Wakil Rektor III Unsiq Jateng di Wonosobo, Drs H Samsul Munir Amin MA. Foto : SB/dok

Oleh: Samsul Munir Amin

Harta yang kita miliki sebenarnya bukanlah milik kita sendiri. Ada sebagian hak dari harta kita untuk orang lain yang membutuhkan, orang-orang yang dhuafa. Konsep berbagi kepada sesama dalam Islam tertuang dalam Zakat, Infak dan Sedekah.

Inilah konsep solidaritas dalam Islam yang mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan agar tidak terjadi monopoli ekonomi dalam tatanan masyarakat. Mungkin kita sibuk membeli pakaian bagus dengan bahan terbaik, sementara ada saudara kita yang sangat kesusahan karena terhimpit kesulitan dan penderitaan.

Bahkan untuk membayar sekolah anak dan makan sehari-hari pun merasa kesulitan. Kita sering mengira bahwa mengimani Allah, padahal yang terjadi adalah mendustai-Nya. Kita sering mengira sedang menempuh jalan ketenangan, padahal yang sedang kita masuki adalah lorong panjang yang mengelabui.

Di antara hal-hal yang membuat kita terkelabui (ghurur) adalah apa yang sesungguhnya merupakan kebaikan, tetapi menjadi penyebab keburukan karena kita lalai dengan yang lain.
Membaca kalimat-kalimat thayibah untuk meng¬agungkan asma Allah adalah kebaikan.

Tetapi ketika kita hanya berhenti pada ritual hanya membacanya saja, boleh jadi yang kita lakukan justru merupakan kekeliruan.
Hari ini, banyak orang-orang yang mencari ketenangan dengan pergi ke majelis-majelis zikir.

Mereka asyik-maksyuk dalam lantunan doa-doa. Mereka juga hanyut dalam tangis dan airmata. Tetapi meski sama-¬sama meneteskan airmata, bisa berbeda sama sekali maknanya. Sebagian di antara airmata itu membebaskan manusia dari siksa api neraka, sementara sebagian lagi hanya menyisakan pengalaman ekstase belaka. Hanya sebatas itu karena belum menyentuh hati nurani, efek dari dzikir itu.

Di antara orang-orang menumpahkan airmata itu, bahkan banyak yang tak menemukan ketenangan. Mereka menemukan keasyikan saat bersama-sama melantunkan zikir dengan suara yang bergemuruh, tetapi mereka pulang dengan tetap membawa kegelisahannya.

Salah satu sebab yang membuat rasa gelisah tak kunjung sirna adalah beratnya hati untuk memberi, beratnya hati untuk berbagi.

Nabi Saw. bersabda, “Perumpamaan orang yang dermawan dengan orang yang kikir adalah dua orang yang memiliki dua baju besi mulai dari bawah sampai atasnya. Adapun orang yang dermawan, maka tidak akan menafkahkan sesuatu kecuali dengan menyempurnakan kulitnya sehingga menutupi tepinya dan menghapus tapaknya,” (HR Bukhari dan Muslim).

Orang Dermawan

Gerakan berbagi menggema di mana-mana sejak ada pandemi Covid-19. Foto : SB/dok

Orang-orang yang dermawan tidak sibuk untuk mencari dengan tentang apa yang dikerjakannya. Mereka tidak ribut dengan penyebutan, karena yang ada pada mereka adalah rasa yakin dan pengharapan besar kepada Allah. Mereka telah menemukan sesuatu yang berharga bagi jiwa. lnilah intrinsic reward –peneguh hati yang muncul dari diri sendiri setiap kali melakukan kebajikan.

Ikhlas dilmelakukan pemberian semata-mata karena Allah.
Kepada siapakah kita memberi? Rasulullah saw. bersabda, “Mulailah dari orang yang menjadi tanggung-jawabmu, dan sebaik-baik sedekah adalah sedekah yang dilakukan di luar kebutuhan.”

Salah seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasul, Aku memiliki satu dinar, lalu kira-kira apa yang mesti aku lakukan?” Beliau menjawab, “Belanjakanlah untuk kepentingan dirimu sendiri.” Dia berkata, “Aku masih punya satu dinar lagi.” Nabi menjawab, “Belanjakan untuk keluarga dan istrimu.”

Sahabat itu berkata, “Aku masih punya satu dinar”. Rasul menjawab, “Belanjakan di jalan Allah, Itulah sedekah yang paling rendah,” (HR Bukhari clan Muslim).

Mungkin tak banyak yang kita miliki, tetapi ada yang perlu kita mulai yaitu dengan membiasakan memberi. Kita perlu belajar untuk memberi, kepada keluarga sendiri atau pada kerabat yang membutuhkan.

Termasuk bersedekah, berinfak atau berzakat.
Abi Abdillah at-Tirmidzi menjelaskan, sedekah merupakan pangkal akhlak. Kalau kita ingin melembutkan hati dan meneguhkan jiwa, kita mulai dengan memberi. Dengan memberi kita telah melakukan peduli terhadap sesama.

Dengan memberi kita juga telah membantu kepada saudara yang membutuhkan. Disamping itu, mereka yang kita bantu akan membantu dengan caranya, juga dengan mendoakan kebaikan kepada pemberi. Di sekeliling kita banyak orang yang membutuhkan.

Di sekeliling kita banyak yang sedang kesusahan dan kekurangan. Alangkah baiknya kita bias berbagi dan membiasakan berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan. Mari kita belajar berbagi.

Drs H Samsul Munir Amin MA, Wakil Rektor III Universitas Sains Al-Quran (UNSIQ) dan Ketua Umum ICMI Wonosobo