Bupati jepara Dian Kristiandi saat menyerahkan wayang pada Ki Dalang Hadi Purwanto.

JEPARA ( SUARABARU.ID) – Di akhir jabatannya yang tinggal beberapa hari, Bupati Jepara Dian Kristiandi nanggap wayang di Desa Nyamuk, Kecamatan Karimunjawa. Pertunjukan kesenian tradisional Jawa ini merupakan yang pertama kali digelar di pulau tersebut.

Ki Dalang Hadi Purwanto saat membawakan lakon Semar Mbangun Jiwo.

Pergelaran wayang kulit ini dilaksanakan pada Jumat (13/5-2022) malam di Balai Desa Nyamuk. Kegiatan dibuka Bupati Jepara Dian Kristiandi dengan didampingi Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara Zamroni Lestiaza, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Arif Darmawan, dan para pejabat terkait.

Tema pagelaran wayang kulit ini mengangkat lakon Semar Mbangun Jiwa ditampilkan oleh dalang Ki Hadi Purwanto. Tidak hanya kelompok masyarakat dewasa, anak-anak pun banyak yang menyaksikan wayang kulit ini hingga larut malam.

Petinggi Desa Nyamuk Muazis menyampaikan terima kasih kepada bupati yang sudah memberikan hiburan wayang kepada warga Nyamuk. Ini merupakan pertama kalinya wayang dihadirkan di pulau tersebut.

“Terima kasih pak bupati yang telah menghadirkan wayang di pulau Nyamuk kepada warga kami,” kata dia.

Bupati Jepara Dian Kristiandi mengatakan, pertunjukan wayang ini untuk memenuhi nazarnya (janji) saat di Pulau Parang beberapa waktu lalu. Bupati ingin menghadirkan wayang kulit di Desa Nyamuk.

“Hari ini saya memenuhi janji saya untuk menggelar wayang kulit di Pulau Nyamuk. Saya sangat gregel (tersentuh) mendengarnya. Karena ini pertunjukan wayang kulit pertama kali di Pulau Nyamuk,” kata Andi.

Bupati juga menginstruksikan kepada dinas terkait setidaknya setahun sekali bisa menghadirkan para seniman untuk pertunjukan wayang kulit di pulau-pulau terluar di Kabupaten Jepara.

“Saya berpesan setidaknya setahun sekali di Pulau Nyamuk ini diadakan pertunjukan wayang. Juga di pulau lainnya,” kata dia.

Tidak hanya masyarakat jawa, beragam suku yang ada di Pulau Nyamuk juga ikut menyaksikan wayang kulit ini. Seperti masyarakat suku Madura, Bajo (Kalimantan Timur), Bugis (Sulawesi), Mandar (Sulawesi Barat), dan Nias. mereka guyub rukun bersama.

Salah satu warga keturunan suku Buton (Sulawesi Tenggara), Toprikan (55) mengaku senang dengan pertunjukan wayang kulit ini.

“Meski kita beda suku, senang bisa melihat kesenian jawa khususnya wayang kulit,” kata dia

Alvaros