SEMARANG (SUARABARU.ID) – Di tengah gempuran media sosial, video berdurasi pendek, dan budaya serba instan, muncul pertanyaan yang terus berulang: apakah sastra masih memiliki pembaca? Apakah novel, puisi, dan cerpen masih relevan bagi masyarakat yang lebih akrab dengan TikTok, Instagram Reels, dan berbagai platform digital lainnya?
Pertanyaan tersebut dibahas dalam siaran langsung Instagram Unlimited Talks bertajuk “Sastra Dunia Minim Pembaca?” yang mengupas masa depan sastra di tengah perubahan zaman dan kemunculan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), baru-baru ini.
Dalam kegiatan menghadirkan dua sastrawan dan akademisi Indonesia, Dr. S. Prasetyo Utomo dan Triyanto Triwikromo, MHum
Keduanya sepakat bahwa sastra memang tidak pernah menjadi bacaan mayoritas. Bahkan di negara-negara dengan tradisi literasi yang kuat, jumlah pembaca sastra tidak pernah terlalu besar.
Namun, minimnya jumlah pembaca tidak serta-merta membuat sastra kehilangan relevansi. “Sastra akan tetap relevan. Penikmat konten pendek dengan pembaca sastra memang berbeda. Munculnya konten pendek bukan masalah bagi sastra,” ujar Triyanto Triwikromo.
Menurutnya, perubahan zaman justru melahirkan bentuk-bentuk baru dalam dunia sastra. Salah satunya adalah flash fiction atau cerita sangat pendek yang tetap menjaga kualitas artistik.
Triyanto bahkan pernah menulis “Bersepeda ke Neraka”, karya yang lahir sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya konten pendek yang menurutnya sering kali mengabaikan mutu.
“Kita boleh merespons perubahan zaman, tetapi mutu tetap harus dijaga,” katanya.
Triyanto mencontohkan, bahwa karya tersebut bahkan diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda dan Melayu, membuktikan bahwa sastra tetap mampu menemukan pembacanya sendiri.
Fenomena minimnya pembaca sastra sebenarnya bukan hanya terjadi di Indonesia. Berdasarkan survei UNESCO dan berbagai penelitian literasi dunia, buku-buku sastra memang hanya dibaca oleh segmen tertentu.
Namun, industri penerbitan global tetap hidup. Bahkan laporan International Publishers Association menunjukkan bahwa pasar buku dunia terus berkembang, sementara karya-karya sastra dari berbagai negara masih terus diterjemahkan dan dipasarkan ke seluruh dunia.
Bagi Prasetyo Utomo, persoalan terbesar bukanlah sedikitnya pembaca, melainkan semakin berkurangnya ruang apresiasi sastra di dunia pendidikan.













