Oleh: Amir Machmud NS
// kegamangan mengadang/ di pendakian akhir/ ketika persaingan memanas/ dan makin tajam/ inikah musuh sesungguhnya?/ rasa, jiwa, dan realita…//
(Sajak “Di Puncak Pendakian”, 2026)
KETEGANGANKAH yang sedang dihadapi oleh Barcelona dalam perpacuan akhir di La Liga menghadapi seteru utamanya, Real Madrid?
Kita menangkap nuansa-nuansa. Ada suasana tertekan. Ada kondisi penuh ketegangan. Ada kecemasan. Ada pula ketakutan. Lalu ditemukan masalah. Kedua klub “musuh bebuyutan” itu saling mengintip dan menyalip. Kita mengenal ungkapan Jawa, “silih ungkih, singa lena…”. saling mencari celah kelengahan lawan.
Dan, Barcelonakah yang tampak menghadapi ketertekanan di puncak pendakian? Ya, mirip dengan yang dihadapi Arsenal dari rongrongan Manchester City di Liga Primer.
Barca dan Madrid menyisakan 14 laga, dengan rivalitas perebutan trofi yang diperkirakan memanas sampai akhir.
Kekalahan mengejutkan Barca dari Girona pekan lalu membuat Madrid naik memimpin klasemen. Blaugrana gamang, karena ini adalah kekalahan kedua dalam sepekan. Sebelumnya, mereka dihumbalangkan Atletico Madrid 0-4 di semifinal leg pertama Copa del Rey.
Dua hasil buruk itu memunculkan tanda tanya, ada apa dengan Barca? Sedemikian mudahkah gawang Los Cules dibobol dengan gelontoran gol? Ada masalahkah pertahanan mereka yang sebenarnya punya lapis terakhir kiper setangguh Joan Garcia?
Pengakuan Joan Garcia
Sang kiper mengakui, timnya perlu perbaikan di lini pertahanan. Dia menyebut Barca kebobolan terlalu banyak. Mereka baru mencatat 12 cleansheet dalam 38 laga, dan kebobolan 46 gol. Gawang Barca jebol pada setiap laga, dan kini sudah mencapai 25 gol.
“Kami para kiper berusaha menyelamatkan semua tembakan yang datang. Sayangnya, ada lebih banyak peluang daripada yang kami inginkan hari ini. Penyelamatan saya tak berarti banyak jika kami tidak meraih poin,” ujar Garcia seperti dikutip Tribuna (detik.com, 17-02-2026).
Menurut Joan Garcia, Barca perlu meningkatkan performa. “Kami terlalu mudah kebobolan. Kami perlu menganalisis ini. Kami memiliki waktu istirahat sekitar satu minggu tanpa laga di tengah pekan. Ini akan membantu kami menyelesaikan semuanya dan bekerja secara efektif”.
Barcelona kini mempersiapkan diri menjelang laga melawan Levante di pekan ke-25, Minggu besok. Mereka menempati posisi kedua klasemen dengan 58 poin dari 24 laga, dua poin di belakang Madrid yang mengalahkan Real Sociedad 4-1.
Masalah di Pertahanan
Pelatih Hansi Flick juga mengakui kelemahan organisasi pertahanan. Dari keunggulan melalui gol Pau Cubarsi pada menit ke-59, akhirnya disamakan dan diungguli Girona.
Flick enggan membahas keputusan wasit terkait gol kedua Girona yang kontroversial, karena sebelumnya terjadi pelanggaran kepada Jules Kounde. “Saya tidak ingin berbicara tentang itu. Semua orang melihat situasi sebelum gol kedua. Girona pantas menang,” katanya.
Dia menilai, timnya menunjukkan pertahanan yang sangat buruk, terutama dalam situasi transisi. Timnya terlalu terbuka, dan lini tengah tidak berada pada posisi yang semestinya. Ini adalah alarm yang membutuhkan penangkal secepatnya (bola.com, 17-02-2026).
Kata Flick, masalah yang dihadapi bukan hanya kesalahan individu, tetapi juga koordinasi antarlini yang lemah. Sering terlambat menutup ruang, sehingga lawan mudah merambah ke kotak penalti tanpa mendapatkan tekanan yang berarti.
“Tim ini belum mencapai kondisi mental dan taktik yang optimal. Kami tidak merasa nyaman dan tidak menempatkan diri dengan baik. Tim ini tidak berada dalam kondisi yang bagus sekarang. Kami harus tenang dan kembali menjadi seperti sebelumnya,” ucap pelatih asal Jerman itu.
Barcelona masuk ke fase persaingan dengan Real Madrid yang menuntut kesiapan sebagaimana sering mereka hadapi pada musim-musim sebelumnya. Kematangan mental dan ketenangan menjadi penopang utama dari restorasi teknis terkait pertahanan yang diketahui rapuh. Kita menunggu perbaikan apa yang akan dilakukan Flick. Selama ini, Barca dikenal sebagai tim dengan produktivitas gol tinggi, namun kini mereka disibukkan oleh kerapuhan pertahanan.
Fase ketegangan seperti ini memang biasa muncul pada saat-saat menentukan. Ada-ada saja masalahnya. Di Liga Primer, Arsenal mengalami dalam tiga musim terakhir. Sangat dijagokan meraih trofi, namun terpeleset di saat-saat akhir. Apakah ini adalah musim mereka untuk berjaya, seperti juga Barcelona yang berjuang mempertahankan gelar juara?
Lamine Yamal dkk perlu secepatnya memperbaiki kelemahan yang jarang mereka alami sebelumnya. Apakah kerapuhan pertahanan itu dipicu oleh ketegangan menghadapi persaingan yang makin membara?
Anda pasti paham, kondisi ini pada sisi lain, menumbuhkan kepercayaan diri bagi para rival, terutama Real Madrid…
— Amir Machmud NS, wartawan Suarabaru.Id —













