Bagus Prijana , pemuda asal  Kampung Boton, Kelurahan Magelang, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang  saat mengendarai sepeda  sepeda tua yang merupakan replika sepeda larya Pierre dan Ernest Michaux dari Perancis di tahun 1863. foto: suarabaru.id/ Yon

MAGELANG(SUARABARU.ID)- Di tengah “booming” bersepeda di kalangan masyarakat saat ini dengan tren sepeda berbagai jenis mulai sepeda gunung, sepeda lipat dan lainnya, seorang pemuda asal  Kampung Botton, Kelurahan Magelang, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang membuat replika sepeda tua yang cukup unik.

Sepeda yang dibuat oleh Bagus Prijana tersebut sangat berbeda dibandingkan dengan sepeda-sepeda  saat ini, baik dari bentuk, ukuran maupun bahan bakunya.Sepeda jenis velocipede yang  merupakan reproduksi karya Pierre dan Ernest Michaux dari Prancis di tahun 1863 tersebut, rangka terbuat dari besi baja sedangkan rangka kedua roda dan jari-jari rodanya terbuat kayu jati.

Karena semuanya terbuat dari kayu jati dan besi baja, sepeda  yang diberi nama “Golden Dragon” (Naga Emas) tersebut mempunyai bobot berat mencapai 30 kilogram dengan panjang dari ujung roda belakang hingga roda depan mencapai 175 sentimeter. Sementara tinggi sepeda tersebut dari setang hingga tanah 125 sentimeter.

Sang pemilik “Golden Dragon”, Bagus Prijana mengatakan,  untuk menyelesaikan pembuatan sepeda tersebut memakan waktu sekita empat bulan, yakni mulai dikerjakan pada medio Juni lalu dan selesai para September kemarin.

Menurutnya, sepeda yang merupakan replika karya Pierre dan Ernest Michaux dari Perancis di tahun 1863 tersebut sengaja dibuat untuk kado istimewa komunitas sepeda tua Kota Magelang yang tergabung “Velocipede Old Classic” (VOC)  yang berulang tahun ke-17 tahun  pada 18 Oktober 2020 ini.

“Sebelumnya saya mempunyai ide untuk memberikan kado istimewa bagi Komunitas VOC yang berulang tahun ke-17 dan sejak Juni lalu saya merancang membuat sepeda ini,” kata Bagus yang juga selaku Koordinator Komunitas Kota Toea Magelang.

Untuk menyelesaikan pembuatan sepeda tersebut, dirinya tidak membuat sendiri melainkan memerlukan bantuan dari 10 orang tukang, baik tukang kayu, tukang las, tukang pande besi dan lainnya.

Pengocok Tulang

Ia menambahkan, untuk pembuatan sepeda yang dijuluki boneshaker (pengocok tulang) sebagian besar bahan bakunya merupakan bahan bekas yang ia kumpulkan sejak beberapa waktu lalu. Seperti kayu jati untuk velg kedua rodanya merupakan kayu jati bekas kusen jendela rumah. Kemudian, besi rangka sepeda dan standar (besi penyangga, red)  dari bekas tempat tidur kuna.

Bukan itu saja, bahan lain yang dimanfaatkan untuk mempercantik sepeda tersebut, sadel (tempat duduk, red) yang alasnya terbuat dari kayu jati dan diisi dengan spon dracon dilapisi dengan kulit asli yang merupakan barang bekas dari tas koper kuna juga.

“Untuk memberikan sedikit lenturan pada sadel  dengan  kerangka sepeda , saya menggunakan  peredam kejut mobil Gorkovsky Avtomobilny Zavod(GAZ) buatan Uni Soviet tahun 1960-an,” ujarnya.

Sedangkan bahan  baku yang benar-benar baru yakni, kayu jati untuk jari-jari kedua rodanya dan besi yang digunakan untuk pengganti ban karet di kedua roda sepeda tersebut.

Bagus menjelaskan, karena terbuat dari bahan-bahan yang keras seperti kayu jati dan besi, maka sepeda bila dikendarai tidak bisa melaju dengan kencang seperti sepeda-sepeda yang saat ini menjamur di pasaran umum. Yakni, hanya bisa mampu melaju di kecepatan maksimal 13 kilometer per jam saja.

Karena tinggi sepeda dari serang hingga tanah yang mencapai 106 sentimeter tersebut, bila ingin mengendarai harus  terlebih dulu  berijak pada sandaran yang agak tinggi dan baru bisa naik ke sadel.

Salah satu keunikannya lainnya, yakni sepeda tersebut tidak mempunyai rantai penggerak roda belakang, melainkan pedal  pengayuh  yang terbuat dari kayu jati berbentuk silinder tanpa gotri berada di  poros as roda depan.

Menurutnya, untuk pembuatan sepeda “Golden Dragon” selama empat bulan lalu dana yang dihabiskan mencapai puluhan juta rupiah, meskipun secara jelas Bagus tidak bisa memerinci total uang yang telah dikeluarkannya tersebut.

“Untuk pembuatan sepeda ini, nominalnya hampir senilai sepeda motor baru,” ujarnya tanpa menjelaskan secara rinci.

Bagus menambahkan, sebelum secara resmi diluncurkan dan diperkenalkan kepada masyarakat umum di Kota Magelang pada Minggu (18/10) atau bersamaan dengan hari jadi Komunitas Sepeda Toea “Velocipede Old Classic” (VOC)  yang dirintisnya di tahun 2003 silam, ia melakukan serangkaian uji coba mengendarai sepeda yang berjuluk “Boneshaker ” tersebut.

Saat melakukan test ride tersebut, ia sempat mengalami empat kali insiden. Yakni, dua kali terjatuh dan dua kali terjungkal dari sepeda tersebut. Selain itu, selama mengendarai sepeda si Boneshaker tersebut, seluruh anggota badannya terasa pegal-pegal.

“Seluruh badan terasa pegal-pegal, karena efek dari hantaman ban roda yang terbuah dari besi dengan aspal. Sedangkan per (peredam kejut) yang ada di bawah sadel tidak begitu memberikan ayunan suspensinya. Dan, karena membuat seluruh badan pegal-pegal, sepeda ini juga dijuluki sebagai si boneshaker atau pengocok tulang,” ujarnya.

Yon-trs

-->