Masuk wilayah zona oranye pesebaran Covid-10, SDN 2 Jagong, Kecamatan Kunduran, Blora. Padahal sekolah itu sudah siap menggelar belajar tatap muka dengan menata rapi ruang kelas dan lingkungan sekolah. Foto : SB/Wahono   

BLORA (SUARABARU.ID) –Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Blora, masih terus memantapkan program belajar tatap muka terbatas di tengah pendemik Covid-19 pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Dasar (SD) Negeri, mulai Senin (14/9/2020).

Hanya saja, Dindik terpaksa harus menunda kegiatan belajar tatap muka dua sekolah, masing-masing SDN 2 Desa Jagong, Kecamatan Kunduran, dan SMPN 1 Todanan, Kecamatan Todanan, karena wilayahnya masih zona oranye pesebaran virus corona.

“Untuk SDN 2 Jagong dan SMPN 1 Todanan sementara ditunda dulu, karena wilayahnya masih zona oranye virus corona,” jelas Kepala Diknas Kabupaten setempat, Hendi Purnomo, Jumat (11/9/2020).

Perlu diketahui, posko Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kabupaten Blora, mengkategorikan terdapat enam dari 16 kecamatan di Blora dalam zona orange atau masih risiko sedang pesebaran Covid-19.

Dari enam kecamatan yang masuk level zona orange, dua diantaranya adalah Kecamatan Kunduran, dan Kecamatan Todanan. Empat kecamatan lainnya adalah Cepu, Kota Blora, Randublatung dan Ngawen.

Hendi melanjutkan, rencana awal memang sudah didisapkan secara baik empat SMP dan empat SDN pilot project pelaksanaan sekolah tatap muka, namun kartena dua sekolah ditunda, pelaksanaannya sementara ini di enam sekolah.

Sesuai SOP

“Selain SDN 2 Jagong dan SMPN 1 Todanan, program belajar tatap muka dimulai Senin (14/9/2020) besok,” tandas Hendi Purnomo.

Dalam kegiatan belajar tatap muka itu, tambah Hendi, sekolah wajib menerapkan protokol kesehatan yang ketat dan menerapkan standar operasional prosedur (SOP) yang sudah ditetapkan dengan benar.

Seperti diberitakan sebelumnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora melalui Dindik, Senin (14/9/2020), mulai menggelar belajar sekolah tatap muka terbatas di tengah pendemik virus corona untuk empat SMP dan empat SDN.

Fasilitas proses pelajar tatap muka itu sudah dipersiapkan secara baik, khususnya perangkat protokol kesehatan dan penataan ruang belajar, termasuk guru kelas (pengajar), kepala sekolah dan staf tata usaha dengan uji klinis (rapid test).

Menurut Hendi, dalam proses belajar tatap muka nantinya dengan ketentuan durasi empat jam belajar, setiap konsep jam belajar 30 menit untuk siswa Sekolah Dasar (SD), dan 35 menit untuk siswa Sekolah menengah pertama (SMP).

“Konsepnya empat jam pelajaran, ya sekitar dua jam atau 120 menit,” terang alumni Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN/STPDN) Sumedang-Jabar.

Selain memperketat pembatasan waktu belajar, lanjut Kepala Dindik Blora, ruang belajar dibatasi hanya untuk 10-12 siswa, masuknya digilir sepekan dua kali, dengan bergantian belajar tatap muka secara berurutan absensi di setiap harinya.

Para guru dan staf di empat SMP dan empat SDN di Blora, Jawa Tengah, sudah menjalani rapid test (tes cepat) cegah dini covid-19. Uji klinis itu dilakukan menjelang pelaksaan sekolah tatap muka di tengah pendemik virus corona.

Dijelaskan Kepala Dinas Pendidikan (Diknas) Kabupaten Blora, Hendi Purnomo, Senin (31/8/2020), sejumlah guru yang menjalani rapid test merupakan guru di sekolah yang ditunjuk sebagai pilot project pelaksanaan sekolah tatap muka.

“Untuk sementara  dilaksanakan di empat SMP dan empat SD, yakni sekolah yang akan kita jadikan pilot project belajar tatap muka atas izin orang tua,” tembah Hendi.

Hendi memastikan, sekolah yang ditunjuk sebagai pilot project sudah siap melakukan pembelajaran tatap muka, termasuk para guru dan staf sudah menjalani uji klinis pencegahan Covid-19 dan persiapan sarana lainnya.

Adapun sekolah untuk pilot project belajar tatap muka mulai Sein depan, SMPN 2 Tunjungan, SMPN 2 Kedungtuban, SMPN 1 Menden dan MTs Jepon. Untuk SD, , SDN 1 Ngebak (Menden), SDM 1 Ledok (Sambong), dan SDN Gandu (Bogorejo).

Wahono-mm

-->