Kades Bandongan, Sujono, memukul gong menandai dibukanya agrowisata dan Bandongan Mall, hari ini. Foto: eko

KOTA MUNGKID(SUARABARU.ID)-Desa/Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang memiliki objek wisata baru dan pelayanan perizinan secara online. Launching Agrowisata Lembah Semawang dan Bandongan Mall itu dilakukan hari ini, Sabtu (1 Januari 2022).

Kepala Desa (Kades) Bandongan, Sujono mengatakan, objek wisata yang dibuka hari ini itu akan menonjolkan agrowisata bibit Apokat Hana 1, 2 dan 3. “Ini bukan apokat biasa. Buahnya besar seperti kepala saya, rasanya legit seperti mentega,” katanya.

Di Lembah Semawang itu ke depan akan ada kegiatan masyarakat. Menurut rencana objek wisata itu akan dibuka setiap hari Minggu. Menggunakan lahan bengkok kepala desa.

Sementara itu tentang Bandongan Mall, lanjut Kades, merupakan aplikasi digital dengan beberapa layanan. Melalui layanan itu masyarakat Bandongan apabila hendak mengurus surat-surat tidak harus datang ke kantor desa. Tetapi cukup melalui aplikasi.

Sedangkan belanja mudah juga merupakan terobosan. Selama ini layanan pengiriman barang dirasa masih mahal biayanya. Melalui Bandongan Mall itu dalam satu bulan pertama gratis atau tidak ada biaya atau ongkos kirim. Setelah satu bulan ada ongkos kirim sebesar Rp 3.000. “Itu termurah sedunia,” katanya.

Kades yang purnawirawan anggota TNI itu selebihnya mengatakan, kini layanan jasa pengiriman barang pada umumnya biayanya masih lebih dari Rp 10 ribu. “Bandongan Mall hanya tiga ribu rupiah. Kalau mau belanja, bapak ibu tidak harus ke luar rumah, tidak harus berdandan, tidak harus naik motor. Tapi dengan aplikasi ini cukup pesan dari rumah,” jelasnya.

Layanan tersebut akan dikembangkan di seluruh desa di wilayah Kecamatan Bandongan.

Camat Bandongan Suroto SSos mengapresiasi dibukanya Agrowisata Lembah Semawang dan Bandongan Mall itu. Karena akan mendukung pertumbuhan ekonomi yang endingnya kesejahteraan masyarakat. Baik bagi masyarakat Desa Bandongan dan warga se-Kecamatan Bandongan. “Saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya, termasuk kepada media massa dalam mempromosikan tempat wisata maupun tempat pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Menyambut Baik

Kepala Desa Wisata Nusantara (Dewisnu) Jateng, H Hadi Sucahyono, menyambut baik dan mendukung beroperasinya Lembah Semawang, termasuk adanya budidaya Apokat Hana oleh Prof Suhariyanto. Dia sarankan dibuat buku tentang riwayat Lembah Semawang, sehingga orang yang datang ke sana bisa tahu sejarah tentang Lembah Semawang.
“Saya salut, meski baru rintisan,” katanya.

Kalau dikembangkan dengan baik, dia yakin akan memiliki daya tarik. Sebab warga ingin menikmati suasana baru, apalagi di agrowisata. Selain suasana baru juga ada bahan olahan makanan yang asli dari tanaman, bahkan dari hewani.

Dengan situasi lingkungan seperti itu bisa dikembangkan sistem hidroponik. Apalagi di sana persediaan airnya bagus. Disarankan ada kebun petik buah
seperti di Malang yang ada Apel Malang.

Di Bandongan bisa dikembangkan kebun Apokat petik sendiri, dan bisa menjadi agro eduwisata. Di Magelang sudah ada agro eduwisata kopi. “Kami akan mendukung dan berkolaborasi agar upaya rintisan agrowisata ini bisa kita kolaborasikan bersama. Kalau kita mau bersama-sama dan saling memperkuat, walau saat ini kondisi pandemi, saya yakin kita akan keluar dari situasi ini dengan kemanfaatan yang lebih baik untuk masyarakat,” harapnya.

Dia juga menyebutkan, Kades Bandongan telah mengurus surat izin berusaha (SIB) dengan 24 UMKM, dari sekitar 800. Dikatakan, Dewisnu itu berkantor pusat di Bali dan memiliki Dewisnu Akademi. Jika ada warga yang ingin dididik menjadi konsultan desa wisata bisa dilatih sebagai pendamping desa wisata.

Sementara itu pembudidaya bibit Apokat Hana, Prof Suhariyanto, mengatakan, Hana diambil dari nama anak dia. Sentralnya di Bogor dan induknya ada di sana, kemudian dikembangkan di Klaten dan di beberapa lokasi lainnya.

Eko Priyono