<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>muntilan Archives - SuaraBaru.id</title>
	<atom:link href="https://suarabaru.id/tag/muntilan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<description>Media Online Tajam dan Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Jun 2025 09:18:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.13</generator>

<image>
	<url>https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2018/06/cropped-logofooter-32x32.png</url>
	<title>muntilan Archives - SuaraBaru.id</title>
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Dinamika Hidup Menggereja di Keuskupan Agung Semarang</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/06/10/dinamika-hidup-menggereja-di-keuskupan-agung-semarang</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Jun 2025 09:18:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Suara Kab Magelang]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Aula Pusat Pastoral Sanjaya]]></category>
		<category><![CDATA[Dinamika Hidup Menggereja]]></category>
		<category><![CDATA[Gereja KAS]]></category>
		<category><![CDATA[kabupaten magelang]]></category>
		<category><![CDATA[Keuskupan Agung Semarang]]></category>
		<category><![CDATA[muntilan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Studi Bersama]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=478512</guid>

					<description><![CDATA[<p>MUNTILAN (SUARABARU.ID)&#8211; Dalam rangka memperingati 85 tahun Keuskupan Agung Semarang (KAS), Gereja KAS menyelenggarakan kegiatan Studi Bersama dan Refleksi Dinamika Hidup Menggereja, pada Sabtu (7/6/2025). Kegiatan itu berlangsung di Aula Pusat Pastoral Sanjaya, Muntilan, Kabupaten Magelang. Acara ini menjadi salah satu momen penting dalam rangkaian HUT ke-85 KAS, dan dihadiri 238 peserta secara luring dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/06/10/dinamika-hidup-menggereja-di-keuskupan-agung-semarang">Dinamika Hidup Menggereja di Keuskupan Agung Semarang</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>MUNTILAN (<a href="http://SUARABARU.ID">SUARABARU.ID</a>)</strong>&#8211; Dalam rangka memperingati 85 tahun Keuskupan Agung Semarang (KAS), Gereja KAS menyelenggarakan kegiatan Studi Bersama dan Refleksi Dinamika Hidup Menggereja, pada Sabtu (7/6/2025).</p>
<p>Kegiatan itu berlangsung di Aula Pusat Pastoral Sanjaya, Muntilan, Kabupaten Magelang. Acara ini menjadi salah satu momen penting dalam rangkaian HUT ke-85 KAS, dan dihadiri 238 peserta secara luring dan daring, melalui kanal YouTube Komsos KAS.</p>
<p>Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber utama, Dr Fl Hasto Rosariyanto SJ (Dosen sejarah Gereja), dan Prof Dr CB Mulyatno Pr (Dekan Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma). Keduanya mengajak umat, untuk menyegarkan kembali semangat awal para misionaris dan katekis, serta merefleksikan arah gerak Gereja KAS, dalam menghadapi tantangan zaman.</p>
<p><strong>BACA JUGA: <a href="https://suarabaru.id/2025/06/10/tim-pkm-universitas-semarang-beri-pelatihan-pembuatan-mahar">Tim PKM Universitas Semarang Beri Pelatihan Pembuatan Mahar</a></strong></p>
<p>&#8221;Studi bersama dan refleksi ini merupakan sarana untuk menyadari kembali, bagaimana Tuhan berkarya melalui para perintis gereja kita. Baik para imam, religius maupun awam,&#8221; ungkap Romo Yohanes Gunawan Pr, Ketua Bidang Refleksi sekaligus Rektor Seminari TOR Sanjaya, Semarang.</p>
<p>Dalam paparannya, Romo Hasto menggarisbawahi peran penting para misionaris awal, seperti Romo van Lith, yang tidak hanya membangun lembaga pendidikan seperti Xaverius College, tetapi juga memahami pentingnya bahasa dan mentalitas lokal, dalam pewartaan Injil.</p>
<p>Kolaborasi erat antara para misionaris dan katekis, menjadi faktor utama pertumbuhan pesat umat Katolik di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah, pada masa awal abad 20.</p>
<p><strong>BACA JUGA: <a href="https://suarabaru.id/2025/06/10/pelatihan-instalasi-dan-konfigurasi-perangkat-rumah-pintar-berbasis-iot">Pelatihan Instalasi dan Konfigurasi Perangkat Rumah Pintar Berbasis IoT</a></strong></p>
<p>Dia juga menjelaskan beragam model kemunculan paroki di wilayah KAS. Dari yang berbasis misi dan pendidikan, hingga paroki strategis dan kategorial, yang mencerminkan dinamika pastoral yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat.</p>
<p>&#8221;Melalui karya-karya pendidikan, kesehatan, dan sosial, wajah Gereja Katolik dikenal dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas,&#8221; ujar Romo Hasto.</p>
<p>Sementara itu, Romo Mulyatno menekankan pentingnya membangun budaya refleksi integral, baik pribadi, komunitas, maupun lembaga. Dia mengingatkan, gereja tidak boleh terjebak dalam rutinitas seremonial dan eksklusivitas.</p>
<p><strong>BACA JUGA: <a href="https://suarabaru.id/2025/06/10/mahasiswa-prodi-komunikasi-dan-akuntansi-unissula-juara-di-sunway-university-malaysia-2">Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Akuntansi Unissula Juara di Sunway University Malaysia</a></strong></p>
<p>&#8221;Lembaga yang beku dan komunitas yang eksklusif, akan melemahkan semangat misioner umat. Gereja harus menjadi komunitas yang transformatif, mendorong umat untuk hadir aktif dalam kehidupan masyarakat,&#8221; tegasnya.</p>
<p>Dia juga menyoroti kontribusi besar Gereja KAS terhadap misi Nasional, dengan mengirimkan banyak imam, religius, dan awam ke berbagai daerah di Indonesia, Mulai dari Flores hingga Papua. Bahkan sejak masa kolonial, banyak lulusan sekolah-sekolah guru Muntilan yang kemudian menjadi misionaris, katekis, dan pemimpin umat.</p>
<p>Dalam rangkaian acara ini, diluncurkan pula buku sejarah berjudul &#8216;Peziarahan Keuskupan Agung Semarang&#8217;, yang disusun oleh 11 penulis, di bawah koordinasi Romo Silvester Susianto Budi Nugraha MSF, selaku Ketua Tim Sejarah KAS dan Sekretaris Keuskupan.</p>
<p><strong>BACA JUGA: <a href="https://suarabaru.id/2025/06/10/dokter-tim-observasi-hamstring-rizky-ridho">Dokter Tim Observasi ‘Hamstring’ Rizky Ridho</a></strong></p>
<p>Buku ini menjadi dokumentasi penting perjalanan 85 tahun Gereja KAS, yang tidak lepas dari peran banyak tarekat religius, seperti Yesuit, MSF, CSA, FIC, OSF, CB, BM, PI, dan lainnya, yang secara kolektif membangun fondasi spiritual dan sosial gereja di wilayah ini.</p>
<p>Perayaan HUT ke-85 KAS juga terasa istimewa, karena bertepatan dengan Tahun Yubileum 2025, yang dicanangkan Paus Fransiskus, dengan tema &#8216;<em>Peregrinantes in Spem</em>&#8216; (Peziarahan dalam Pengharapan).</p>
<p>Tema HUT KAS sendiri yakni, &#8216;Bersama Berziarah, Berbagi Berkah&#8217;, yang mengajak umat untuk terus membagikan rahmat Tuhan dalam bentuk aksi, edukasi, refleksi, serta selebrasi, baik liturgi maupun non-liturgi.</p>
<p><strong>BACA JUGA: <a href="https://suarabaru.id/2025/06/10/sekolah-jurnalistik-pwi-jateng-fh-unissula-upaya-bekali-mahasiswa-etika-berpikir-dan-menulis">Sekolah Jurnalistik PWI Jateng-FH Unissula, Upaya Bekali Mahasiswa Etika Berpikir dan Menulis</a></strong></p>
<p>Acara ini juga menjadi ajang penghargaan bagi figur-figur penting, dalam sejarah KAS. Seperti Martinus dan Josaphat Martodiredjo, Andreas Dwidjoatmodjo, Barnabas Sarikrama, dan Mbah Darmo, katekis awam yang perannya sangat signifikan dalam penyebaran iman Katolik di Jateng dan DIY.</p>
<p>&#8221;Kami sangat mengapresiasi kehadiran seluruh peserta. Inilah bukti, gereja kita hidup karena kolaborasi dan kesetiaan pada semangat para perintis,&#8221; tutur Romo Gunawan menutup acara.</p>
<p><em><strong>Riyan</strong></em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/06/10/dinamika-hidup-menggereja-di-keuskupan-agung-semarang">Dinamika Hidup Menggereja di Keuskupan Agung Semarang</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Misdinar Gereja St Yusup Gedangan Studi Rohani Bersama Tokoh-Tokoh Agama ke Museum Misi Muntilan dan Sendangsono</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/04/30/misdinar-gereja-st-yusup-gedangan-studi-rohani-bersama-tokoh-tokoh-agama-ke-museum-misi-muntulan-dan-sendangsono</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Apr 2024 09:52:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Kab Magelang]]></category>
		<category><![CDATA[Gereja St Yusup Gedangan]]></category>
		<category><![CDATA[misdinar]]></category>
		<category><![CDATA[muntilan]]></category>
		<category><![CDATA[Sendangsono]]></category>
		<category><![CDATA[Van Lith]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=411651</guid>

					<description><![CDATA[<p>MUNTILAN (SUARABARU.ID) &#8211; Misdinar Gereja St. Yusup Gedangan mengadakan acara studi rohani Bethlehem van Java misdinar ke Kerkof Muntilan, Museum Misi Muntilan, dan Gua Maria Sendangsono, Sabtu, 27 April 2024. Fr. Wahyu, SJ sebagai pendamping misdinar menyebut, program untuk ini misdinar dan beberapa tokoh lintas agama. “Melalui studi rohani Bethlehem van Java, misdinar Gedangan diharapkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/04/30/misdinar-gereja-st-yusup-gedangan-studi-rohani-bersama-tokoh-tokoh-agama-ke-museum-misi-muntulan-dan-sendangsono">Misdinar Gereja St Yusup Gedangan Studi Rohani Bersama Tokoh-Tokoh Agama ke Museum Misi Muntilan dan Sendangsono</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>MUNTILAN (SUARABARU.ID) &#8211; </strong>Misdinar Gereja St. Yusup Gedangan mengadakan acara studi rohani Bethlehem van Java misdinar ke Kerkof Muntilan, Museum Misi Muntilan, dan Gua Maria Sendangsono, Sabtu, 27 April 2024.</p>
<p>Fr. Wahyu, SJ sebagai pendamping misdinar menyebut, program untuk ini misdinar dan beberapa tokoh lintas agama.</p>
<p>“Melalui studi rohani Bethlehem van Java, misdinar Gedangan diharapkan dapat memahami sejarah lahirnya misi kekatolikan di tanah Jawa, menumbuhkan semangat kekatolikan dan toleransi antarumat beragama,” ujar Frater Wahyu.</p>
<p>Beberapa tokoh lintas agama yang menemani kunjungan ini seperti adalah KH. Khoirul Anwar (Pengasuh Ponpes Al-Insaniyyah, Salatiga), KH. Abdul Qodir (Pengasuh Ponpes Roudhotus Sholihin, Demak), Rabi’atul Adawiyah, Naily Illyun, Lutfi (ketiganya adalah dosen UIN Walisongo, Semarang), Pendeta Setiawan Budi (Koordinator Persaudaraan Lintas Agama), Eva Yuni (Staf Bimas Katolik) dan Sr. Lutgardis, OP.</p>
<p>“Ini pertama kalinya bagi kami mengalami perjumpaan dengan tokoh lintas agama,” ujar Fr Wahyu.</p>
<p>Di Kerkof Muntilan, rmbngan mengunjungi makam Kardinal Justinus Darmojuwono yang merupakan kardinal pertama Indonesia. Selanjutnya ke makam Rama F. Van Lith, SJ, Rama Hoevenars, SJ dan beberapa makam rama-rama Yesuit Belanda lainnya.</p>
<p>“Meskipun tempat ini makam tetapi sangat jauh dari kesan menyeramkan. Tempat ini sungguh sejuk dan nyaman untuk berdoa,” ujar Fr Wahyu.</p>
<p>Dalam bahasa Belanda, <em>kerkhoff</em> memiliki arti halaman gereja. Berasal dari dua suku kata, yakni <em>kerk</em> yang bermakna gereja dan <em>hoff</em> yang berarti halaman.</p>
<p>“Mungkin karena sudah menjadi tradisi bangsa Rropa, khususnya Belanda, pada saat menguburkan jenazah biasanya ditempatkan tidak jauh dari bangunan gereja. Kata kerkof lambat laun menjadi sebutan yang familiar untuk kuburan atau pemakaman bangsa Belanda,” tambah Fr Wahyu.</p>
<figure id="attachment_411653" aria-describedby="caption-attachment-411653" style="width: 640px" class="wp-caption alignnone"><img class="wp-image-411653 size-full" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/04/DSC0476.jpg" alt="" width="640" height="427" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/04/DSC0476.jpg 640w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/04/DSC0476-400x267.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/04/DSC0476-150x100.jpg 150w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" /><figcaption id="caption-attachment-411653" class="wp-caption-text">Para tokoh agama bersama misdinas Gereja St Yusup Gedangan berfoto di depan Museum Misi Muntilan. Foto: Michele Kanaya</figcaption></figure>
<p>Setelah dari kerkof, rombongann menuju Museum Misi Muntilan. “Kami dibagi menjadi dua kelompok besar untuk tur di dalam museum. Kami merasa takjub karena Museum Misi Muntilan menyimpan banyak sejarah mengenai perkembangan agama Katolik. Kami melihat barang–barang peninggalan zaman dahulu seperti peralatan misa, altar dan mimbar dari kayu, jubah Rama dan Uskup, Tongkat Gembala, lonceng dan masih banyak lagi,” tutur Fr Wahyu.</p>
<p>Dari sini, anggota rombongan belajar tentang jejak sejarah Keuskupan Agung Semarang dan sejarah Gereja Katolik yang ada di Semarang. “Ada satu peninggalan dari Rama F. Van Lith, SJ dan Rama Hoevenars, SJ yang menarik bagi kami yaitu doa Bapa Kami dalam bahasa Jawa. Doa ini memiliki makna yang sama sama tetapi memiliki bahasa yang berbeda,” tuturnya</p>
<p>Rama F. Van Lith, SJ dan Rama Hoevenars, SJ menggunakan caranya sendiri dalam menerjemahkan doa Bapa Kami ke dalam bahasa Jawa.</p>
<p>Destinasi terakhir adalah Gua Maria Sendangsono. Gua Maria ini masih berkaitan dengan dua lokasi sebelumnya (Kerkof Muntilan dan Museum Misi). “Gua Maria Sendangsono ini adalah tempat Rama F. Van Lith, SJ membaptis 171 orang Jawa. Peristiwa ini terjadi pada 14 Desember 1904. Kini, Sendangsono menjadi salah satu tempat ziarah yang sangat populer,” ujarnya.</p>
<p>Di Gua Maria Sendangsono mereka mengunjungi makam Barnabas Sarikromo. Dituturkan, awa;nya Barnabas Sarikromoo memiliki penyakit kudis di kakinya dan sudah melakukan pengobatan dengan berbagai cara.</p>
<p>“Suatu ketika ia bersemedi untuk mendapatkan kesembuhan. Ia mendengar bisikan untuk berjalan ke arah timur laut. Dikarenakan kondisi kakinya yang tidak memungkinkan untuk berjalan, Sariksomo pun menuju arah timur laut dengan cara <em>ngesot</em>. Perjalanan itu membawanya bertemu dengan Bruder Kersten, SJ dan Rama F. Van Lith, SJ. Sarikromo memperoleh kesembuhan dan kemudian dibaptis oleh Rama F. Van Lith, SJ,” tutur Frater Wahyu.</p>
<p>Kami mendapatkan banyak sekali pengalaman dan pengetahuan dari ketiga tempat tersebut. Kami mengetahui kisah-kisah dari tokoh-tokoh penting misalnya Rama F. Van Lith, SJ, Rama Hoevenars, SJ, Bruder Kersten, SJ dan Barnabas Sarikromo.</p>
<p>“Kisah-kisah mereka semakin membuat kami bangga sebagai orang Katolik Jawa. Kami semakin terbakar bukan hanya untuk menjadi Katolik tetapi untuk menghidupi iman Katolik,” ujar seorang misdinar peserta tur ini.</p>
<p><strong>Michelle Kanaya</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/04/30/misdinar-gereja-st-yusup-gedangan-studi-rohani-bersama-tokoh-tokoh-agama-ke-museum-misi-muntulan-dan-sendangsono">Misdinar Gereja St Yusup Gedangan Studi Rohani Bersama Tokoh-Tokoh Agama ke Museum Misi Muntilan dan Sendangsono</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jemunak Sajian Kuliner Khas Gunung Pring Muntilan, Hanya Ada di Bulan Ramadan</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/03/20/jemunak-sajian-kuliner-khas-gunung-pring-muntilan-hanya-ada-di-bulan-ramadan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 Mar 2024 01:02:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Info Pariwisata]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Kab Magelang]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung Pring]]></category>
		<category><![CDATA[Jemunak]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[muntilan]]></category>
		<category><![CDATA[ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[Sri Sultan HB X]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=405342</guid>

					<description><![CDATA[<p>KOTA MUNGKID (SUARABARU.ID)- Di bulan Ramadan seperti saat ini sebagian besar masyarakat  membuat  aneka makanan untuk berbuka puasa. Namun, di Dusun Karaharjan, Desa Gunung Pring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang ada satu makanan khas yang dibuat dan dijual  hanya bulan Ramadan. Makanan tersebut yakni jemunak yang terbuat dari campuran beras ketan, singkong, parutan kelapa dan kinca (kuah [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/03/20/jemunak-sajian-kuliner-khas-gunung-pring-muntilan-hanya-ada-di-bulan-ramadan">Jemunak Sajian Kuliner Khas Gunung Pring Muntilan, Hanya Ada di Bulan Ramadan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KOTA MUNGKID (SUARABARU.ID</strong>)- Di bulan Ramadan seperti saat ini sebagian besar masyarakat  membuat  aneka makanan untuk berbuka puasa. Namun, di Dusun Karaharjan, Desa Gunung Pring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang ada satu makanan khas yang dibuat dan dijual  hanya bulan Ramadan.</p>
<p>Makanan tersebut yakni jemunak yang terbuat dari campuran beras ketan, singkong, parutan kelapa dan <em>kinca </em>(kuah kental terbuat dari gula merah yang dicairkan) sebagai pecita rasa manis.</p>
<p>“Konon nama <em>jemunak</em> tersebut merupakan singkatan dari bahasa Jawa <em>ngajeng-ajeng nemu kepenak</em>.  Yang mempunyai arti, berharap bisa menemukan hidup yang mulia,” kata Ponisih (57), generasi ketiga pembuat jemunak di Dusun Karaharjan, Desa Gunung Pring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Selasa (19/3/2024).</p>
<p>Ponisih mengatakan, di Dusun Karaharjan hanya  ada  satu keluarga saja yang membuat <em>jemunak</em> di setiap bulan Ramadan, yakni Keluarga Mbah Mulyodinomo. Dan, nama nenek buyut nya tersebut menjadi  merek dagang makanan buatannya, yakni <em>jemunak</em> Mbah Mul .</p>
<p>Menurutnya, makanan <em>jemunak</em> tersebut merupakan  usaha turun-temurun yang diwariskan neneknya dan kini telah beralih ke generasi kelima yang ada di keluarga tersebut. Yakni, Ponisih  bersama dengan adiknya Kasirah.</p>
<figure id="attachment_405344" aria-describedby="caption-attachment-405344" style="width: 681px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" class="wp-image-405344 size-full" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/03/Jemunak.jpg" alt="" width="681" height="355" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/03/Jemunak.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/03/Jemunak-400x209.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/03/Jemunak-150x78.jpg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" /><figcaption id="caption-attachment-405344" class="wp-caption-text">Jemunak, makanan khasDusun Karaharjan, Desa Gunung Pring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang dan hanya ada di bulan Ramadan. Foto: W.Cahyono</figcaption></figure>
<p>Ia menambahkan, dirinya hanya membuat jemunak di bulan Ramadan. Karena, sudah menjadi tradisi di masyarakat Gunungpring membuat. Dirinya, tidak pernah membuat atau melayani pesanan jemunak di luar bulan puasa.</p>
<p><strong>Sri Sultan HB X pun Mencicipi</strong></p>
<p>Salah satu kebanggaan  dirinya membuat jemunak, saat makanan tersebut dicicipi oleh  Raja Keraton Jogjakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X saat berkunjung ke Gunung Pring sekitar lima tahun lalu.</p>
<p>Pembuatan jemunak tersebut dilakukan setiap awal Ramadan hingga dua hari menjelang lebaran.</p>
<p>Dan, setiap harinya ia membuat lebih dari 500 bungkus jemunak dan dipasarkan di sejumlah pedagang makanan datang ke rumahnya untuk membeli atau memesannya. Sehingga tidak perlu berkeliling, barang dagangannya habis di rumahUntuk membuat 500 bungkus Jemunak ia menyiapkan ketela 20 kilogram, beras ketan lima kilogram, gula Jawa lima kilogram serta tiga butir kelapa. Satu bungkus jemunak dijual dengan harga Rp 3.000.</p>
<p>Sepuluh hari menjelang lebaran tahun ini, dirinya sudah mendapatkan pesanan 1.000 bungkus jemunak yang akan digunakan untuk Grebeg Jemunak yang digelar Pemerintah Desa Gunungpring.</p>
<p><strong>W.Cahyono</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/03/20/jemunak-sajian-kuliner-khas-gunung-pring-muntilan-hanya-ada-di-bulan-ramadan">Jemunak Sajian Kuliner Khas Gunung Pring Muntilan, Hanya Ada di Bulan Ramadan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Satreskrim Polresta Magelang Amankan 5 Tersangka Penganiayaan Anak di Muntilan</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/01/10/satreskrim-polresta-magelang-amankan-5-tersangka-penganiayaan-anak-di-muntilan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ning Suparningsih]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Jan 2024 04:00:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Amankan]]></category>
		<category><![CDATA[Korban]]></category>
		<category><![CDATA[muntilan]]></category>
		<category><![CDATA[penganiayaan anak]]></category>
		<category><![CDATA[Polresta Magelang]]></category>
		<category><![CDATA[satreskrim]]></category>
		<category><![CDATA[tersangka]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=392720</guid>

					<description><![CDATA[<p>MAGELANG (SUARABARU.ID) &#8211; Satreskrim Polresta Magelang Polda Jawa Tengah berhasil mengamankan lima pelaku penganiayaan anak yang terjadi di Muntilan pada Minggu (7/1/2024). Penganiayaan dilakukan para pelaku dengan alasan emosi, dan menduga korban telah melakukan tindak kekerasan terhadap teman para pelaku. Hal itu disampaikan Kapolresta Magelang, KBP Mustofa saat memimpin Konferensi Pers di Ruang Media Center [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/01/10/satreskrim-polresta-magelang-amankan-5-tersangka-penganiayaan-anak-di-muntilan">Satreskrim Polresta Magelang Amankan 5 Tersangka Penganiayaan Anak di Muntilan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>MAGELANG (SUARABARU.ID)</strong> &#8211; Satreskrim Polresta Magelang Polda Jawa Tengah berhasil mengamankan lima pelaku penganiayaan anak yang terjadi di Muntilan pada Minggu (7/1/2024).</p>
<p>Penganiayaan dilakukan para pelaku dengan alasan emosi, dan menduga korban telah melakukan tindak kekerasan terhadap teman para pelaku.</p>
<p>Hal itu disampaikan Kapolresta Magelang, KBP Mustofa saat memimpin Konferensi Pers di Ruang Media Center Mapolresta Magelang, Selasa (9/1/2024).</p>
<p>“Peristiwa terjadi pada Minggu, 7 Januari 2024 sekira pukul 05.30 WIB di pinggir jalan depan ruang IGD RSUD Muntilan. Akibat penganiayaan yang dilakukan bersama-sama itu, menyebabkan korban anak hingga tak sadarkan diri,” ujar Mustofa.</p>
<p>Disebutkan, pelaku ada 5 yakni empat laki-laki dan satu perempuan, diantaranya GPP (22), FS (22), ZA (25), ES (25) dan seorang perempuan ERDP (28). Sedangkan korban adalah FB, warga Mungkid.</p>
<p>“Akibat perbuatan pelaku, korban mengalami luka berat di bagian kepala. Saat ini korban dalam kondisi kritis dan masih dalam perawatan intensif, dan belum sadarkan diri,” ungkap Mustofa.</p>
<p>Mustofa mengatakan, saat ini pihaknya masih melakukan pendalaman pemeriksaan terhadap para tersangka dan melengkapi administrasi penyidikan, serta berkoordinasi dengan pihak Kejaksaan.</p>
<p>“Mendasari Pasal 170 KUHPidana, para tersangka diancam pidana penjara paling lama 5 tahun 6 bulan, dan Pasal 80 Ayat (2) Jo 76C Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak Rp 100 juta,” pungkas Mustofa.</p>
<p><em><strong>Ning S</strong></em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/01/10/satreskrim-polresta-magelang-amankan-5-tersangka-penganiayaan-anak-di-muntilan">Satreskrim Polresta Magelang Amankan 5 Tersangka Penganiayaan Anak di Muntilan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>&#8216;Ojo Ela Elu Kalau Tak Tahu&#8230;&#8217;</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/05/08/ojo-ela-elu-kalau-tak-tahu</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 May 2023 12:25:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cakrawala]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Kab Magelang]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Magelang]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[ganjar pranowo]]></category>
		<category><![CDATA[Gubernur Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Gunungpring]]></category>
		<category><![CDATA[kabupaten magelang]]></category>
		<category><![CDATA[KH Nahrowi Dalhar bin Simbah KH Abdurrahman]]></category>
		<category><![CDATA[muntilan]]></category>
		<category><![CDATA[Ponpes Darussalam]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Watucongol]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=335645</guid>

					<description><![CDATA[<p>MAGELANG (SUARABARU.ID)&#8211; Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, meminta masyarakat berhati-hati dalam menyaring informasi. Perkembangan dunia digital yang pesat, harus diimbangi dengan kehati-hatian saat mencermati informasi. Hal itu disampaikannya, usai menghadiri acara Peringatan Haul Simbah KH Nahrowi Dalhar bin Simbah KH Abdurrahman, di Ponpes Darussalam di Watucongol, Gunungpring, Muntilan, Kabupaten Magelang, Senin (8/5/2023). Acara haul itu [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/05/08/ojo-ela-elu-kalau-tak-tahu">&#8216;Ojo Ela Elu Kalau Tak Tahu&#8230;&#8217;</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>MAGELANG (<a href="http://SUARABARU.ID">SUARABARU.ID</a>)</strong>&#8211; Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, meminta masyarakat berhati-hati dalam menyaring informasi. Perkembangan dunia digital yang pesat, harus diimbangi dengan kehati-hatian saat mencermati informasi.</p>
<p>Hal itu disampaikannya, usai menghadiri acara Peringatan Haul Simbah KH Nahrowi Dalhar bin Simbah KH Abdurrahman, di Ponpes Darussalam di Watucongol, Gunungpring, Muntilan, Kabupaten Magelang, Senin (8/5/2023).</p>
<p>Acara haul itu digelar selama dua hari, tepatnya sejak Minggu (7/5/2023). Ribuan warga terlihat memadati sekitar ponpes, menanti kedatangan Ganjar.</p>
<p><strong>BACA JUGA: <a href="https://suarabaru.id/2023/05/08/masjid-agung-jawa-tengah-di-kabupaten-magelang-didesain-ulang">Masjid Agung Jawa Tengah di Kabupaten Magelang Didesain Ulang</a></strong></p>
<figure id="attachment_335647" aria-describedby="caption-attachment-335647" style="width: 681px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-335647" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/05/WhatsApp-Image-2023-05-08-at-16.27.28.jpeg" alt="" width="681" height="448" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/05/WhatsApp-Image-2023-05-08-at-16.27.28.jpeg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/05/WhatsApp-Image-2023-05-08-at-16.27.28-400x263.jpeg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/05/WhatsApp-Image-2023-05-08-at-16.27.28-150x99.jpeg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" /><figcaption id="caption-attachment-335647" class="wp-caption-text">Calon presiden dari PDIP, Ganjar Pranowo, dikerubuti peserta haul untuk sekadar bersalaman dan foto bersama. Foto: hms</figcaption></figure>
<p>Dalam kesempatan itu, Ganjar menyampaikan pesan, terkait teknologi informasi yang berkembang pesat. Apalagi emak-emak, kata Ganjar, biasanya mudah terpengaruh hoaks.</p>
<p>Dia kemudian mencontohkan, informasi tidak benar yang baru-baru ini diterimanya, terkait dengan kerusakan jalan. Ganjar menuturkan, ada akun <em>Twitter</em> mencuitkan kerusakan jalan, dan menyebut lokasi itu ada di wilayah Jateng. Padahal sejumlah ruas jalan itu sudah diperbaiki.</p>
<p>&#8221;Kemudian ada wartawan yang tanya saya, Pak Ganjar ini tanggapannya bagaimana? Itu akunnya siapa, merekamnya kapan, itu di mana. Maksud saya klarifikasi, atau edukasi di media itu menjadi penting. Karena itu dari media sosial, diangkat ke media <em>mainstream</em>,&#8221; tutur Ganjar.</p>
<p><strong>BACA JUGA: <a href="https://suarabaru.id/2023/05/08/13-nama-muncul-sebagai-calon-ketua-pd-muhammadiyah-grobogan">13 Nama Muncul sebagai Calon Ketua PD Muhammadiyah Grobogan</a></strong></p>
<p>Ditambahkan dia, informasi yang tidak jelas datanya itu, akan jadi hoaks yang merugikan. Sebab itu, dia meminta masyarakat untuk selalu mencermati segala informasi yang diterimanya.</p>
<p>&#8221;Maka seringkali, begitu satu posting sesuatu belum diklarifikasi, ini dianggap kebenaran. Maka saya sampaikan kepada yang lain, jangan ikut-ikut, <em>Ojo ela-elu</em> kalau kita tidak tahu. Ini untuk menjaga situasi kondusivitas wilayah,&#8221; ujar Ganjar.</p>
<p>Usai memberikan sambutan, Ganjar kemudian sowan kepada Nyai Hj Nur Hannah Hasanah, yang merupakan putri dari KH Nahrowi Dalhar.</p>
<p>&#8221;Tidak ada pesan khusus yang disampaikan Nyai Hannah. Beliau adalah putra <em>ragil,</em> menjadi yang paling sepuh. Kalau ada sesepuh di sini, ya kami sowan, silaturahmi. Biasanya doa orang tua itu <em>mandhi</em> (manjur). Setiap ketemu orang tua minta didoakan, apalagi ibu-ibu,&#8221; tandasnya.</p>
<p><em><strong>Riyan</strong></em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/05/08/ojo-ela-elu-kalau-tak-tahu">&#8216;Ojo Ela Elu Kalau Tak Tahu&#8230;&#8217;</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ganjar Apresiasi Inisiatif Anak-anak SMA yang Bicarakan Moderasi Beragama</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/11/16/ganjar-apresiasi-inisiatif-anak-anak-sma-yang-bicarakan-moderasi-beragama</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2022 08:19:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cakrawala]]></category>
		<category><![CDATA[ganjar pranowo]]></category>
		<category><![CDATA[Gubernur Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[kabupaten magelang]]></category>
		<category><![CDATA[muntilan]]></category>
		<category><![CDATA[SMA PL Van Lith]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=293122</guid>

					<description><![CDATA[<p>MAGELANG (SUARABARU.ID)- Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mengapresiasi semangat para siswa SMA, yang sejak dini peka pada isu moderasi beragama. Menurutnya, kegelisahan mereka ini bisa jadi modal sosial, untuk menjaga persatuan. Hal itu diungkapkan Ganjar, usai hadir di acara Dialog Keagamaan dan Kebangsaan, dengan tema &#8216;Beragama Dalam Nalar Publik&#8217;, di SMA PL Van Lith, Muntilan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/11/16/ganjar-apresiasi-inisiatif-anak-anak-sma-yang-bicarakan-moderasi-beragama">Ganjar Apresiasi Inisiatif Anak-anak SMA yang Bicarakan Moderasi Beragama</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>MAGELANG (<a href="http://SUARABARU.ID">SUARABARU.ID</a>)-</strong> Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mengapresiasi semangat para siswa SMA, yang sejak dini peka pada isu moderasi beragama. Menurutnya, kegelisahan mereka ini bisa jadi modal sosial, untuk menjaga persatuan.</p>
<p>Hal itu diungkapkan Ganjar, usai hadir di acara Dialog Keagamaan dan Kebangsaan, dengan tema &#8216;Beragama Dalam Nalar Publik&#8217;, di SMA PL Van Lith, Muntilan, Kabupaten Magelang, Rabu (16/11/2022). Acara itu mengundang berbagai tokoh-tokoh agama.</p>
<p>&#8221;Mereka sudah punya kepekaan pada situasi dan kondisi yang ada. Mereka juga ingin berbuat. Maka dibuatlah seminar ini,&#8221; kata Ganjar, di hadapan 600 siswa sekolah yang berdiri sejak 1904 itu.</p>
<p><strong>BACA JUGA: <a href="https://suarabaru.id/2022/11/16/babinsa-koramil-lebaksiu-beri-pembekalan-wawasan-kebangsaan">Babinsa Koramil Lebaksiu Beri Pembekalan Wawasan Kebangsaan</a></strong></p>
<p>Gubernur juga sempat berinteraksi dengan dua siswa yang ada. Mereka adalah Bela dan Jeva. Dua siwa itu punya kegelisahan beragama, yang saat ini masih acapkali terjadi.</p>
<p>&#8221;Pak, toleransi kan penting tapi kenyataannya di Indonesia belum merata. Apakah karena pola pikir atau gimana? Belum lagi ada kasus intoleransi yang muncul, akibat sikap salah satu pejabat pemerintahan. Itu bagaimana pak?&#8221; tanya Bela.</p>
<p>Adapun Jeva bertanya tentang kemerdekaan beragama di Indonesia, yang telah diatur dalam UUD 1945, tapi pelaksanaannya seringkali tak diterapkan. Seperti kasus penolakan rumah ibadah.</p>
<p><strong>BACA JUGA: <a href="https://suarabaru.id/2022/11/16/manajemen-tim-psis-coret-dua-pemain">Manajemen Tim PSIS Coret Dua Pemain</a></strong></p>
<p>&#8221;Saya sampaikan kepada mereka, satu, mesti membawa nilai-nilai persamaan, persaudaraan, gotong royong, paseduluran ini yang penting,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Dengan nilai-nilai itu, kata Ganjar, isu dan persoalan yang muncul terkait keagamaan bisa diselesaikan melalui dialog.</p>
<p>&#8221;Inilah yang penting untuk dikomunikasikan, serta diceritakan secara terus menerus. Anak-anak mulai dari SMA, kini sudah ada kepedulian. Mereka mau belajar dan praktik. Mudah-mudahan anak-anak mau belajar dengan kondisi yang ada saat ini. Ini sangat bagus,&#8221; tandasnya.</p>
<p><strong><em>Riyan</em></strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/11/16/ganjar-apresiasi-inisiatif-anak-anak-sma-yang-bicarakan-moderasi-beragama">Ganjar Apresiasi Inisiatif Anak-anak SMA yang Bicarakan Moderasi Beragama</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bubur Blendrang, Kuliner Tradisional Khas Gunungpring Muntilan</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/06/12/bubur-blendrang-kuliner-tradisional-khas-gunungpring-muntilan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Jun 2022 09:14:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Kab Magelang]]></category>
		<category><![CDATA[bubur blendrang]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung pring muntilan]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner khas gunungpring]]></category>
		<category><![CDATA[muntilan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=257815</guid>

					<description><![CDATA[<p>KOTA MUNGKID(SUARABARU.ID)- Selain mempunyai makanan khas berupa tape ketan, di Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang juga mempunyai makanan yang cukup terkenal. Namun, nama makanan yang satu ini belum terkenal dibandingkan dengan tape ketan, sedangkan makanan tersebut sudah lama menjadi makanan khas di Muntilan. Selain itu, nama makanan itu sedikit aneh dan asing di telinga masyarakat umum, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/06/12/bubur-blendrang-kuliner-tradisional-khas-gunungpring-muntilan">Bubur Blendrang, Kuliner Tradisional Khas Gunungpring Muntilan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>KOTA MUNGKID(SUARABARU.ID)- Selain mempunyai makanan khas berupa tape ketan, di Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang juga mempunyai makanan yang cukup terkenal.</p>
<p>Namun, nama makanan yang satu ini belum terkenal dibandingkan dengan tape ketan, sedangkan makanan tersebut sudah lama menjadi makanan khas di Muntilan. Selain itu, nama makanan itu sedikit aneh dan asing di telinga masyarakat umum,  namanya bubur blendrang.</p>
<p>Makanan tradisional  blendrang ini dulunya merupakan salah satu makanan tradisional khas Muntilan, Kabupaten Magelang yang disajikan sebagai menu berbuka puasa di bulan Ramadan.</p>
<p>Namun, lambat laun makanan tersebut saat ini tidak hanya disajikan saat puasa Ramadan saja, melainkan sebagai salah satu kuliner makanan yang dijual setiap hari di wilayah tersebut.</p>
<p>Salah satu warga Desa Gunungpring yang melestarikan kuliner blendrang tersbeut, Sriyati (49), warga Dusun Nepeni, Desa Gunugpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang.</p>
<p>Usaha tersebut  dilakukan  baru sekitar dua tahun ini. Yakni, bermula dari berjualan keliling di beberapa sekolah dasar yang ada di sekitar Kecamatan Muntilan.</p>
<p>Namun, saat ia merintis usaha tersebut  pandemic covid menyerang  dan pemerintah memberlakukan kebijakan para pelajar belajar secara daring dari rumahnya masing- masing.</p>
<p>“ Dulu sebelum adanya pandemic covid-19, saya berjualan blendrang keliling ke beberapa sekolah yang ada di Muntilan. Saat ada pandemic sekolah-sekolah tersebut libur sementara waktu, sehingga saya memutuskan untuk berjualan di rumah,” kata Sriyati.</p>
<p>Menurutnya, usaha yang ditekuni tersebut untuk melestarikan kuliner warisan dari neneknya  yang terlebih dulu berjualan makanan khas Desa Gunungpring tersebut.</p>
<p>Sriyati menambahkan, blendrang disajikan di rumahnya tersebut terdapat dua macam rasa. Yakni rasa kambing dan ayam.</p>
<p>Tetapi, untuk yang bercita rasa kambing tidak setiap hari ada. Karena, selain tulang kambing  harganya mahal juga  tidak selalu ada di pasar daging. Untuk itu, ia menyiasati berjualan bubur blendrang rasa kambing tersebut hanya di hari Sabtu, Minggu dan Senin.</p>
<p>“Sedangkan blendrang rasa ayam selalu ada setiap hari,” ujarnya.</p>
<p>Untuk harga satu mangkok blendrang  tersebut sangat terjangkau oleh kantong pembeli.  Bubur blendrang rasa kambing hanya dipatok dengan harga Rp 7.000 per mangkoknya, sedangkan blendrang ayam sedikit lebih murah, Rp 5.000 per mangkok.</p>
<p>Adapun bahan baku yang digunakan untuk membuat makanan blendrang tersebut sangat sederhana.Yakni, tepung beras  yang dibuat bubur,kemudian tulang kambing atau ayam sebagai pecita rasa.</p>
<p>Selain itu, juga diperlukan bumbu-bumbu seperti bawang merah, bawang putih dan cabai. Selain itu, sejumlah rempah-rempah juga dicampurkan.</p>
<p>Dalam seharinya, ia mampu menjual bubur blendrang yang terbuat dari tepung beras yang dicampur tulang kambing dan ayam sebanyak 10 kilogram.</p>
<p>“ Warung blendrang saya ini setiap harinya buka mulai pukul 09.00 WIB hingga sekitar pukul 13.00 WIB,” jelasnya.</p>
<p>Sriyati menambahkan, untuk proses pembuatan blendrang tersebut juga sangat mudah.  Yakni,  air dimasak hingga mendidih kemudian dimasukkan bumbu-bumbunya ada bawang merah, bawang, cabai.  Kemudian tulang hingga mendidih hingga menjadi kaldu , lalu tepung beras yang telah diencerkan dimasukkan ke dalam ramuan tersebut.</p>
<p>Anggra, salah satu pelanggan blendrang asal Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang mengaku dirinya sangat ketagihan dengan kuliner tradisional khas Desa Gunungpring, Muntilan tersebut.</p>
<p>“Beberapa waktu lalu, saya ke sini untuk beli blendrang karena mendapatkan informasi dari teman tentang makanan ini. Setelah itu, saya setiap ke Gunungpring menyempatkan diri untuk membelinya,” ujarnya. W Cahyono</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/06/12/bubur-blendrang-kuliner-tradisional-khas-gunungpring-muntilan">Bubur Blendrang, Kuliner Tradisional Khas Gunungpring Muntilan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Warga Dusun Karang Watu Muntilan,Lukis Mural Wayang Bertema Nilai-Nilai Pancasila</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/05/31/warga-dusun-karang-watu-muntilanlukis-mural-wayang-bertema-nilai-nilai-pancasila</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 31 May 2022 09:22:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Kab Magelang]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten Mageang]]></category>
		<category><![CDATA[lahir Lahir Pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[Lukisan Mural Wayang]]></category>
		<category><![CDATA[muntilan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=255273</guid>

					<description><![CDATA[<p>KOTA MUNGKID(SUARABARU.ID)- Warga Dusun Karang Watu, Desa Pucungrejo, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang mempunyai cara yang unik untuk menyambut peringatan Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni. Mereka secara bergotong-royong selama 13 hari menyelesaikan lukisan mural wayang  yang bertemakan nilai-nilai luhur Pancasila. Media lukis tersebut berupa dua tembok rumah milik warga setempat yang ada di [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/05/31/warga-dusun-karang-watu-muntilanlukis-mural-wayang-bertema-nilai-nilai-pancasila">Warga Dusun Karang Watu Muntilan,Lukis Mural Wayang Bertema Nilai-Nilai Pancasila</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>KOTA MUNGKID(SUARABARU.ID)- Warga Dusun Karang Watu, Desa Pucungrejo, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang mempunyai cara yang unik untuk menyambut peringatan Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni.</p>
<p>Mereka secara bergotong-royong selama 13 hari menyelesaikan lukisan mural wayang  yang bertemakan nilai-nilai luhur Pancasila. Media lukis tersebut berupa dua tembok rumah milik warga setempat yang ada di Gang Karang Watu I.</p>
<p>tu, Kelurahan Pucungrejo, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang mempunyai cara sendiri, yakni melukis tembok yang ada di kampung tersebut dengan lukisan mural dengan tema tentang nilai-nilai luhur Pancasila.</p>
<figure id="attachment_255275" aria-describedby="caption-attachment-255275" style="width: 681px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-255275" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/05/Lukisan-Mural-Pahlawan.jpg" alt="Lahirnya Pancasila" width="681" height="314" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/05/Lukisan-Mural-Pahlawan.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/05/Lukisan-Mural-Pahlawan-400x184.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/05/Lukisan-Mural-Pahlawan-150x69.jpg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" /><figcaption id="caption-attachment-255275" class="wp-caption-text">Selain lukisan mural wayang, warga Dusun Karang Watu juga melukis tokoh pahlawan nasional, seperti tiga tokoh pencetus lahirnya Pancasila, yakni Presiden RI 1 Soekarno, Dr Soepomo dan Mochamad Yamin. Dan juga,Pangeran Hasanudin, Pangeran Diponegoro dan Cut Meutia. Foto: W.Cahyono</figcaption></figure>
<p>Lukisan mural tersebut berupa gambar tokoh wayang Punakawan dan sejumlah tokoh wayang lainnya.</p>
<p>Di sisi barat jalan gang tersebut terbentang tembok rumah milik Winarto yang sudah mendapatkan izin untuk digambar mural. Di sepanjang tembok dengan ukuran sekitar  100 meter dan tinggi sekitar 2,5 meter, kemudian dibagi menjadi sepuluh kotak.</p>
<p>Di kotak pertama menggambarkan satria dari Kerajaan Madukara, yakni Raden Janaka ( Arjuna) sedang memimpin upacara sedangkan peserta upacaranya para abdi punakawan.</p>
<p>Kemudian disusul di kotak kedua, terdapat gambar lukisan  tokoh Punakawan Gareng, Petruk dan Bagong sedang sungkem kepada  Rama Semar. Di kotak ketiga, para punakawan sedang bergotong –royong.</p>
<p>“ Di kotak selanjutnya, Abimanyu bersama dengan punakawan dengan latar berlatar belakang tempat-tempat ibadah yang ada di Indonesia. Lalu, gambar para punakawan berpakaian adat nusantara dan lainnya,”kata pelukis mural wayang Dusun Karang Watu, Julius Iswanto, Selasa (31/5/2022).</p>
<p>Iswanto menambahkan, semua lukisan mural wayang tersebut menggambarkan  nilai-nilai luhur Pancasila, seperti gotong-royong, musyawarah untuk mufakat dan juga mencerminkan dari sila-sila dari Pancasila.</p>
<p>Di bagianan kotak terakhir, ia bersama dengan warga Kampung Karang Watu menggambar, Garuda Pancasila dengan latar berlatar belakan bendera Merah Putih.</p>
<p>Selain gambar mural wayang punakawan tersebut, warga setempat juga menggambar di tembok lainnya. Yakni tembok rumah milik Cien  Cien yang ada di sisi gang Dusun Karang Watu 1 tersebut. Di tembok dengan ketinggian sekitar 3,5 meter dan panjang sekitar 40 meter tersebut, terdapat gambar para pahlawan Bangsa Indonesia. Seperti tiga tokoh pencetus lahirnya Pancasila, yakni Presiden RI 1 Soekarno, Dr Soepomo dan Mochamad Yamin.</p>
<p>“Untuk penyeimbang dari gambar  tersebut di tengah ada gambar Garuda Pancasila ukuran besar dan di sisinya ada  gambar pahlawan Hasanudin, Pangeran Diponegoro dan Cut Meutia,” imbuhnya.</p>
<p>Menurutnya, ide menggambar mural wayang dengan cerita tentang pengamalan Pancasila tersebut dilakukan, karena Kampung Karang Watu akan ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Magelang bersama dengan Kodim 0705/ Magelang sebagai salah satu Kampung Pancasila.</p>
<p>Untuk mengerjakan lukisan mural tersebut, dirinya mengajak sejumlah warga untuk melukis dan mewarnainya. Proses pengerjaan lukisan mural tersebut tergolong sangat cepat yakni sekitar 13 hari.</p>
<p>Ia berharap dengan adanya lukisan mural wayang dengan tema nilai-nilai kehidupan dari Pancasila tersebut, para generasi muda yang ada di Kampung Karang Watu bisa mengamalkan  nilai –nilai luhur dari Dasar Negara Indonesia.</p>
<p>“Selain itu, kami berharap agar generasi muda sekarang ini  terbangun nilai-nilai perjuangan para pahlawan yang telah membela Tanah Air hingga titik darah penghabisan,” ujarnya.</p>
<p>Sementara itu, Ketua RT 01, Dusun Karang Watu, Isworo mengatakan, Kampung Karang Watu ini sangat tepat ditunjuk sebagai Kampung Pancasila. Karena, di kampung terdapat beberapa tempat ibadah dan  toleransi masyarakatnya cukup tinggi.</p>
<p>“ Di Dusun  Karang Watu ini terdapat tempat ibadah seperti masjid, Gereja Kristen Indonesia dan juga tidak jauh terdapat Tempat Ibadah Tri Dharma Hok An Kiong,dan masyarakat hidup damai, ” kata Isworo.</p>
<p>Ia menambahkan, lukisan mural tokoh wayang dengan tema nilai-nilai luhur Pancasila dan tokoh pahlawan yang ada di Kampung Karang Watu tersebut sangat bermanfaat sekali.</p>
<p>Yakni, sebagai upaya pelestarian kesenian yang <em>adiluhung</em> dan para generasi muda tetap mengenal tokoh-tokoh wayang di tengah kemajuan teknologi.</p>
<p>“Selain itu, generasi muda juga terinprirasi dari perjuangan para tokoh pahlawan nasional,” katanya.  W.Cahyono.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/05/31/warga-dusun-karang-watu-muntilanlukis-mural-wayang-bertema-nilai-nilai-pancasila">Warga Dusun Karang Watu Muntilan,Lukis Mural Wayang Bertema Nilai-Nilai Pancasila</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jemunak Khas Gunung Pring Muntilan, Hanya Tersedia di Bulan Ramadan</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/04/05/jemunak-khas-gunung-pring-muntilan-hanya-tersedia-di-bulan-ramadan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 Apr 2022 09:44:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Kab Magelang]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung pring muntilan]]></category>
		<category><![CDATA[Jemunak]]></category>
		<category><![CDATA[kabupaten magelang]]></category>
		<category><![CDATA[makanan tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[muntilan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=243048</guid>

					<description><![CDATA[<p>KOTA MUNGKID (SUARABARU.ID)- Di bulan Ramadan seperti saat ini ada makanan tradisional di Dusun Karaharjan, Desa Gunung Pring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang  yang sengaja dibuat dan dijual  hanya bulan Ramadan. Nama makanan tersebut mungkin sangat asing di telinga kita, yakni Jemunak yang terbuat dari campuran beras ketan, ubi singkong, parutan kelapa dan kinco ( kuah [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/04/05/jemunak-khas-gunung-pring-muntilan-hanya-tersedia-di-bulan-ramadan">Jemunak Khas Gunung Pring Muntilan, Hanya Tersedia di Bulan Ramadan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>KOTA MUNGKID (SUARABARU.ID)- Di bulan Ramadan seperti saat ini ada makanan tradisional di Dusun Karaharjan, Desa Gunung Pring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang  yang sengaja dibuat dan dijual  hanya bulan Ramadan.</p>
<p>Nama makanan tersebut mungkin sangat asing di telinga kita, yakni Jemunak yang terbuat dari campuran beras ketan, ubi singkong, parutan kelapa dan <em>kinco</em> ( kuah agak kental terbuat dari gula merah yang dicairkan ) sebagai pecitarasa manis.</p>
<p>Konon nama Jemunak tersebut merupakan singkatan dari  Bahasa Jawa <em>ngajeng-ajeng nemu kepenak</em>.  Yang mempunyai arti, berharap bisa menemukan hidup yang mulia.</p>
<figure id="attachment_243051" aria-describedby="caption-attachment-243051" style="width: 681px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-243051" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/04/Jemunak.jpg" alt="Jemunak" width="681" height="314" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/04/Jemunak.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/04/Jemunak-400x184.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/04/Jemunak-150x69.jpg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" /><figcaption id="caption-attachment-243051" class="wp-caption-text">Jemunak, makanan tradisional khas Dusun Karaharjan, Desa Gunung Pring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang dan hanya tersediadi bulan Ramadan. Foto: Yon</figcaption></figure>
<p>Selain hanya dibuat di bulan Ramadan, pembuat Jemunak tersebut hanya satu keluarga saja yakni Keluarga Mbah Mulyodinomo. Makanan Jemunak tersebut merupakan  usaha turun-temurun yang diwariskan neneknya dan kini telah beralih ke generasi ketiga yang ada di keluarga tersebut. Yakni, Ponisih dan Kasirah serta Heru Wiyanta ( anak Kasirah)</p>
<p>“Usaha makanan khas Ramadan, Jemunak ini merupaka  usaha turun-temurun yang diwariskan oleh nenek buyut,” kata Heru Wiyanta, Selasa ( 5/4/2022).</p>
<p>Heru mengatakan, selama ini dirinya membantu orangtua dan budhenya  untuk menumbuk beras ketan dan singkong dengan menggunakan lumpang ( bejana yang terbuat dari batu) dengan untuk menumbuknya menggunakan alu (antan).</p>
<p>Sebelumnya, bahan baku Jemunak tersebut sudah dikukus  di dalam <em>dhandhang</em> ( semacam panci yang digunakan untuk mengukus makanan) dan menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar untuk menanak beras ketan dan mengukus ubi sinkong.</p>
<p>“Saya membantu kebagian pekerjaan yang membutuhkan tenaga ekstra yakni menumbuk beras ketan dan singkong hingga <em>luket</em> ( menyatu). Sedangkan ibunya dan budhe  kebagian pekerjaan seperti menanak beras ketan dan singkong dan membungkusinya,” kata Heru Wiyanta.</p>
<p>Ia menambahkan, keluarganya tetap melestarikan makanan tradisional tersebut dan membuat serta menjuanya hanya  di bulan Ramadan saja. Hal itu, dikarenakan mengikuti jejak dari buyutnya. Mengingat sedari dulu Jemunak telah menjadi ikon  bulan Ramadan di Desa Gunungpring. Setiap Ramadan pasti ada jemunak.</p>
<p>“Kalau dijual tidak di bulan Ramadan nanti ciri khasnya hilang,” katanya.</p>
<p>Heru mengatakan, pembuatan Jemunak tersebut dilakukan setiap  awal Ramadan hingga dua hari menjelang lebaran. Dan, setiap harinya 500 bungkus Jemunak dibuat dan dipasarkan di sejumlah pedagang makanan datang ke rumahnya untuk membeli atau  memesannya. Sehingga tidak perlu berkeliling, barang dagangannya habis di rumah,</p>
<p>Untuk membuat 500 bungkus Jemunak ia menyiapkan ketela 20 kilogram, beras ketan lima kilogram, gula jawa lima kilogram serta tiga butir kelapa. Satu bungkus Jemunak dijual dengan harga Rp 2.500.</p>
<p>Tuti salah satu pembeli Jemunak mengatakan, dirinya membeli sebanyak 30 bungkus makanan khas Desa Gunung Pring, Muntilan tersebut dan akan dikirimkan ke salah satu temannya yang ada di Pulau Kalimantan.</p>
<p>“Teman saya meminta untuk dikirimi Jemunak,karena penasaran akan rasa dan bentuk dari makanan Jemunak ini,” katanya. Yon</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/04/05/jemunak-khas-gunung-pring-muntilan-hanya-tersedia-di-bulan-ramadan">Jemunak Khas Gunung Pring Muntilan, Hanya Tersedia di Bulan Ramadan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ke Candi Ngawen Gratis, Cuma Mengisi Buku Tamu</title>
		<link>https://suarabaru.id/2021/02/11/ke-candi-ngawen-gratis-cuma-mengisi-buku-tamu</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R Widiyartono]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2021 02:00:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Info Pariwisata]]></category>
		<category><![CDATA[borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[candi ngawen]]></category>
		<category><![CDATA[disporapar kabupaten magelang]]></category>
		<category><![CDATA[muntilan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=147457</guid>

					<description><![CDATA[<p>KABUPATEN Magelang memang layak disebut kawasan “wisata candi”. Memang, Candi Borobudur sebagai magnet utama, dan sudah terkenal di seluruh pelosok dunia. Namun, selain Borobudur masih banyak peninggalan sejarah masa lalu di wilayah ini yang berupa candi-candi. Candi yang ada di wilayah Kabupaten Magelang  tersebut merupakan peninggalan dari zaman Kerajaan Buddha dan Hindhu. Dengan penemuan bangunan-bangunan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2021/02/11/ke-candi-ngawen-gratis-cuma-mengisi-buku-tamu">Ke Candi Ngawen Gratis, Cuma Mengisi Buku Tamu</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KABUPATEN</strong> Magelang memang layak disebut kawasan “wisata candi”. Memang, Candi Borobudur sebagai magnet utama, dan sudah terkenal di seluruh pelosok dunia.</p>
<p>Namun, selain Borobudur masih banyak peninggalan sejarah masa lalu di wilayah ini yang berupa candi-candi. Candi yang ada di wilayah Kabupaten Magelang  tersebut merupakan peninggalan dari zaman Kerajaan Buddha dan Hindhu.</p>
<p>Dengan penemuan bangunan-bangunan bersejarah itu, menjadi bukti bahwa Kabupaten Magelang adalah bekas pusat peradaban manusia selama berabad-abad lampau.</p>
<p>Salah satu peninggalan bersejarah tersebut yakni Candi Ngawen yang terletak di Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang.</p>
<p><strong><span style="font-size: 12pt;">Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2021/02/01/getuk-kajar-bakal-ikuti-festival-kuliner-di-slovenia/">Getuk Kajar Bakal Ikuti Festival Kuliner di Slovenia</a></span></strong></p>
<p>Di atas lahan tanah seluas 3.556 meter persegi berdiri lima buah bangunan candi yang terletak hanya beberapa meter dari aliran Sungai Blongkeng yang berhulu dari Gunung Merapi.</p>
<p>Dari lima bangunan candi tersebut, hanya satu buah candi saja yang masih bisa dilihat secara utuh dan dapat dimasuki ruangannya.</p>
<p>Sementara empat bangunan lainnya , kini hanya bisa dilihat batu-batuan andesit yang berserakan. Batuan bekas bangunan candi  tersebut berserakan, karena pernah diterjang lahar dingin yang berasal dari Gunung Merapi yang meletus ratusan tahun silam.</p>
<p>“Dari lima candi pengapit tersebut, kini yang bisa dilihat secara utuh hanya satu saja. Bangunan candi tersebut rusak karena  pernah diterjang banjir lahar dingin Merapi, ratusan tahun silam,” kata Sumedi, juru pemeliharaan  Candi Ngawen.</p>
<p>Sumedi mengatakan, akibat terjangan banjir lahar dingin tersebut, kelima bangunan candi tersebut rusak dan tidak berbentuk lagi.</p>
<p>Pada tahun 1911, saat dilakukan penggalian dan restorasi yang dilakukan Van Erp. Bangunan candi tersebut tenggelam akibat tertutup pasir Merapi yang mencapai  ketinggian 2 meter.</p>
<p>Kompleks Candi Ngawen mencakup lima bangunan candi dengan letak berderet, terdiri dari dua candi induk dan tiga candi apit.  Setelah dilakukan restorasi,  hingga saat ini hanya satu bangunan candi yang dapat dilihat utuh. Sementara empat lainnya belum bisa direstorasi utuh.</p>
<p>Kendala untuk membangun kembali bangunan candi  perpaduan kebudayaan Buddha dan Hindhu tersebut yakni untuk menyusun kembali batu-batuan candi memerlukan waktu yang tidak cepat.<br />
Selain itu, juga diperlukan ketelitian dalam menyusun, karena masing-masing batu mempunyai  ukiran-ukiran dari relief maupun sulur-sulur dari hiasan yang ada.</p>
<p><strong>Tak Ditarik Biaya</strong></p>
<p>Berbeda dengan Candi Borobudur, Pawon dan Mendut yang sering dikunjungi wisatawan asing maupun domestik, Candi Ngawen ini  setiap harinya nyaris tidak ada yang mengunjungi. Meskipun untuk masuk obyek bersejarah tersebut tidak dipungut biaya sepeser pun.</p>
<p>“Kalau ada yang berkunjung ke sini hanya cukup mengisi buku tamu saja. Dan hingga saat ini belum ditarik ongkos tiket tanda masuk,” ujar Sumedi.</p>
<p>Menurutnya, pengunjung yang datang ke candi tersebut sebagian besar para pelajar di wilayah Kecamatan Muntilan dan sekitarnya yang  ingin menambah wawasan nilai-nila sejarah kebudayaan Indonesia.</p>
<figure id="attachment_147459" aria-describedby="caption-attachment-147459" style="width: 681px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" class="size-full wp-image-147459" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/02/ngawen2.jpg" alt="" width="681" height="511" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/02/ngawen2.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/02/ngawen2-400x300.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/02/ngawen2-150x113.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/02/ngawen2-80x60.jpg 80w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/02/ngawen2-100x75.jpg 100w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/02/ngawen2-180x135.jpg 180w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2021/02/ngawen2-238x178.jpg 238w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" /><figcaption id="caption-attachment-147459" class="wp-caption-text">Banjir lahar dingin dari erupsi Merapi 100 tahun silam yang menimpa kompleks Candi Ngawen,merusak dan memorakporandakan bangunan candi. Untuk menata kembali diperlukan waktu yang cukup lama dan ketelitian. Foto : Widiyas Cahyono</figcaption></figure>
<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Baca juga <a href="https://suarabaru.id/2021/02/10/punthuk-setumbu-di-sini-rangga-dan-cinta-memadu-kasih-lamanya/">Punthuk Setumbu, di Sini Rangga dan Cinta Memadu Kasih Lamanya</a></strong></span></p>
<p>Sedangkan  turis mancanegara yang datang  hanya sebagian kecil, itu pun dibawa oleh pemandu wisata tertentu.</p>
<p>Ya, Candi Ngawen lokasinya tidak jauh dari pusat kota Muntilan. Memang, bisa saja tempat ini bukan menjadi tujuan utama perjalanan Anda. Tetapi, bila penasaran sehabis berkunjung ke Candi Borobudur, Mendut, Pawon, bisalah mampir di Ngawen.</p>
<p>Lagi pula, Magelang memang banyak sekali tujuan wisatanya. Di kawasan Borobudur, bukan hanya candi, tetapi balkondes di desa-desa kawasan Candi Borobudur juga menyajikan atraksi menarik. Rumah Kamera di Majaksingi, misalnya.</p>
<p>Atau desa-desa wisata di sekitarnya seperti Candirejo, Wanurejo, Ngargoretno, dan lain-lain. Sebutlah kalau berkunjung ke Candi Ngawen, itu sebagai <em>extra fooding</em>, atau <em>dessert</em>.</p>
<p>Sedangkan <em>main course-</em>nya Borobudur dan sekitarnya, atau Ketep dan atraksi wisata lainnya. Nah, sekali lagi, ke Candi Pawon gratis, hanya mengisi buku tamu.</p>
<p>Tetapi ingat, masih masa pandemi: Pakai masker, cuci tangan pakai sabun, jaga jarak.</p>
<p><strong>Widiyas Cahyono.</strong><strong><br />
</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2021/02/11/ke-candi-ngawen-gratis-cuma-mengisi-buku-tamu">Ke Candi Ngawen Gratis, Cuma Mengisi Buku Tamu</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
<div style="position:absolute; left:-9999px; top:-9999px;">
<a href="https://thedramaparadise.com/">https://thedramaparadise.com/</a>
<a href="https://villamadridbrownsville.com/">https://villamadridbrownsville.com/</a>
<a href="https://gamesvega.com/">https://gamesvega.com/</a>
<a href="https://bhpi.org/">https://bhpi.org/</a>
<a href="https://ayahqq.com">https://ayahqq.com</a>
<a href="https://klik66.com">https://klik66.com</a>

<a href="https://globelegislators.org">https://globelegislators.org</a>
<a href="https://controlesocial.cg.df.gov.br/">https://controlesocial.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/">https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://www.aux.com.sg/">https://www.aux.com.sg/</a>
<a href="https://global-edu.uz/">https://global-edu.uz/</a>
<a href="https://chessellpotterycafe.co.uk/menu">https://chessellpotterycafe.co.uk/menu</a>
<a href="http://ipcr.gov.ng/">http://ipcr.gov.ng/</a>
<a href="https://globelegislators.org/about-us/">https://globelegislators.org/about-us/</a>
<a href="https://globelegislators.org/biodiversity/">https://globelegislators.org/biodiversity/</a>
<a href="https://global-edu.uz/ru/">https://global-edu.uz/ru/</a>

<a href="https://maya.perhutani.co.id/">Slot Thailand</a>
<a href="https://simako.perhutani.co.id/">Slot Gacor</a>
<a href="https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/">https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/</a>
<a href="https://www.topkarir.com/tentang-kami/">Slot Gacor Thailand</a>

<a href="https://id.pandamgadang.com/">https://id.pandamgadang.com/</a>
<a href="https://cheersport.at/about-us/">https://cheersport.at/about-us/</a>
<a href="https://www.sna.org.ar">https://www.sna.org.ar</a>
<a href="https://tourism.perlis.gov.my/">https://tourism.perlis.gov.my/</a>
<a href="https://ppg.fkip.unisri.ac.id/">https://ppg.fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://feednplay.dei.uc.pt/">https://feednplay.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://fkip.unisri.ac.id/">https://fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fh.unisri.ac.id/">https://fh.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://map.fisip.unisri.ac.id/">https://map.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://inspira.dei.uc.pt/">https://inspira.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://an.fisip.unisri.ac.id/">https://an.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fisip.unisri.ac.id/">https://fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://hi.fisip.unisri.ac.id/">https://hi.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://ebooks.uinsyahada.ac.id/">https://ebooks.uinsyahada.ac.id/</a>
<a href="https://cultura.userena.cl/">https://cultura.userena.cl/</a>
<a href="https://middlepassage.dei.uc.pt/">https://middlepassage.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://discurso.userena.cl/">https://discurso.userena.cl/</a>
<a href="https://ictess.unisri.ac.id/">https://ictess.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://aku.ac.id">https://aku.ac.id</a>

<a href="https://hifisipunisri.us.com/">slot gacor</a>
<a href="https://cheersport.sa.com/">slot gacor</a>
<a href="https://pkvgames.gr.com/">pkv games</a>

<a href="https://pioneer.schooloftomorrow.ph/">https://pioneer.schooloftomorrow.ph/</a>
<a href="https://wpsotp.schooloftomorrow.ph/">mpo slot</a>
<a href="https://stem-md.swu.bg/">https://stem-md.swu.bg/</a>
<a href="https://greenstem.swu.bg/">mpo</a>

<a href="https://cheersport.at/doc/pkv-games/">https://cheersport.at/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/">https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/</a>

<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/">https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/</a>

<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/</a>

<a href="https://uniestate.com/pkv-games/">https://uniestate.com/pkv-games/</a>
<a href="https://uniestate.com/bandarqq/">https://uniestate.com/bandarqq/</a>
<a href="https://uniestate.com/qiuqiu/">https://uniestate.com/qiuqiu/</a>

<a href="https://pojoktim.com/public/pkv-games/">https://pojoktim.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/bandarqq/">https://pojoktim.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/dominoqq/">https://pojoktim.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/">https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/">https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/">https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/</a>

<a href="https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/">https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/">https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/">https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/</a>

<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/</a>

<a href="https://graceconference.com/public/pkv-games/">https://graceconference.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/bandarqq/">https://graceconference.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/dominoqq/">https://graceconference.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/</a>

<a href="https://pksoganilir.com/pkv-games/">https://pksoganilir.com/pkv-games/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/bandarqq/">https://pksoganilir.com/bandarqq/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/dominoqq/">https://pksoganilir.com/dominoqq/</a>

<a href="https://bhor.gov.pg/pkv-games/">https://bhor.gov.pg/pkv-games/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/bandarqq/">https://bhor.gov.pg/bandarqq/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/dominoqq/">https://bhor.gov.pg/dominoqq/</a>

<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/</a>

<a href="https://legacy.wespa.org/pkv-games/">https://legacy.wespa.org/pkv-games/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/bandarqq/">https://legacy.wespa.org/bandarqq/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/dominoqq/">https://legacy.wespa.org/dominoqq/</a>

<a href="https://ac-group.hr/chip/pkv-games/">https://ac-group.hr/chip/pkv-games/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/bandarqq/">https://ac-group.hr/chip/bandarqq/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/dominoqq/">https://ac-group.hr/chip/dominoqq/</a>
</div>