blank
Pratama Arhan. Foto: dok/tangkapan layar

blankOleh: Amir Machmud NS

// andai kau kirim bola ke langit biru/ para bidadari akan berebut memburu/ andai kau lempar sekencang itu bola ke hutan belantara/ para bidadari pula yang akan berebut mendekapnya/ kau kirimlah bola cinta/ dan semesta bangsa ini menyambut dalam bahagia…//
(Sajak “Puisi untuk Arhan”, 2022)

PASTILAH lantaran keistimewaannya, maka throw-in atau lemparan bola Pratama Arhan Alif Rifai diviralkan oleh media. Bahkan, di antara pusat-pusat perhatian tim Nasional asuhan Shin Tae-yong, inilah titik fenomenal yang kemudian menjadi percaturan netizens dunia.

Pasti pulalah, lantaran lemparan ke dalam yang “tidak umum” itu, Arhan memikat media untuk mengulik dan mengilas balik, “mengundang” kehadiran kembali nama-nama Rory Delap, Aron Gunnarsson, Christian Fuch, Ryan Shotton, dan Ljuba Baranin sebagai jagoan-jagoan throw-in. Di antara nama-nama itu, legenda lemparan ke dalam melekat pada diri Rory Delap, pemain Stoke City asal Irlandia yang disebut-sebut sebagai “Raja Throw-In”.

Fenomena Pratama Arhan juga menyegarkan kembali ingatan kita terhadap Hartono, bek Persebaya Surabaya yang pada 1990-an menonjol karena punya kemampuan langka: kuat melempar bola jauh dari garis tepi lapangan.

Mengapa sefenomenal itu, sederhana saja penjelasannya: Pratama Arhan, bek kiri tim Nasional Indonesia asal PSIS Semarang itu hadir dengan “faktor pembeda”. Lemparan ke dalam itulah pembedanya.

Esensi naluri media adalah kepekaan mengangkat sisi-sisi istimewa dalam diri manusia sebagai potensi magnet informasi. Ketika blow up itu sukses menjadi perhatian dan pembicaraan, artinya, terbitlah viral. Budaya pop memainkan infiltrasinya lewat ketergerakan masif media-media.

Dan, di antara rata-rata kualitas pemain Nasional kita, Arhan tidak hanya hebat dalam throw-in. Tidakkah Anda memerhatikan bagaimana anak muda kelahiran Blora itu meliak-liuk mengiris sayap pertahanan lawan? Anda amati pulakah bagaimana dia melakukan tusukan penetratif, memberi umpan silang, atau mencoba melepas tendangan kaki kiri yang kuat.

Sudahkah Anda membuka kembali rekaman gol spektakulernya ke gawang Malaysia di Piala AFF tempo hari? Jelas bukan gol sembarangan. Betapa kuat ayunan kaki kirinya, betapa akurat arah bolanya prima, dan betapa mematikan hunjamannya. Perpaduan antara naluri, teknik, dan seni.

Bek Sayap Fenomenal
Dari laga-laga Piala AFF, dengan Asnawi Mangkualam Bahar di sektor kanan, saya serasa membuka kembali album dua bek apit fenomenal dalam episode-episode sejarah Timnas. Anda yang mengikuti perjalanan Timnas 1907-an asuhan Wiel Coerver dan Tony Pogacnik pasti ingat dua nama legendaris ini: Johannes Auri dan Simson Rumahpassal.

Impresivitas pasangan bek itu diteruskan oleh Aun Harhara – Patar Tambunan di tim Pra-Piala Dunia 1985 asuhan Sinyo Aliandoe yang menjuarai Subgrup IIIB Asia Timur. Berikutnya, duet yang menjadi patron adalah Aji Santoso – Jaya Hartono, dan Zulkifli Syukur – M Nasuha.

Lantaran Pratama Arhan, saya juga terkilas balik referensi kehebatan bek-bek sayap dunia, dari Carlos Alberto, Manfred Kaltz, Zavier Zanetti, Eric Gerets, Josimar, Andreas Brehme, Denis Irwin, Stefan Reuter, Philippe Lahm, Cafu, Patrice Evra, Dani Alvez, hingga Gary Neville.

Nama-nama itu dikenal sebagai spesialis full back yang punya kemampuan mengiris sisi kiri dan kanan pertahanan lawan. Pergerakan mereka hiperaktif, merangsek naik membantu serangan. Ujungnya, layanan umpan silang yang memanjakan. Atau gol pun banyak mereka bukukan.

Selain spesialisasi “lemparan jauh”, menurut saya, Arhan punya kapasitas teknis di atas rata-rata. Pemain 21 tahun yang dibesarkan SSB Putra Mustika dan SSB Terang Bangsa ini juga merupakan bek serbaguna, selain skill hebat dalam bertahan juga passing, dan kemampuan mencetak gol. Dalam 19 laga bersama Timnas senior, dia telah membukukan tiga gol. Salah satunya adalah master piece dalam laga melawan Malaysia di Piala AFF.

Merawat Bakat
Yang menjadi tantangan, bagaimana cara Pratama “Delap” Arhan merawat dan meningkatkan kemampuannya. Memilih bertahan di PSIS? Hanya ingin bermain di Liga Indonesia? Mengikuti jejak Asnawi Mangkualam ke Liga Korea? Mungkin pula seperti sejumlah pemain kita yang mencoba berkarier di Liga Malaysia dan Thailand?

Melatih bertransformasi dengan ekosistem sepak bola Eropa, seperti Egy Maulana Vikri dan Witan Sulaiman yang kini bermain untuk FC Senica di Liga Slovakia adalah juga opsi untuk merawat bakat. Tinggal bagaimana agen yang menaungi membukakan akses.

Tim Shin Tae-yong di Piala AFF mengetengahkan pemunculan nama-nama baru bertabur harapan. Selain Arhan, ada Alfeandra Dewangga, Ramai Rumakiek, dan Ricky Kambuaya. Lalu kini dia menambahkan tiga nama gres: Marcelino Ferdinand, Achmad Figo, dan Ronaldo Kwateh.

Bagaimanapun, di antara mereka, Arhan sulit terbandingkan, antara lain karena keistimewaan lemparan ke dalamnya…

— Amir Machmud NS, wartawan suarabaru.id, kolumnis sepak bola, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah —