blank
Lamine Yamal dan Desire Doue. Foto: dok/startingeleven.id

blankOleh: Amir Machmud NS

// selalu ada cercah cahaya/ sepak bola tak henti melahirkan talenta/ menciptakan era/ dengan keajaiban-keajaiban/ dan kisah-kisah media//
(Sajak “Era Yamal”, 2025)

ERA Kylian Mbappe dan Erling Haaland boleh jadi tidak akan memuncak lebih dari level saat ini, tak sampai menandingi era rivalitas sesengit Lionel Messi versus Cristiano Ronaldo.

Dalam lebih dari satu dekade, Messi dan Ronaldo memusatkan era dalam satu persaingan. Ada nama Neymar Junior, Phil Foden, Robert Lewandowski, Kylian Mbappe, atau Mohamed Salah, namun Messi dan Ronaldo tak tergoyahkan di tingkat “ke-dewa-an” yang tak henti diperbandingkan: siapa yang layak disebut sebagai Greatest of All Times (GOAT), yang terbaik sepanjang masa.

Banyak pula wonderkid yang muncul dan digadang-gadang sebagai The Next Messi atau New Ronaldo, namun tak ada yang konsisten sampai ke level dua pemain itu. Sama, seperti ketika dulu orang menunggu kehadiran Pele baru, Maradona baru, atau Zidane baru, yang akhirnya mewujud dalam performa sehebat Messi dan Ronaldo.

Dalam setahun ini hadir Lamine Yamal Nasraoui Ebana, yang telah menunjukkan peran penting bagi Barcelona dan tim nasional Spanyol. Lalu dari ajang Liga Champions musim ini, hadir “daun muda” lainnya, Desire Doue yang memperlihatkan kontribusi penting bagi permainan sang juara, Paris St Germain.

Keduanya, yang masih 17 dan 19 tahun, dalam gambaran dasawarsa ke depan, terproyeksi sebagai pelanjut persaingan khusus La Pulga vs CR7. Otak-atik media ini mengapung setelah Liga Champions 2025 tuntas dengan jejak penampilan memikat kedua remaja.

Fakta dan Tren Mediatika
Rivalitas untuk membuktikan siapa yang paling layak menyandang predikat GOAT bagai tak pernah berhenti — terutama dari olahan media –, walaupun statistik capaian akhirnya menyimpulkan: Messi lebih unggul lewat trofi Piala Dunia 2022, dua kali Copa Amerika 2021 dan 2023, dan penghargaan individual delapan kali Ballon d’Or.

Ronaldo yang meraih Euro 2016 bersama Portugal, lima trofi Ballon d’Or, dan pencetak gol terbanyak dalam sejarah (936 gol untuk tim nasional dan klub), digambarkan sebagai pemain bintang produk kerja keras dan spartanitas disiplin latihan; sedangkan Leo Messi merupakan talenta yang memang dilahirkan untuk menjadi pesepak bola terhebat. Dia memiliki semua aspek teknis yang unggul dibandingkan dengan pesepak bola mana pun.

Dengan segala plus minus, keduanya akan abadi sebagai bagian dari kehebatan para megabintang sepak bola. Mulai dari Garrincha, Jairzinho, Pele, Alberto Di Stefano, Ferenc Puskas, George Best, Franz Beckenbauer, Johan Cruyff, Mario Kempes, Rivelino, Zico, Socrates, Roberto Baggio, Rivaldo, Ronaldo Luiz Nazario, Ruud Gullit, Marco van Basten, Eric Cantona, Zinedine Zidane, Ronaldinho, Diego Maradona, Pablo Aimar, Neymar Junior, dan banyak mutiara lainnya.

Pencapaian kedua “alien“ itu adalah fakta, yang oleh media banyak diolah sebagai tren yang diviralkan menjadi sajian publisitas tak pernah kering. Dari lalu lintas mobilitas klub, aksi-aksi teknis dalam pertandingan, hingga pernak-pernik kehidupan personal. Semua menambah pancaran kekuatan magnetik dari Messi maupun Ronaldo yang sebenarnya memiliki perbedaan performa pribadi: antara kecenderungan sebagai sosok introvert dan ekstrovert.

Begitulah, realitas bicara: Messi dan Ronaldo memberi warna dalam era panjang persaingan. Dunia harus menunggu lama, siapa yang kira-kita bakal menjadi penerus untuk menciptakan era baru, sampai akhirnya muncul dua nama paling menjanjikan: Lamine Yamal dan Desire Doue.

Gambaran Tampilan
Pada usia remaja, 17 tahun, Lamine Yamal menjadi pemain termahal dunia versi CIES Football Observatory dengan nilai 402,3 juta euro (sekitar Rp 7,52 triliun). Dia mengungguli Erling Haaland (Rp 4,48 triliun), dan Kylian Mbappe (Rp3,6 triliun).

Pemain berdarah Maroko dan Guinea Ekuatorial itu menjadi kunci Barcelona. Musim 2024-2025 ini dia mencetak 18 gol dan 21 assist dari 4.548 menit bermain. Dia berkontribusi langsung terhadap 39 gol Blaugrana. Statistik itu diwarnai dengan eksepsionalitasnya: dribel halus penuh magika, cepat dalam menusuk pertahanan lawan, kaki kiri mematikan, dan yang menonjol dia punya visi matang permainan.

Di semifinal Euro 2024, Yamal mencetak gol indah ke gawang Prancis, negara Desire Doue yang memukau di final Liga Champions musim ini. Doue menjadi pemain terbaik PSG dan sangat menonjol saat mengalahkan Internazionale Milan 5-0. Dia menyumbang dua gol.

Pelatih Luis Enrique bisa memoles remaja 19 tahun itu menjadi senjata penting PSG sejak awal 2025, dan menjadi bintang final Liga Champions. Doue bagai menyampaikan pesan, Les Parisiens tidak lagi membutuhkan Neymar maupun Mbappe, dua bintang sebelumnya.

Pemain yang memperkuat Rennes pada 2022-2024 ini, tahun lalu memilih menerima pinangan PSG dan menolak Bayern Muenchen yang juga tertarik menggunakan jasanya. Terbukti, pilihan Doue tidak salah. Dia menjadi pilihan utama Enrique.

Pemain kelahiran Angers 3 Juni 2005 dengan nama asli Desire Nonka-Maho Doue itu disebut-sebut memiliki keanggunan seni sepak bola Brazil. Musim ini dia bermain 3.019 menit, lebih sedikit dari Yamal, dengan mencetak 15 gol.

Sementara itu, tak sedikit yang memperbandingkan, dalam usia 17 tahun, lebih hebat mana capaian Lamime Yamal dengan Messi dan Ronaldo?

Dia telah 100 kali bermain untuk Barca, yang ditandai dengan penampilan ciamik melawan Inter Milan di Barcelona, 1 Mei lalu. Skor akhir 3-3. Yamal menjadi motor serangan, dengan membuka gol lewat aksi individual di kotak penalti. Bahkan ketika Barca dikalahkan La Beneamata 3-4 di San Siro dalam leg kedua, aksi-aksi Yamal juga begitu memikat.

Dalam catatan TNT Sports, Yamal telah jauh meninggalkan Leo Messi dan Ronaldo. Jumlah pertandingan, gol, dan assist-nya melewati Messi dan Ronaldo saat sama-sama berusia 17 tahun.

Yamal telah 100 kali tampil, mencetak 22 gol dan 33 assist. Di usia 17, Messi baru bermain 9 kali, membukukan satu gol dan tanpa assist. Sedangkan Ronaldo, yang bermain 19 kali dengan 5 gol dan 4 assist.

Dari segi trofi, Yamal juga jauh melewati. Dia memenangkan gelar La Liga 2023-2024, Copa del Rey 2024-2025, dan Piala Super Spanyol. Bersama tim nasional Spanyol, dia meraih gelar Euro 2024. Dia meraih penghargaan individual Kopa Trophy 2024 sebagai pemain terbaik dunia untuk usia di bawah 21 tahun.

Sedangkan Messi meraih gelar La Liga dan Piala Dunia U20. Ronaldo dalam usia yang sama baru memenangkan gelar Piala Super Portugal.

Nah, kini dunia menunggu, apakah wonderkid lainnya, Desire Doue benar-benar bakal meningkat, menciptakan rivalitas dengan remaja yang menghadirkan puja-puji, Lamine Yamal, menerusi persaingan sengit Messi dan Ronaldo dalam lebih dari satu dasawarsa.

Hingga berakhirnya musim 2024-2025 ini, tengara sudah dinyalakan oleh dua anak ajaib itu, untuk melupakan nama-nama yang lebih dulu mapan seperti Haaland, Mbappe, Vinicius Junior, juga wonderkid lain seperti Jude Bellingham, Cole Palmer, Nico Williams, atau Claudio Etcheverri.

“Anak ini telah melakukan banyak hal dengan sangat baik di klub, dan tim nasional yang sangat membantunya. Suasana yang hebat baginya untuk menunjukkan kualitas. Biarkan dia tumbuh, jangan membuatnya tertekan, sehingga kita dapat menikmati bakat seperti ini selama bertahun-tahun. Saya ingin melepaskan tekanan darinya dan membiarkannya sendiri. Dia punya bakat besar,” ungkap Cristiano Ronaldo di situs UEFA (detik.com, 8 Juni 2025).

Simak pula kata Pep Guardiola, pelatih legendaris yang mengikuti perkembangan Leo Messi sejak remaja. “Saya tak akan mengatakan dia seperti Leo, maaf, karena bagi saya, tidak akan pernah ada pemain di dunia ini yang seperti pemain Argentina itu. Mustahil,” katanya.

Anda hanya perlu mencatat dua nama ini: Lamine Yamal dan Desire Doue, yang bukan tidak mungkin bakal bersaing menerusi Messi versus Ronaldo…

Amir Machmud NS, wartawan Suarabaru.Id dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah