<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>sastra Archives - SuaraBaru.id</title>
	<atom:link href="https://suarabaru.id/tag/sastra/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<description>Media Online Tajam dan Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Mon, 22 Jun 2026 06:06:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.13</generator>

<image>
	<url>https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2018/06/cropped-logofooter-32x32.png</url>
	<title>sastra Archives - SuaraBaru.id</title>
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sastra di Tengah Gempuran Artificial Intelligence</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/06/22/sastra-di-tengah-gempuran-artificial-intelligence</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ning Suparningsih]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2026 06:06:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Gempuran Artificial Intelligence]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=565650</guid>

					<description><![CDATA[<p>SEMARANG (SUARABARU.ID) &#8211; Di tengah gempuran media sosial, video berdurasi pendek, dan budaya serba instan, muncul pertanyaan yang terus berulang: apakah sastra masih memiliki pembaca? Apakah novel, puisi, dan cerpen masih relevan bagi masyarakat yang lebih akrab dengan TikTok, Instagram Reels, dan berbagai platform digital lainnya? Pertanyaan tersebut dibahas dalam siaran langsung Instagram Unlimited Talks [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/22/sastra-di-tengah-gempuran-artificial-intelligence">Sastra di Tengah Gempuran Artificial Intelligence</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SEMARANG (SUARABARU.ID)</strong> &#8211; Di tengah gempuran media sosial, video berdurasi pendek, dan budaya serba instan, muncul pertanyaan yang terus berulang: apakah sastra masih memiliki pembaca? Apakah novel, puisi, dan cerpen masih relevan bagi masyarakat yang lebih akrab dengan TikTok, Instagram Reels, dan berbagai platform digital lainnya?</p>
<p>Pertanyaan tersebut dibahas dalam siaran langsung Instagram Unlimited Talks bertajuk &#8220;Sastra Dunia Minim Pembaca?&#8221; yang mengupas masa depan sastra di tengah perubahan zaman dan kemunculan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), baru-baru ini.</p>
<p>Dalam kegiatan menghadirkan dua sastrawan dan akademisi Indonesia, Dr. S. Prasetyo Utomo dan Triyanto Triwikromo, MHum</p>
<p>Keduanya sepakat bahwa sastra memang tidak pernah menjadi bacaan mayoritas. Bahkan di negara-negara dengan tradisi literasi yang kuat, jumlah pembaca sastra tidak pernah terlalu besar.</p>
<p>Namun, minimnya jumlah pembaca tidak serta-merta membuat sastra kehilangan relevansi. &#8220;Sastra akan tetap relevan. Penikmat konten pendek dengan pembaca sastra memang berbeda. Munculnya konten pendek bukan masalah bagi sastra,&#8221; ujar Triyanto Triwikromo.</p>
<p>Menurutnya, perubahan zaman justru melahirkan bentuk-bentuk baru dalam dunia sastra. Salah satunya adalah flash fiction atau cerita sangat pendek yang tetap menjaga kualitas artistik.</p>
<p>Triyanto bahkan pernah menulis &#8220;Bersepeda ke Neraka&#8221;, karya yang lahir sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya konten pendek yang menurutnya sering kali mengabaikan mutu.<br />
&#8220;Kita boleh merespons perubahan zaman, tetapi mutu tetap harus dijaga,&#8221; katanya.</p>
<p>Triyanto mencontohkan, bahwa karya tersebut bahkan diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda dan Melayu, membuktikan bahwa sastra tetap mampu menemukan pembacanya sendiri.</p>
<p>Fenomena minimnya pembaca sastra sebenarnya bukan hanya terjadi di Indonesia. Berdasarkan survei UNESCO dan berbagai penelitian literasi dunia, buku-buku sastra memang hanya dibaca oleh segmen tertentu.</p>
<p>Namun, industri penerbitan global tetap hidup. Bahkan laporan International Publishers Association menunjukkan bahwa pasar buku dunia terus berkembang, sementara karya-karya sastra dari berbagai negara masih terus diterjemahkan dan dipasarkan ke seluruh dunia.</p>
<p>Bagi Prasetyo Utomo, persoalan terbesar bukanlah sedikitnya pembaca, melainkan semakin berkurangnya ruang apresiasi sastra di dunia pendidikan.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/06/22/sastra-di-tengah-gempuran-artificial-intelligence">Sastra di Tengah Gempuran Artificial Intelligence</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Balai Bahasa Gelar Rakor Kebijakan Pelindungan Bahasa Daerah</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/04/02/balai-bahasa-gelar-rakor-kebijakan-pelindungan-bahasa-daerah</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Apr 2026 06:29:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Semarang Raya]]></category>
		<category><![CDATA[Aula Cipto Mangunkusumo]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Balai bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[dinas pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[jawa tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Pelindungan Bahasa Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintah daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Rapat koordinasi.]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=552103</guid>

					<description><![CDATA[<p>UNGARAN (SUARABARU.ID)&#8211; Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah, Dwi Laily Sukmawati SPd MHum mengatakan, pihaknya menyelenggarakan Rapat Koordinasi (Rakor) dengan Pemerintah Daerah, tentang Kebijakan Pelindungan Bahasa Daerah. Kegiatan rakor itu digelar di Aula Cipto Mangunkusumo, di Kantor Balai Bahasa Jateng, Ungaran, Kabupaten Semarang, Rabu (1/4/2026). Rakor ini digelar sebagai salah satu langkah pelestarian bahasa daerah, terutama [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/04/02/balai-bahasa-gelar-rakor-kebijakan-pelindungan-bahasa-daerah">Balai Bahasa Gelar Rakor Kebijakan Pelindungan Bahasa Daerah</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>UNGARAN (<a href="http://SUARABARU.ID">SUARABARU.ID</a>)</strong>&#8211; Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah, Dwi Laily Sukmawati SPd MHum mengatakan, pihaknya menyelenggarakan Rapat Koordinasi (Rakor) dengan Pemerintah Daerah, tentang Kebijakan Pelindungan Bahasa Daerah.</p>
<p>Kegiatan rakor itu digelar di Aula Cipto Mangunkusumo, di Kantor Balai Bahasa Jateng, Ungaran, Kabupaten Semarang, Rabu (1/4/2026). Rakor ini digelar sebagai salah satu langkah pelestarian bahasa daerah, terutama dalam bidang pendidikan. Hadir dalam kegiatan ini, kepala atau perwakilan dinas pendidikan dari 35 kabupaten/kota di Jateng.</p>
<p>Acara dibuka secara daring oleh Kepala Pusat Pelindungan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, yang diwakili Kepala Bidang Fasilitasi dan Advokasi Bahasa dan Sastra, Dr Adi Budiwiyanto MHum.</p>
<p><strong>BACA JUGA: <a href="https://suarabaru.id/2026/04/02/kelas-pelajar-mengukir-mendapat-banyak-pujian-efektif-tanamkan-cinta-ukir">Kelas Pelajar Mengukir Mendapat Banyak Pujian, Efektif Tanamkan Cinta Ukir</a></strong></p>
<p>Dalam sambutannya Adi mengatakan, pemerintah pusat dan daerah, wajib melakukan pembinaan, pengembangan, serta pelindungan bahasa dan sastra daerah.</p>
<p>&#8221;Sinergi antara pusat dan daerah sangat penting. Keberpihakan pemerintah daerah sangat diperlukan, untuk mencapai tujuan ini,&#8221; kata Adi Budiwiyanto, melalui Zoom.</p>
<p>Pada kesempatan itu, Dwi Laily Sukmawati menyampaikan laporan Capaian Program Pelindungan Bahasa Daerah 2025, dan Rencana Program Pelindungan Bahasa Daerah 2026.</p>
<p><strong>BACA JUGA: <a href="https://suarabaru.id/2026/04/02/polda-jateng-tegaskan-pelaku-rekrutmen-polri-di-pemalang-sudah-dipecat-dan-dipidana-5-tahun">Polda Jateng Tegaskan Pelaku Rekrutmen Polri di Pemalang Dipecat dan Dipidana 5 Tahun</a></strong></p>
<p>Dalam penjelasannya, Laily menyatakan, kegiatan Revitalisasi Bahasa Daerah sudah dilaksanakan selama enam tahun. Capaian program revitalisasi bahasa daerah pada tahun 2025 antara lain, satu dokumen komitmen bersama 35 perwakilan kabupaten/kota, 14 materi bahan ajar SD dan SMP, 979 peserta FTBI, 240 guru utama, 1 pemecahan rekor Muri, serta pengimbasan ke ribuan guru dan siswa.</p>
<p>&#8221;Kami menyampaikan terima kasih atas dukungan pemerintah kabupaten/kota dan provinsi, dalam program revitalisasi bahasa daerah,&#8221; ungkap Laily.</p>
<p>Disampaikan juga, rencana Program Pelindungan Bahasa Daerah pada 2026, berupa Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI), yang akan dilaksanakan di Universitas Ngudi Waluyo (UNW).</p>
<p><strong>BACA JUGA: <a href="https://suarabaru.id/2026/04/02/tak-perlu-panik-stok-bbm-dan-elpiji-di-jateng-aman-penuhi-kebutuhan-masyarakat">Tak Perlu Panik, Stok BBM dan Elpiji di Jateng Aman Penuhi Kebutuhan Masyarakat</a></strong></p>
<p>FTBI 2026 akan dilaksanakan dengan tujuh mata lomba, dilanjutkan dengan Kemah Sastra: Penulisan Cerkak, yang diikuti para pemenang lomba Menulis Cerkak.</p>
<p>Sementara itu, Rektor UNW, Prof Dr Subyantoro MHum menyebutkan, bahasa daerah bukan hanya alat komunikasi, melainkan juga sebagai salah satu bukti keragaman budaya yang patut dilestarikan.</p>
<p>&#8221;Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam pelindungan bahasa daerah, melalui penguatan sumber daya manusia kebahasaan, pelatihan guru, riset inovasi pengembangan kurikulum kebahasaan, serta pengembangan platform literasi dan potensi literasi siswa, yang dilaksanakan melalui koordinasi dan sinergi bersama kepala sekolah dalam berbagai kegiatan,&#8221; ujarnya.</p>
<p><strong>BACA JUGA: <a href="https://suarabaru.id/2026/04/02/pakta-integritas-diteken-teguhkan-komitmen-bersih-dan-transparan">Pakta Integritas Diteken, Teguhkan Komitmen Bersih dan Transparan</a></strong></p>
<p>Sedangkan Kepala Dinas Pendidikan Jateng yang diwakili Kepala Bidang Pembinaan Diksus, Sunarto SPd MPd mengungkapkan, keberhasilan pelindungan bahasa daerah bergantung pada semua pihak.</p>
<p>&#8221;Oleh karena itu, bahasa daerah di Jateng harus tetap hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi muda,&#8221; pintanya.</p>
<p>Dalam Rakor itu, juga dilakukan penandatanganan Rencana Kerja Sama (RKS), antara Balai Bahasa Jateng dan UNW. RKS ini dilaksanakan sebegai bentuk dukungan dan kolaborasi, terkait dengan rencana pelaksanan FTBI 2026 Tingkat Jateng.</p>
<p><strong>BACA JUGA: <a href="https://suarabaru.id/2026/04/02/pusat-bahasa-dan-budaya-universitas-semarang-jajaki-kerja-sama-dengan-enle-indonesia-tech">Pusat Bahasa dan Budaya Universitas Semarang Jajaki Kerja Sama dengan Enle Indonesia Tech</a></strong></p>
<p>Selain itu, peserta juga menandatangani Komitmen Bersama, tentang pelindungan bahasa daerah, yang dilakukan 35 perwakilan dinas pendidikan yang ada di Jateng. Pemaparan materi dalam sesi diskusi diisi tiga narasumber, Prof Dr Subyantoro MHum (UNW/Komitmen dan Sinergi Perguruan Tinggi dan Pemerintah dalam Pelindungan Bahasa Daerah).</p>
<p>Kemudian Sutarmo MPd (Dinas Pendidikan Kota Surakarta/Praktik Baik Pelindungan Bahasa Daerah di Kota Surakarta: Dari Tuan Rumah hingga Juara Umum FTBI), serta Dewi Nirmala Anggarini MPd (Dinpora Kabupaten Semarang/Kebijakan dan Pelindungan Bahasa Daerah di Lingkungan Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Semarang).</p>
<p><em><strong>Riyan</strong></em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/04/02/balai-bahasa-gelar-rakor-kebijakan-pelindungan-bahasa-daerah">Balai Bahasa Gelar Rakor Kebijakan Pelindungan Bahasa Daerah</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sajak-Sajak Ketika, R. Widiyartono</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/02/02/sajak-sajak-ketika-r-widiyartono</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 02 Feb 2025 09:02:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Susastra]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[R Widiyartono]]></category>
		<category><![CDATA[sajak]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=458957</guid>

					<description><![CDATA[<p>R. Widiyartono Ketika Pulang Di sini angin bebas berhembus Dari sela ranting dan daun Dan, kokok ayam hutan jantan Sesekali sayup terdengar di kejauhan Ketika kau menikmati buah-buahan Dari toko atau penjual di pinggir jalan Di sini aku bisa memetik dari pohonnya Dan langsung menikmati manis segarnya Di sini kisah lama bagai diputar kembali Tentang [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/02/02/sajak-sajak-ketika-r-widiyartono">Sajak-Sajak Ketika, R. Widiyartono</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="font-size: 12pt;">R. Widiyartono</span></strong></p>
<p><span style="font-family: 'times new roman', times, serif; font-size: 18pt;"><strong>Ketika Pulang</strong></span></p>
<p>Di sini angin bebas berhembus<br />
Dari sela ranting dan daun<br />
Dan, kokok ayam hutan jantan<br />
Sesekali sayup terdengar di kejauhan</p>
<p>Ketika kau menikmati buah-buahan<br />
Dari toko atau penjual di pinggir jalan<br />
Di sini aku bisa memetik dari pohonnya<br />
Dan langsung menikmati manis segarnya</p>
<p>Di sini kisah lama bagai diputar kembali<br />
Tentang anak-anak yang berlari<br />
Karena dikejar kerbau atau sapi<br />
Yang mungkin dendam karena sering dikerjai</p>
<p>Rumah lama yang penuh cerita<br />
Rumpun bambu yang tetap terjaga<br />
Beberapa memang berubah<br />
Niscaya, karena angin pun selalu berubah arah</p>
<p>Yang teramat kuhayati<br />
Waktu di sini serasa berhenti<br />
Pagi bagai tidak segera berganti<br />
Meski siang sudah menanti</p>
<p><em>Tls. 31 Jan 25</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="font-size: 18pt; font-family: 'times new roman', times, serif;"><strong>Ketika di Sawah</strong></span></p>
<p>Sawah ini masih cukup luas<br />
Ukurannya juga tidak berubah<br />
Masih juga berhiaskan batang padi yang menghijau<br />
Yang kemudian disusul padi bernas menguning</p>
<p>Tentu ada yang berubah di sini<br />
Tak lagi kutemui kerbau atau sapi<br />
Saat mengolah tanah dimulai<br />
Berganti mesin traktor mini</p>
<p>Ada yang menyedihkan di sini<br />
Menggarap sawah tak cukup dengan traktor mini<br />
Masih perlu tenaga untuk <em>ndhaut, matun</em>, dan menuai padi<br />
Tetapi kerja di pabrik lebih mereka minati</p>
<p>Kadang terpikir di hati tanaman padi harus diganti<br />
Dengan tanaman yang lebih bernilai tinggi<br />
Karena dalam hitungan bertanam padi selalu merugi<br />
Tapi itulah petani tak pernah berpikir untung-rugi</p>
<p>Sawah ini tanah pusaka yang harus dijaga<br />
Kerna kami tak pernah membayar untuk mendapatkannya<br />
Hanya perlu kesadaran untuk mempertahankannya</p>
<p><em>Tls. 31 Jan 2025</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="font-size: 18pt; font-family: 'times new roman', times, serif;"><strong>Ketika Ziarah</strong></span></p>
<p>Beringin besar itu telah lama tumbang<br />
Pohon benda bergetah pemikat burung juga sudah ditebang<br />
Pohon semboja yang tak lagi rindang<br />
Begitu pula kuntabima dan pakis yang kian jarang</p>
<p>Selalu ada kerinduan untuk datang<br />
Sekadar menyiangi gulma dan rumputan<br />
Dan menyapu dedaunan kering gersang<br />
Di sekitar makam berhiaskan batu nisan</p>
<p>Di sini bersemayam mereka yang telah berjasa<br />
Berjuang bukan semata buat mereka<br />
Tetapi buat kami yang dikasihinya<br />
Ikhlas berkorban untuk segala</p>
<p>Di sini aku menabur bunga dan berdoa<br />
Mohon Tuhan menuntun dan menyerta<br />
Untuk bisa meneruskan harapan dan cita-cita mereka<br />
Dan meyakini bahwa Tuhan telah limpahkan damai sejahtera</p>
<p><em>Tls. 31 Jan 2025</em></p>
<p><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-458961 alignleft" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/02/R-WIDI-BIRU.jpg" alt="" width="135" height="180" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/02/R-WIDI-BIRU.jpg 135w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/02/R-WIDI-BIRU-113x150.jpg 113w" sizes="(max-width: 135px) 100vw, 135px" /> <em>R. Widiyartono, wartawan, penulis, tinggal di Semarang</em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/02/02/sajak-sajak-ketika-r-widiyartono">Sajak-Sajak Ketika, R. Widiyartono</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Raih 20 Juara, UKSW Top 5 Perguruan Tinggi di Jawa Tengah dalam Peksimida 2024</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/08/22/raih-20-juara-uksw-top-5-perguruan-tinggi-di-jawa-tengah-dalam-peksimida-2024</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ning Suparningsih]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Aug 2024 12:40:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[BPSMI]]></category>
		<category><![CDATA[Peksimida]]></category>
		<category><![CDATA[PTN]]></category>
		<category><![CDATA[PTS]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<category><![CDATA[UKSW]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=432343</guid>

					<description><![CDATA[<p>SALATIGA (SUARABARU.ID) &#8211; Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) terus membuktikan kepiawaiannya di dunia seni dan sastra dengan meraup puluhan medali dalam ajang Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Jawa Tengah 2024, baru-baru ini. Prestasi ini berhasil membawa UKSW berada pada posisi Top 5 Perguruan Tinggi se-Jawa Tengah dalam kompetisi tersebut. Peksimida merupakan kegiatan dua tahunan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/08/22/raih-20-juara-uksw-top-5-perguruan-tinggi-di-jawa-tengah-dalam-peksimida-2024">Raih 20 Juara, UKSW Top 5 Perguruan Tinggi di Jawa Tengah dalam Peksimida 2024</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SALATIGA (SUARABARU.ID) &#8211;</strong> Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) terus membuktikan kepiawaiannya di dunia seni dan sastra dengan meraup puluhan medali dalam ajang Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Jawa Tengah 2024, baru-baru ini.</p>
<p>Prestasi ini berhasil membawa UKSW berada pada posisi Top 5 Perguruan Tinggi se-Jawa Tengah dalam kompetisi tersebut.</p>
<p>Peksimida merupakan kegiatan dua tahunan yang diselenggarakan oleh Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI<span id="more-432343"></span>) Provinsi Jawa Tengah. Dalam ajang yang diikuti oleh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS) se-Jawa Tengah ini, UKSW berhasil merebut juara di 20 tangkai lomba.</p>
<p>Torehan prestasi tersebut datang dari vocal group Lentera Kasih tangkai lomba vocal group, Kristyo Van Meigel Talan mendapatkan medali emas tangkai lomba Solo Pop Putra, Clarissa Gitta Putri mendapatkan medali perak tangkai lomba Solo Seriosa Putri, Bagas Suselo menyabet Juara 3 tangkai lomba Solo Seriosa Putra, dan Natalia Angel Evelyn Malubala mendapatkan Juara Harapan 1 tangkai lomba Solo Pop Putri.</p>
<p>Chenanjah Refa Pujiani meraih medali perak tangkai lomba Solo Keroncong Putri, Cielo Octaviano Delavega meraih medali perunggu tangkai lomba Solo Dangdut Putra, dan Albert Stefanus Waruwu mendapatkan Juara Harapan 1 tangkai lomba Solo Keroncong Putra.</p>
<p><strong>Juara bidang sastra</strong></p>
<p>Pada bidang sastra, Gracia Eden Pijar Kembara berhasil memperoleh medali perak tangkai lomba Penulisan Lakon, Mutiara Tyas P Andariyanto mendapatkan medali perak tangkai lomba Monolog, dan Samarthya Lykamanuella raih medali perunggu tangkai lomba Penulisan Puisi.</p>
<p>Kemudian, Rivo Ray Rumambi juga meraih medali perak tangkai lomba Baca Puisi Putra, Tiara Aulia Maharani meraih medali perak tangkai lomba Baca Puisi Putri, Caroline Cinty Pratiwi meraih medali perunggu tangkai lomba Penulisan Cerpen, Nanda Gracesela mendapatkan medali perak tangkai lomba Lukis serta tim Tari Garapan mendapatkan medali perunggu.</p>
<p>Tak berhenti sampai disitu, Ilona Victoria meraih Juara 2 tangkai lomba Fotografi Artistik dan Angel Maria Putri meraih Juara 3 tangkai lomba Fotografi Jurnalistik, Adrian Fadel Akhadi Juara Harapan 1 tangkai lomba Desain Kampanye Sosial Media, serta Imanuel Ardi Marfianto berhasil mendapatkan Juara Harapan 1 tangkai lomba Komik Strip.</p>
<p><strong>Konsisten memberi prestasi</strong></p>
<p>Direktur Direktorat Kemahasiswaan (DEM) Giner Maslebu, S.Si., S.Pd., M.Si., mengungkapkan rasa bangga dan apresiasinya atas pencapaian para mahasiswa tersebut.</p>
<p>“Puji Tuhan mahasiswa UKSW secara konsisten memberikan warna prestasi bagi kampus di berbagai bidang keilmuan, seni dan olahraga. Tim UKSW berhasil meraih juara pada berbagai tangkai lomba dalam kompetisi bergengsi Peksimida Jawa Tengah tahun ini,” ungkapnya.</p>
<p>Disampaikannya, Peksimida melalui Pusat Prestasi Nasional pada tingkat Provinsi Jawa Tengah merupakan wujud nyata dari keberhasilan pola pembinaan di bidang kemahasiswaan pada tingkat fakultas maupun universitas.</p>
<p>Giner Maslebu juga menerangkan bahwa vocal group Lentera Kasih akan mewakili Jawa Tengah dalam ajang Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) pada bulan September mendatang.</p>
<p>Capaian gemilang ini sebagai bentuk komitmen UKSW untuk berkontribusi dalam Sustainable Development Goals (SDGs) ke- 4 pendidikan berkualitas.</p>
<p><em><strong>Ning S</strong></em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/08/22/raih-20-juara-uksw-top-5-perguruan-tinggi-di-jawa-tengah-dalam-peksimida-2024">Raih 20 Juara, UKSW Top 5 Perguruan Tinggi di Jawa Tengah dalam Peksimida 2024</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berpuisi di Lereng Medini, Napak Tilas Jejak Penyair Iman Budhi Santosa </title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/01/06/berpuisi-di-lereng-medini-napak-tilas-jejak-penyair-iman-budhi-santosa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Jan 2024 03:48:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Info Pariwisata]]></category>
		<category><![CDATA[Susastra]]></category>
		<category><![CDATA[Iman Budhi Santosa]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas Lereng Medini]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=392073</guid>

					<description><![CDATA[<p>KENDAL (SUARABARU.ID) &#8211; Dari atas ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) beberapa orang meriung bersama buku-buku puisi. Di tengah Kebun Teh Medini, mereka tak sekadar menikmati udara segar gunung Ungaran. Tak ada penonton. Tak ada sorak sorai, yang ada hanya nyanyian alam, burung-burung, dan puisi. Mereka sedang merayakan puisi di tengah hamparan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/01/06/berpuisi-di-lereng-medini-napak-tilas-jejak-penyair-iman-budhi-santosa">Berpuisi di Lereng Medini, Napak Tilas Jejak Penyair Iman Budhi Santosa </a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KENDAL (SUARABARU.ID) &#8211;</strong> Dari atas ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) beberapa orang meriung bersama buku-buku puisi. Di tengah Kebun Teh Medini, mereka tak sekadar menikmati udara segar gunung Ungaran. Tak ada penonton. Tak ada sorak sorai, yang ada hanya nyanyian alam, burung-burung, dan puisi.</p>
<p>Mereka sedang merayakan puisi di tengah hamparan Perkebunan Teh Medini, atau di kaki sebelah Utara Gunung Ungaran.  Acara bertajuk “Minggu Berpuisi di Medini,” digelar pada Ahad atau Minggu 31 Desember 2023. Mereka memanfaatkan sebidang kebun di eks Kampung Babadan, Kebun Teh Medini yang berada di Desa Ngesrepbalong Kecamatan Limbangan Kabupaten Kendal Jateng. Acara dihelat Komunitas Sastra Lereng Medini (KLM) bekerja sama dengan Sangkar Arah Pustaka, Jarak Dekat Art Production, Pelataran Sastra Kaliwungu, dan Pondok Baca Ajar.</p>
<p>Di pagi yang berkabut, beberapa orang duduk beralas rerumputan di areal bekas mushala yang kini sudah dipenuhi pelbagai jenis tanaman tak terawat. Satu per satu maju di depan panggung ala kadarnya. Memilih puisi dari penyair yang sama, Iman Budhi Santosa (1948-2020). Pujangga kenamaan asal Yogyakarta kelahiran Magetan itu dahulu pada tahun 1971-1975 pernah bermukim di Kampung Babadan sebagai sinder Afdeling Babadan.</p>
<p>Salah satu peserta adalah Kartikawati, pegiat Teater Gema dan Kias Universitas PGRI Semarang. Ia membaca puisi <em>Perempuan Mata Dadu</em> di buku Kumpulan Puisi <em>Asam Garam: Ramayana – Mahabharata (Interlude, 2019)</em>.</p>
<p><em>Semalaman Pandawa luluh, dan Kurawa/ bersorak-sorai hambata rubuh// “Akankah sampai di sini, Puntadewa?” Sengkuni menantang sekalian mendesak ke bibir jurang// “Kami ksatria, kalah menang kehendak dewata.”/ “Pandawa memang satria, Paman Sengkuni.”/ Duryudana memancing, seluruh mata Kurawa pun mengerling, menuding Drupadi memaksa Puntadewa harus berani//</em></p>
<p>Puisi yang dibawakan dengan nuansa teatrikal dan dibubuhi tembang itu, ditulis Iman Budhi Santosa (IBS) pada titimangsa 2008 silam. Menceritakan tragedi Pandawa kalah dadu dengan Kurawa dalam epos Mahabharata.</p>
<p>Acara Berpuisi di Medini merupakan rangkaian acara Residensi Akhir Pekan ke-5 yang digelar di Gedung Sastra dan Sosial Kebun Sastra Guyub Bebengan Boja Kendal sehari sebelumnya, Sabtu 30 Desember 2023. Selain Kartikawati, acara juga diikuti antara lain Anis Hidayati, Zuraida Jihan Annisa (Kendal),  Radit Bayu Anggoro (Pekalongan), dan Heri CS (KLM).</p>
<p>Tak hanya peserta yang sebagian mahasiswa, turut membersamai rombongan, Hastra Indriyana, penyair asal Yogyakarta yang kini mukim di Muntilan Magelang.  Hasta sebelumnya, selama sehari menjadi pemateri dalam residensi akhir pekan dan diskusi bersama belasan peserta.</p>
<p>Hasta Indriyana oleh sebagian orang, disebut-sebut sebagai salah satu “anak emas” atau cantrik dari IBS selama di Yogyakarta. Diketahui, IBS, dianggap seperti guru oleh banyak anak muda, bahkan orangtua kedua. Ia menjadi tempat diskusi hingga curhat. Malah, ada yang menyebutnya, “Romo”—saking dihormati dan berjasa dalam proses asah-asih-asuh berpuisi di Yogyakarta.</p>
<p>Babadan menjadi salah satu wilayah di Perkebunan Teh Medini. Kebun Teh Medini sudah ada sejak zaman Belanda. Kebun Teh Medini mempunyai luas sekitar 386 hektar dengan ketinggian 1.000 mdpl. Suhu udara di tempat tersebut sangat dingin, bahkan area kebun teh kerap tertutup kabut hingga siang hari. Kebun Teh Medini menyajikan berupa hamparan luas tanaman teh yang berbukit-bukit. Jika pengunjung datang pada pagi hingga siang, biasanya akan berpapasan dengan para perempuan pemetik teh yang membawa karung.</p>
<p>Anis Hidayati (42) mengatakan merasa beruntung bisa mengikuti kegiatan ini. Sebelumnya, ia pernah ke Medini tetapi hanya untuk piknik menikmati suasana sejuknya kebun teh. Kali ini, ia pun berpuisi di tengah kebun teh dan disaksikan penyair kondang.</p>
<p>“Sebuah pengalaman yang mengesankan,” ujar Anis, perempuan asal Desa Getas, Singorojo ini.  Dalam kesempatan itu, Anis juga mengajak putri semata wayangnya,  Zuraida Jihan Annisa (17).</p>
<p>Menurut Perwakilan Penyelenggara, Heri Condro Santoso, acara ini menjadi salah satu ikhtiar mendekatkan aktivitas sastra dengan alam. Sebab, alam adalah sumber intuisi. Selain itu juga napak tilas jejak penyair IBS, yang pernah tinggal di Kampung Babadan, Kebun Teh Medini. Saat ini, kampung Babadan tak lagi berpenghuni dan tak terawat. Meski demikian, jejak-jejak bahwa pernah menjadi permukiman masih ada. Bekas pondasi rumah, dinding batu bata bekas mushala, hingga tanaman-tanaman hias “khas” pekarangan rumah.</p>
<p>“Setidaknya, peserta memahami. Di tanah ini, pernah tinggal salah satu sastrawan Indonesia mumpuni. Atau bisa disebut maestro di bidangnya. Harapannya peserta turut menghikmati riwayat dan proses kreatifnya selama hidup. Serta, yang tak kalah penting—seperti selalu disampaikan almarhum, merawat patembayatan (kekerabatan) di antara sesama,” ujar Heri, koordinator KLM dan Pondok Baca Ajar Boja.</p>
<p><strong>Medini dan Secuil Riwayat Iman Budhi Santosa</strong></p>
<p>Mengenai sosok IBS dan Medini, Heri menjelaskan, pujangga yang lahir di Magetan, 28 Maret 1948 itu, pertama kali datang ke Medini pada Minggu kliwon, 28 Maret 1971 usai mendapat panggilan dari PT Rumpun setelah lamarannya diterima.</p>
<p>Di awal bekerja, ia ditugaskan sebagai karyawan bagian pembibitan. Usai menjalani masa percobaan tiga bulan di pembibitan, ia ditugaskan memegang Afdeling Babadan selama 3 tahun. Tahun 1974 pindah ke Afdeling Medini.</p>
<p>“Pada 1975 ia mengundurkan diri karena terjadi  konflik kecil dalam pekerjaan, selain ingin mencari lahan pekerjaan baru yang lebih menjanjikan,” jelas Heri dengan merujuk pada buku <em>Merajut Sunyi, Membaca Nurani: Napak Tilas Jejak Penyair Iman Budhi Santosa di Medini</em> (KLM, 2012).</p>
<p>Heri menambahkan, selama bekerja di Medini, ada beberapa teman sastrawan yang sempat mengunjungi IBS. Di antaranya, Umbu Landu Paranggi, F. Rahardi, Ragil Suwarno Pragolapati, Darmanto Yatman, dan Linus Suryadi AG.</p>
<p>“Setelah keluar dari Medini, sepuluh bulan ia mengungsi ke rumah orangtua di Solo. Beliau mengandalkan hidup dari menulis buku novel dan cerita silat yang diterbitkan di Yogyakarta,” ujar Heri yang menyebut ayah IBS juga seorang pengarang.</p>
<p>Selang beberapa waktu, lanjut Heri, IBS—yang bersama Umbu mendirikan Persada Studi Klub Yogyakarta, sempat bekerja di PG Cepiring Kendal. Ia ditugaskan melaksanakan  mekanisasi pembukaan lahan tebu, tanah kering di Kabupaten Batang. Baru bekerja satu bulan, lamaran dia ke Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Tengah diterima. Akhirnya, ia memilih meninggalkan PG Cepiring. Lagi-lagi ia ditugaskan mengurusi tanaman teh di sentra pengembangan teh rakyat Jawa Tengah yang dipusatkan di gunung Merbabu Boyolali.</p>
<p>Heri melanjutkan, selama 14 tahun mengabdi sebagai pegawai negeri, banyak tugas jabatan yang sempat ia laksanakan. Dari sentra teh rakyat di Gunung Merbabu pindah ke kantor Disbun Kabupaten Boyolali (1979). Kemudian, mendapat tugas khusus menangani supervisi pembibitan teh rakyat di Kabupaten Brebes, Pemalang, Tegal, dan Batang (1980-1981).</p>
<p>Di samping itu, juga ditugaskan membina UPP Teh Paguyangan (Brebes) dan UPP Teh Wanayasa (Banjarnegara). Tahun 1982 ditugaskan sebagai pembantu  Pimpinan Proyek Peremajaan Rehabilitasi, dan Perluasan Tanaman Ekspor (PRPTE) Disbun Provinsi Jawa Tengah di Ungaran. Tahun 1986 pindah ke Subdin Penyuluhan dan tahun 1987 ditugaskan menjadi staf khusus Kadisbun Provinsi Jawa Tengah di Bidang Kehumasan.</p>
<p>“Ternyata,  Bidang Kehumasan inilah tugas pekerjaan Pak Iman yang terakhir sebagai pegawai negeri. Setelah itu ia mengundurkan diri dari profesi yang kini menjadi idaman banyak orang. Mungkin, puisi adalah jalan kehidupan sosok IBS, bukan jalan PNS,” tutur Heri. Pada tahun 2020, tepatnya, 10 Desember 2020, IBS wafat di rumahnya.</p>
<figure id="attachment_392075" aria-describedby="caption-attachment-392075" style="width: 400px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-392075" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/01/FOTO-2-400x300.jpeg" alt="" width="400" height="300" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/01/FOTO-2-400x300.jpeg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/01/FOTO-2-150x113.jpeg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/01/FOTO-2-80x60.jpeg 80w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/01/FOTO-2-100x75.jpeg 100w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/01/FOTO-2-180x135.jpeg 180w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/01/FOTO-2-238x178.jpeg 238w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/01/FOTO-2.jpeg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" /><figcaption id="caption-attachment-392075" class="wp-caption-text">Foto bersama peserta acara bertajuk “Minggu Berpuisi di Medini,” digelar pada Ahad atau Minggu 31 Desember 2023. (DOK: Komunitas Sastra Lereng Medini)</figcaption></figure>
<p><strong>IBS di Mata Hasta Indriyana</strong></p>
<p>Sementara itu, di mata Hasta Indriyana, salah satu kelebihan IBS adalah sosok yang terbuka bagi siapapun. Ia tak ambil jarak dengan siapapun. Dari orang-orang kesohor yang dikenalnya, juga terhadap anak-anak muda yang belum dikenal.</p>
<p>Ia selalu menyediakan waktu untuk <em>melek</em>. Bahkan, hingga <em>semalam suntuk</em> dari habis isya sampai subuh untuk menemani tamu-tamu termasuk anak muda yang hendak curhat atau melepas beban hidup.</p>
<p>“Hampir tiap hari, rumahnya selalu dikunjungi orang. Ada orang-orang terkenal seperti Emha Ainun Najib hingga anak-anak muda yang belum dikenal,” kata Hasta yang sejak SMP sudah mulai mengakrabi puisi-puisi IBS di surat kabar.</p>
<p>Menurut Hasta, IBS tak hanya memiliki kecakapan dalam hal bersastra ataupun berpuisi. Ia juga sosok yang <em>ngemong</em>. Hasta mengibaratkan, IBS menjadi bahu bersandar bagi orang-orang yang memerlukan sandaran spiritual. Ia bak sumur yang selalu digali ilmunya dan tak habis-habis. Ia bak orangtua kedua yang akrab bagi anak muda di Jogja yang berproses.</p>
<p>“Sekadar curhat pun dilayani oleh Pak Iman. Berkeluh kesah tentang beban hidup. Jadi, memang benar bahwa beban kehidupan harus diceritakan. <em>Diselehke</em> untuk melanjutkan hidup. Dan, mas Iman jadi tempat seperti itu, bahu tempat bersadar,” ujar penulis buku puisi <em>Piknik yang Menyenangkan dan Belajar Lucu dengan Serius.</em></p>
<p>Menurut Hasta, ia sebenarnya seperti halnya anak-anak muda yang lain. Menjadikan IBS tempat ngobrol dan diskusi banyak hal. Justru jarang membincangkan secara khusus tentang pelajaran mencipta puisi ataupun cerpen.</p>
<p>“Kalau teman-teman bilang, saya anak emasnya, ndak juga. Ada yang lebih emas dari saya. Bahkan, saya itu,<em> watu wae durung</em>. Selama ini, saya menganggap bahwa Mas Iman itu adalah guru saya. Saya ‘ngaku-ngaku’ jadi muridnya,” ujar Hasta merendah.</p>
<p>Apakah Hasta secara khusus  diajari IBS tentang menulis puisi? Hasta mengatakan, belum pernah. “Belum pernah. Beliau bagi saya itu sebagai tempat curhat, saling berbagi, ngomong tentang keluh kesah, beban hidup. Atau hal-hal sepele seperti peristiwa ayam masuk ke pekarangan orang.</p>
<p>Dari perbincangan kecil itu, kemudian berkembang menjadi obrolan banyak hal. Tentang tepa selira, menjaga lingkungan, hingga menghidupi modal sosial. Dari itu, kemudian, secara eksplisit teori-teori yang saya baca, keluar dengan sendirinya, meskipun tak disinggung oleh IBS.</p>
<p>“Bahwa masyarakat kita, di Jawa, sudah ada termasuk teori-teori canggih dari luar negeri yang sebenarnya kita sudah menjalankan itu selama ratusan tahun,” ujar Hasta yang salah satu karyanya meraih Buku Puisi Terbaik, Balai Bahasa Yogyakarta (2018).</p>
<p>Hasta menyampaikan, mengapresiasi ada KLM yang diinisiasi Sigit Susanto dan Heri Condro Santoso. Ia seperti melanjutkan spirit yang selama ini dipraktikkan dalam laku sastra IBS. Gerakan semacam ini bagian dari menghidupi modal sosial. “Ini akan menjadi semacam mata air literasi yang akan terus mengalir. Agar masyarakat belajar sastra dengan guyub,” kata dia.</p>
<p><strong>Diaz Aza</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/01/06/berpuisi-di-lereng-medini-napak-tilas-jejak-penyair-iman-budhi-santosa">Berpuisi di Lereng Medini, Napak Tilas Jejak Penyair Iman Budhi Santosa </a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menghanyutkan Impian</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/10/20/menghanyutkan-impian</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Oct 2023 14:20:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[temu sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=376230</guid>

					<description><![CDATA[<p>Cerita pendek Ramli Lahaping DEMI mengakhiri status dudanya juga, Bahri berucap, &#8220;Apa Bapak ada jampi-jampi? Bagilah kepadaku,&#8221; pintanya, di tengah obrolannya dengan Kilan di tepi sungai, empat bulan yang lalu, setelah mereka mandi siang untuk melesapkan peluh selepas mengurus kebun mereka masing-masing. Kilan menggeleng santai. Ia lalu tersenyum lebar dan memperlihatkan barisan giginya yang tak [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/10/20/menghanyutkan-impian">Menghanyutkan Impian</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;">Cerita pendek <em><strong>Ramli Lahaping</strong></em></span></p>
<p><strong>DEMI </strong>mengakhiri status dudanya juga, Bahri berucap, &#8220;Apa Bapak ada jampi-jampi? Bagilah kepadaku,&#8221; pintanya, di tengah obrolannya dengan Kilan di tepi sungai, empat bulan yang lalu, setelah mereka mandi siang untuk melesapkan peluh selepas mengurus kebun mereka masing-masing.</p>
<p>Kilan menggeleng santai. Ia lalu tersenyum lebar dan memperlihatkan barisan giginya yang tak keruan setelah tanggal satu per satu.</p>
<p>&#8220;Lalu, apa rahasia Bapak sampai bisa memikat hati seorang perempuan?&#8221; selidik Bahri, penasaran.</p>
<p>Kilan yang sudah berusia 62 tahun lalu menggesek-gesekkan ibu jari dengan jari telunjuknya. &#8220;Uang. Pikatlah perempuan dengan uang. Hanya itu.&#8221;</p>
<p>Mendengar jawaban Kilan, Bahri pun percaya sepenuhnya. Ia jelas bisa melihat kalau keindahan rupa dan kekuatan fisik tidak lagi menjadi modal bagi lelaki yang lebih tua 13 tahun darinya itu. Tetapi soal kemapanan finansial atas ketekunannya bertani, si tua itu cukup meyakinkan.</p>
<p>Akhirnya, perasaan iri memacu Bahri untuk meningkatkan hasil panen kacang tanahnya. Ia ingin menyaingi Kilan dalam perolehan hasil panen, agar ia bermodal juga untuk menikah lagi. Ia sungguh tak tahan menduda dan mendapatkan sindiran dari orang-orang, terutama dari Kilan yang berhasil menikahi seorang janda cantik berusia 41 tahun dengan hasil panen kacangnya.</p>
<p>Tanpa menunda waktu, Bahri menyusun langkah cepat. Ia ingin segera mendapatkan hasil panen yang melimpah untuk kembali membangun rumah tangga. Apalagi, ia tengah tergila-gila pada seorang janda beranak satu di desa sebelah desanya.</p>
<p>Karena itulah, ia memutuskan untuk memperluas lahannya pertaniannya. Ia memutuskan menebang pohon tarap dan kepayang, juga membabat bambu dan gelagah di tepi kebunnya yang berbatasan dengan sungai.</p>
<p>Selain untuk memperluas lahan, keputusannya melenyapkan pepohonan dan tetumbuhan liar itu, juga untuk meningkatkan produktivitas tanaman kacangnya. Meski hanya tamatan SMP, dari pengalamannya, ia paham betul kalau tanaman apa pun tidak akan tumbuh subur dan memberi hasil yang baik jika dinaungi tetumbuhan lain, sebab akan kekurangan terpaan cahaya matahari yang penting bagi perkembangannya.</p>
<p>Tetapi rencana Bahri untuk menebang pepohonan dan tetumbuhan tersebut, malah mendapat penolakan dari Sofian, putranya yang duduk di kelas II SMA. “Menebang tanaman-tanaman itu akan membahayakan kebun kita, Ayah, sebab akan merentankan terjadinya erosi. Berdasarkan apa yang kupelajari di sekolah, akar perpohonan sangat penting untuk mencegah penggerusan tanah di daerah aliran sungai,” tutur Sofian, setelah sang ayah mengajaknya ke kebun untuk melakukan penebangan.</p>
<p>&#8220;Ah, kau ini. Belum juga sarjana, sudah berani-berani mengajari orang tua,&#8221; tanggap Bahri, tampak tersinggung.</p>
<p>&#8220;Tetapi penelitian memang menyatakan begitu, Ayah. Aku bahkan sudah menonton video ilustrasinya, kalau tanpa tanaman di pinggir sungai, akan sangat rawan terjadi longsor,&#8221; terang Sofian, mencoba mempertahankan pendapatnya. &#8220;Kupikir, keuntungan yang kita peroleh dari lahan setelah penebangan nanti, tidak seberapa ketimbang bahaya yang mengancam kebun kita.&#8221;</p>
<p>Bahri sontak menggeleng-geleng. Tak sependapat. &#8220;Lalu, apa kita akan membiarkan saja tanaman itu tubuh dan berkembang biak tanpa memberikan keuntungan yang berarti untuk kita? Bukankah sebaiknya kita memaksimalkan pemanfaatkan lahan untuk bercocok tanam?&#8221; sergahnya, dengan raut dan nada kesal.</p>
<p>Menyaksikan kengototan ayahnya, Sofian memilih tak membalas.</p>
<p>&#8220;Kau ini cuma sekolah untuk berurusan dengan buku-buku. Kau belum punya pengalaman apa-apa soal pemanfaatan lahan dan pertanian,&#8221; sambung Bahri.</p>
<p>Sofian mendengkus saja. Ia tampak malas untuk memperpanjang perdebatan.</p>
<p>&#8220;Sudah. Tak usah banyak cincong. Kau lakukan saja apa yang kurencanakan untuk meningkatkan hasil pertanian kita. Apalagi, butuh banyak uang untuk membeli sepeda motor. Kau mau dibelikan motor, kan?&#8221; sergap Bahri, seperti berusaha membuat rencana perluasan lahan itu terkesan sebagai kepentingan sang anak, bukan kepentingannya pribadi.</p>
<p>Akhirnya, atas kemauannya sedari dahulu, Sofian mengangguk pasrah.</p>
<p>&#8220;Kalau begitu. Bekerjalah dengan keras. Kalau hasil panen kacang kita nantinya memuaskan, aku akan segera membelikan sepeda motor untukmu,&#8221; pungkas Bahri, sembari memendam hasratnya untuk menikahi seorang janda.</p>
<p>Akhirnya, atas titah ayahnya, Sofian turut ke kebun dengan membawa sebuah kapak dan sebilah parang untuk membabat tanam-tanaman liar di pinggir sungai.</p>
<p>Dalam waktu seminggu, sekitar tiga setengah bulan yang lalu, pepohonan dan tetumbuhan di pinggir sungai itu akhirnya terbabat habis. Batang pepohonan kemudian diolah menjadi papan, sedangkan dahan dan rantingnya dikeringkan untuk menjadi kayu bakar. Bagian-bagian pepohonan dan potongan tetumbuhan yang dianggap tidak berguna, kemudian dihanyutnya di sungai begitu saja, seolah tak akan berakibat apa-apa.</p>
<p>Setelah tanaman-tanaman tersebut tumbang dan lenyap, Bahri pun senang melihat keadaan kebunnya yang tampak lapang dan lowong. Dengan semangat, ia lantas menanam benih kacang dengan sepenuh-penuh lahannya, hingga ke tepian sungai. Demi hasil panen yang melimpah, juga demi mengalahkan hasil panen Kilan, ia sungguh tak ingin menyia-nyiakan secuil pun permukaan tanahnya.</p>
<p>Hari demi hari bergulir, Bahri jadi makin optimistis menyaksikan taman kacangnya yang jauh lebih banyak dan tampak akan memberikannya hasil yang menakjubkan. Karena itu, ia mulai berkhayal-khayal kalau selepas panen nanti, ia akan mendapatkan tambahan modal yang banyak untuk segera meminang janda idamannya. Bahkan ia menaksir kalau setelah panen berikutnya, ia akan sanggup membeli sepeda motor untuk putranya.</p>
<p>Akhirnya, belakangan waktu, benak Bahri makin disesaki bayangan indah sang pujaan hatinya. Permenungannya itu kemudian menjerumuskannya ke dalam dunia imajinasi. Lantas, fantasinya meliar, hingga sang janda kerap hadir di dalam mimpinya. Karena itulah, dua hari berlalu di tengah kepungan hawa dingin akibat hujan yang terus-menerus, ia hanya mendekam di dalam rumahnya sembari mengkhayalkan sang pujaan pada siang hari, dan memimpikannya pada malam hari.</p>
<p>Dan lagi-lagi, malam tadi, ia kembali bermimpi tengah bermesraan dengan janda itu di taman penuh bunga dengan latar musik dangdut favoritnya. Adegan itu kemudian disusul adegan mereka yang saling berkejar-kejaran di bawah pepohonan, seperti dalam film India kesukaannya. Lantas selanjutnya, mereka terlibat adegan mesra di atas sebuah kasur yang empuk, seperti yang ia lakukan dengan istrinya dahulu. Serangkaian adegan itu benar-benar membuatnya terlena, hingga ia tak kunjung terjaga untuk menyaksikan kenyataan yang terjadi di dunia nyata.</p>
<p>Pagi pun datang. Matahari telah meninggi dengan cahaya yang masih meredup akibat terhalang awan mendung. Bahri akhirnya terbangun dengan kekecewaan setelah ia menyadari kalau kebersamaannya dengan sang pujaan hanyalah mimpi. Ia lantas bangkit dari pembaringan dengan perasaan lemas.</p>
<p>Ia kemudian menuju ke teras depan rumah panggungnya yang berdiri di dataran yang tinggi tersebut. Hingga akhirnya, dari balik tirai-tirai gerimis, ia menyaksikan pemandangan pada sisi dataran bawah, bahwasanya banjir telah menyapu bersih tanaman kacangnya dan meninggalkan timbunan lumpur. Ia pun melihat kalau arus banjir telah menggerus lahan perkebunannya, seperi yang diwanti-wantikan putranya.</p>
<p>Seketika, impian dan khayalannya, hancur berkeping-keping. Yang tersisa hanyalah penyesalan, sebab atas hasratnya yang tidak terkendali untuk mendapatkan keuntungan besar dalam waktu yang singkat, ia tidak hanya kehilangan bakal panenan kacang tanahnya, tetapi juga kehilangan seluasan lahan kebunnya karena gerusan banjir.</p>
<p>&#8220;Lihatlah, Ayah, apa yang terjadi kalau kita tidak paham dan peduli pada kelestarian lingkungan?&#8221; singgung Sofian, putranya, setelah terbangun dan menyusulnya di teras depan rumah.</p>
<p>Bahri tak membalas. Tetapi diam-diam, ia menginsafi kekeliruannya.</p>
<p>Detik-detik terus bergulir. Ayah dan anak itu hanya membisu dengan isi pikiran masing-masing.</p>
<p>Hingga akhirnya, saat gerimis kembali mereda, Kilan, tetangga mereka, datang bertamu dan memecah keheningan.</p>
<p>Setelah berbasa-basi dan menguatkan Bahri atas apa yang telah terjadi, Kilan lalu melontarkan kata-kata suruhan, sebagaimana tabiatnya yang lancang mengeluarkan isi hatinya, “Sofian, tolong seduhlah kopi untuk aku, juga ayahmu. Hawa sangat dingin, dan aku yang sudah tua ini butuh kopi untuk menghangatkan badan.&#8221;</p>
<p>Tanpa berkata-kata, Sofian melaksanakan perintah itu.</p>
<p>&#8220;Kok minta dibuatkan kopi sama Sofian? Apa istri baru Bapak tak pandai menyeduh kopi?&#8221; singgung Bahri, merasa aneh.</p>
<p>Wajah Kilan merengut kecut. &#8220;Ah, dia tidak bisa diatur. Dia mau yang enak-enak saja. Dia suka dikasih uang, tetapi malas bekerja. Karena kami cekcok, dia akhirnya pulang ke rumah orang tuanya, empat hari yang lalu.&#8221;</p>
<p>Mendengar penuturan polos Kilan itu, seketika, Bahri merasa telah mendapatkan penawar yang ampuh untuk meredakan kesedihannya.***</p>
<p><em><strong>Ramli Lahaping</strong>. Kelahiran Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Menulis di blog pribadi (sarubanglahaping.blogspot.com). Bisa dihubungi melalui Instagram (@ramlilahaping) atau Facebook (Ramli Lahaping).</em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/10/20/menghanyutkan-impian">Menghanyutkan Impian</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Puisi-Puisi Malam Seribu Bulan</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/04/11/puisi-puisi-malam-seribu-bulan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Apr 2023 03:23:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Susastra]]></category>
		<category><![CDATA[Amir Machmud]]></category>
		<category><![CDATA[Antologi Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=329043</guid>

					<description><![CDATA[<p>Amir Machmud NS Malam Seribu Bulan (1) ingin kujemput Lailatulkadar di setiap jendela hidupku kusapa dengan sederas zikir kurengkuh dengan sebening pikir sesejuk ini mengalir udara dinihari sehening angin yang seolah berhenti selembut tarhim menelusup langit ingin kuraih Lailatulkadar di setiap waktu kupanggil dengan serak sunyi takbir kupeluk dengan riuh detak hati &#8220;takdirmu belum tiba,&#8221; [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/04/11/puisi-puisi-malam-seribu-bulan">Puisi-Puisi Malam Seribu Bulan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 12pt;">Amir Machmud NS</span><br />
<span style="font-size: 14pt;"><strong>Malam Seribu Bulan (1)</strong></span></p>
<p>ingin kujemput Lailatulkadar di setiap jendela hidupku<br />
kusapa dengan sederas zikir<br />
kurengkuh dengan sebening pikir</p>
<p>sesejuk ini mengalir udara dinihari<br />
sehening angin yang seolah berhenti<br />
selembut tarhim menelusup langit</p>
<p>ingin kuraih Lailatulkadar di setiap waktu<br />
kupanggil dengan serak sunyi takbir<br />
kupeluk dengan riuh detak hati</p>
<p>&#8220;takdirmu belum tiba,&#8221; nuraniku berbisik<br />
: lipatkanlah sujud<br />
bersama dedaun yang takzim menjura<br />
bersama gemintang redup mengerlap<br />
bersama bulan yang menunduk berjeda</p>
<p>&#8220;ikatlah malam dengan syahdu syukur,&#8221; getar itu menyapa<br />
o, belum cukupkah rupanya syukurku<br />
tak kulihat malaikat yang bertafakur<br />
bersenyum damai meninggalkan bumi</p>
<p>jendela-jendela kubiarkan terbuka<br />
biarlah menangkap desir yang mengalir<br />
sejernih ini menyatu dengan teduh langit<br />
selembut ini menyiram tubuh gemetar<br />
membahasakan ketakjuban.<br />
(2023)</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><span style="font-family: georgia, palatino, serif;">Amir Machmud NS</span></span><br />
<span style="font-size: 14pt;"><strong>Malam Seribu Bulan (2)</strong></span></p>
<p>sepuitis ini semesta berjaga<br />
menunggu malam seribu bulan<br />
di relung hening mensyahdukan<br />
di ujung dinihari menghanyutkan<br />
di lipatan hati merindukan</p>
<p>seelok ini rasa meronta<br />
menanti malam seribu bulan<br />
menyemburatkan cahaya cinta<br />
mengendapkan geletar rasa<br />
tafakur menggayuh jalan utama</p>
<p>tak kulepas menatap langit<br />
dalam jiwa yang menciut<br />
di haribaan kuasa-Nya</p>
<p>: malaikat, engkaukah yang tiba?<br />
(2023)</p>
<p><span style="font-family: georgia, palatino, serif; font-size: 12pt;">Amir Machmud NS</span><br />
<span style="font-size: 14pt;"><strong>Malam Seribu Bulan (3)</strong></span></p>
<p>cahaya takkan kau temui kasat mata<br />
ia akan memukim di rongga rasa<br />
andai datang menjadi karuniamu</p>
<p>sepoi lembut takkan kau rasakan membelai kulitmu<br />
ia akan mengalir di pori-pori hidup<br />
andai kau terpilih mendapatkannya</p>
<p>elok semesta takkan menjadi bius konser nurani<br />
ia akan menyatu dalam laku<br />
andai kau terguyur kesaksian syahdunya.<br />
(2023)</p>
<p><img loading="lazy" class="wp-image-316608 size-thumbnail alignleft" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/02/amir-123x150.jpg" alt="" width="123" height="150" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/02/amir-123x150.jpg 123w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/02/amir-327x400.jpg 327w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/02/amir.jpg 392w" sizes="(max-width: 123px) 100vw, 123px" />&#8212;<em> Amir Machmud NS; wartawan dan penyair. Dia telah menerbitkan enam antologi tunggal puisi. Juga masuk dalam sejumlah antologi bersama. Puisi-puisinya tersebar di berbagai media.</em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/04/11/puisi-puisi-malam-seribu-bulan">Puisi-Puisi Malam Seribu Bulan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Teras Belakang</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/01/27/teras-belakang</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2023 00:25:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Susastra]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pendek]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[susastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=310884</guid>

					<description><![CDATA[<p>Cerita Pendek Catur Pramudito SEDARI tadi, bapak masih duduk di bangku teras belakang, diam menatap gerimis sore dengan rokok yang tertahan di sela jemari. Datangnya gerimis yang tanpa aba-aba ini, menunda sebentar rentetan rutin di perkarangan belakang rumah. Tentang anggrek, vanili dan bunga-bunga hasil jerih yang barangkali tak payah bagi bapak. Sekarang ia isap lagi [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/01/27/teras-belakang">Teras Belakang</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita Pendek <strong>Catur Pramudito</strong></p>
<p><strong>SEDARI </strong>tadi, bapak masih duduk di bangku teras belakang, diam menatap gerimis sore dengan rokok yang tertahan di sela jemari. Datangnya gerimis yang tanpa aba-aba ini, menunda sebentar rentetan rutin di perkarangan belakang rumah. Tentang anggrek, vanili dan bunga-bunga hasil jerih yang barangkali tak payah bagi bapak.</p>
<p>Sekarang ia isap lagi dalam hembusan yang panjang, asapnya membumbung ke atas kemudian mengurai bersama angin. Ya, bapak memang orangnya begitu, kata ibu. Banyak diam, atau barangkali terlalu banyak.</p>
<p>Di waktu-waktu senggang, kerap aku berpapasan dengan bapak dalam ingatan, ketika sore atau tengah malam, ngerokok sendirian di teras belakang. Ingatan semacam itu yang melulu datang dan membangun makna tentang sosok &#8220;bapak&#8221; yang sesungguhnya. Meski tak sepenuhnya kupahami, bagaimana bapak memaknai kamus &#8220;bapak&#8221; dalam dirinya sendiri.</p>
<p>Dari punggungnya, selalu ada rahasia yang tersimpan, makanya aku lebih suka menciptakan perjumpaan imajiner, dan ia lebih banyak bicara dan bercerita. Meruangkan ingatan tentang bagaimana bapak pada masa kanak-kanakku dulu, lebih melegakan ketimbang bercakap dalam bahasa diam yang aneh.</p>
<p>Tawa renyah kerap mewarnai ruang keluarga selepas petang jatuh. Dimana bapak dan ibuk duduk di ruang yang sama, sembari melepas lelah menyaksikan opera komedi di televisi. Sebentar sebentar tawa terlempar kesana kemari, membikin kesedihan tampak begitu berharga ketika ingatan semacam itu terlintas kembali.</p>
<p>Ah, memang ada saatnya semua berubah. Dan perubahan itu terasa menyesakan. Membawa kehilangan yang datang sebelum waktunya. Membuat keluarga seperti opera komedi, menampilkan dusta dan ironi dalam raut yang janggal.</p>
<p>Setelah peristiwa itu, selepas petang, aku seorang diri termenung di sofa menyaksikan opera. Memang tak ada lagi adegan yang mengasyikan dari itu semua.</p>
<p>Tak ada pula alasan mengapa orang harus tertawa. Melihat sekumpulan orang bodoh yang bersandiwara di atas panggung, mengenakan pakaian serba aneh. Dan berbicara dalam bahasa yang dibuat-buat. Menghadirkan berbagai kesan yang begitu lain.</p>
<p>Sejenak, wayang opera itu bertingkah seperti badut-badut lucu di pasar malam. Hanya saja mereka memiliki banyak properti berupa replika benda-benda keseharian dari sterofoam.</p>
<p>Properti itu ternyata bagian dari rencana, untuk akting memukul atau menjatuhkan diri di atasnya. Baru setelah beranjak dewasa aku mengerti, mereka memang lain dari badut-badut di pasar malam itu, sebab para badut tak pernah menyakiti dirinya sendiri atau orang lain demi sebuah lelucon.</p>
<p>Meski dalam kepura-puraan yang menyedihkan.</p>
<p>Pada waktu itu aku tak tahu bagaimana menangkap segala kejadian yang berlangsung begitu cepat. Rasa-rasanya seperti terbangun dari tidur yang lama, dan tak henti-hentinya gamang memandang kenyataan dengan mata yang seketika terbuka.</p>
<p>Hari demi hari kemudian, selepas petang tiba, detik terasa terhenti. Sejak saat itu, rumah perlahan menjauh dan menelantarkan seisinya dalam gulita malam yang senyap.</p>
<p>Entah bagaimana caranya menerjemahkan peran dalam kenyataan yang membingungkan. Dimana aku berada? Selain berdiri dari balik jendela, membingkai sosok laki-laki asing yang lupa kemana ia harus pulang.</p>
<p>Atau apakah aku berdiri di batas perkarangan rumah? Memandang diriku sendiri dari luar jendela, yang diam menatap dirinya sendiri pada sebuah cermin yang ganjil.</p>
<p>Sepintas bapak masih duduk tenang melihat rintik hujan yang kian menderas, asapnya terbang dan tak lagi peduli kemana angin membawanya.</p>
<p>Kenangan yang melintas sesaat terasa amat lambat. Kepadanya sesak semakin menghujam, berayun ringkih membawa napas yang berat.</p>
<p>Mengapa perasaan ini selalu sukar buat dipahami? Sulit dimengerti kenapa ia selalu hadir tanpa perjumpaan? Kian berisik dalam kebisuan?</p>
<p>Hingga detik demi detik kemudian, waktu seolah berbisik dalam bahasa yang teramat akrab, tentang tirai yang dengan lembut tergerai, memberi celah pada jiwa akan keterusterangan dan penerimaan, juga sebuah permohonan maaf.</p>
<p>Di teras belakang bapak masih mengamati waktu, mengira-ngira kapan hujan reda sambil menyeduh kopi buatanya sendiri. Menyulut sebatang lagi dengan bahasa tubuh yang begitu tenang.</p>
<p>Duduk dengan kaki menyilang dan tenggelam dalam hisapan pertama. Ia tak pernah tahu, dari balik jendela ada rahasia yang tak pernah ia tanya, tentang masa silam dan segala yang tertinggal di dalamnya. ***</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/01/27/teras-belakang">Teras Belakang</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Puisi Widiyartono R dari Kabut Kayangan Sampai Terminal Tanjung Priuk</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/10/10/puisi-widiyartono-r-dari-kabut-kayangan-sampai-terminal-tanjung-priuk</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Oct 2022 04:28:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Susastra]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[tol kayangan]]></category>
		<category><![CDATA[wisata magelang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=283890</guid>

					<description><![CDATA[<p>Widiyartono R. Kabut Kayangan Kabut menebal dan basah Di antara bebatuan artifisial Batu mina burung dan kuda Menembus pepohon nangka Kopi panas mendingin tiba-tiba Sebelum sebatang rokok menyala Juga seduhan teh rempah panas Tinggal tersisa hangat jahenya Kabut perlahan membuka Petak-petak ladang mulai bisa dipandang Gerimis pun sudah mereda Tampak jelas buah nangka tergantung di [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/10/10/puisi-widiyartono-r-dari-kabut-kayangan-sampai-terminal-tanjung-priuk">Puisi Widiyartono R dari Kabut Kayangan Sampai Terminal Tanjung Priuk</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><span style="font-family: 'times new roman', times, serif;">Widiyartono R.</span></strong></span></p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Kabut Kayangan</strong></span></p>
<p>Kabut menebal dan basah<br />
Di antara bebatuan artifisial<br />
Batu mina burung dan kuda<br />
Menembus pepohon nangka</p>
<p>Kopi panas mendingin tiba-tiba<br />
Sebelum sebatang rokok menyala<br />
Juga seduhan teh rempah panas<br />
Tinggal tersisa hangat jahenya</p>
<p>Kabut perlahan membuka<br />
Petak-petak ladang mulai bisa dipandang<br />
Gerimis pun sudah mereda<br />
Tampak jelas buah nangka tergantung di batangnya</p>
<p>Perempuan setengah baya<br />
Menyeruput tetes terakhir kopinya<br />
Lalu mengangkat tas meninggalkan meja<br />
Menyibak sisa kabut kayangan</p>
<p>Mg. 9102022</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Pertemuan Kamis Malam</strong></span></p>
<p>Diskusi ini memusingkan kepala<br />
Kerna sejatinya aku tak kuasa<br />
Ada di dalam pertemuan ini<br />
Karena keterbatasan diri</p>
<p>Aku tidak akan bertanya<br />
Apalagi mendebatnya<br />
Aku hanya mencoba mengerti<br />
Dengan cara merendahkan diri</p>
<p>Materi ini memang berat<br />
Tetapi aku tak boleh pergi<br />
Kerna kutak ingin terjerat<br />
Oleh sesuatu yang tak kumengerti</p>
<p>mugassari, 280722</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Penantian</strong></span><br />
Lembaran kecil berisi nomor antrean<br />
Telah diserahkan ke dalam ruangan<br />
Di luar kursi tertata berjajar<br />
Dan wajah-wajah tua tampak berusaha sabar</p>
<p>Ketika selot pintu bergerak<br />
Semua yang menunggu mendongak<br />
Lalu kembali menunduk<br />
Yang namanya belum dipanggil disilakan duduk</p>
<p>Begitu menit demi menit berlalu<br />
Lalu jam demi jam lewat<br />
Angka antrean makin panjang<br />
Tetapi selot pintu terasa kian jarang bergerak</p>
<p>Orang-orang tetap menanti<br />
Dengan kesabaran yang makin dipaksakan<br />
Satu dua bahkan meninggalkan ruangan<br />
Karena sedari pagi hingga jelang petang<br />
Ada yang mengaku belum sempat makan</p>
<p>William Booth, 3092022</p>
<p><strong><span style="font-size: 12pt;">Stasiun Poncol</span></strong></p>
<p>Gerimis meriwis malam itu<br />
Jarum jam terus berjalan<br />
Lelaki berlari menembus hujan<br />
Di loket penjualan tiket<br />
Perempuan manis menyapa ramah<br />
Menanya tujuan ke mana<br />
Tiket ‘go show’ masih tersedia</p>
<p>Berderit rel beradu roda kereta<br />
Penumpang masuk diperiksa<br />
Tak seketat waktu sebelumnya<br />
Meski pandemi belum sepenuhnya reda</p>
<p>Setengah berlari sang lelaki<br />
Menyeberang menuju sepur tiga<br />
Kereta malam sudah berjaga<br />
Petugas PPKA meniup peluitnya<br />
Semboyan tiga lima menggema</p>
<p>Rel beradu dengan roda<br />
Yang mulai bergerak pelan tapi nyata<br />
Lelaki duduk menghela nafas lega<br />
Esok pagi sudah dinanti<br />
Melanjutkan perjalanan ke negeri Amboina</p>
<p>Sm. 100722</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Terminal Tanjung Priuk</strong></span></p>
<p>Deru mesin tak pernah putus<br />
Bus keluar-masuk terus-menerus<br />
Makelar dan calo mengadang<br />
Orang-orang yang datang<br />
Harapnya semoga mereka calon penumpang</p>
<p>Sudah lewat jam tapi bus tak jua datang<br />
Bertanyalah calon penumpang<br />
Pada petugas loket yang tetap tenang<br />
Jawabnya ringan dan pasti tak melegakan<br />
: Jalan macet bus belum nyampai<br />
Tunggu saja sampai bus datang<br />
Nanti pasti saya akan bilang</p>
<p>Penumpang pun menunggu dengan tak tentu<br />
Karena telepon berdering bertanya selalu<br />
Bus berangkat jam berapa<br />
Atau sekarang sampai di mana</p>
<p>Dalam keriuhan terminal<br />
Pengamen berdendang<br />
Menyanyi bergoyang-goyang<br />
Taman di terminal dia jadikan<br />
Panggung hiburan</p>
<p>Dipanggilnya orang yang lalu-lalang<br />
Disorong mik diajak berdendang<br />
Dipandu youtube di ponsel<br />
Berkait bluetooth di kotak pelantang</p>
<p>Tukang kopi menuang air panas<br />
Menyorongkan ke pemesan gelas per gelas<br />
Menyeruput kopi menurunkan tensi<br />
Agar bisa sabarkan hati<br />
Menunggu bus yang yang jamnya tak pasti</p>
<p>Tanjung Priuk, 172022</p>
<p><img loading="lazy" class="size-full wp-image-283891" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/10/wied.jpg" alt="" width="234" height="327" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/10/wied.jpg 234w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/10/wied-107x150.jpg 107w" sizes="(max-width: 234px) 100vw, 234px" /></p>
<p><em><strong>Widiyartono R.</strong>, suka menulis puisi, cerpen, artikel, wartawan suarabaru.id</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/10/10/puisi-widiyartono-r-dari-kabut-kayangan-sampai-terminal-tanjung-priuk">Puisi Widiyartono R dari Kabut Kayangan Sampai Terminal Tanjung Priuk</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Puisi Made Dwi Adnyani Alam adalah Guru</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/09/17/puisi-made-dwi-adnyani-alam-adalah-guru</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 Sep 2022 03:11:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Susastra]]></category>
		<category><![CDATA[made dwi adnyani]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=279082</guid>

					<description><![CDATA[<p>Made Dwi Adnjani Alam adalah Guru Alam mengajarkan kepada kita tentang kediaman dalam keikhlasan Alam mengajarkan pada kita tentang indahnya berbagi Alam mengajarkan pada kita tentang rindu matahari pada sang bulan Alam mengajarkan pada kita Tentang kesetiaan dan komitmen Begitu banyak yang diajarkan alam pada kita Pada terik musim panas Pada rintik air musim hujan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/09/17/puisi-made-dwi-adnyani-alam-adalah-guru">Puisi Made Dwi Adnyani Alam adalah Guru</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Made Dwi Adnjani</p>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Alam adalah Guru</strong></span></p>
<p>Alam mengajarkan kepada kita<br />
tentang kediaman dalam keikhlasan<br />
Alam mengajarkan pada kita<br />
tentang indahnya berbagi<br />
Alam mengajarkan pada kita<br />
tentang rindu matahari pada sang bulan<br />
Alam mengajarkan pada kita<br />
Tentang kesetiaan dan komitmen<br />
Begitu banyak yang diajarkan alam pada kita</p>
<p>Pada terik musim panas<br />
Pada rintik air musim hujan<br />
Betapa bentangan alam adalah guru<br />
Yang mampu membuat kita terpana<br />
Takjub pada keindahan, takluk pada kedigdayaan<br />
Betapa alam selalu menawarkan dua sisi,<br />
Kelembutan tapi juga keangkuhan<br />
Keteduhan juga kemurkaan,<br />
keperkasaan dan kedahsyatan,<br />
Semuanya menjadi tempat belajar</p>
<p>Adakah kita punya waktu ?<br />
untuk sejenak berdiam diri<br />
Mendengar kicauan burung bersahutan<br />
Menikmati desau angin yang menyentuh kulit<br />
dan terjangan ombak menyentuh jemari kaki kita</p>
<p>Sementara kita terbiasa menyibukkan diri<br />
Pada kelenaan yang tiada abadi<br />
Padahal dari buah yang jatuh pun kita bisa belajar<br />
dari angin yang menderu pun kita bisa belajar<br />
dari ombak, awan dan rinai hujan pun kita bisa belajar<br />
bahwa hidup adalah tentang proses<br />
belajar membaca dan memaknainya<br />
Agar kita selalu berjalan dalam kesadaran<br />
Bahwa tak ada yang sia-sia di setiap penciptaan<br />
Selagi kita mampu membaca<br />
Bacalah<br />
Karena alam adalah guru</p>
<p>Semarang, 16 Shafar 1444 H/13 September 2022</p>
<p><img loading="lazy" class="alignright wp-image-279087 size-thumbnail" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/09/made-110x150.jpg" alt="" width="110" height="150" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/09/made-110x150.jpg 110w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/09/made-293x400.jpg 293w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/09/made.jpg 298w" sizes="(max-width: 110px) 100vw, 110px" /><strong><em>Made Dwi Adnyani, dosen Fakultas Bahasa dan Ilmu Komunikasi Unissula</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/09/17/puisi-made-dwi-adnyani-alam-adalah-guru">Puisi Made Dwi Adnyani Alam adalah Guru</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
<div style="position:absolute; left:-9999px; top:-9999px;">
<a href="https://thedramaparadise.com/">https://thedramaparadise.com/</a>
<a href="https://villamadridbrownsville.com/">https://villamadridbrownsville.com/</a>
<a href="https://gamesvega.com/">https://gamesvega.com/</a>
<a href="https://bhpi.org/">https://bhpi.org/</a>
<a href="https://ayahqq.com">https://ayahqq.com</a>
<a href="https://klik66.com">https://klik66.com</a>

<a href="https://globelegislators.org">https://globelegislators.org</a>
<a href="https://controlesocial.cg.df.gov.br/">https://controlesocial.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/">https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://www.aux.com.sg/">https://www.aux.com.sg/</a>
<a href="https://global-edu.uz/">https://global-edu.uz/</a>
<a href="https://chessellpotterycafe.co.uk/menu">https://chessellpotterycafe.co.uk/menu</a>
<a href="http://ipcr.gov.ng/">http://ipcr.gov.ng/</a>
<a href="https://globelegislators.org/about-us/">https://globelegislators.org/about-us/</a>
<a href="https://globelegislators.org/biodiversity/">https://globelegislators.org/biodiversity/</a>
<a href="https://global-edu.uz/ru/">https://global-edu.uz/ru/</a>

<a href="https://maya.perhutani.co.id/">Slot Thailand</a>
<a href="https://simako.perhutani.co.id/">Slot Gacor</a>
<a href="https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/">https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/</a>
<a href="https://www.topkarir.com/tentang-kami/">Slot Gacor Thailand</a>

<a href="https://id.pandamgadang.com/">https://id.pandamgadang.com/</a>
<a href="https://cheersport.at/about-us/">https://cheersport.at/about-us/</a>
<a href="https://www.sna.org.ar">https://www.sna.org.ar</a>
<a href="https://tourism.perlis.gov.my/">https://tourism.perlis.gov.my/</a>
<a href="https://ppg.fkip.unisri.ac.id/">https://ppg.fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://feednplay.dei.uc.pt/">https://feednplay.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://fkip.unisri.ac.id/">https://fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fh.unisri.ac.id/">https://fh.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://map.fisip.unisri.ac.id/">https://map.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://inspira.dei.uc.pt/">https://inspira.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://an.fisip.unisri.ac.id/">https://an.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fisip.unisri.ac.id/">https://fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://hi.fisip.unisri.ac.id/">https://hi.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://ebooks.uinsyahada.ac.id/">https://ebooks.uinsyahada.ac.id/</a>
<a href="https://cultura.userena.cl/">https://cultura.userena.cl/</a>
<a href="https://middlepassage.dei.uc.pt/">https://middlepassage.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://discurso.userena.cl/">https://discurso.userena.cl/</a>
<a href="https://ictess.unisri.ac.id/">https://ictess.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://aku.ac.id">https://aku.ac.id</a>

<a href="https://hifisipunisri.us.com/">slot gacor</a>
<a href="https://cheersport.sa.com/">slot gacor</a>
<a href="https://pkvgames.gr.com/">pkv games</a>

<a href="https://pioneer.schooloftomorrow.ph/">https://pioneer.schooloftomorrow.ph/</a>
<a href="https://wpsotp.schooloftomorrow.ph/">mpo slot</a>
<a href="https://stem-md.swu.bg/">https://stem-md.swu.bg/</a>
<a href="https://greenstem.swu.bg/">mpo</a>

<a href="https://cheersport.at/doc/pkv-games/">https://cheersport.at/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/">https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/</a>

<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/">https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/</a>

<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/</a>

<a href="https://uniestate.com/pkv-games/">https://uniestate.com/pkv-games/</a>
<a href="https://uniestate.com/bandarqq/">https://uniestate.com/bandarqq/</a>
<a href="https://uniestate.com/qiuqiu/">https://uniestate.com/qiuqiu/</a>

<a href="https://pojoktim.com/public/pkv-games/">https://pojoktim.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/bandarqq/">https://pojoktim.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/dominoqq/">https://pojoktim.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/">https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/">https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/">https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/</a>

<a href="https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/">https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/">https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/">https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/</a>

<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/</a>

<a href="https://graceconference.com/public/pkv-games/">https://graceconference.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/bandarqq/">https://graceconference.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/dominoqq/">https://graceconference.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/</a>

<a href="https://pksoganilir.com/pkv-games/">https://pksoganilir.com/pkv-games/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/bandarqq/">https://pksoganilir.com/bandarqq/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/dominoqq/">https://pksoganilir.com/dominoqq/</a>

<a href="https://bhor.gov.pg/pkv-games/">https://bhor.gov.pg/pkv-games/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/bandarqq/">https://bhor.gov.pg/bandarqq/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/dominoqq/">https://bhor.gov.pg/dominoqq/</a>

<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/</a>

<a href="https://legacy.wespa.org/pkv-games/">https://legacy.wespa.org/pkv-games/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/bandarqq/">https://legacy.wespa.org/bandarqq/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/dominoqq/">https://legacy.wespa.org/dominoqq/</a>

<a href="https://ac-group.hr/chip/pkv-games/">https://ac-group.hr/chip/pkv-games/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/bandarqq/">https://ac-group.hr/chip/bandarqq/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/dominoqq/">https://ac-group.hr/chip/dominoqq/</a>
</div>