blank
Ilustrasi. Foto: Widiyartono R

Dalam hal dwilingga alun-alun, saya memberanikan diri menyebutnya dwilingga salin rasa,  karena memang artinya sama sekali berbeda antara alun dan alun-alun sebagaimana telah disebutkan di atas.

Hal yang sama ialah alang dengan alang-alang; alap vs alap-alap, dan awang vs awang-awang. Kalau ada orang mengatakan alang wae, itu artinya ia mengajak lewat sisi (jalan) lain yang relatif lebih dekat.

Alang juga berarti ujur, maka ada kata alang-ujur, yakni melukiskan posisi keberadaan sesuatu atau seseorang. Dan alang juga bermakna dipepeti, ditutup aksesnya, misal dipasang portal. Sementara, kalau orang mengatakan alang-alang, itu pasti menyebutkan araning tetuwuhan sabangsa suket; alang-alang yang di banyak tempat sering dimanfaatkan untuk atap rumah.

Baca juga Semangkeyan

Beda banget kan arti alang dibandingkan dengan alang-alang? Hal sama ketika ada teman mengucapkan: “Wah ……wis ora ana kang bisa dialap barange; tidak ada lagi barang secuil pun yang masih dapat dimanfaatkan.

Alap berarti dijupuk utawa dipek (bacalah seperti mengucapkan leher) barang itu diambil atau didaku. Sementara alap-alap itu nama burung pemakan/pemangsa  daging.

Ada pun tembung awang, artinya dietung kanthi awangan, ora nganggo alat; sebutlah secara luar kepala saja. Para pedagang di pasar tradisional, hamper semuanya memraktekkan etung awang ini, dan ternyata tepat juga.

Lain awang, lain pula awang-awang, dwi lingga salin rasa; karena awang-awang ini berarti langit, hawa ing langit. Burung beterbangan ing awang-awang, sama halnya pesawat terbang itu nun di awang-awang sana terbangnya.

Ada ajaran moral sangat bagus untuk kita terkait awang-awang ini, yaitu paribasan kesandhung ing rata, kebentus ing awang-awang. Ingatlah dalam hidup ini, sangatlah mungkin (siapa pun) tersandung di tanah rata, dan bisa juga terbentur atau terantuk di udara lepas.

Maknanya? Hati-hati dan jangan pernah merasa aman-aman saja dalam segala hal. Orang sering berpikir, mana mungkin kakiku dapat tersandung di jalan yang mulus, rata; mana mungkin kepalaku bisa terantuk di udara lepas bebas tidak ada apa pun.

Peribahasa itu menyatakan, bukannya tidak mungkin kau akan tersandung, bukannya tidak mungkin kepalamu terancam terbentur.

Alun vs alun-alun, alang vs alang-alang, alap vs alap-alap, dan awang vs awang-awang mengajarkan betapa bahkan sebuah kata pun ketika diulang sangat mungkin salin rasa; apalagi perilaku manusia, jika tidak selalu sadar-diri, sangat mungkin berubah menjadi alap-alap, dan sangat mungkin juga akan kesandhung ing rata, kebentus ing awang -awang. Saatnya introspeksi diri, Lurrrrrrr………..

JC Tukiman Tarunasayoga, Ketua Dewan Penyantun Universitas Katolik (UNIKA) Soegijapranata, Semarang