<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>la liga Archives - SuaraBaru.id</title>
	<atom:link href="https://suarabaru.id/tag/la-liga/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<description>Media Online Tajam dan Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Feb 2026 07:16:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=5.9.13</generator>

<image>
	<url>https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2018/06/cropped-logofooter-32x32.png</url>
	<title>la liga Archives - SuaraBaru.id</title>
	<link>https://suarabaru.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Barca, Kegamangan di Akhir Perpacuan</title>
		<link>https://suarabaru.id/2026/02/21/barca-kegamangan-di-akhir-perpacuan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 21 Feb 2026 10:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[barcelona]]></category>
		<category><![CDATA[Girona]]></category>
		<category><![CDATA[Hansi Flick]]></category>
		<category><![CDATA[Kerapuhan]]></category>
		<category><![CDATA[la liga]]></category>
		<category><![CDATA[Liga Primer]]></category>
		<category><![CDATA[Penjaga Gawang]]></category>
		<category><![CDATA[real madrid]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=545386</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // kegamangan mengadang/ di pendakian akhir/ ketika persaingan memanas/ dan makin tajam/ inikah musuh sesungguhnya?/ rasa, jiwa, dan realita&#8230;// (Sajak “Di Puncak Pendakian”, 2026) KETEGANGANKAH yang sedang dihadapi oleh Barcelona dalam perpacuan akhir di La Liga menghadapi seteru utamanya, Real Madrid? Kita menangkap nuansa-nuansa. Ada suasana tertekan. Ada kondisi penuh ketegangan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/02/21/barca-kegamangan-di-akhir-perpacuan">Barca, Kegamangan di Akhir Perpacuan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-545388 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/02/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107-1.jpg" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/02/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107-1.jpg 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2026/02/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107-1-150x35.jpg 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// kegamangan mengadang/ di pendakian akhir/ ketika persaingan memanas/ dan makin tajam/ inikah musuh sesungguhnya?/ rasa, jiwa, dan realita&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak “Di Puncak Pendakian”, 2026)</strong></p>
<p><strong>KETEGANGANKAH</strong> yang sedang dihadapi oleh Barcelona dalam perpacuan akhir di La Liga menghadapi seteru utamanya, Real Madrid?</p>
<p>Kita menangkap nuansa-nuansa. Ada suasana tertekan. Ada kondisi penuh ketegangan. Ada kecemasan. Ada pula ketakutan. Lalu ditemukan masalah. Kedua klub “musuh bebuyutan” itu saling mengintip dan menyalip. Kita mengenal ungkapan Jawa, “<em>silih ungkih, singa lena&#8230;</em>”. saling mencari celah kelengahan lawan.</p>
<p>Dan, Barcelonakah yang tampak menghadapi ketertekanan di puncak pendakian? Ya, mirip dengan yang dihadapi Arsenal dari rongrongan Manchester City di Liga Primer.</p>
<p>Barca dan Madrid menyisakan 14 laga, dengan rivalitas perebutan trofi yang diperkirakan memanas sampai akhir.</p>
<p>Kekalahan mengejutkan Barca dari Girona pekan lalu membuat Madrid naik memimpin klasemen. Blaugrana gamang, karena ini adalah kekalahan kedua dalam sepekan. Sebelumnya, mereka dihumbalangkan Atletico Madrid 0-4 di semifinal <em>leg</em> pertama Copa del Rey.</p>
<p>Dua hasil buruk itu memunculkan tanda tanya, ada apa dengan Barca? Sedemikian mudahkah gawang Los Cules dibobol dengan gelontoran gol? Ada masalahkah pertahanan mereka yang sebenarnya punya lapis terakhir kiper setangguh Joan Garcia?</p>
<p><strong>Pengakuan Joan Garcia</strong><br />
Sang kiper mengakui, timnya perlu perbaikan di lini pertahanan. Dia menyebut Barca kebobolan terlalu banyak. Mereka baru mencatat 12 <em>cleansheet</em> dalam 38 laga, dan kebobolan 46 gol. Gawang Barca jebol pada setiap laga, dan kini sudah mencapai 25 gol.</p>
<p>“Kami para kiper berusaha menyelamatkan semua tembakan yang datang. Sayangnya, ada lebih banyak peluang daripada yang kami inginkan hari ini. Penyelamatan saya tak berarti banyak jika kami tidak meraih poin,” ujar Garcia seperti dikutip <em>Tribuna</em> (<em>detik.com</em>, 17-02-2026).</p>
<p>Menurut Joan Garcia, Barca perlu meningkatkan performa. “Kami terlalu mudah kebobolan. Kami perlu menganalisis ini. Kami memiliki waktu istirahat sekitar satu minggu tanpa laga di tengah pekan. Ini akan membantu kami menyelesaikan semuanya dan bekerja secara efektif”.</p>
<p>Barcelona kini mempersiapkan diri menjelang laga melawan Levante di pekan ke-25, Minggu besok. Mereka menempati posisi kedua klasemen dengan 58 poin dari 24 laga, dua poin di belakang Madrid yang mengalahkan Real Sociedad 4-1.</p>
<p><strong>Masalah di Pertahanan</strong><br />
Pelatih Hansi Flick juga mengakui kelemahan organisasi pertahanan. Dari keunggulan melalui gol Pau Cubarsi pada menit ke-59, akhirnya disamakan dan diungguli Girona.</p>
<p>Flick enggan membahas keputusan wasit terkait gol kedua Girona yang kontroversial, karena sebelumnya terjadi pelanggaran kepada Jules Kounde. “Saya tidak ingin berbicara tentang itu. Semua orang melihat situasi sebelum gol kedua. Girona pantas menang,” katanya.</p>
<p>Dia menilai, timnya menunjukkan pertahanan yang sangat buruk, terutama dalam situasi transisi. Timnya terlalu terbuka, dan lini tengah tidak berada pada posisi yang semestinya. Ini adalah alarm yang membutuhkan penangkal secepatnya (<em>bola.com</em>, 17-02-2026).</p>
<p>Kata Flick, masalah yang dihadapi bukan hanya kesalahan individu, tetapi juga koordinasi antarlini yang lemah. Sering terlambat menutup ruang, sehingga lawan mudah merambah ke kotak penalti tanpa mendapatkan tekanan yang berarti.</p>
<p>“Tim ini belum mencapai kondisi mental dan taktik yang optimal. Kami tidak merasa nyaman dan tidak menempatkan diri dengan baik. Tim ini tidak berada dalam kondisi yang bagus sekarang. Kami harus tenang dan kembali menjadi seperti sebelumnya,” ucap pelatih asal Jerman itu.</p>
<p>Barcelona masuk ke fase persaingan dengan Real Madrid yang menuntut kesiapan sebagaimana sering mereka hadapi pada musim-musim sebelumnya. Kematangan mental dan ketenangan menjadi penopang utama dari restorasi teknis terkait pertahanan yang diketahui rapuh. Kita menunggu perbaikan apa yang akan dilakukan Flick. Selama ini, Barca dikenal sebagai tim dengan produktivitas gol tinggi, namun kini mereka disibukkan oleh kerapuhan pertahanan.</p>
<p>Fase ketegangan seperti ini memang biasa muncul pada saat-saat menentukan. Ada-ada saja masalahnya. Di Liga Primer, Arsenal mengalami dalam tiga musim terakhir. Sangat dijagokan meraih trofi, namun terpeleset di saat-saat akhir. Apakah ini adalah musim mereka untuk berjaya, seperti juga Barcelona yang berjuang mempertahankan gelar juara?</p>
<p>Lamine Yamal dkk perlu secepatnya memperbaiki kelemahan yang jarang mereka alami sebelumnya. Apakah kerapuhan pertahanan itu dipicu oleh ketegangan menghadapi persaingan yang makin membara?</p>
<p>Anda pasti paham, kondisi ini pada sisi lain, menumbuhkan kepercayaan diri bagi para rival, terutama Real Madrid&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.Id">Suarabaru.Id</a></em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2026/02/21/barca-kegamangan-di-akhir-perpacuan">Barca, Kegamangan di Akhir Perpacuan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Yamal Vs Doue, Calon Penerus Persaingan Messi Vs Ronaldo?</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/06/14/yamal-vs-doue-calon-penerus-persaingan-messi-vs-ronaldo</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Jun 2025 10:00:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[barcelona]]></category>
		<category><![CDATA[Desire Doue]]></category>
		<category><![CDATA[la liga]]></category>
		<category><![CDATA[Lamine Yamal]]></category>
		<category><![CDATA[Liga Champions]]></category>
		<category><![CDATA[Ligue 1]]></category>
		<category><![CDATA[Paris Saint Germain]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Timnas Prancis]]></category>
		<category><![CDATA[Timnas Spanyol]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=478984</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // selalu ada cercah cahaya/ sepak bola tak henti melahirkan talenta/ menciptakan era/ dengan keajaiban-keajaiban/ dan kisah-kisah media// (Sajak “Era Yamal”, 2025) ERA Kylian Mbappe dan Erling Haaland boleh jadi tidak akan memuncak lebih dari level saat ini, tak sampai menandingi era rivalitas sesengit Lionel Messi versus Cristiano Ronaldo. Dalam lebih [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/06/14/yamal-vs-doue-calon-penerus-persaingan-messi-vs-ronaldo">Yamal Vs Doue, Calon Penerus Persaingan Messi Vs Ronaldo?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-478986 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/06/logo-bola-bola.jpg" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/06/logo-bola-bola.jpg 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/06/logo-bola-bola-150x35.jpg 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// selalu ada cercah cahaya/ sepak bola tak henti melahirkan talenta/ menciptakan era/ dengan keajaiban-keajaiban/ dan kisah-kisah media//</em><br />
<strong>(Sajak “Era Yamal”, 2025)</strong></p>
<p><strong>ERA</strong> Kylian Mbappe dan Erling Haaland boleh jadi tidak akan memuncak lebih dari level saat ini, tak sampai menandingi era rivalitas sesengit Lionel Messi versus Cristiano Ronaldo.</p>
<p>Dalam lebih dari satu dekade, Messi dan Ronaldo memusatkan era dalam satu persaingan. Ada nama Neymar Junior, Phil Foden, Robert Lewandowski, Kylian Mbappe, atau Mohamed Salah, namun Messi dan Ronaldo tak tergoyahkan di tingkat “ke-dewa-an” yang tak henti diperbandingkan: siapa yang layak disebut sebagai Greatest of All Times (GOAT), yang terbaik sepanjang masa.</p>
<p>Banyak pula <em>wonderkid</em> yang muncul dan digadang-gadang sebagai The Next Messi atau New Ronaldo, namun tak ada yang konsisten sampai ke level dua pemain itu. Sama, seperti ketika dulu orang menunggu kehadiran Pele baru, Maradona baru, atau Zidane baru, yang akhirnya mewujud dalam performa sehebat Messi dan Ronaldo.</p>
<p>Dalam setahun ini hadir Lamine Yamal Nasraoui Ebana, yang telah menunjukkan peran penting bagi Barcelona dan tim nasional Spanyol. Lalu dari ajang Liga Champions musim ini, hadir “daun muda” lainnya, Desire Doue yang memperlihatkan kontribusi penting bagi permainan sang juara, Paris St Germain.</p>
<p>Keduanya, yang masih 17 dan 19 tahun, dalam gambaran dasawarsa ke depan, terproyeksi sebagai pelanjut persaingan khusus La Pulga vs CR7. Otak-atik media ini mengapung setelah Liga Champions 2025 tuntas dengan jejak penampilan memikat kedua remaja.</p>
<p><strong>Fakta dan Tren Mediatika</strong><br />
Rivalitas untuk membuktikan siapa yang paling layak menyandang predikat GOAT bagai tak pernah berhenti &#8212; terutama dari olahan media &#8211;, walaupun statistik capaian akhirnya menyimpulkan: Messi lebih unggul lewat trofi Piala Dunia 2022, dua kali Copa Amerika 2021 dan 2023, dan penghargaan individual delapan kali Ballon d’Or.</p>
<p>Ronaldo yang meraih Euro 2016 bersama Portugal, lima trofi Ballon d’Or, dan pencetak gol terbanyak dalam sejarah (936 gol untuk tim nasional dan klub), digambarkan sebagai pemain bintang produk kerja keras dan spartanitas disiplin latihan; sedangkan Leo Messi merupakan talenta yang memang dilahirkan untuk menjadi pesepak bola terhebat. Dia memiliki semua aspek teknis yang unggul dibandingkan dengan pesepak bola mana pun.</p>
<p>Dengan segala plus minus, keduanya akan abadi sebagai bagian dari kehebatan para megabintang sepak bola. Mulai dari Garrincha, Jairzinho, Pele, Alberto Di Stefano, Ferenc Puskas, George Best, Franz Beckenbauer, Johan Cruyff, Mario Kempes, Rivelino, Zico, Socrates, Roberto Baggio, Rivaldo, Ronaldo Luiz Nazario, Ruud Gullit, Marco van Basten, Eric Cantona, Zinedine Zidane, Ronaldinho, Diego Maradona, Pablo Aimar, Neymar Junior, dan banyak mutiara lainnya.</p>
<p>Pencapaian kedua “alien“ itu adalah fakta, yang oleh media banyak diolah sebagai tren yang diviralkan menjadi sajian publisitas tak pernah kering. Dari lalu lintas mobilitas klub, aksi-aksi teknis dalam pertandingan, hingga pernak-pernik kehidupan personal. Semua menambah pancaran kekuatan magnetik dari Messi maupun Ronaldo yang sebenarnya memiliki perbedaan performa pribadi: antara kecenderungan sebagai sosok introvert dan ekstrovert.</p>
<p>Begitulah, realitas bicara: Messi dan Ronaldo memberi warna dalam era panjang persaingan. Dunia harus menunggu lama, siapa yang kira-kita bakal menjadi penerus untuk menciptakan era baru, sampai akhirnya muncul dua nama paling menjanjikan: Lamine Yamal dan Desire Doue.</p>
<p><strong>Gambaran Tampilan</strong><br />
Pada usia remaja, 17 tahun, Lamine Yamal menjadi pemain termahal dunia versi CIES Football Observatory dengan nilai 402,3 juta euro (sekitar Rp 7,52 triliun). Dia mengungguli Erling Haaland (Rp 4,48 triliun), dan Kylian Mbappe (Rp3,6 triliun).</p>
<p>Pemain berdarah Maroko dan Guinea Ekuatorial itu menjadi kunci Barcelona. Musim 2024-2025 ini dia mencetak 18 gol dan 21 <em>assist</em> dari 4.548 menit bermain. Dia berkontribusi langsung terhadap 39 gol Blaugrana. Statistik itu diwarnai dengan eksepsionalitasnya: dribel halus penuh magika, cepat dalam menusuk pertahanan lawan, kaki kiri mematikan, dan yang menonjol dia punya visi matang permainan.</p>
<p>Di semifinal Euro 2024, Yamal mencetak gol indah ke gawang Prancis, negara Desire Doue yang memukau di final Liga Champions musim ini. Doue menjadi pemain terbaik PSG dan sangat menonjol saat mengalahkan Internazionale Milan 5-0. Dia menyumbang dua gol.</p>
<p>Pelatih Luis Enrique bisa memoles remaja 19 tahun itu menjadi senjata penting PSG sejak awal 2025, dan menjadi bintang final Liga Champions. Doue bagai menyampaikan pesan, Les Parisiens tidak lagi membutuhkan Neymar maupun Mbappe, dua bintang sebelumnya.</p>
<p>Pemain yang memperkuat Rennes pada 2022-2024 ini, tahun lalu memilih menerima pinangan PSG dan menolak Bayern Muenchen yang juga tertarik menggunakan jasanya. Terbukti, pilihan Doue tidak salah. Dia menjadi pilihan utama Enrique.</p>
<p>Pemain kelahiran Angers 3 Juni 2005 dengan nama asli Desire Nonka-Maho Doue itu disebut-sebut memiliki keanggunan seni sepak bola Brazil. Musim ini dia bermain 3.019 menit, lebih sedikit dari Yamal, dengan mencetak 15 gol.</p>
<p>Sementara itu, tak sedikit yang memperbandingkan, dalam usia 17 tahun, lebih hebat mana capaian Lamime Yamal dengan Messi dan Ronaldo?</p>
<p>Dia telah 100 kali bermain untuk Barca, yang ditandai dengan penampilan ciamik melawan Inter Milan di Barcelona, 1 Mei lalu. Skor akhir 3-3. Yamal menjadi motor serangan, dengan membuka gol lewat aksi individual di kotak penalti. Bahkan ketika Barca dikalahkan La Beneamata 3-4 di San Siro dalam leg kedua, aksi-aksi Yamal juga begitu memikat.</p>
<p>Dalam catatan <em>TNT Sports</em>, Yamal telah jauh meninggalkan Leo Messi dan Ronaldo. Jumlah pertandingan, gol, dan <em>assist</em>-nya melewati Messi dan Ronaldo saat sama-sama berusia 17 tahun.</p>
<p>Yamal telah 100 kali tampil, mencetak 22 gol dan 33<em> assist</em>. Di usia 17, Messi baru bermain 9 kali, membukukan satu gol dan tanpa <em>assist</em>. Sedangkan Ronaldo, yang bermain 19 kali dengan 5 gol dan 4 assist.</p>
<p>Dari segi trofi, Yamal juga jauh melewati. Dia memenangkan gelar La Liga 2023-2024, Copa del Rey 2024-2025, dan Piala Super Spanyol. Bersama tim nasional Spanyol, dia meraih gelar Euro 2024. Dia meraih penghargaan individual Kopa Trophy 2024 sebagai pemain terbaik dunia untuk usia di bawah 21 tahun.</p>
<p>Sedangkan Messi meraih gelar La Liga dan Piala Dunia U20. Ronaldo dalam usia yang sama baru memenangkan gelar Piala Super Portugal.</p>
<p>Nah, kini dunia menunggu, apakah <em>wonderkid</em> lainnya, Desire Doue benar-benar bakal meningkat, menciptakan rivalitas dengan remaja yang menghadirkan puja-puji, Lamine Yamal, menerusi persaingan sengit Messi dan Ronaldo dalam lebih dari satu dasawarsa.</p>
<p>Hingga berakhirnya musim 2024-2025 ini, tengara sudah dinyalakan oleh dua anak ajaib itu, untuk melupakan nama-nama yang lebih dulu mapan seperti Haaland, Mbappe, Vinicius Junior, juga <em>wonderkid</em> lain seperti Jude Bellingham, Cole Palmer, Nico Williams, atau Claudio Etcheverri.</p>
<p>“Anak ini telah melakukan banyak hal dengan sangat baik di klub, dan tim nasional yang sangat membantunya. Suasana yang hebat baginya untuk menunjukkan kualitas. Biarkan dia tumbuh, jangan membuatnya tertekan, sehingga kita dapat menikmati bakat seperti ini selama bertahun-tahun. Saya ingin melepaskan tekanan darinya dan membiarkannya sendiri. Dia punya bakat besar,” ungkap Cristiano Ronaldo di situs UEFA (<em>detik.com</em>, 8 Juni 2025).</p>
<p>Simak pula kata Pep Guardiola, pelatih legendaris yang mengikuti perkembangan Leo Messi sejak remaja. “Saya tak akan mengatakan dia seperti Leo, maaf, karena bagi saya, tidak akan pernah ada pemain di dunia ini yang seperti pemain Argentina itu. Mustahil,” katanya.</p>
<p>Anda hanya perlu mencatat dua nama ini: Lamine Yamal dan Desire Doue, yang bukan tidak mungkin bakal bersaing menerusi Messi versus Ronaldo&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.Id">Suarabaru.Id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/06/14/yamal-vs-doue-calon-penerus-persaingan-messi-vs-ronaldo">Yamal Vs Doue, Calon Penerus Persaingan Messi Vs Ronaldo?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>El Clasico, dan Musim Superior Barca</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/05/13/el-clasico-dan-musim-superior-barca</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 May 2025 08:43:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[SUARA Anda]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[barcelona]]></category>
		<category><![CDATA[El Clasico]]></category>
		<category><![CDATA[Katalonia]]></category>
		<category><![CDATA[la liga]]></category>
		<category><![CDATA[Liverpool]]></category>
		<category><![CDATA[Manchester United]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Raja]]></category>
		<category><![CDATA[real madrid]]></category>
		<category><![CDATA[Spanyol]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=474118</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS HASIL akhir 4-3 dalam el clasico pamungkas musim 2024-2025, menjadi penegasan dominasi Barcelona atas Real Madrid. Musim ini, La Liga ditandai empat laga dua musuh bebuyutan itu, yang semuanya dimenangi oleh Barca. Di La Liga (26/10/2024) Real Madrid kalah 0-4, lalu di Piala Super Spanyol (12/1/2025) Madrid tumbang 2-5. Dalam final [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/05/13/el-clasico-dan-musim-superior-barca">El Clasico, dan Musim Superior Barca</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong>Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><img loading="lazy" class="size-full wp-image-474119 alignleft" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/05/WhatsApp-Image-2022-12-10-at-06.22.15.jpg" alt="" width="150" height="195" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/05/WhatsApp-Image-2022-12-10-at-06.22.15.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/05/WhatsApp-Image-2022-12-10-at-06.22.15-115x150.jpg 115w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" /><strong>HASIL</strong> akhir 4-3 dalam <em>el clasico</em> pamungkas musim 2024-2025, menjadi penegasan dominasi Barcelona atas Real Madrid. Musim ini, La Liga ditandai empat laga dua musuh bebuyutan itu, yang semuanya dimenangi oleh Barca.</p>
<p>Di La Liga (26/10/2024) Real Madrid kalah 0-4, lalu di Piala Super Spanyol (12/1/2025) Madrid tumbang 2-5. Dalam final Copa del Rey (26/4/2025) Barcelona unggul 3-2, dan terakhir di pertandingan liga (11/5/2025) Barca melengkapi kemenangan 4-3.</p>
<p>Barca tak sekadar unggul. Lebih dari itu, membuat catatan hebat dengan mencetak total 16 gol dan hanya kebobolan tujuh kali. Blaugrana mengukir rekor mencetak 16 gol ke gawang Los Blancos dalam satu musim, melewati 13 gol pada 2011-2012 dan catatan Espanyol pada 1929-1930.</p>
<p>Secara keseluruhan, dalam sejarah <em>el clasico</em>, Real Madrid masih unggul 106-104 dari 261 pertemuan. Duel kedua klub itu selalu penuh komplikasi, aneka ketegangan dan unjuk para bintang sebagai aktor-aktor dengan bermacam kisah laga yang mengikuti.</p>
<p>Tak hanya menyimak sepak bola, di laga itu kita merasakan ketegangan dalam mempertaruhkan kehormatan, harga diri, identitas, aneka drama manusia yang beraroma kebencian dan permusuhan. Taktik dan teknik sepak bola seakan-akan larut menjadi urusan nomor sekian.</p>
<p>Pertemuan dua klub ini memberi warna yang berbeda dibandingkan dengan laga-laga klasik lain di sejumlah liga di Eropa.<em> El clasico</em> &#8212; di Bundesliga Jerman diberi label<em> Der Klassiker</em> antara Bayern Muenchen vs Borussia Dortmund, atau duel AC Milan vs Internazionale Milan di Liga Seri A Italia yang menyajikan Derby Della Madonnina, duel klasik Liverpool vs Manchester Unted di Liga Primer, dan <em>Le Classique</em> antara Marseille vs Paris St Germain di Ligue 1 Prancis.</p>
<p>Musim ini, duel dua klub elite Spanyol itu dinuansai dengan aneka tudingan keterlibatan wasit. Madrid beberapa kali curhat, dan pada saat yang sama Barca juga menyampaikan keluhan. Terakhir, menjelang final Copa del Rey, kubu Madrid mengapungkan opini di media mereka, bahwa penunjukan wasit Ricardo de Burgos Bengoetxea beraroma <em>setting</em> La Liga yang merugikan mereka.</p>
<p>Opini tersebut membuat terganggu kehidupan keluarga sang wasit. Di sekolah, anaknya di-<em>bully</em>. Cara Madrid menuding wasit secara verbal mengundang antipati sejumlah pihak, yang menduga Los Merengues mencoba mengalihkan perhatian apabila kalah dari Barca.</p>
<p><strong>Nuansa Politik</strong><br />
Rivalitas dua tim besar itu memiliki sejarah panjang, terkait dengan dinamika politik Spanyol, dimulai dari partai-partai politik negeri itu yang menggunakan sepak bola sebagai bagian dari upaya mendulang massa.</p>
<p><em>El clasico</em> pertama kali digelar di Stadion Hipodromo Madrid pada 13 Mei 1902. Saat itu Barca menang 3-1.</p>
<p>Rivalitas Barcelona dan Madrid juga tak terlepas dari sejarah perang sipil, gesekan antara bangsa Spanyol dan orang-orang Catalunya. Real Madrid adalah representasi kaum Castille (kerajaan) Spanyol, sementara Barcelona mewakili Katalonia dari daerah otonomi yang pernah ditindas. Katalonia dicap sebagai pemberontak separatis.</p>
<p>Era kediktatoran Jenderal Franco (1939-1973) menjadikan Real Madrid sebagai representasi identitas. Dia membuat El Real superior, dengan mem-<em>pressure</em> klub-klub pesaing. Selain Barcelona yang mewakili Katalonia, Athletic Bilbao sebagai wajah Basque Country juga diposisikan menjadi musuh Madrid.</p>
<p>Pada 1941, Athletic dipaksa berganti nama menjadi Atletico, karena Sang Diktator melarang bahasa apa pun selain Castellano sebagai bahasa resmi Spanyol. Los Leones juga harus menghapus kebijakan yang hanya menggunakan pemain asal Basque.</p>
<p>Latar belakang sejarah itu memicu persaingan dan kebencian di dua kubu. Di era moderen, rivalitas makin terbumbui oleh tren mediatika dengan mencuatkan detail representasi identitas dalam berbagai sisi. Barcelona menjadi musuh bebuyutan Real Madrid!</p>
<p>Persaingan itu mewujud dalam laga yang selalu panas dan penuh komplikasi. Profesionalisme sepak bola, yang antara lain ditandai dengan kepindahan dari satu klub ke klub lain, mengetengahkan drama-drama menegangkan ketika pemain Madrid pindah ke Barca, atau sebaliknya.</p>
<p>Misalnya, kisah Luis Enrique yang hijrah dari Madrid ke Barca, lalu Luis Figo dari Barca ke Madrid, menjadi bumbu panas dalam setiap <em>el clasico</em>. Sebaliknya, Bernd Schuster, Michael Laudrup, lalu Ronaldo Luis Nazario adalah sebagian di antara pemain Barca yang memutuskan hengkang ke Madrid.</p>
<p><strong>Dominasi Barca</strong><br />
Musim 2024-2025 ini, dengan empat kemenangan beruntun, Barcelona memperlihatkan dominasi dalam <em>el clasico</em>. Sejarah terbaru mengetengahkan para pesepak bola dengan kemampuan eksepsional seperti Lamine Yamal, Raphinha, Robert Lewandowski, Fermin Lopez, Ferran Torres, atau Pedri Gonzales beradu kepandaian dengan Kylian Mbappe, Vinicius Junior, Jude Bellingham, Luka Modric, atau Rudrygo.</p>
<p>Hasil empat laga klasik terakhir itu menegaskan, Barca memiliki jalan keluar dan mentalitas untuk memenangi persaingan yang kini terus dipersubur oleh media dengan segala keunikan dan pernak-perniknya.</p>
<p>Betapa kompleks: saling curiga dan menuding keberpihakan wasit, bagaimana adu skema taktik antara kedua pelatih, dan formula untuk meracik potensi-potensi pembeda yang dimiliki. Ya, <em>el clasico</em> tak ada matinya&#8230;</p>
<p><em>// bukan sembarang pertandingan/ dua raksasa beradu kesaktian/ duel klasik memuat gengsi/ kehormatan yang melewati sepak bola/ dia telah menjadi kehidupan/ bahkan lebih dari itu&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak “El Clasico”, 2025)</strong></p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan Suarabaru.Id, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/05/13/el-clasico-dan-musim-superior-barca">El Clasico, dan Musim Superior Barca</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Trisula Barca, dari Rekor ke Rekor</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/04/26/trisula-barca-dari-rekor-ke-rekor</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Apr 2025 10:00:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[barcelona]]></category>
		<category><![CDATA[la liga]]></category>
		<category><![CDATA[Liga Champions]]></category>
		<category><![CDATA[Lionel Messi]]></category>
		<category><![CDATA[Luis Suares]]></category>
		<category><![CDATA[Neymar Junior]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Treble]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=471376</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // keterpaduan bisa menghadirkan aroma maut/ dari pasangan sehati/ disatukan oleh telepati/ sepak bola mengenalnya sebagai chemistry/ satu hati satu rasa/ menjadi bahasa dahsyat/ rekor demi rekor&#8230;// (Sajak “Trisula Barca”, 2025) WAKTU sudah berlalu, tetapi sejarah akan abadi. Dan, bukankah acapkali, sejarah berulang dengan aktor-aktor baru, dengan atmosfer baru? Juga terinspirasi [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/04/26/trisula-barca-dari-rekor-ke-rekor">Trisula Barca, dari Rekor ke Rekor</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-471377 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/04/BOLA-BOLA-LOGO-3-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/04/BOLA-BOLA-LOGO-3-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/04/BOLA-BOLA-LOGO-3-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/04/BOLA-BOLA-LOGO-3.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// keterpaduan bisa menghadirkan aroma maut/ dari pasangan sehati/ disatukan oleh telepati/ sepak bola mengenalnya sebagai chemistry/ satu hati satu rasa/ menjadi bahasa dahsyat/ rekor demi rekor&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak “Trisula Barca”, 2025)</strong></p>
<p><strong>WAKTU</strong> sudah berlalu, tetapi sejarah akan abadi. Dan, bukankah acapkali, sejarah berulang dengan aktor-aktor baru, dengan atmosfer baru? Juga terinspirasi oleh kejayaan masa lalu?</p>
<p>Anda mungkin menandai, mungkin pula menilai sebagai sekadar lintasan masa, ketika Barcelona memiliki trio penyerang yang membikin kiper dan pertahanan lawan bergidik dalam keterancaman. Lionel Messi &#8211; Luis Suarez &#8211; dan Neymar Junior (MSN) membentuk “trisula” yang seolah-olah melewati batas-batas teknis kemampuan manusia, kombinasi mematikan yang tak bisa dilakukan oleh pasangan penyerang mana pun. Selain unjuk produktivitas gol, ketiganya juga sering memamerkan trik-trik menghibur, kadang dengan <em>nutmeg</em> yang “tidak masuk akal”.</p>
<p>Pada musim 2015-2016, tiga sekawan ini membukukan 131 gol di semua ajang, dan menjadi penyerang paling tajam di abad ke-21.</p>
<p>Sebelumnya, pada musim 2014-2015, tridente ini mencetak 122 gol. Dalam catatan rekor, pada 2011-2012 kita mengenal trio Real Madrid: Cristiano Ronaldo &#8211; Karim Benzema &#8211; Gonzalo Higuain, yang mencetak 118 gol.</p>
<p>Dalam rentang waktu 2014-2017, dari 450 pertandingan, Messi menyumbang 153 gol, Suarez 121 gol, dan Neymar 90 gol. Mereka meraih tiga trofi La Liga, tiga juara Copa del Rey, satu Liga Champions, dan sekali juara Piala Dunia Antarklub.</p>
<p>Pelatih Barcelona, Luis Enrique membentuk Trisula MSN pada 2014. Trio itu bubar pada 2017 saat Neymar memilih pindah ke klub Ligue 1, Paris St Germain. Berikutnya Suarez hijrah ke Atletico Madrid pada 2020, lalu 2021 Messi menyusul Neymar ke PSG.</p>
<p>Jauh sebelum itu, pada era 1990-an, di Liga Seri A, Internazionale Milan juga memiliki Trio Jerman yang berwibawa: Juergen Klinsman &#8211; Andreas Brehme &#8211; dan Lothar Matthaeus. Sedangkan AC Milan membangun Tim Impian dengan tiga bintang Belanda: Ruud Gullit &#8211; Frank Rijkaard &#8211; Marco van Basten.</p>
<p>Sebelumnya, di era kejayaan Diego Maradona pada 1980-an di San Paolo, Napoli memiliki trio dahsyat Maradona &#8211; Bruno Giordano &#8211; Antonio Careca yang populer dengan sebutan Ma-Gi-Ca.</p>
<p><strong>Trisula Baru</strong><br />
Kerinduan fans Barca kepada kehebatan Trio MSN seperti disegarkan oleh kemunculan tiga penyerang yang tak kalah tajam. Setelah 10 tahun berlalu, taktikus Hansi Flick memadukan Robert Lewandowski, Raphinha, dan Lamine Yamal menjadi “naga berkepala tiga” yang mengerikan.</p>
<p>Yang menarik, Trio LRY berjarak jauh dalam usia. Lewy 36, Raphinha 27, dan Yamal 17. Meskipun sudah 36 tahun, Lewandowski tetap memperlihatkan ketajaman. Pemain asal Polandia ini memiliki instink gol luar biasa, dan punya karakter sebagai pemimpin di lini serang.</p>
<p>Sedangkan Raphinha, sebagai penyerang sayap dikenal cepat dan berkemampuan dribling eksepsional. Dia unggul dalam manuver merobek pertahanan lawan untuk memberikan umpan matang kepada rekan yang “muncul dari belakang”. Pemain asal Brazil itu selalu menjadi ancaman bagi pertahanan lawan.</p>
<p>Lamine Yamal Nasraoui Ebana, yang belum genap 17 tahun, memperlihatkan kematangan sebagai pengatur serangan. Gocekan bola pemain berdarah Maroko dan Guinea Khatulistiwa ini sangat memukau, dengan umpan-umpan terukur yang melayani para penyerang. Lewandowski sering dimanjakan oleh umpan dari aksi-aksi genius Yamal. Hingga pekan kemarin, Lewandowski menabung 40 gol, Raphinha 27 gol, dan Yamal 14 gol di semua ajang.</p>
<p>Dari pengamatan Avram Grant dari UEFA, walaupun ketiga bintang itu berbeda gaya, namun saling melengkapi. “Raphinha sering tajam menusuk dari belakang, Lewandowski striker klasik, dan Yamal punya ketenangan saat membawa bola,” kata Grant.</p>
<p>Dia memuji Hansi Flick yang sempurna meracik tridente ini. Lewy menjadi <em>finisher</em> utama, Raphinha eksplosif di sayap, dan Lamine Yamal selalu siap dengan umpannya dari tengah. “Barcelona menyampaikan pesan kuat, terutama tentang kualitas trisula mereka,” tulisnya dalam sebuah laporan UEFA.</p>
<p><strong>Trisula Klub-klub</strong><br />
Saat ini, sejumlah klub sepak bola Eropa juga memiliki trisula andal, walaupun tidak semengkilap Trio LRY. Liverpool punya Mohamed Salah &#8211; Luis Diaz &#8211; Darwin Nunez; Chelsea dengan Cole Palmer &#8211; Nicolas Jackson &#8211; Noni Madueke; Bayern Muenchen mengandalkan Harry Kane &#8211; Jamal Musiala &#8211; Serge Gnabry; dan Borussia Dortmund meracik Jamie Gottens &#8211; Serhou Guirassy &#8211; Karim Adeyemi. Arsenal juga memiliki tiga penyerang andal Kai Haverts &#8211; Declan Rice/Gabriel Martinelli &#8211; Bukayo Saka.</p>
<p>Di Liga Spanyol, rivalitas Barcelona dengan Real Madrid ditandai antara lain dengan adu kombinasi bintang. Hansi Flick memercayakan ketajaman gol pada Trio Lewy &#8211; Raphinha &#8211; Yamal, sementara arsitek Los Blancos Carlo Ancelotti mengandalkan Kylian Mbappe, Jude Bellingham, dan Vinicius Junior. Pada 2009, di bawah pelatih Zinedine Zidane, Madrid pernah membentuk tridente hebat BBC: Karim Benzema &#8211; Gareth Bale &#8211; Cristiano Ronaldo.</p>
<p>Musim ini, Trisula Barca terbukti lebih moncer, dan memimpin tim menuju trofi juara. Barcelona berpeluang meraih <em>treble</em>: La Liga, Copa del Rey, dan Liga Champions,</p>
<p>Trio MSN memberi catatan khusus dengan sejarah yang kini berlanjut ke Trisula LRY. Kini waktu memberi ruang kepada trisula baru Barca untuk menorehkan sejarah baru, dengan ekor baru, dengan atmosfer baru.</p>
<p>Mampukah Hansi Flick menjaga performa trisulanya itu untuk mendulang status sebagai “raja”, dengan ketajaman gol-gol di level liga dan di panggung Eropa?</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.Id">Suarabaru.Id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Jengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/04/26/trisula-barca-dari-rekor-ke-rekor">Trisula Barca, dari Rekor ke Rekor</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Seperti Apa Lamine Yamal &#8220;Menjelma&#8221;&#8230;</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/03/01/seperti-apa-lamine-yamal-menjelma</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 01 Mar 2025 10:00:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Utama]]></category>
		<category><![CDATA[Ballon d'Or]]></category>
		<category><![CDATA[barcelona]]></category>
		<category><![CDATA[Euro 2024]]></category>
		<category><![CDATA[Golden Boy]]></category>
		<category><![CDATA[Impresivitas]]></category>
		<category><![CDATA[la liga]]></category>
		<category><![CDATA[Lamine Yamal]]></category>
		<category><![CDATA[Lionel Messi]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[The Greatest of All Times]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=463119</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // dia memandang bulan/ ingin memeluknya/ entah kapan dia menjelma/ menjadi bulan/ bertahta di atas sana&#8230;// (Sajak “Lamine Yamal”, Februari 2025) FOTO yang pernah diunggah sang ayah itu menyuguhkan ceritera bersejarah. Bayi Lamine Yamal dimandikan oleh Lionel Messi, pemain yang kini diakui dunia sebagai The Greatest of All Times (GOAT). Dan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/03/01/seperti-apa-lamine-yamal-menjelma">Seperti Apa Lamine Yamal &#8220;Menjelma&#8221;&#8230;</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-463126 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/02/logo-bola-bola-2.jpg" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/02/logo-bola-bola-2.jpg 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/02/logo-bola-bola-2-150x35.jpg 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></p>
<p><em>// dia memandang bulan/ ingin memeluknya/ entah kapan dia menjelma/ menjadi bulan/ bertahta di atas sana&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak “Lamine Yamal”, Februari 2025)</strong></p>
<p><strong>FOTO</strong> yang pernah diunggah sang ayah itu menyuguhkan ceritera bersejarah.</p>
<p>Bayi Lamine Yamal dimandikan oleh Lionel Messi, pemain yang kini diakui dunia sebagai The Greatest of All Times (GOAT). Dan, rata-rata orang menyatakan, Yamal adalah calon paling pas untuk menggantikan Messi.</p>
<p>Foto yang viral di tengah Euro 2024 itu seperti menjawab pertanyaan masyarakat sepak bola dunia: siapa kelak penerus Messi, yang dalam usia 37 diperkirakan bakal pensiun selepas Piala Dunia 2026. Rupanya ayah Yamal, Mounir Nasraoui mengimpikan, anaknya kelak bisa menjadi “titisan” Messi.</p>
<p>Kini, semua tak ragu menunjuk Lamine Yamal, yang tahun lalu meraih Kopa Trophy dan Golden Boy sebagai Pemain Muda Terbaik Dunia.</p>
<p>Rodri, teman senegaranya yang mendapatkan Ballon d’Or, menegaskan, trofi prestisius itu kelak akan menjadi milik Lamine Yamal.</p>
<p>Ya, impresivitas penampilan yang mengantar Spanyol menjadi juara Euro 2024, dan performanya yang brilian di tengah para bintang senior Barcelona, memosisikan Yamal sebagai kandidat terkuat pengganti Messi. Kebergatungan pelatih Hansi Flick kepada anak ajaib itu mulai dirasakan. Dia salah satu kunci yang mengembalikan Barcelona sebagai pimpinan klasemen La Liga.</p>
<p><strong>Deretan The Next Messi</strong><br />
Yamal menjadi nama utama di antara berderet pemain yang pernah dinobatkan sebagai The Next Messi.</p>
<p>Sama seperti dulu, penginspirasian New Pele, lalu New Maradona, nama-nama yang berjejuluk New Messi juga tak sedikit; namun semua tak memuncak dan menjajari kemampuan La Pulga.</p>
<p>Dulu kita mengenal “Maradona dari Carpathians” sebagai predikat untuk bintang Rumania, Gheorghe Hagi. Atau “Maradona Sungai Nil” Hissam Hassan. Juga harapan besar yang melekat pada sejumlah bintang Argentina: Pablo Aimar, lalu Javier Xaviola, Ariel Ortega, Carlos Tevez, juga Leo Messi yang digadang-gadang menjadi penerus Maradona. Dia bahkan mendapat julukan Messidona.</p>
<p>Yang terbaru,<em> wonderboy</em> yang dilekati predikat sebagai New Messi adalah Claudio Echeverri, kapten timnas U17 Argentina. Lalu Ibrahim Rabbaj, pemain Akademi Chelsea berdarah Inggris-Maroko yang memiliki pergerakan, gaya, dan tampilan persis Leo Messi. Sedangkan yang mentas sebagai bintang dengan level tersendiri adalah Mohamed Salah, “Messi dari Mesir” yang menjadi andalan Liverpool.</p>
<p>Takefusa Kubo dan Lee Seung-woo yang juga pernah disebut sebagai “Messi Jepang” dan “Messi Korea”, berkembang tak sebesar harapan. Di Barcelona, Ansu Fati yang awalnya sangat menjanjikan, akhirnya tak memuncak karena banyak terlilit cedera. Fati pernah dipinjamkan ke Brighton Hove and Albion di Liga Primer, namun tak sukses unjuk kehebatan.</p>
<p>Ansu Fati tak bergerak ke peningkatan performa untuk menuju ke “maqam” Messi, sampai kemudian Barcelona memperkenalkan <em>wonderkid</em> produk Akademi La Masia yang kemudian meroket pada usia 17, Lamine Yamal. Xavi Hernandez-lah yang memromosikannya ke tim utama.</p>
<p>Saya masih mencatat pernyataan pelatih tim nasional Spanyol, Luis de la Fuente, “Kami menemuinya di Spanyol. Dia pentolan tim junior dan pesepak bola dengan kekuatan luar biasa, seolah-olah disentuh oleh tongkat sihir Tuhan. Dia berbeda&#8230;” (<em>goal.com</em>, 1 September 2023).</p>
<p>Narasi De la Fuente itu boleh jadi hiperbolik: “tongkat sihir Tuhan”, namun saya menangkapnya lebih sebagai ungkapan kegembiraan ketika dia menemukan “perbedaan” ketika menyusun elemen-elemen kekuatan skuad nasional.</p>
<p>Dalam laga kualifikasi Euro 2024, 8 September 2024 Spanyol vs Georgia, Lamine Yamal mencatat rekor sebagai pemain termuda (16 tahun 1 bulan 26 hari) di tim juara Eropa 2008, 2012 dan juara dunia 2010 itu. Dia memperbarui rekor Gavi (17 tahun 62 hari).</p>
<p>Sejarah sudah ditoreh ketika dalam usia 15 tahun 290 hari, Yamal menggantikan Gavi pada menit ke-83 dalam laga melawan Real Betis di musim 2023-2024 La Liga. Pelatih Barca waktu itu, Xavi Hermandez sudah mulai menampilkan Yamal di awal musim. Dia menjanjikan pengaruh kuat bagi permainan La Blaugrana.</p>
<p>Dalam turnamen Joan Gampar Trophy melawan Tottenham Hotspur, yang dimenangi Barcelona 4-3, Yamal bermain hebat. Lalu dia menjadi <em>man of the match</em> ketika menundukkan Real Villareal 4-3 dalam pertandingan reguler La Liga di Stadion De La Ceramica.</p>
<p>Yang istimewa, lantaran impresivitasnya, Yamal mendapat <em>standing ovation</em> dari suporter Villareal. Ketika digantikan oleh Ansu Fati pada menit ke-76, gemuruh fans lawan menandai kehadiran bintang baru La Liga.</p>
<p>Ketika Spanyol menundukkan Prancis 2-1 dalam semifinal Euro 2024 di Allianz Arena, Muenchen, 10 Juli lalu, bocah berdarah campuran dari ayah berdarah Maroko dan ibu dari Guinea Ekuator itu menjadi pusat perhatian dunia.</p>
<p>Yamal menjadi pahlawan penyama skor ketika Spanyol tertinggal 0-1 dari Prancis. Mengecoh Adrien Rabiot, dia mengirim bola dengan kaki kiri ke gawang Mike Maignan. Tendangan lengkungnya bersarang indah ke pojok atas kanan gawang. Dia terpilih sebagai <em>man of the match</em>.</p>
<p>Di Euro 2024 dia mengukir rekor sebagai pemain termuda yang tampil dengan usia 16 tahun 338 hari. Yamal mematahkan catatan pemain Polandia, Kacper Kozlowski yang berusia 17 tahun 246 hari di Euro 2020.</p>
<p>Dia membukukan rekor demi rekor. Di fase gugur, dengan usia 16 tahun 353 hari Yamal memperbarui rekor gelandang Inggris, Jude Bellingham saat mengalahkan Georgia 4-1.</p>
<p>Gol indahnya ke gawang Prancis juga menambah rekor. Yamal menjadi pencetak gol termuda sepanjang sejarah, 16 tahun 262 hari, memperbaiki rekor pemain Swiss Johan Vonlanthen yang dalam usia 18 tahun 1.451 hari mencetak gol ke gawang Prancis di Euro 2004.</p>
<p>Dalam catatan turnamen mayor, dia mengalahkan rekor Pele sebagai pencetak gol termuda saat berusia 17 tahun 244 hari di Piala Dunia 1958.</p>
<p><strong>Sikap Percaya Lewy</strong><br />
Sikap percaya Robert Lewandowski kepada Yamal sebagai partner sungguh sangat “ngemong”. Tak jarang bintang asal Polandia itu memberi advis kepada rekan mudanya itu.</p>
<p>“Dia masih 15 tahun. Dan, pertama kali dalam hidup, saya melihat seseorang yang begitu cemerlang di usia muda. Mustahil untuk menjadi begitu baik, begitu pintar di usia ini,” ucap Lewy.</p>
<p>Bagi dia, kedisiplinan dan kerja keras akan mnjadi kunci, apakah Yamal bisa konsisten di level tertinggi pada masa depan karier sepak bolanya.</p>
<p>Kini, Yamal menjadi gantungan Barcelona, seperti yang dulu melekat pada Lionel Messi. Belum lama ini, <em>Planet Football</em> membuat perbandingan antara keduanya, setelah Yamal membukukan 100 penampilan di level klub dan timnas.</p>
<p>Kemenangan 1-0 Barca atas Rayo Vallecano di La Liga, dua pekan lalu, menjadi momen tersendiri. Itu menjadi penampilan ke-100 Yamal di tim senior, 83 di antaranya di level klub, 17 laga lainnya bersama timnas Spanyol.</p>
<p>Dia berada di usia 17 tahun saat melakoni laga melawan Rayo Vallecano, Februari 2025. Dia mengukir 21 gol, dan 30 <em>assists</em>. Menit per gol: 318,1, dan menit per gol/<em>assist</em>: 131. Dia meraih trofi La Liga (1), Euro (1), dan Supercopa de Espana (1).</p>
<p>Sedangkan Messi berada di usia 20 saat laga ke-100 laga, yang dicatat saat melawan Atletico Madrid, Oktober 2007. La Pulga mencatat 40 gol dan 13 <em>assists</em>. Menit per gol: 161.4, dan menit per gol/<em>assist</em>: 121.8, Messi membukukan trofi La Liga (2), Supercopa de Espana (1), dan Liga Champions (1).</p>
<p>Perbandingan seperti itu merupakan tren mediatika yang akan terus berlangsung, sebagai bagian dari upaya media mengangkat semua segi tentang pembeda-pembeda bagi kedua sosok luar biasa itu.</p>
<p>Bagusnya, Yamal tak terpengaruh dengan pembandingan itu. Dia tetap mencoba menjadi diri sendiri. “Messi pemain terbaik dalam sejarah. Dibandingkan dengan dia berarti saya melakukan hal yang benar, namun saya ingin menciptakan jalan saya sendiri,” katanya kepada <em>Mundo Deportivo</em> (<em>bola.net</em>, 22/2).</p>
<p>Menurutnya, Messi tidak bisa disamakan dengan siapa pun. “Messi adalah pemain terbaik dalam sejarah,” ungkap Yamal yang bertekad menciptakan identitas sendiri dan terus berkembang.</p>
<p>Dunia sepak bola mengakui, Yamal adalah bintang terdekat yang diyakini menggantikan Messi, setelah semua calon “next Messi” gugur sebelum mencapai posisi yang diharapkan&#8230;</p>
<p>Atau setidak-tidaknya meraih “maqam” bergengsi tersendiri, seperti yang kini ditempati Mo Salah&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.Id">Suarabaru.Id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/03/01/seperti-apa-lamine-yamal-menjelma">Seperti Apa Lamine Yamal &#8220;Menjelma&#8221;&#8230;</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dinamika dan Realitas dalam Proses Stabilisasi Performa</title>
		<link>https://suarabaru.id/2025/01/25/dinamika-dan-realitas-dalam-proses-stabilisasi-performa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Jan 2025 10:00:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[arsenal]]></category>
		<category><![CDATA[barcelona]]></category>
		<category><![CDATA[la liga]]></category>
		<category><![CDATA[Liga Primer]]></category>
		<category><![CDATA[Liverpool]]></category>
		<category><![CDATA[manchester city]]></category>
		<category><![CDATA[Manchester United]]></category>
		<category><![CDATA[Ruben Amorim]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=457812</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // sudah selesaikah turbulensi?/ lalu saatnya kembali ke performa/ ada saat-saat tak terhindarkan/ berada di pusaran roda/ di atas/ di bawah/ digulirkan oleh kehidupan&#8230;// (Sajak &#8220;Meraih Stabilitas&#8221;, 2025) SUDAH terlalu sering, performa tim-tim sepak bola bergulir mengikuti dinamika kehidupan. Ada saat-saat di atas, ada saatnya di bawah. Roda berputar dalam kecepatan [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/01/25/dinamika-dan-realitas-dalam-proses-stabilisasi-performa">Dinamika dan Realitas dalam Proses Stabilisasi Performa</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-457816 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/01/logo-bola-bola-2.jpg" alt="" width="393" height="91" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/01/logo-bola-bola-2.jpg 393w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2025/01/logo-bola-bola-2-150x35.jpg 150w" sizes="(max-width: 393px) 100vw, 393px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></p>
<p><em>// sudah selesaikah turbulensi?/ lalu saatnya kembali ke performa/ ada saat-saat tak terhindarkan/ berada di pusaran roda/ di atas/ di bawah/ digulirkan oleh kehidupan&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak &#8220;Meraih Stabilitas&#8221;, 2025)</strong></p>
<p><strong>SUDAH</strong> terlalu sering, performa tim-tim sepak bola bergulir mengikuti dinamika kehidupan.</p>
<p>Ada saat-saat di atas, ada saatnya di bawah. Roda berputar dalam kecepatan pusaran yang memaparkan realitas: ada saatnya di atas, ada saatnya di bawah.</p>
<p>Pergulatan untuk kembali ke stabilitas performa mengetengahkan dinamika yang tidak sama. Setiap tim dan pelatih punya persoalan masing-masing.</p>
<p>Lihatlah apa yang terjadi dengan Barcelona dan dua Manchester: The Red Devils United dan The Citizens Manchester City. Ketiga klub itu, pada musim 2024-2025 ini mengalami naik-turun penampilan yang ekstrem.</p>
<p>Di La Liga, Barcelona dengan taktikus baru Hansi Flick awalnya tak terkalahkan dalam tujuh pertandingan, dengan terus memetik kemenangan; namun setelah itu Lamine Yamal dkk mengalami menang-kalah-seri dengan grafik ekstrem.</p>
<p>Walaupun bisa mengalahkan rival abadi Real Madrid 5-2 dalam <em>El Clasico</em> di final Piala Super Spanyol di Jeddah, lalu mengalahkan Real Betis 5-0 di lanjutan liga, kini Barca harus bersaing ketat dengan duo Madrid: Atletico dan Real.</p>
<p>Menderita lima kekalahan, Raphinha dkk kini berada di peringkat ketiga klasemen. Hingga laga berikut ketika bertandang ke markas Getafe, pekan lalu, mereka terhinggapi lagi penyakit instabilitas. Blaugrana hanya memetik hasil seri 1-1. Tapi kemenangan 5-4 dalam Liga Champions atas Benfica, pada sisi tertentu memperlihatkan kekuatan mental mereka.</p>
<p>Di Liga Primer, Manchester United yang jeblok sehingga memecat Erik Ten Hag dan menggantikannya dengan Ruben Amorim, masih dalam situasi tak menentu. Kini berada di peringkat ke-13, mendekat ke zona degradasi. Mampu menahan imbang Liverpool 2-2 di liga, dan mengalahkan Arsenal lewat adu penanti di babak ketiga Piala FA, tetapi kemudian tampil buruk, kalah 1-3 dari Brighton Hove and Albion di Old Trafford.</p>
<p>Diakui oleh Ruben Amorim, Bruno Fernandes dkk masih seperti roller coaster, naik turun bagai ombak. Ditambah kekalahan 1-3 dari Brighton, pekan lalu, dia tak sungkan menilai, itulah MU yang terburuk dalam sejarah klub. Dia masih merasa butuh intensitas untuk membesut Manchester Merah.</p>
<p>Sementara Manchester City yang tujuh kali kalah, dua kali seri dan sekali menang, kini menggeliat dengan memetik angka-angka penuh. City terlihat memulih, meskipun pelatih Pep Guardiola merasa performa Erling Haaland cs belum seperti sediakala. City butuh ikhtiar menyalakan kembali stabilitas mental juaranya.</p>
<p>Kekalahan 2-4 dari Paris St Germain di Liga Champions setelah unggul 2-0, beberapa hari lalu, menegaskan City mengalami problem serius dalam stabilitas mental.</p>
<p><strong>Dinamika</strong><br />
Ada kekuatan lain di luar tiga tim besar itu yang juga berjuang untuk bisa konsisten. Arsenal, di bawah Mikael Arteta, dengan segala atraktivitasnya, membutuhkan mental juara, yang dalam tiga tahun terakhir gagal bersaing dengan Manchester City dan Liverpool pada menjelang berakhirnya musim.</p>
<p>Saat ini mereka berada di peringkat kedua dengan 44 angka, tertinggal enam poin dari pemuncak klasemen Liverpool yang masih punya satu tabungan pertandingan. Arsenal menguntit Nottingham Forest di posisi ketiga.</p>
<p>Arteta membutuhkan solusi untuk melengkapi jawaban &#8220;kurang apa sebenarnya Arsenal&#8221;?</p>
<p>Banyak <em>pundit</em> yang berkesimpulan, sebagai sebuah tim, Meriam London tak punya kekurangan. Arsenal hanya sering menemui kebuntuan menghadapi tim-tim papan atas.</p>
<p>Rotasi pemain juga rancak, dan hanya ada sedikit kelemahan untuk stok penyerang. Bagi sejumlah pengamat, dengan mengandalkan Bukayo Saka, Gabriel Jesus, Kai Havertz, dan Leandro Trossard, jika mereka berhadapan dengan badai cedera, Arteta akan mengalami situasi sulit, seperti hari-hari ini.</p>
<p><strong>Proses Pemulihan</strong><br />
Tak banyak yang bisa secara tepat menerapkan terapi dalam proses pemulihan konsistensi penampilan.</p>
<p>Barcelona misalnya, kini sedang memercayai Hansi Flick yang menggantikan Xavi Hernandez. Ruben Amorim masih mencari bentuk transformasi menggantikan Erik Ten Hag dalam proses penjang tujuh manajer pasca-era Alex Ferguson. Enzo Maresca yang meneruskan Mauricio Pochettino juga meracik Chelsea menjadi penantang seperti sekarang.</p>
<p>Hanya Arne Slot yang mulus menyuksesi Juergen Klopp. Di Arsenal, jejak Arteta mulai dirasakan walaupun belum berbuah trofi. <em>Arteta-ball</em> yang elok dan impresif, membentuk Kai Havertz dkk sebagai kekuatan menakutkan, namun dalam tiga musim belum menghasilkan gelar.</p>
<p>Baru Pep Guardiola yang dalam tujuh musim bisa mengukuhkan The Citizens sebagai ikon baru tim elite Liga Primer, dan sekarang disibukkan untuk melawan penurunan performa secara luar biasa. Dia harus berjuang meraih kembali stabilitas tim.</p>
<p>Musim ini City tak lagi memikirkan gelar juara. Bisa bertahan di klasemen elite saja sudah bagus. Kesegaran tim-tim seperti Nottingham Forest, Newcastle United, Chelsea, dan Brighton memaparkan atmosfer persebaran kekuatan yang menarik.</p>
<p>Para peracik tim itu memberi pelajaran yang memperkuat realitas kompetisi: betapa tidak mudah merawat stabilitas. Ketika kemapanan dicapai, upaya mempertahankannya menjadi sebuah perjuangan dengan syarat &#8220;ke-empu-an&#8221; tersendiri&#8230;</p>
<p>&#8212;<strong> Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="http://Suarabaru.Id">Suarabaru.Id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2025/01/25/dinamika-dan-realitas-dalam-proses-stabilisasi-performa">Dinamika dan Realitas dalam Proses Stabilisasi Performa</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Vinicius, Simbol Keteguhan Melawan Rasisme</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/12/28/vinicius-simbol-keteguhan-melawan-rasisme</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Dec 2024 10:00:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[AC Milan]]></category>
		<category><![CDATA[Ballon d'Or]]></category>
		<category><![CDATA[Diskriminasi]]></category>
		<category><![CDATA[FIFA]]></category>
		<category><![CDATA[la liga]]></category>
		<category><![CDATA[Paris St Germain]]></category>
		<category><![CDATA[Rasisme]]></category>
		<category><![CDATA[real madrid]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=454020</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // sampai kapan rasisme membayangi/ kita takkan pernah tahu/ : hingga seluruh penduduk bumi/ berpadu dalam kesetaraan/ tak terbedakan/ oleh sekat apa pun/ dan, sepak bola seharusnya memelopori// (Sajak &#8220;Rasisme Sepak Bola&#8221;, 2025) CATATLAH nama ini: Vinicius Jose Paixao de Oliveira Junior. Baru saja dia dinobatkan sebagai Pemain Terbaik FIFA 2024, [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/12/28/vinicius-simbol-keteguhan-melawan-rasisme">Vinicius, Simbol Keteguhan Melawan Rasisme</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-454025 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/12/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/12/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/12/BOLA-BOLA-LOGO-2-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/12/BOLA-BOLA-LOGO-2.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// sampai kapan rasisme membayangi/ kita takkan pernah tahu/ : hingga seluruh penduduk bumi/ berpadu dalam kesetaraan/ tak terbedakan/ oleh sekat apa pun/ dan, sepak bola seharusnya memelopori//</em><br />
<strong>(Sajak &#8220;Rasisme Sepak Bola&#8221;, 2025)</strong></p>
<p><strong>CATATLAH</strong> nama ini: Vinicius Jose Paixao de Oliveira Junior.</p>
<p>Baru saja dia dinobatkan sebagai Pemain Terbaik FIFA 2024, gelar prestisius yang setara dengan Ballon d&#8217;Or.</p>
<p>Penghargaan itu memupus kekecewaannya gagal meraih Ballon d&#8217;Or, yang Oktober lalu dimenangi Rodri, penggawa Manchester City.</p>
<p>Vini adalah simbol permainan agresif Real Madrid, dan dikenal gigih melawan rasisme. Selama bermain di La Liga, dia kenyang menghadapi olok-olok, hinaan, cercaan, dan perlakuan buruk di lapangan.</p>
<p>Dia melawan. Dengan sikap, opini, dan ekspresi bermain dalam kualitas yang memberi kekuatan &#8220;pembeda&#8221;.</p>
<p>Pemain asal Brasil itu menyuarakan perlawanan setiap kali ada yang mengalami diskriminasi, baik dari sesama pemain di lapangan, maupun dari tribune suporter. Sudah sekitar 20 kali dia bersinggungan dengan insiden rasisme, dalam bentuk olok-olok yang menginsinuasi secara verbal &#8220;gerakan monyet&#8221;, &#8220;koor suara monyet&#8221;, dan &#8220;lemparan pisang&#8221;.</p>
<p>Lalu bagaimana reaksi orang-orang rasis itu ketika Vini Junior meraih pengakuan dari FIFA?</p>
<p><strong>Tidak Menyurut</strong><br />
Hinaan rasis sudah lama menjadi penyakit dalam kompetisi sepak bola. Di zaman kejayaannya, George Oppung Weah yang meraih Ballon d&#8217;Or 1995 juga kerap mengalami. Pemain asal Liberia itu pernah menjadi bintang utama di Paris St Germain, lalu AC Milan.</p>
<p>Pola hinaan yang dia terima mirip dengan yang sekarang dihadapi oleh Vinicius.</p>
<p>Banyak pemain yang merasakan. Liga-liga seperti Spanyol, Italia, Inggris, dan Jerman diwarnai &#8220;virus&#8221; serupa, yang mendorong FIFA mengetengahkan &#8220;ritual&#8221; menjelang pertandingan. Selembar kain dibentangkan di tengah lapangan, bertuliskan &#8220;No Racism&#8221;.</p>
<p>Kampanye antirasis FIFA bertemakan &#8220;Kick It Out&#8221;, faktanya belum melenyapkan perilaku diskriminatif. Sepak bola yang seharusnya menyemaikan kesetaraan dan menghapus sekat perbedaan bagi umat manusia, justru menjadi lahan subur bagi eksploitasi warna kulit.</p>
<p>Pada titik ini, apa makna keterpilihan Vinicius Junior sebagai Pemain Terbaik FIFA?</p>
<p>Banyak yang menganalisis, Vini gagal menjadi pemenang Ballon d&#8217;Or lantaran bersikap vokal terhadap realitas La Liga yang masih meruapkan rasisme.</p>
<p><em>Reuters</em> yang dikutip <em>cnnindonesia.com</em> (29/10/2024), memaparkan pernyataan Vinicius di akun <em>X</em>-nya, &#8220;Saya akan melakukannya 10 kali jika memang harus. Mereka tidak benar-benar siap&#8221;.</p>
<p>Manajemennya mengatakan, unggahan itu bermakna perjuangan melawan rasisme. Faktor itulah yang diyakini menyebabkan Vini tidak memenangkan Ballon d&#8217;Or. Menurut <em>Reuters</em>, dunia sepak bola belum siap menerima pemain yang melawan sistem.</p>
<p><strong>Keistimewaan</strong><br />
Dibandingkan dengan rata-rata maestro sepak bola Brasil, Vinicius menonjol bukan karena permainan sebagai &#8220;seniman Samba&#8221;.</p>
<p>Dia adalah tipe pekerja keras yang ngotot, dengan kekuatan fisik menonjol. Permainannya sebagai gelandang serang sayap efektif untuk bermanuver menuntaskan setiap peluang di depan gawang.</p>
<p>Narasi menarik dia sampaikan saat menerima trofi itu, &#8220;Saya bahkan tidak tahu harus mulai dari mana. Itu begitu jauh, sehingga tampaknya mustahil untuk sampai ke sini. Saya adalah seorang anak yang hanya bermain sepak bola tanpa alas kaki di jalan-jalan Sao Goncalo, dekat dengan kemiskinan dan kejahatan. Menuju ke sini adalah sesuatu yang sangat penting bagi saya&#8221;.</p>
<p>Pemain yang lahir di Sao Goncalo, 12 Juli 2000 itu mengawali karier di kampung-kampung. Pelatih masa kecilnya, Cacau, ingat betul talenta Vinicius di laga-laga usia dini.</p>
<p>&#8220;Ketika kami membawanya ke beberapa turnamen antara usia delapan dan sembilan, kami menyadari dia memiliki sesuatu yang istimewa,&#8221; kenangnya.</p>
<p>&#8220;Bahkan lawan-lawannya akan mengatakan, untuk menjaga Vini, Anda perlu sepeda motor!&#8221; candanya.</p>
<p>Bakat saja tak cukup. Vinicius Junior juga punya tekad untuk mewujudkan impian menjadi pesepak bola ternama. Pamannya, Ulysses ingat bagaimana Vini melakoni perjalanan jauh dan sulit untuk berlatih.</p>
<p>&#8220;Transportasi adalah masalah nyata baginya karena dari Sao Goncalo ke tempat latihan Ninho do Urubu yang jauh,&#8221; kata Ulysses.</p>
<p>&#8220;Selalu sulit untuk latihan, sekolah, dan kembali ke rumah. Setelah beberapa saat, dia mulai tinggal di rumah saya. Dia tidak bisa terus ketinggalan sekolah di Sao Goncalo karena latihan di Vargem Grande lagi,&#8221; katanya.</p>
<p>Flamengo kemudian mengajak bergabung pada 2007. Awalnya Vini bermain di tim futsal. Klub kemudian melihat bakatnya di sepak bola.</p>
<p>Ditempa di Flamengo, Vinicius memetik hasilnya pada 2017. Dia diminati Real Madrid, yang menebusnya 46 juta Euro. Saat itu dia menjadi pemain Brasil termahal kedua setelah Neymar.</p>
<p>Lantaran usianya masih 17 tahun, Vini Junior harus menunggu setahun untuk gabung ke Madrid. Dia kemudian benar-benar pindah pada 2018.</p>
<p>Pada awal kedatangannya ke Spanyol, Vinicius sempat memperkuat tim Castilla Madrid. Sesekali dia dimainkan di tim senior. Vini akhirnya permanen pindah ke tim utama sejak musim 2019/2020.</p>
<p>Bersama Madrid, dia memenangi 13 trofi, termasuk tiga gelar La Liga dan dua Liga Champions. Dalam empat musim terakhir, performanya meningkat pesat, membukukan 82 gol. Total, Vinicius mencetak 96 gol untuk Los Blancos. Pelatih Carlo Ancelotti banyak disebut punya pendekatan tepat untuk mengeluarkan seluruh potensi Vini Junior.</p>
<p>Selama tiga tahun bersama Madrid, pemain kelahiran 12 Juli 2000 itu kenyang dengan serangan rasisme, yang tentu menguatkan mentalnya. Vinicius melawan, dengan menunjukkan kualitas permainan level atas.</p>
<p>Pengakuan sebagai Pemain Terbaik FIFA 2024, apakah itu akan memperkuat perlawanan terhadap rasisme, hipokritas, dan diskriminasi dalam sepak bola?</p>
<p>Atau ini adalah ekspresi perjuangan kemanusiaan yang hakikatnya tak mengenal akhir?</p>
<p>&#8212;<strong> Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/12/28/vinicius-simbol-keteguhan-melawan-rasisme">Vinicius, Simbol Keteguhan Melawan Rasisme</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pep Guardiola, Sang &#8220;Ideolog&#8221; di Titik Jenuh?</title>
		<link>https://suarabaru.id/2024/12/21/pep-guardiola-sang-ideolog-di-titik-jenuh</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 21 Dec 2024 10:00:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[barcelona]]></category>
		<category><![CDATA[Bayern Munchen]]></category>
		<category><![CDATA[Bundesliga]]></category>
		<category><![CDATA[la liga]]></category>
		<category><![CDATA[Liga Primer]]></category>
		<category><![CDATA[manchester city]]></category>
		<category><![CDATA[pep guardiola]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=453012</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // tak selamanya dia betah di singgasana/ ada titik yang mengusik/ : apa lagikah yang dicari?/ ada bisik yang menggelitik/ : apa pulakah yang didaki/ apa pula yang harus diketengahkan?// (Sajak &#8220;Kejenuhan Sang Genius&#8221;, 2024) AKAN ada titik ketika pikiran menghentikan kreasi. Atau setidak-tidaknya, meredupkan gairah bereksplorasi. Akan ada titik ketika [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/12/21/pep-guardiola-sang-ideolog-di-titik-jenuh">Pep Guardiola, Sang &#8220;Ideolog&#8221; di Titik Jenuh?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-453020 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/12/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/12/BOLA-BOLA-LOGO-1-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/12/BOLA-BOLA-LOGO-1-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2024/12/BOLA-BOLA-LOGO-1.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// tak selamanya dia betah di singgasana/ ada titik yang mengusik/ : apa lagikah yang dicari?/ ada bisik yang menggelitik/ : apa pulakah yang didaki/ apa pula yang harus diketengahkan?//</em><br />
<strong>(Sajak &#8220;Kejenuhan Sang Genius&#8221;, 2024)</strong></p>
<p><strong>AKAN</strong> ada titik ketika pikiran menghentikan kreasi. Atau setidak-tidaknya, meredupkan gairah bereksplorasi.</p>
<p>Akan ada titik ketika &#8220;antitesis&#8221; tak lagi mempan memadamkan &#8220;tesis&#8221;. Pun tak lagi mencair menjadi &#8220;sintesis&#8221; yang dianut sebagai sebuah &#8220;genre&#8221;.</p>
<p>Mungkin itu hanya menjadi &#8220;era&#8221;, untuk menandai suatu perjalanan waktu dengan kejayaan tertentu; mengetengahkan &#8220;cara&#8221; yang dia temukan dan diolah sebagai &#8220;jalan&#8221; untuk mengatasi &#8220;jalan yang lain&#8221;. Tentu &#8220;jalan&#8221; itu membutuhkan syarat untuk ditampilkan sebagai ekspresi survivalitas.</p>
<p>Lalu apakah seseorang yang telah sedemikian identik dengan kejeniusan dan &#8220;tesis&#8221;, pada titik tertentu tidak lagi mampu menjaga nyala eksplorasi dalam merawat jalan yang dia yakini?</p>
<p>Jika orang itu adalah Pep Guardiola, apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan kejeniusan, kreativitas, dan &#8220;idiologi&#8221; yang dieksplorasinya?</p>
<p>Kekalahan 1-2 dari The Red Devils dalam &#8220;Derby Manchester&#8221; di Stadion Etihad, akhir pekan lalu menjadi bukti &#8220;kegalauan&#8221; Pep tentang kemelut performa Kevin De Bruine dkk.</p>
<p>Manchester United yang kini diarsiteki Ruben Amorim, melengkapi rangkaian hasil buruk dari 11 laga yang dilalui The Citizens di semua ajang. Hanya sekali menang. Sisanya dua kali seri dan delapan kali kalah.</p>
<p><strong>Kegelisahan?</strong><br />
Apa yang dia ungkapkan dalam sebuah wawancara empatik <em>Daily Mail</em> (<em>detik.com</em>, 11/12-2024) menyiratkan kegelisahan tentang masa depannya.</p>
<p>Dia seperti merasa sudah lelah dengan perjalanan karier kepelatihan yang bertabur kegemilangan di Barcelona, Bayern Muenchen, dan Manchester City.</p>
<p>Pep menggumamkan keinginan untuk berhenti di Manchester, atau mungkin masuk ke tantangan baru: menangani tim nasional sebuah negara. Ditegaskan, The Citizens adalah klub terakhir dalam kariernya.</p>
<p>Dia mengaku lelah untuk melatih klub lain ke depannya, setelah memasuki tahun kedelapan bersama City, periode terlama dalam jejak kepelatihannya. Pep membendaharakan banyak gelar, termasuk enam trofi Liga Primer dan satu Liga Champions.</p>
<p>Apakah City mau begitu saja kehilangan Pep? Sesegera itu, Manchester Biru memperpanjang kontrak sampai 2027. Mestinya, ikatan pelatih asal Spanyol itu habis pada musim panas 2025.</p>
<p>Di tengah kemelut performa City akhir-akhir ini, dia masih dipercaya untuk mempertahankan prestasi, sekaligus menyiapkan tim ke depan. Dia akan genap satu dekade di Etihad jika menyelesaikan masa kontraknya.</p>
<p>Ketika menyatakan City bakal jadi klub terakhir, artinya dia tidak mau lagi menangani klub. Besar peluangnya untuk menjadi pelatih tim nasional, di negara mana pun yang meminati.</p>
<p>Dia mengaku tidak punya energi lagi. &#8220;Untuk memulai sesuatu yang baru di klub lain, melalui proses latihan dan sebagainya. Mungkin melatih tim nasional bisa, tetapi itu berbeda&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya tidak mau lagi berkeliling ke negara lain, berhenti di sana dan melihat segala prestasi yang sudah dicapai, berpikir apakah bisa lebih baik lagi. Anda tidak akan punya waktu memikirkan itu ketika disibukkan dengan banyak hal setiap harinya.&#8221;</p>
<p><strong>Habitat Tantangan</strong><br />
Bagi genius seperti Pep, habitatnya ada dalam suasana &#8220;tantangan&#8221;. Jadi semudah itukah dia meninggalkan sepak bola yang telah menjadi daya hidup dan kehidupannya?</p>
<p>Jenuh, itu bisa dipahami. Tetapi apakah perasaan itu lantaran performa anjlok Manchester City pada musim 2024-2025 ini? Atau mungkin dia sudah terlampau lelah mencurahkan pikiran dan kreasi untuk menerjemahkan filosofi sepak bola indahnya?</p>
<p>Setelah lima musim bersama Barca di La Liga, tiga musim di Bundesliga, dan delapan tahun di Liga Primer, Pep menegaskan eksistensi sebagai &#8220;ideolog&#8221; sepak bola menyerang dengan aksen bermain mendominasi penguasaan bola. Dia mempertajam <em>total football</em> mahagurunya, Johan Cruyff.</p>
<p>Di Barca, dia sukses besar mengimplementasikan karakter dan folosofinya, sama dengan ketika membangun The Citizens sebagai kekuatan dahsyat di Liga Primer dan Eropa.</p>
<p>Hanya, di Bayern Muenchen dia tidak sepenuhnya bisa menuntaskan &#8220;ideologi&#8221;, karena bermain dengan mengandalkan <em>possession football</em> rupanya sulit bersenyawa dengan<em> speed and power game</em> ala Jerman.</p>
<p>Kini Pep Guardiola disibukkan oleh upaya membalikkan <em>passion</em> skuadnya sebagai kekuatan utama Liga Primer.</p>
<p>Semakin sulit mendapatkan &#8220;<em>touch</em>&#8221; antitesis itu, semakin dalam dia harus berkubang dengan kegalauan di posisi sulit&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a> dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2024/12/21/pep-guardiola-sang-ideolog-di-titik-jenuh">Pep Guardiola, Sang &#8220;Ideolog&#8221; di Titik Jenuh?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sepak Bola, Sirkus yang Mengaduk Hati dan Mimpi&#8230;</title>
		<link>https://suarabaru.id/2023/04/15/sepak-bola-sirkus-yang-mengaduk-hati-dan-mimpi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 Apr 2023 10:00:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[arsenal]]></category>
		<category><![CDATA[Bayern Munchen]]></category>
		<category><![CDATA[la liga]]></category>
		<category><![CDATA[Liga Primer]]></category>
		<category><![CDATA[manchester city]]></category>
		<category><![CDATA[napoli]]></category>
		<category><![CDATA[Serie A]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=330226</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // sepak bola tak jauh dari rasa/ bahkan dialah rasa/ yang merambati jiwa/ yang merayapi nadi/ merangsang hasrat-hasrat berekspresi&#8230;// (Sajak “Sirkus Sepak Bola”, 2023) HASRAT siapa &#8212; pecinta bola &#8212; yang tak terbangkitkan oleh aksi mentereng anak-anak Arsenal, sejauh ini? Hasrat siapa tak terpicu oleh “keberingasan” Erling-Burt Haaland yang bermain bagai [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/04/15/sepak-bola-sirkus-yang-mengaduk-hati-dan-mimpi">Sepak Bola, Sirkus yang Mengaduk Hati dan Mimpi&#8230;</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-full wp-image-330227 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/04/BOLA-BOLA-LOGO-2.jpg" alt="" width="681" height="183" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/04/BOLA-BOLA-LOGO-2.jpg 681w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/04/BOLA-BOLA-LOGO-2-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2023/04/BOLA-BOLA-LOGO-2-150x40.jpg 150w" sizes="(max-width: 681px) 100vw, 681px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// sepak bola tak jauh dari rasa/ bahkan dialah rasa/ yang merambati jiwa/ yang merayapi nadi/ merangsang hasrat-hasrat berekspresi&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak “Sirkus Sepak Bola”, 2023)</strong></p>
<p><strong>HASRAT</strong> siapa &#8212; pecinta bola &#8212; yang tak terbangkitkan oleh aksi mentereng anak-anak Arsenal, sejauh ini?</p>
<p>Hasrat siapa tak terpicu oleh “keberingasan” Erling-Burt Haaland yang bermain bagai robot gol untuk Manchester City?</p>
<p>Hasrat siapa pula tak terangsang oleh pertunjukan penuh teknik “Maradona Baru” Kchvicha Kvaratskhelia yang meroket bersama dan meroketkan Napoli?</p>
<p>Pun, siapa tak berhasrat menanti ending persaingan di La Liga, Liga Primer, dan Liga Serie A? Inikah musim yang menjanjikan suasana segar untuk tidak terjebak <em>status quo</em> “lu lagi, lu lagi&#8230;”?</p>
<p><strong>Arsenal dan Napoli</strong><br />
Arsenal tentu bukan kekuatan baru Liga Primer. Hanya, status puasa trofi selama 19 musim adalah gambaran “kerinduan” yang terpendam lama.</p>
<p>Baru pada musim 2022-2023 ini, di bawah racikan impresif Mikel Arteta, The Gunners menapak mantap ke rivalitas <em>big four,</em> bahkan memimpin klasemen hingga sejauh ini.</p>
<p>Jika Granit Xhaka cs tidak terpeleset di sisa laga, akan sulit bagi Manchester City &#8212; yang kini tertinggal enam poin &#8211;, untuk melewati. Pada sisi lain, penampilan terakhir, berbagi skor 2-2 dengan Liverpool di Anfield pekan lalu menjadi “warning” tentang pentingnya kewaspadaan bagi Meriam London.</p>
<p>Kondisi Arsenal mirip Napoli. Terakhir kali meraih <em>scudetto</em> Serie A pada 1989-1990, bertahun-tahun Napoli hanya menjadi kekuatan medioker. Kejayaan bersama “Sang Dewa” Diego Maradona pun menjadi tinggal cerita.</p>
<p>Kini, <em>allenatore</em> Luciano Spaletti mampu membawa Il Partenopei melewati kekuatan-kekuatan utama Italia. Victor Osimhen dkk tinggal menjaga konsistensi, jika ingin kembali menggegerkan Italia dan Eropa.</p>
<p>Berselisih 16 poin dari peringkat kedua klasemen, Lazio membuat Napoli aman, namun Spaletti menolak semua puja-puji untuk skuadnya.</p>
<p>Dia bahkan membalas sanjungan Pep Guardiola dengan menyebutnya sebagai taktik psikologis membuat lena. Peracik Manchester City itu memuji Napoli sebagai tim dengan gaya terbaik di Eropa saat ini, bermain sangat cair, namun Spaletti menepisnya.</p>
<p>Sirkus liga-liga makin lengkap dengan perjalanan kebangkitan Barcelona di La Liga. Tersisih di Liga Champions dan Europa League, sang arsitek Xavi Hernandez kini fokus menjaga keunggulan 13 poin atas Real Madrid. Semestinya Blaugrana bisa unggul 15 angka, namun Robert Lewandowski dkk gagal meraih angka penuh ketika menjamu Girona di Camp Nou, awal pekan kemarin.</p>
<p>Walaupun Xavi belum berhasil mengaduk kenangan lewat permainan<em> tiki-taka</em>, Barcelona telah dia bawa kembali ke trek elite Spanyol.</p>
<p><strong>Sirkus Haaland</strong><br />
Di tengah kondisi seru sejumlah liga, pernak-pernik sirkus juga menjadi magnet panggung seni tersendiri.</p>
<p>Siapa yang pernah memperkirakan Kvaratskhelia dan Osimhen meroket setinggi itu? Bukan hanya sebagai faktor pembeda, bahkan keduanya unjuk teknik sebagai pemain langka.</p>
<p>Bagaimana kisah perjalanan Bukayo Saka yang menjadi pemain sayap terbaik saat ini, dan bersama Gabriel Martinelli mengukuhkan ketajaman Arsenal?</p>
<p>Seperti apa pula sirkus Erling Haaland yang dalam setiap laga The Citizens mendatangkan ketakutan luar biasa para kiper lawan? Termasuk, yang paling aktual, membobol gawang Bayern Muenchen dalam <em>leg</em> pertama perempat final Liga Champions di Etihad?</p>
<p>Musim ini liga-liga Eropa berada di fase persaingan yang penuh pesona industri. Bumbu spekulasi bursa transfer di tengah fenomena performa sejumlah bintang adalah salah satunya. Termasuk pergerakan kepindahan pelatih. Pada sisi lain, juga tren muram sejumlah klub yang punya tradisi kuat seperti Liverpool, Juventus, dan Real Madrid.</p>
<p>Dalam pergerakan proses, yang dideterminasi oleh tren mediatika, industri kompetisi memicu adrenalin para pecinta bola untuk menunggu produk akhir: Arsenal atau City-kah? Konsitenkah Barcelona? Keingarbingaran seperti apa yang muncul andai Napoli berjaya mengangkat trofi?</p>
<p>Tak salah apabila sepak bola juga lekat sebagai luap rasa, yang mengaduk-aduk hati dan mimpi&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>; <em>wartawan suarabaru.id, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2023/04/15/sepak-bola-sirkus-yang-mengaduk-hati-dan-mimpi">Sepak Bola, Sirkus yang Mengaduk Hati dan Mimpi&#8230;</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Unjuk Gembira Para Penyihir Barcelona</title>
		<link>https://suarabaru.id/2022/09/03/unjuk-gembira-para-penyihir-barcelona</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Riyan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Sep 2022 10:00:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BOLA-BOLA]]></category>
		<category><![CDATA[barcelona]]></category>
		<category><![CDATA[la liga]]></category>
		<category><![CDATA[Lionel Messi]]></category>
		<category><![CDATA[real madrid]]></category>
		<category><![CDATA[suarabaru.id]]></category>
		<category><![CDATA[Tiki-Taka]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://suarabaru.id/?p=275780</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Amir Machmud NS // kau lihatlah, langit Camp Nou kembali ingar bingar/ para penyihir berpesta/ unjuk kesaktian dan kegembiraan/ serasa mengapungkan aura harapan&#8230;// (Sajak “Para Penyihir”, 2022) PADA era manakah langit Barcelona dipenuhi para “penyihir” dengan aura magis yang memayungi Stadion Camp Nou? Pastilah tak mungkin tidak menyebut periode panjang Lionel Messi sebagai “Harry [&#8230;]</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/09/03/unjuk-gembira-para-penyihir-barcelona">Unjuk Gembira Para Penyihir Barcelona</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12pt;"><strong><img loading="lazy" class="size-medium wp-image-275782 aligncenter" src="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/09/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg" alt="" width="400" height="107" srcset="https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/09/BOLA-BOLA-LOGO-400x107.jpg 400w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/09/BOLA-BOLA-LOGO-150x40.jpg 150w, https://suarabaru.id/wp-content/uploads/2022/09/BOLA-BOLA-LOGO.jpg 681w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" />Oleh: Amir Machmud NS</strong></span></p>
<p><em>// kau lihatlah, langit Camp Nou kembali ingar bingar/ para penyihir berpesta/ unjuk kesaktian dan kegembiraan/ serasa mengapungkan aura harapan&#8230;//</em><br />
<strong>(Sajak “Para Penyihir”, 2022)</strong></p>
<p><strong>PADA</strong> era manakah langit Barcelona dipenuhi para “penyihir” dengan aura magis yang memayungi Stadion Camp Nou?</p>
<p>Pastilah tak mungkin tidak menyebut periode panjang Lionel Messi sebagai “Harry Potter-nya Barca”. Dan, dia memang pantas diposisikan sebagai tokoh utama dalam tiga periode magika Blaugrana.</p>
<p>Periode pertama, ketika dia mulai dipercaya oleh <em>coach</em> Frank Rijkaard pada 2006, dilanjutkan pada masa-masa puncak kejayaan di bawah Pep Guardiola.</p>
<p>“Penyihir mungil” itu dikelilingi “dukun-dukun nan memesona”: Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Sergio Busquets, Dani Alves, juga Carlea Puyol.</p>
<p>Era kedua, di bawah arsitek Luis Enrique, Messi berkolaborasi dengan Neymar Junior dan Luis Suarez membentuk Trio MNS yang dahsyat dan menakutkan.</p>
<p>Pada era ketiga, La Pulga menjadi pemimpin utama untuk para calon penyihir seperti Pedri Gonzales, Gavi, dan Ansu Fati. Dan, itulah periode penutup Leo Messi di Camp Nou, bersama pelatih Ronald Koeman.</p>
<p>Barca tidak lantas kering “pesulap sakti” sepeninggal Messi yang hijrah ke Paris St Germain. Di bawah kepemimpinan Xavi, kini muncul sederet “penyihir” yang siap menebar magi.</p>
<p>Dari Robert Lewandowski, Rafinha, Ousmane Dembele, Fati, Pedri, dan Gavi. Aksi-aksi mereka saat menghumbalangkan Real Valladolid di La Liga, pekan kemarin jelas menebar ancaman bagi klub mana pun.</p>
<p>Para “penyihir” itu tak hanya mencetak gol. Proses dan caranya memperlihatkan hal “yang berbeda”. Aksi-aksi yang lebih bernilai atraksi, dan gol-gol yang bermakna seni.</p>
<p><strong>Tiki-Taka Kembali?</strong><br />
Apakah atraktivitas itu identik dengan kembalinya permainan<em> tiki-taka</em> yang khas Barcelona?</p>
<p>Pertanyaan itu menjadi ungkapan wajar, mengingat Barca kini berada di tangan eks pelaku utama p<em>ossession football</em> yang rancak elok pada masanya.</p>
<p>Saya tidak serta merta memaknainya sebagai pemulihan taktik permainan yang diadopsi oleh Vicente del Bosque ke tim nasional Spanyol di Piala Dunia 2010 itu. Aksen arsitektural Xavi sejauh ini adalah <em>attacking football</em> Barca, dan psikologi pemulihan konfidensi tradisi klub besar Eropa.</p>
<p>Untuk menemukan kembali <em>tiki-taka</em>, butuh syarat lebih dari sekadar permainan menyerang. Pun, konsekuensi antitesis terhadap tesis sepak bola indah telah menyebabkan baik Barca maupun timnas Spanyol terlihat tidak “sesakti” seperti sebelum ini.</p>
<p>Masih Anda ingatkah bagaimana kreativitas Luis Enrique? Ketika menukangi Pasukan Camp Nou pada 2013-2017, ia memodifikasi <em>tiki-taka</em> dengan “menyelipkan” <em>direct passing</em>. Ini menjadi bagian dari jawaban, bahwa dibutuhkan inovasi ketika taktik pressing-posesif itu sudah banyak terbaca dan ditemukan celahnya.</p>
<p>Maka, selain menanti ikhtiar Xavi memulihkan tradisi kejayaan, akan kita lihat apakah tiki-taka bisa dihadirkan kembali; mungkin dengan bentuk yang sudah termodifikasi.</p>
<p>Bahwa Xavi mampu menerapkannya secara atraktif untuk permainan Al Sadd di Liga Qatar, atau Steven Gerrard yang mengadopsinya untuk Glasgow Rangers di Liga Skotlandia, tentu merupakan hal lain dalam atmosfer yang tidak sama.</p>
<p><strong>Kegembiraan Sepak Bola</strong><br />
Yang terasa sekarang, para pemain Barca menemukan kembali kegembiraannya. Dembele, misalnya. Pemain asal Prancis yang sempat melempem dalam era sejumlah pelatih dan punya problem disiplin itu bahkan nyaris dijual. Nyatanya, kini ia bermain begitu ceria, bahkan sering memamerkan “skill dewa”.</p>
<p>Ia menjadi satu di antara para “penyihir”, seperti Lewandowski, Rafinha, Frenkie de Jong, Adama Traore, hingga para calon “Harry Potter” masa depan Barca: Ansu Fati, Sergi Roberto, Pedri, dan Gavi.</p>
<p>Persaingan juara di La Liga serasa menyala. Real Madrid dan Atletico menemukan kembali rival yang setidak-tidaknya dalam lima musim terakhir sibuk mencari bentuk.</p>
<p>Simaklah kegairahan La Liga. Tak ada Messi, muncul sederet “orang sakti” yang bermain menghibur, dan pastinya memperlihatkan aura kegembiraan sepak bola.</p>
<p>Boleh jadi, diwarnai pula dengan<em> tiki-taka</em> yang bersalin rupa&#8230;</p>
<p>&#8212; <strong>Amir Machmud NS</strong>, <em>wartawan <a href="https://suarabaru.id">suarabaru.id</a>, kolumnis sepak bola, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah</em> &#8212;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id/2022/09/03/unjuk-gembira-para-penyihir-barcelona">Unjuk Gembira Para Penyihir Barcelona</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://suarabaru.id">SuaraBaru.id</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
<div style="position:absolute; left:-9999px; top:-9999px;">
<a href="https://thedramaparadise.com/">https://thedramaparadise.com/</a>
<a href="https://villamadridbrownsville.com/">https://villamadridbrownsville.com/</a>
<a href="https://gamesvega.com/">https://gamesvega.com/</a>
<a href="https://bhpi.org/">https://bhpi.org/</a>
<a href="https://ayahqq.com">https://ayahqq.com</a>
<a href="https://klik66.com">https://klik66.com</a>

<a href="https://globelegislators.org">https://globelegislators.org</a>
<a href="https://controlesocial.cg.df.gov.br/">https://controlesocial.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/">https://portaldecorreicao.cg.df.gov.br/</a>
<a href="https://www.aux.com.sg/">https://www.aux.com.sg/</a>
<a href="https://global-edu.uz/">https://global-edu.uz/</a>
<a href="https://chessellpotterycafe.co.uk/menu">https://chessellpotterycafe.co.uk/menu</a>
<a href="http://ipcr.gov.ng/">http://ipcr.gov.ng/</a>
<a href="https://globelegislators.org/about-us/">https://globelegislators.org/about-us/</a>
<a href="https://globelegislators.org/biodiversity/">https://globelegislators.org/biodiversity/</a>
<a href="https://global-edu.uz/ru/">https://global-edu.uz/ru/</a>

<a href="https://maya.perhutani.co.id/">Slot Thailand</a>
<a href="https://simako.perhutani.co.id/">Slot Gacor</a>
<a href="https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/">https://lpm.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/kebijakan-mutu/</a>
<a href="https://www.topkarir.com/tentang-kami/">Slot Gacor Thailand</a>

<a href="https://id.pandamgadang.com/">https://id.pandamgadang.com/</a>
<a href="https://cheersport.at/about-us/">https://cheersport.at/about-us/</a>
<a href="https://www.sna.org.ar">https://www.sna.org.ar</a>
<a href="https://tourism.perlis.gov.my/">https://tourism.perlis.gov.my/</a>
<a href="https://ppg.fkip.unisri.ac.id/">https://ppg.fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://feednplay.dei.uc.pt/">https://feednplay.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://fkip.unisri.ac.id/">https://fkip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fh.unisri.ac.id/">https://fh.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://map.fisip.unisri.ac.id/">https://map.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://inspira.dei.uc.pt/">https://inspira.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://an.fisip.unisri.ac.id/">https://an.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://fisip.unisri.ac.id/">https://fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://hi.fisip.unisri.ac.id/">https://hi.fisip.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://ebooks.uinsyahada.ac.id/">https://ebooks.uinsyahada.ac.id/</a>
<a href="https://cultura.userena.cl/">https://cultura.userena.cl/</a>
<a href="https://middlepassage.dei.uc.pt/">https://middlepassage.dei.uc.pt/</a>
<a href="https://discurso.userena.cl/">https://discurso.userena.cl/</a>
<a href="https://ictess.unisri.ac.id/">https://ictess.unisri.ac.id/</a>
<a href="https://aku.ac.id">https://aku.ac.id</a>

<a href="https://hifisipunisri.us.com/">slot gacor</a>
<a href="https://cheersport.sa.com/">slot gacor</a>
<a href="https://pkvgames.gr.com/">pkv games</a>

<a href="https://pioneer.schooloftomorrow.ph/">https://pioneer.schooloftomorrow.ph/</a>
<a href="https://wpsotp.schooloftomorrow.ph/">mpo slot</a>
<a href="https://stem-md.swu.bg/">https://stem-md.swu.bg/</a>
<a href="https://greenstem.swu.bg/">mpo</a>

<a href="https://cheersport.at/doc/pkv-games/">https://cheersport.at/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/">https://merdekakreasi.co.id/buku/pkvgames/</a>

<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/">https://bogamart.id/wp-content/temps/pkv-games/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/bandarqq/</a>
<a href="https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/">https://bogamart.id/wp-content/temps/dominoqq/</a>

<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/pkv-games/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/bandarqq/</a>
<a href="https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/">https://www.fmreview.org/wp-content/doc/dominoqq/</a>

<a href="https://uniestate.com/pkv-games/">https://uniestate.com/pkv-games/</a>
<a href="https://uniestate.com/bandarqq/">https://uniestate.com/bandarqq/</a>
<a href="https://uniestate.com/qiuqiu/">https://uniestate.com/qiuqiu/</a>

<a href="https://pojoktim.com/public/pkv-games/">https://pojoktim.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/bandarqq/">https://pojoktim.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://pojoktim.com/public/dominoqq/">https://pojoktim.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/">https://mantraguitar.com/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/">https://mantraguitar.com/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/">https://mantraguitar.com/publics/dominoqq/</a>

<a href="https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/">https://rsjatihusada.com/img/pkv-games/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/">https://rsjatihusada.com/img/bandarqq/</a>
<a href="https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/">https://rsjatihusada.com/img/dominoqq/</a>

<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/pkv-games/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/bandarqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/dominoqq/</a>
<a href="https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/">https://appointment.kbribrussel.id/wp-content/publics/idn-poker/</a>

<a href="https://graceconference.com/public/pkv-games/">https://graceconference.com/public/pkv-games/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/bandarqq/">https://graceconference.com/public/bandarqq/</a>
<a href="https://graceconference.com/public/dominoqq/">https://graceconference.com/public/dominoqq/</a>

<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/pkv-games/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/bandarqq/</a>
<a href="https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/">https://bprbuleleng45.co.id/nux/dominoqq/</a>

<a href="https://pksoganilir.com/pkv-games/">https://pksoganilir.com/pkv-games/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/bandarqq/">https://pksoganilir.com/bandarqq/</a>
<a href="https://pksoganilir.com/dominoqq/">https://pksoganilir.com/dominoqq/</a>

<a href="https://bhor.gov.pg/pkv-games/">https://bhor.gov.pg/pkv-games/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/bandarqq/">https://bhor.gov.pg/bandarqq/</a>
<a href="https://bhor.gov.pg/dominoqq/">https://bhor.gov.pg/dominoqq/</a>

<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/pkv-games/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/bandarqq/</a>
<a href="https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/">https://contemporaryworld.ipcr.gov.ng/dominoqq/</a>

<a href="https://legacy.wespa.org/pkv-games/">https://legacy.wespa.org/pkv-games/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/bandarqq/">https://legacy.wespa.org/bandarqq/</a>
<a href="https://legacy.wespa.org/dominoqq/">https://legacy.wespa.org/dominoqq/</a>

<a href="https://ac-group.hr/chip/pkv-games/">https://ac-group.hr/chip/pkv-games/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/bandarqq/">https://ac-group.hr/chip/bandarqq/</a>
<a href="https://ac-group.hr/chip/dominoqq/">https://ac-group.hr/chip/dominoqq/</a>
</div>