Carlo diseriusi lewat berbagai pintu pendekatan.

Neymar Junior, misalnya, membentuk opini untuk meyakinkan kepada Ancelotti tentang kehendak perubahan sepak bola negerinya. Ricardo Kaka, yang pernah diasuh oleh Don Carlo di AC Milan disebut-sebut akan menjadi utusan khusus CBF untuk merayu eks mentornya itu.

CBF berargumen dengan rasionalitas, bahwa Ancelotti membuktikan mampu mengeksplorasi talenta-talenta Negeri Samba yang bermain untuk Real Madrid, yakni Vinicius Junior dan Rodrygo Goes.

Kontrak Don Carlo dengan Madrid baru akan berakhir Juni 2024. Klub Spanyol itu tak senang dengan rencana CBF. Sedangkan Presiden CBF Ednaldo Rodrigues memahami posisi Ancelotti yang belum memberi respons karena masih terikat dengan Los Blancos.

Seperti dikutip sejumlah media, Ednalno menuturkan, banyak pemain yang menyukai Carlo Ancelotti. Mereka yang dilatih menceritakan, Don Carlo adalah pelatih ideal, sementara yang lain menyatakan ingin dilatih karena dia adalah orang yang tepat. Presiden CBF pun percaya, Ancelotti merupakan figur yang sempurna untuk Selecao.

Saat ini, kursi panas itu sedang kosong. Tite diberhentikan pasca-Piala Dunia 2022. Untuk sementara timnas diserahkan kepada pelatih Tim U20 Mano Menezes.

“Santapan” Media
Dalam sejarah panjang tradisi sepak bola di negeri lima kali juara dunia itu, tak mudah mendapat kepercayaan sebagai pelatih. Selain reputasi, juga kesiapan untuk menjadi “santapan” media, karena mindset publik tergambar dari tuntutan “hanya mau Piala Dunia”.

Sosok pelatih selalu dihadapkan pada pilihan sulit. Setia pada pakem kultural jogo bonito, atau berani mengusung cara bermain pragmatis. Sepak bola Negeri Samba itu kental dengan kultur jeitinho, yakni transformasi sikap keseharian yang “tidak tahu apa yang akan dilakukan kemudian”, bergerak lebih menuruti naluri. Dan, ketika naluri berindah-indah lebih larut dalam sikap bersepak bola, yang mengemuka adalah pikiran “jangan mendapatkan kemenangan dengan cara yang biasa-biasa saja”.

Pelatih yang sukses memadukan pragmatisme dengan keindahan irama tarian samba adalah Carlos Alberto Perreira yang menjuarai Piala Dunia 1994, dan Felipe Scolari pemenang 2002. Keduanya belajar dari kegagalan menyedihkan Sebastiao Lazaroni di Piala Dunia 1990 ketika memilih total jalur pragmatis. Sedangkan Tele Santana, ideolog sepak bola indah, gagal pada 1982 dan 1986 walaupun Brazil dengan Zico, Socrates, dan Falcao dikenang sebagai “tim artistik sepanjang masa”.

Tite sebenarnya bersikap seperti Big Phil, namun keseimbangan yang dia usung di Rusia 2018 dan Qatar 2022 tak membuahkan trofi. Dan, inikah yang menyulut ketidaksabaran otoritas sepak bola Brazil dengan mendatangkan pelatih mancanegara? Langkah ini pasti kontroversial lantaran mengisyaratkan ketidakpercayaan kepada aset-aset ideolog sepak bola Brazil, dan ini belum pernah terjadi dalam sejarah Selecao.

Dan, bukankah ide ini adalah eksperimen besar bagi Brazil? Ketika para tokoh “dewan syura” gagal memberi sentuhan berkualifikasi trofi dunia, Don Carlo menjadi pilihan jalan tengah, apakah ”ajarannya” bakal merasuk melewati transformasi batas-batas kultur dan ideologi…

Amir Machmud NS; wartawan suarabaru.id dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah