JEPARA (SUARABARU.ID) – Kelas Pelajar Mengukir yang diselenggarakan oleh Yayasan Pelestari Ukir Jepara di Galeri Jepara Wood Carving mendapatkan banyak pujian. Mereka menyebut pelatihan ini sebagai jalan efektif untuk menanamkan cinta ukir pada siswa dan jalan keluar untuk mengatasi kebuntuan beban kurikulum yang kurang memberikan ruang bagi pewarisan nilai budaya ukir di sekolah.
Budayawan Fakhrudin menyebut ini sebagai langkah terobosan ketika lembaga pendidikan tidak lagi dapat menanamkan minat dan rasa cinta seni ukir di kalangan pelajar. “Mereka dihadapkan pada persoalan struktural mulai kurikulum yang sangat sempit dan bahkan nyaris tidak ada, kompetensi guru dan bahkan sarana ukir yang dimiliki sekolah ,” ujar aktivis budaya yang akrab disapa Kang Brodin.

Sebaiknya kegiatan pelestarian budaya ini mendapatkan dukungan dari instansi terkait dalam bentuk rekomendasi atau surat edaran. “Sulit untuk menanamkan cinta ukir yang mulai tidak disukai siswa tanpa intervensi dinas,” tutur Brodin yang juga memiliki usaha kerajinan ukir
Apresiasi terhadap Kelas Pelajar Mengukir juga datang dari Kepala SMAN 1 Kembang, Noor Rifaan, S.Pd., M.Pd. “ Saya sangat mendukung kegiatan Pelatihan Ukir khas Jepara sebagai langkah strategis menumbuhkan minat sekaligus kecintaan terhadap budaya lokal di kalangan pelajar SD hingga SMA/SMK yang saat ini mulai luntur.

Menurut Rifaan, kegiatan Pelajar Mengukir tidak hanya memperkenalkan teknik dasar seni ukir, tetapi juga menanamkan nilai sejarah, filosofi, dan identitas daerah yang telah lama menjadi kebanggaan masyarakat. “Saya mempunyai keyakinan bahwa keterlibatan langsung siswa dalam proses mengukir mampu meningkatkan kreativitas, ketelitian, serta rasa bangga terhadap warisan budaya bangsa yang mulai tergerus oleh modernisasi,” ujarnya
Ia juga menilai, pelatihan ini sebagai investasi jangka panjang untuk regenerasi pengrajin ukir muda. Dengan pendekatan yang disesuaikan usia pelajar, program ini mampu menjembatani dunia pendidikan dengan industri kreatif lokal. “Harapannya, kegiatan semacam ini dapat dilakukan secara berkelanjutan dan terintegrasi dengan kurikulum sekolah, sehingga tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, tetapi benar-benar membentuk karakter pelajar yang mencintai budaya sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif di masa depan,” pungkasnya.
Sedangkan Kepala SMKN 2 Jepara Indria Mustika S.Pd, M.Pd menilai pelatihan pelajar mengukir ini dapat menjadi fondasi bagi para pelajar untuk mengenal seni ukir dan kemudian menumbuhkan minat mereka untuk melestarikannya.

“Jika pelestarian ini bisa dimulai sejak SD dan SMP maka banyak anak yang akan tumbuh minat dan kecintaannya pada seni ukir yang telah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia tahun 2014 dan kini sedang diusahakan menjadi Warisan Budaya Takbenda Dunia,” ujarnya.
Menurut Indria Mustika, di SMKN 2 Jepara terdapat jurusan Kria Kreatif Kayu dan Rotan. “ Berdasarkan evaluasi, dari 2 rombel yang kami miliki di jurusan ini dengan jumlah siswa 72, baru sekitar 35 persen yang masuk dengan peminatan utama pada kria kayu,” terangnya.
Ia juga menjelaskan, pada tahun ini dalam penerimaan siswa baru tahun 2026-2027 akan dilakukan kembali seleksi bakat minat yang meliputi menggambar bentuk dan ornamen ukir. Bukan semata atas dasar nilai SMP/MTs. “Juga ada pertimbangan jalur prestasi untuk yang telah pernah meraih kejuaraan dalam lomba ukir,” pungkas Indria Mustika
Sedangkan Veronica dari Jepara Bisa Foundation menyebut Pelajar Mengukir sebagai jalan untuk mengisi kekosongan kurikulum di tingkat SD dan SMP. “Padahal usia sekolah ini sangat efektif untuk menanamkan minat dan kecintaan anak pada seni ukir.. Karena itu Kelas Pelajar Mengukir ini diharapkan mendapatkan dukungan dari berbagai kalangan,” pinta Veronika yang juga dikenal sebagai seorang aktivis kebudayaan Jepara.
Hadepe













