
Menurut tokoh Gerakan Sastra Kontekstual tersebut, pendidikan seharusnya menjadi pintu utama untuk menumbuhkan kecintaan terhadap sastra sejak usia dini. Ia menilai pelajaran Bahasa Indonesia yang semakin kecil porsinya membuat ruang penciptaan dan apresiasi sastra ikut menyusut.
“Minim ruang penciptaan dan minim apresiasi. Dari situlah sebenarnya mulai kebangkrutan kita dalam kegemaran membaca,” ujarnya.
Prasetyo bahkan mengusulkan program “Sastra Masuk Sekolah” yang berisi panduan karya-karya sastra yang layak dibaca siswa SD, SMP, dan SMA.
Menurutnya, sastra tidak hanya berkaitan dengan bahasa Indonesia, tetapi juga sejarah, agama, lingkungan hidup, dan berbagai persoalan kemanusiaan. Kedua sastrawan tersebut tetap optimistis terhadap masa depan sastra Indonesia. Mereka menilai masyarakat sebenarnya masih memiliki minat membaca. Hal itu dapat dilihat dari masih ramainya toko buku serta ruang-ruang khusus sastra yang disediakan berbagai gerai buku.
Tantangan terbesar justru datang dari perubahan teknologi yang sangat cepat. Platform digital seperti Instagram, TikTok, Wattpad, hingga berbagai media daring telah melahirkan ruang baru bagi sastra.
Menurut Prasetyo Utomo, teks sastra memang mengalami metamorfosis. “Kesadaran untuk berubah bentuk dari sebuah teks buku ke dalam bentuk lain mesti dijalankan. Generasi sekarang lebih mungkin bertransformasi seperti itu,” ujarnya.
Sebagian bahkan mampu memperoleh royalti yang cukup untuk membiayai pendidikan mereka.
Di sisi lain, Triyanto Triwikromo melihat manusia saat ini hidup dalam era yang ia sebut sebagai “the net and the next”, ketika realitas baru terbentuk melalui internet. Sastra pun tidak lagi hanya hadir dalam bentuk buku cetak, melainkan menjadi hiper-teks yang berpindah ke ruang digital.
Namun, tantangan yang lebih besar datang dari perkembangan Artificial Intelligence. Kini mulai muncul karya-karya yang diciptakan melalui kolaborasi manusia dengan AI. Menurut Triyanto, fenomena tersebut tidak bisa dihindari. “Selamat datang akal imitasi di dalam sastra,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa sejumlah eksperimen telah dilakukan untuk menghasilkan karya sastra menggunakan AI. Hasilnya, kualitas karya tersebut masih jauh dari memuaskan. Namun, ia mengingatkan bahwa AI akan terus belajar dan berkembang.
Prasetyo Utomo percaya ada sesuatu yang tidak bisa ditiru oleh mesin, yakni dimensi spiritual dan pengalaman batin manusia.
“Orang menulis menjadi besar karena kewahyuan. Ada dimensi transendental antara manusia dengan yang menciptakan manusia. Akal imitasi tidak akan sampai ke tahapan itu,” ujarnya.
Baginya, secanggih apa pun AI, pengalaman batin manusia tetap tidak tergantikan. Pada akhirnya, sastra bukan sekadar soal jumlah pembaca. Sastra adalah cara manusia memahami dirinya sendiri.
Triyanto Triwikromo menyebut bahwa dunia sastra sesungguhnya adalah dunia metafora dan dunia kutipan. Semakin banyak seseorang membaca, semakin kaya suara yang ia dengarkan.
“Membaca itu sebenarnya mendengarkan suara lain,” katanya.
Bagi Prasetyo Utomo, alasan paling sederhana mengapa orang perlu membaca sastra adalah untuk menjaga kewarasan di tengah dunia yang dipenuhi pencitraan, kebohongan, dan manipulasi.
“Bacalah karya sastra untuk tetap menjadi waras,” ujarnya.
Triyanto Triwikromo pun mengingatkan bahwa membaca dan menulis merupakan cara manusia melawan lupa.
Mengutip novelis Ceko Milan Kundera, ia mengatakan bahwa melalui sastra manusia sedang membangun monumen ingatan. “Kita melawan lupa. Dengan membaca dan menulis, kita membangun monumen ingatan,” katanya.
Ning S













