blank
Ilustrasi kisruh Partai Demokrat/VOI.ID

Oleh: JC Tukiman Tarunasayoga

blank
JC Tukiman Tarunasayoga

Usianya di atas saya, – sepantaran kakakku – , tempat tinggalnya di Dusun Selo Desa Argodadi (Kabupaten Bantul, DIY), namanya Kisruh. Ia dikenal jago Aljabar, dan dalam konteks kehidupan perdesaan di tahun 60-70-an, Kisruh menjadi parang pitakonan (tempat bertanya) soal-soal Aljabar.

Bukan saja bagi teman sebayanya, tetapi anakanak SMP pun sering bertanya kepadanya. Zaman itu belum model les privat, dan seandainya mas Kisruh waktu itu “membuka les” wah…… pasti laris manis dan ingar-bingar tanpa menimbulkan kisruh apa pun serta bagi siapa pun.

Lain Mas Kisruh yang waktu itu karir kerjanya bagus (di mana sekarang?), lain kisruh politik yang saat ini besar kemungkinannya  “memengaruhi” karir kerja orang-orang yang terlibat di dalam kisruh politik

Partai Demokrat (PD). Buktinya, di sana-sini (terdengar kabar begitu sih) ada pemecatan pengurus partai (kader); bahkan ada kemungkinan akan ada pergantian keanggotaan DPR, dan entah apa lagi yang akan terjadi. Itu semua imbas dari kisruh politik, dan masih sangat sulit ditebak kapan akan berakhir dan seperti apa akhirnya nanti.

Kisruh, -sebutlah searti dengan kacau/kekacauan atau karut-marut- , terjadi karena sekurangnya ada dua belah pihak yang berseteru atau berseberangan kepentingan atau pendapatnya. Saat ini yang sedang terjadi ialah kubu X merasa pihak yang benar sedang kubu Z-lah yang tidak benar; tetapi sebaliknya kubu Z bersikukuh pihaknyalah yang sah sedangkan X tidak sah.

Karena itu, apakah dapat dikatakan baik X maupun Z sama-sama benar sekaligus sama-sama salah?  Yakin seribu yakin, pertanyaan itu pasti ditolak baik oleh X maupun oleh Z. Mengapa? Lagi-lagi karena sedang kisruh, masing-masing pihak pasti tidak rela disebut salah kecuali harus benar.

Tahapan yang saat ini sedang terjadi baik di kubu X maupun Z adalah, – terutama ketika tokoh-tokoh kedua kubu itu mapan turu – , pergulatan batin dan hati antara isin mundur dan mundur isin; dan sambil glebakan amarga ora isa turu, para tokoh itu bergumam: “Tak tunggu tekan kapan kowe mundur.” 

Seraya bergumam begitu, ia getem-getem berfikir: “Aku emoh dhisiki.” Nah………ungkapan “Aku emoh dhisiki” inilah sangat erat perkaitannya dengan isin mundur dan mundur isin itu.

Kisruh, – sebutlah searti dengan kacau/kekacauan atau karut-marut – , terjadi karena sekurangnya ada dua belah pihak yang berseteru atau berseberangan kepentingan atau pendapatnya. Saat ini yang sedang terjadi ialah kubu X merasa pihak yang benar sedang kubu Z-lah yang tidak benar; tetapi sebaliknya kubu Z bersikukuh pihaknyalah yang sah sedangkan X tidak sah.

Karena itu, apakah dapat dikatakan baik X maupun Z sama-sama benar sekaligus sama-sama salah?  Yakin seribu yakin, pertanyaan itu pasti ditolak baik oleh X maupun oleh Z. Mengapa? Lagi-lagi karena sedang kisruh, masing-masing pihak pasti tidak rela disebut salah kecuali harus benar.

Pergulatan Batin

Tahapan yang saat ini sedang terjadi baik di kubu X maupun Z adalah, – terutama ketika tokoh-tokoh kedua kubu itu mapan turu – , pergulatan batin dan hati antara isin mundur dan mundur isin; dan sambil glebakan amarga ora isa turu, para tokoh itu bergumam: “Tak tunggu tekan kapan kowe mundur.” Seraya bergumam begitu, ia getem-getem berpikir: “Aku emoh dhisiki.” Nah………ungkapan “Aku emoh dhisiki” inilah sangat erat perkaitannya dengan isin mundur dan mundur isin itu.

Isin mundur senantiasa terkait dengan semangat maju/jalan terus karena merasa tidak bersalah, sementara itu mundur isin terkait dengan  semangat bertahan karena merasa benar dan sudah melakukan atau memperjuangkan banyak hal.

Baca Juga: Tali Monce (Orang) Parpol

Isin mundur itu menyerang atau agresif sedangkan mundur isin itu bertahan atau defensif. Semangat maju terus karena merasa tidak bersalah dapat saja ungkapannya menyerang sana-sini, cari kelemahan “lawan” sebanyak-banyaknya, dan kalau dipandang perlu memang “membunuh karakter” lawan.

Sementara itu, semangat bertahan karena merasa benar, apalagi merasa sudah berbuat banyak, dapat terungkap lewat sikap-sikap yang dapat sama dengan sikap “lawannya,” tetapi dapat juga lewat angon lenane mungsuh, yakni menunggu lengahnya lawan.

Dalam konteks kisruh PD, baik kubu X maupun Z berada dalam “siaga satu” terkait dengan isin mundur maupun mundur isin tadi. Intinya, dalam “siaga satu”  ini yang sedang ditempuh adalah saling lapor; dan kelak ketika saling lapor itu sudah jenuh (apalagi buntu), mungkin akan ditempuhlah “siaga dua” bahkan “siaga tiga” entah nantinya dalam bentuk apa. Kalau benar begitu yang akan terjadi, kedua pihak bakal entek-entekan, yaitu habis-habisan.

Nasihat moralnya berupa pertanyaan demikian: “Siapkah kubu X maupun Z entek-entekan?” Sebaiknya jangan! Selagi belum melangkah untuk habis-habisan, carilah mediator terbaik yang mampu memediasi isin mundur dan mundur isinmu untuk menatap masa depan yang lebih “menggoda.”

Ingat, masa depan terkait sejumlah kursi jabatan menggoda dan menunggu; jangan berlarut-larut berseteru. Sebab, jika kubu X dan Z berseteru terus, bakal klakon gawe isin, atau malah ngisin-isini, kepara kisinan.

Pasti Anda tidak mau gawe isin, ngisin-isini apalagi kisinan. Ditunggu sikap kesatriamu!!

(JC Tukiman Tarunasayoga, Pengamat Kemasyarakatan)