SEMARANG (SUARABARU.ID) – Maraknya peredaran narkoba di kalangan generasi muda serta meningkatnya pola kejahatan narkotika berbasis digital menjadi ancaman serius bagi masa depan bangsa.
Perkembangan teknologi informasi kini juga dimanfaatkan sindikat narkoba melalui transaksi elektronik, media sosial, cryptocurrency, hingga jaringan tersembunyi di ruang digital yang menyasar anak muda dan lingkungan pendidikan.
Di sisi lain, angka prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia juga menunjukkan ancaman nyata terhadap kelompok usia produktif yang menjadi harapan menuju Indonesia Emas 2045.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius dalam Dialog Kebangsaan Konsolidasi Nasional SEMA-PTKIN se-Indonesia Tahun 2026 yang menghadirkan Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah, Toton Rasyid sebagai nara sumber utama di Aula Balai Diklat Keagamaan (BDK) Semarang, Rabu (20/5/2026).
Forum yang diikuti ratusan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia itu mengangkat tema “Peran Mahasiswa dalam Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan Narkoba demi Mewujudkan Generasi Muda yang Sehat, Kritis, dan Berintegritas.”
Dalam paparannya, Toton menegaskan, Indonesia saat ini sedang menghadapi ancaman serius penyalahgunaan narkoba yang menyasar generasi produktif, termasuk mahasiswa dan lingkungan kampus. Menurutnya, jika generasi muda gagal dijaga dari ancaman narkotika, maka bonus demografi yang seharusnya menjadi kekuatan bangsa justru dapat berubah menjadi bencana sosial dan kemanusiaan.
“Mahasiswa jangan sampai hanya menjadi penonton dalam perang melawan narkoba. Hari ini narkoba sudah masuk ke berbagai lini kehidupan, termasuk lingkungan pendidikan tinggi. Modusnya semakin modern, memanfaatkan media digital, transaksi elektronik, bahkan menyasar pola pikir generasi muda melalui gaya hidup dan pergaulan,” tegas Toton.
Ia mengatakan, kampus memiliki posisi strategis sebagai pusat lahirnya intelektual dan calon pemimpin bangsa sehingga harus menjadi ruang aman, sehat, dan produktif. Karena itu, mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang aktif membangun kesadaran kolektif dan gerakan sosial anti narkoba di lingkungan masing-masing.
“Kita tidak boleh kalah dengan sindikat narkoba yang bergerak sangat cepat dan masif. Perang melawan narkoba membutuhkan kolaborasi semua pihak. Pemerintah, kampus, organisasi mahasiswa, keluarga, dan masyarakat harus bergerak bersama. Jika generasi muda rusak, maka masa depan Indonesia juga ikut terancam,” lanjutnya.
Toton juga mengaitkan pentingnya gerakan pencegahan narkoba dengan program Ananda Bersinar (Aksi Nasional Anti Narkoba Dimulai Dari Anak Bersih Dari Narkoba) yang saat ini terus diperkuat BNNP Jawa Tengah melalui pendekatan kolaboratif dan berbasis ekosistem sosial.













